"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Puing-Puing Memori di Balik Debu
Sinar matahari pagi tidak pernah meminta izin untuk menyusup masuk. Ia menerobos leluasa melalui celah-celah papan kayu penutup jendela, menembakkan pilar-pilar cahaya keemasan yang menyorot tajam ke wajah Gani.
Pria itu mengerang pelan. Kelopak matanya terasa seberat timah saat ia mencoba membukanya. Hal pertama yang menyapa kesadarannya adalah rasa kaku yang luar biasa di sepanjang tulang belakangnya. Tidur beralaskan papan kayu jati tanpa selembar kasur pun selama semalaman membuat otot-ototnya seolah baru saja dipukuli dengan tongkat bisbol.
Gani mencoba bangkit untuk duduk, namun sebuah sensasi perih di perutnya langsung memelintir kesadarannya. Asam lambungnya naik, menagih haknya yang telah diabaikan selama berhari-hari.
Ia memijat pelipisnya yang berdenyut, mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan dari malam sebelumnya. Hutan yang gelap. Tali nilon. Dahan pohon yang lapuk. Dan... seorang gadis gila bergaun kuning mustard.
Semuanya bukan mimpi. Tali yang telah ia siapkan dengan saksama untuk mengakhiri hidupnya benar-benar telah disita oleh seorang gadis desa bernama Kirana. Dan kini, ia terikat pada sebuah kontrak tak kasat mata yang absurd: tujuh permintaan.
"Benar-benar lelucon yang buruk," gumam Gani dengan suara serak, tenggorokannya sekering padang pasir.
Ia menurunkan kakinya dari ranjang, menjejak lantai semen kamar yang terasa dingin menembus kaus kakinya. Selama beberapa menit, Gani hanya duduk mematung di tepi ranjang. Ia memandangi tangannya sendiri—tangan yang biasa memegang pena mahal untuk menandatangani kontrak bernilai fantastis, tangan yang merancang gedung-gedung dengan struktur baja mutakhir. Kini, tangan itu tampak kotor, gemetar, dan dihiasi plester luka di pergelangan kirinya.
Apa yang harus kulakukan sekarang? pertanyaan itu bergema di kepalanya yang kosong.
Saat berada di Jakarta, setiap detiknya sudah terjadwal oleh asisten pribadinya. Rapat jam delapan, tinjauan proyek jam sebelas, makan siang dengan klien jam satu, dan seterusnya. Namun di desa ini, di rumah tua yang sepi ini, waktu terasa membentang tanpa batas. Tidak ada tenggat waktu, tidak ada tuntutan, kecuali ancaman konyol dari Kirana semalam.
“Bersihkan sedikit rumahmu itu. Besok pagi, aku akan datang menagih permintaan pertamaku.”
Kata-kata Kirana terngiang kembali di telinganya. Gani mendengus sinis. Siapa gadis itu berani-beraninya memerintah dirinya?
Namun, ketika mata Gani menyapu sekeliling kamar, insting arsitekturalnya yang sudah mendarah daging perlahan mengambil alih. Ia melihat sarang laba-laba raksasa di sudut langit-langit yang menutupi ornamen ukiran kayu jati peninggalan ayahnya. Ia melihat lantai berdebu yang merekam setiap jejak kakinya semalam. Ia mencium aroma apak dari kayu yang tidak pernah terkena sirkulasi udara selama bertahun-tahun.
Gani benci kekacauan. Ia adalah pria yang terobsesi pada presisi, kebersihan, dan keteraturan. Melihat rumah masa kecilnya berada dalam kondisi seburuk ini entah mengapa memicu semacam rasa gatal di ujung jemarinya. Ini bukan lagi tentang menuruti perintah Kirana, ini tentang tidak membiarkan dirinya mati di tempat yang terlihat seperti tempat pembuangan akhir.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Gani berdiri. Ia berjalan menuju jendela kamar, mencari pengait papannya. Dengan sedikit paksaan dan suara kayu berderit yang memekakkan telinga, Gani berhasil membuka dua daun jendela kayu tersebut lebar-lebar.
Udara pagi Karangbanyu langsung berhamburan masuk, menyapu udara apak di dalam kamar. Aroma embun, tanah basah sisa kabut, dan samar-samar wangi bunga cempaka menampar wajah Gani. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan paru-parunya dialiri oksigen bersih yang terasa asing namun menenangkan.
Di luar jendela, ia bisa melihat pekarangan samping rumahnya yang ditumbuhi semak belukar. Dan di kejauhan, menyembul dari balik kanopi pepohonan, pucuk pohon Akar Tua berdiri kokoh menantang langit biru. Pohon itu seolah mengawasinya, mengingatkan Gani pada tali nilonnya yang kini entah berada di mana.
Gani membalikkan badan, menatap ruang tengah melalui pintu kamar yang terbuka. "Baiklah," desahnya pasrah. "Mari kita buat makam ini sedikit lebih layak."
Gani melepas jaket parkanya, menyisakan kemeja abu-abu yang lengannya ia gulung hingga siku. Ia berjalan ke bagian belakang rumah, menuju dapur dan area sumur tua yang semalam ia lewati.
Tugas pertamanya adalah mencari air. Sumur tua itu memiliki ember plastik pudar yang terikat pada seutas tali tambang usang, menggantung di atas katrol karatan. Gani menimba air. Otot-otot lengannya yang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar langsung memprotes. Namun, setiap tarikan tali yang berat itu entah bagaimana terasa melegakan. Rasa sakit fisik di lengannya memberikan jeda sesaat dari rasa sakit di dadanya. Tarikan demi tarikan, ia memfokuskan pikirannya hanya pada ember yang naik ke atas.
Air sumur itu ternyata masih sangat jernih dan luar biasa dingin. Gani membasuh wajahnya berkali-kali, membiarkan air itu membersihkan sisa-sisa air mata dan keringat dingin dari malam keputusasaannya. Ia kemudian menenggak air itu langsung dari tangannya. Kesegarannya menjalar ke seluruh tubuh, meredam sedikit rasa perih di lambungnya.
Setelah merasa sedikit lebih sadar, Gani mulai mencari peralatan bersih-bersih. Ia menemukan sapu lidi yang sudah pendek, sapu ijuk yang rontok, dan sebuah kain lap kotor di sudut dapur. Perlengkapan yang sangat menyedihkan, tapi ia tidak punya pilihan.
Ia memulai dari ruang tamu. Gani menarik kain-kain putih kusam yang menutupi perabotan satu per satu. Debu langsung mengepul hebat ke udara, membuatnya terbatuk-batuk hingga matanya berair. Di bawah kain-kain kafan itu, perabotan kayu jati ukir Jepara kesayangan ibunya masih berdiri kokoh. Kayunya mungkin sedikit kusam, tapi strukturnya masih sempurna.
Gani mulai menyapu. Bunyi sreg... sreg... sreg... dari sapu ijuk yang bergesekan dengan lantai semen menjadi satu-satunya melodi di rumah itu. Setiap ayunan sapu, ia menyingkirkan gumpalan debu, sarang laba-laba, dan daun-daun kering. Keringat mulai bercucuran membasahi kemejanya. Napasnya terengah-engah, namun ia menolak untuk berhenti.
Ada semacam terapi yang aneh dalam kegiatan membersihkan rumah ini. Secara tak sadar, Gani sedang menyalurkan seluruh amarah dan rasa frustrasinya pada debu-debu itu. Ia menyapu seolah ia sedang menyingkirkan wajah Raka dari ingatannya. Ia menggosok meja dengan kain lap basah sekeras mungkin, seolah ia bisa menghapus tanda tangannya dari dokumen bodong yang menghancurkan perusahaannya.
Dua jam berlalu. Matahari sudah mulai naik tinggi, membuat udara di dalam rumah terasa hangat. Ruang tamu itu kini tampak jauh lebih baik. Lantainya memang tidak mengilap, namun setidaknya warna asli semennya sudah terlihat. Perabotan telah tertata rapi. Jendela-jendela di ruang depan telah terbuka, membiarkan sirkulasi udara berjalan normal.
Gani menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan noda debu melintang di atas alisnya. Ia terengah-engah, dadanya naik turun, tubuhnya terasa remuk redam, tapi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, pikirannya terasa anehnya... tenang. Tidak ada suara-suara bising dari masa lalu yang menyalahkannya. Yang ada hanyalah rasa lelah fisik yang murni.
Ia kemudian berjalan menuju sebuah lemari bufet kayu besar di sudut ruang keluarga. Lemari itu dulunya adalah tempat ibunya menyimpan piring-piring keramik cantik yang hanya dikeluarkan setahun sekali saat Lebaran, serta laci-laci untuk menyimpan dokumen keluarga.
Gani berniat membersihkan bagian atas lemari itu, namun kain lapnya tersangkut pada salah satu gagang laci yang sedikit terbuka. Gani menariknya perlahan agar kain lapnya tidak robek, tetapi laci kayu itu justru meluncur keluar dari jalurnya dengan suara berderit tajam, sebelum akhirnya jatuh menabrak lantai.
Brak!
Isi laci itu tumpah berserakan di atas lantai yang baru saja Gani sapu.
Gani mengumpat pelan. Ia berjongkok, berniat memasukkan kembali barang-barang itu ke dalam laci. Sebagian besar isinya adalah tumpukan kertas koran tua yang sudah menguning, beberapa pulpen kering, kliping resep masakan milik ibunya, dan kuitansi-kuitansi pembayaran listrik yang usianya mungkin sudah belasan tahun.
Namun, di antara tumpukan kertas usang itu, mata Gani menangkap sebuah benda persegi panjang yang terbalik. Sebuah pigura kayu kecil yang kacanya sudah sedikit retak di ujungnya.
Dengan tangan yang mendadak terasa sedikit gemetar, Gani meraih pigura itu. Ia membaliknya, membersihkan lapisan debu tipis di atas kacanya dengan ibu jari.
Napas Gani seketika tercekat di tenggorokan. Gerakannya terhenti total, seolah ada yang baru saja menekan tombol pause dalam kehidupannya.
Itu adalah sebuah foto keluarga. Warnanya sudah memudar menjadi rona sepia, namun objek di dalamnya masih terlihat sangat jelas.
Di dalam foto itu, berdiri tiga orang di halaman depan rumah ini, tepat di teras yang baru saja Gani bersihkan. Seorang pria paruh baya dengan kemeja batik yang dimasukkan rapi, wajahnya tegas dengan kumis tebal, namun tersenyum sangat lebar memancarkan wibawa. Pak Haris, ayahnya. Di sebelahnya, seorang wanita cantik berkebaya sederhana dengan rambut disanggul rapi, menatap ke arah kamera dengan kelembutan yang selalu menjadi penawar bagi kerasnya dunia. Ibunya.
Dan di tengah-tengah mereka, berdiri seorang anak laki-laki kurus berusia sekitar dua belas tahun. Anak itu mengenakan seragam putih-merah yang kebesaran, mengalungkan sebuah medali emas murah di lehernya, dan memegang piala plastik bertuliskan "Juara 1 Lomba Menggambar Antar SD". Anak itu tersenyum sangat lebar hingga giginya terlihat semua, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan dan kepolosan.
Anak laki-laki itu adalah dirinya. Gani kecil.
Ibu jari Gani mengusap permukaan kaca, tepat di atas wajah Gani kecil. Tenggorokannya tiba-tiba terasa sangat sakit, seolah ada bongkahan batu besar yang tersangkut di sana. Matanya memanas dengan cepat.
Memori yang selama ini ia kunci rapat-rapat dalam peti besi di dasar otaknya, kini meledak keluar seperti bendungan yang jebol.
Ia ingat hari itu. Hari di mana ia pertama kali memenangkan lomba menggambar gedung tata kota tingkat kabupaten. Ia ingat bagaimana ayahnya, Pak Haris, yang hanya seorang guru SD kampung dengan gaji pas-pasan, meminjam sepeda motor kepala desa hanya untuk membelikannya ayam goreng tepung di kota kecamatan sebagai hadiah perayaan.
“Bapak tidak bisa memberimu harta, Nak,” suara bariton ayahnya tiba-tiba terngiang kembali, begitu jernih seolah pria itu sedang berdiri di belakangnya. “Tapi Bapak pastikan, tanganmu itu akan membangun sesuatu yang besar suatu hari nanti. Kau akan pergi dari desa ini, sekolah tinggi-tinggi di Jakarta, dan membuktikan bahwa anak kampung juga bisa menyentuh langit.”
Air mata pertama jatuh, mendarat tepat di atas kaca retak pigura tersebut, mengaburkan wajah ayahnya.
Gani mencengkeram pigura itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Harapan ayahnya. Kebanggaan ibunya. Semua itu adalah bahan bakar yang mendorong Gani menembus kejamnya ibu kota. Ia belajar mati-matian, mengambil kerja sambilan, hingga akhirnya berhasil masuk ke fakultas arsitektur terbaik dan membangun firma bergengsi. Ia berhasil menyentuh langit, persis seperti yang ayahnya katakan.
Lalu, ia menghancurkan semuanya.
Kesombongan membuatnya lengah. Ambisi untuk terus berada di puncak membuatnya buta terhadap niat busuk Raka, sahabatnya sendiri. Ia menandatangani dokumen-dokumen itu tanpa membaca detailnya, terlalu percaya diri, terlalu sibuk menghadiri pesta-pesta kaum elite bersama Sania.
Dan ketika langit itu runtuh menimpanya, Gani tidak punya apa-apa lagi untuk melindunginya. Reputasi keluarganya hancur. Nama Pak Haris yang selalu dihormati di desa Karangbanyu, kini disematkan pada nama seorang koruptor di berita nasional.
"Maafkan aku, Pak... Bu..." isak Gani pecah. Suaranya menggema di ruang tamu yang sepi. Tubuhnya membungkuk di atas lantai, bahunya bergetar hebat. Ia memeluk pigura itu ke dadanya, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut.
Pria berusia tiga puluh tahun yang pernah mendikte para konglomerat ibu kota itu, kini menangis meraung-raung seperti anak kecil yang tersesat. Semua topeng sinisnya, semua dinding es yang ia bangun sejak kebangkrutannya, runtuh seketika di hadapan senyum tulus keluarganya di masa lalu.
Ini adalah kenyataan yang paling menyakitkan. Alasan utama mengapa ia ingin gantung diri semalam bukanlah semata-mata karena kehilangan uang atau ditinggalkan Sania. Tapi karena ia tidak sanggup menanggung rasa bersalah telah mengkhianati harapan kedua orang tuanya. Ia tidak sanggup menatap rumah ini, menatap cermin, dan melihat wajah seorang pengecut.
Gani menangis cukup lama, membiarkan semua racun kesedihan yang mengendap di dadanya mengalir keluar melalui air matanya. Debu di lantai menempel di wajahnya yang basah, namun ia tidak peduli.
Hingga akhirnya, sebuah suara ketukan keras di ambang pintu depan memecah keheningan yang memilukan itu.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi! Apakah ada makhluk hidup di dalam reruntuhan ini?"
Suara renyah yang sangat familiar itu membuat Gani tersentak. Ia buru-buru mengangkat kepalanya. Kirana. Gadis itu berdiri di ambang pintu depan yang terbuka, siluetnya membelakangi cahaya matahari pagi.
Kirana tidak lagi mengenakan gaun kuning mustard seperti semalam. Pagi ini, ia mengenakan kemeja katun kotak-kotak biru muda yang lengannya digulung asal, dipadukan dengan celana jin pudar dan sepatu bot karet yang biasa digunakan ke kebun. Rambut hitam sebahunya diikat ekor kuda tinggi, memperlihatkan lehernya yang jenjang—dan sangat pucat. Syal tebal tidak lagi melingkari lehernya, digantikan oleh sebuah handuk kecil.
Di tangan kanannya, Kirana menjinjing sebuah rantang susun tiga dari bahan enamel vintage berwarna hijau tosca.
Melihat Gani berjongkok di lantai dengan wajah acak-acakan, kemeja kotor, dan mata yang merah bengkak, langkah Kirana terhenti di ambang pintu. Senyum cerianya sempat memudar selama satu atau dua detik, matanya dengan cepat menangkap pigura foto yang didekap erat oleh Gani.
Gadis itu jelas tahu bahwa ia datang di momen yang salah. Ia tahu Gani baru saja menangis.
Namun, alih-alih memberikan tatapan mengasihani, berjalan mendekat, lalu memberikan tepukan simpati di bahu seperti yang dilakukan orang normal di sinetron, Kirana justru kembali memamerkan senyum lebarnya dan berkacak pinggang dengan sebelah tangan.
"Wah, wah, wah," Kirana mendecakkan lidah, melangkah masuk tanpa diundang. Matanya menyapu ruang tamu yang kini jauh lebih bersih. "Aku menyuruhmu membersihkan rumah, bukan menyuruhmu melakukan drama musikal yang menguras air mata di lantai, Tuan Kota."
Gani buru-buru meletakkan pigura itu kembali ke dalam laci secara terbalik, lalu mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan punggung tangan kemejanya. Ia berdiri dengan kikuk, berusaha memulihkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang berceceran.
"Aku... aku hanya kelilipan debu," kilah Gani dengan suara parau yang sama sekali tidak meyakinkan. Ia berdeham, menepuk-nepuk celananya yang kotor. "Kau masuk tanpa permisi. Di Jakarta, itu masuk pasal pelanggaran privasi."
"Di Karangbanyu, membiarkan orang yang kelaparan pingsan karena gengsi masuk pasal kualat," balas Kirana telak. Ia berjalan menuju meja kayu di tengah ruangan, lalu meletakkan rantang hijaunya di atas sana dengan bunyi dentingan pelan. "Aromanya dari luar sudah tercium. Bau perut kosong yang diguyur air sumur mentah. Menyedihkan."
Gani ingin membalas ucapan pedas gadis itu, tetapi hidungnya mengkhianatinya. Dari sela-sela rantang itu, menguar aroma yang sangat menggoda. Aroma bawang putih yang ditumis, ketumbar, dan... ayam goreng lengkuas. Air liur Gani nyaris menetes tanpa bisa dikendalikan.
Kirana membuka susunan rantang itu satu per satu. Nasi putih mengepul yang masih hangat, ayam goreng lengkuas berwarna kecokelatan yang terlihat sangat renyah, dan sayur lodeh tempe dengan irisan cabai hijau. Makanan rumahan sederhana yang entah kenapa terlihat seribu kali lebih mewah daripada hidangan filet mignon di restoran bintang lima bagi mata Gani saat ini.
"Bibi Ratna yang memasaknya. Beliau selalu masak porsi besar, jadi aku mengambil sebagian untukmu sebagai... advance payment," ucap Kirana, menggunakan istilah bisnis dengan nada mengejek. Ia menarik sebuah kursi rotan yang sudah bersih, lalu duduk santai sambil menyilangkan kaki. "Makanlah. Orang mati memang tidak butuh makanan, tapi orang yang harus bekerja menuruti permintaanku butuh tenaga gajah."
Gani menatap makanan itu, lalu menatap Kirana. Rasa lapar dan harga dirinya sedang berperang hebat di dalam kepalanya. "Aku tidak memintamu membawa ini."
"Anggap saja ini perbekalan dari majikanmu," Kirana menopang dagu dengan sebelah tangan, menatap Gani dengan mata sabitnya yang berbinar. "Makan, lalu cuci mukamu yang seperti gembel itu. Matahari sudah tinggi, Mas Gani. Kita tidak punya banyak waktu untuk dibuang."
Gani akhirnya menghela napas panjang, menyerah pada insting biologisnya. Ia berjalan mendekati meja, menarik kursi di seberang Kirana, lalu duduk. "Baik. Apa permintaan pertamamu? Menguras sumur? Memotong rumput setinggi dada di luar sana?"
Kirana tertawa kecil, menggelengkan kepalanya perlahan. "Hal-hal seperti itu terlalu membosankan. Permintaanku jauh lebih menantang dari sekadar pekerjaan kuli."
Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan melintasi meja, tatapannya mendadak berubah sangat serius dan penuh perhitungan, mengunci pandangan Gani.
"Permintaan pertamaku," bisik Kirana, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman nakal, "adalah kita akan pergi ke kebun belakang rumah Pak Kades... dan mencuri mangga madunya yang paling besar."
Sendok di tangan Gani terlepas, berdenting keras menabrak piring seng. Ia menatap gadis berpenampilan seperti bidadari kebun itu dengan mulut setengah terbuka.
Dari segala skenario pekerjaan berat yang telah ia siapkan di kepalanya, menjadi pencuri buah kelas teri sama sekali tidak ada di dalam daftar. Kesepakatan ini, perlahan tapi pasti, akan membuat Gani benar-benar kehilangan kewarasannya.