"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Kedamaian Dari Sang Brondong
Suasana di dalam bengkel modifikasi itu perlahan kembali tenang. Suara bising mesin gerinda dari kejauhan seolah meredup, menyisakan deru napas dua orang yang baru saja menuntaskan badai emosi.
Juna tidak membiarkan Cantik pulang sendiri dengan mobilnya. Ia melihat gurat kelelahan yang luar biasa di wajah wanita itu—bukan lelah karena pekerjaan, melainkan lelah karena menahan rindu dan rasa bersalah selama dua hari penuh.
"Lu nggak boleh nyetir dalam kondisi mata bengkak kayak gitu, Kak. Bahaya. Nanti kalau lu nabrak pohon, pohonnya yang kasihan karena kalah cantik sama lu," goda Juna, mencoba mengembalikan suasana tengilnya yang sangat dirindukan Cantik.
Juna memerintahkan salah satu mekanik kepercayaannya untuk membawa mobil Cantik pulang, mengekor di belakang.
Sementara ia sendiri, dengan bangga, akan mengantar bidadarinya pulang dengan cara favorit mereka: membelah malam di atas motor sport hitamnya.
"Jun, tangan lu masih kotor gitu. Gaun kantor gue bisa makin hancur kena noda," protes Cantik kecil, meskipun tangannya sama sekali tidak berniat lepas dari genggaman Juna.
Juna tertawa renyah. Ia mengambil kain lap bersih dan sebotol cairan pembersih khusus industri.
Dengan telaten dan lembut, ia membersihkan sisa-sisa oli hitam di tangannya sendiri, lalu melakukan hal yang sama pada jemari tangan Cantik yang tadi sempat ikut menghitam saat memeluknya.
Sentuhan Juna terasa sangat hati-hati, seolah ia sedang menyentuh porselen yang paling mahal di dunia.
"Biarin aja. Noda oli di gaun lu itu tanda kalau lu barusan 'servis' hati sama mekanik paling handal se-Jakarta. Anggap aja itu tato temporer tanda kepemilikan gue," seloroh Juna sambil mengerling nakal.
Juna menyambar jaket denim belelnya yang tergantung di kursi kerja. Tanpa banyak bicara, ia menyampirkannya ke bahu Cantik.
"Pake ini. Angin malam Jakarta itu jahat, nggak kayak gue yang baik hati dan tidak sombong. Gue nggak mau bidadari gue masuk angin, nanti kalau lu minta kerokin pake koin seribuan, punggung mulus lu jadi kayak motif macan tutul."
Cantik mendengus, namun ia menurut. Saat ia memasukkan tangannya ke dalam lengan jaket yang kebesaran itu, aroma parfum Juna yang maskulin—campuran antara kayu cendana, aroma bensin yang samar, dan wangi khas laki-laki pekerja—menyerbu indra penciumannya. Aroma itu terasa jauh lebih menenangkan dan "nyata" daripada wangi parfum Adrian yang terasa kaku dan artifisial.
Juna menaiki motor sport-nya, menyalakan mesin yang menderu rendah namun bertenaga.
"Naik, Kak. Pegangan yang kenceng. Kali ini gue janji nggak bakal sengaja ngerem mendadak buat nyari pelukan gratis. Tapi... kalau lu emang mau meluk terus sepanjang jalan karena kangen berat, ya gue dengan berat hati menerimanya," Juna tertawa di balik helmnya.
Cantik naik ke boncengan. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan "Kakak-Adik" mereka, Cantik tidak lagi menjaga jarak.
Ia tidak lagi menaruh tas di tengah sebagai pembatas. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Juna dengan erat, menyandarkan pipinya sepenuhnya di punggung lebar pria itu.
Tembok pertahanan "Brotherzone" yang ia bangun setinggi langit selama satu bulan, kini telah rata dengan tanah, hancur oleh sebuah pelukan di bengkel tadi.
Motor pun melesat, membelah keheningan malam Jakarta yang mulai mendingin. Lampu-lampu jalanan berwarna kuning keemasan tampak berpendar indah di mata Cantik yang masih sedikit basah. Sepanjang perjalanan, tidak ada kata-kata yang terucap.
Suara angin yang menderu di sekitar helm mereka menjadi saksi bisu betapa eratnya dekapan tangan Cantik di perut Juna.
Cantik memejamkan mata, merasakan getaran mesin motor di bawahnya dan detak jantung Juna yang seolah menyatu dengan detaknya sendiri.
Ia menyadari satu hal: selama ini ia mencari keamanan pada sosok yang "ideal" menurut standar sosial—pria mapan, seumuran, dan perlente.
Namun, ia justru menemukan kedamaian sejati pada punggung seorang pria muda yang berani kotor demi hobinya, dan berani pasang badan demi kehormatannya.
Juna sesekali melepaskan tangan kirinya dari stang motor hanya untuk mengelus lembut tangan Cantik yang melingkar di pinggangnya.
Ia ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi. Bahwa bidadarinya benar-benar sudah kembali, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan wanita itu ragu lagi.
Sesampainya di depan pagar rumah Cantik, Juna mematikan mesin. Keheningan mendadak menyergap, hanya terdengar suara jangkrik dan sayup-sayup suara kendaraan di kejauhan.
Cantik turun dari motor, namun ia tidak langsung melangkah masuk ke rumahnya yang kini tak lagi terasa dingin. Ia berdiri di samping motor, menatap Juna yang masih duduk di atas jok sambil melepas helm.
"Jun..." panggil Cantik pelan, suaranya lembut seperti bisikan angin.
"Ya, Sayang?" Juna menjawab instan. Kata
"Sayang" itu meluncur begitu saja, tanpa keraguan, tanpa rasa takut akan ditolak lagi.
Cantik tersenyum, pipinya merona merah di bawah sinar lampu merkuri jalanan yang temaram.
"Makasih ya. Buat semuanya. Buat sabarnya lu nungguin gue yang gengsian ini, buat ugal-ugalannya lu yang bikin gue deg-degan, dan buat... buat nggak bener-bener pergi ninggalin gue pas gue paling butuh lu."
Juna meraih tangan Cantik, mengecup punggung tangannya dengan khidmat dan lama.
"Gue nggak bakal ke mana-mana, Kak. Lu itu garis finish gue. Bang Satria mungkin emang lebih tua, lebih mapan, atau lebih punya status. Tapi dia nggak punya apa yang gue punya buat lu: Kesetiaan tanpa syarat dan keberanian buat mencintai lu apa adanya."
Juna menatap dalam ke mata Cantik.
"Mulai besok pagi, jangan kaget kalau kopi dan bunganya dateng lagi ke pagar ini. Tapi gue peringatin ya, pesannya bakal naik level."
"Emang pesannya bakal jadi apa?" tanya Cantik sambil tertawa kecil.
"Pesannya bakal jadi: 'Selamat pagi, Calon Makmumku. Jangan lupa sarapan yang banyak, karena mencintai brondong sesempurna gue butuh energi ekstra supaya lu nggak pingsan liat ketampanan gue tiap hari.' "Juna mengedipkan sebelah matanya, kembali ke mode ugal-ugalan yang sangat dicintai Cantik.
Cantik tertawa lepas, ia mencubit lengan Juna dengan gemas.
"Dih, pede banget! Tingkat kepercayaan diri lu emang nggak ada obatnya ya, Jun!"
"Harus dong! Kalau nggak pede, nggak mungkin gue bisa naklukin hati macan betina kayak lu," balas Juna sambil tertawa renyah. Ia menghidupkan kembali mesin motornya.
"Masuk sana. Istirahat. Besok pagi gue jemput jam delapan, kita sarapan bubur ayam yang paling enak se-kecamatan."
Cantik mengangguk patuh.
Ia berdiri di depan pagarnya, memperhatikan Juna yang mulai menjalankan motornya menjauh.
Sebelum benar-benar hilang di tikungan, Juna sempat berteriak kencang sambil melambaikan tangan, "I LOVE YOU, SAYANGNYA GUE! MIMPIIN JUNA YA!"
Cantik hanya bisa geleng-geleng kepala, namun senyumnya tidak kunjung pudar.
Ia masuk ke dalam rumah, menyentuh dadanya yang masih bergetar hebat. Di atas meja rias, ia meletakkan jaket denim Juna dengan sangat hati-hati, menghirup aromanya sekali lagi sebelum ia berbaring di tempat tidur.
Malam itu, Cantik tidur dengan perasaan paling damai yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Ia tidak lagi peduli apa kata netizen, ia tidak lagi peduli soal Satria yang mengkhianatinya. Ia sadar bahwa cinta sejati tidak selalu datang dalam paket yang "rapi", terkadang ia datang dengan jaket denim yang bau bensin, motor sport yang bising, dan hati yang tulus luar biasa.