Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Antara Nyawa dan janji setia
Udara di ruang tamu Unit 402 mendadak tersedot habis. Kalimat dari seberang telepon itu—tentang Sarah yang mencoba mengakhiri hidup—terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan kedamaian rapuh yang baru saja mereka bangun.
Saga masih mematung, ponselnya masih menempel di telinga, namun sorot matanya kosong, seolah jiwanya baru saja ditarik paksa ke sebuah ruang gelap masa lalu.
Nala, yang berdiri hanya beberapa sentimeter di depan Saga, bisa merasakan perubahan suhu tubuh pria itu. Aura hangat yang tadi melingkupinya saat Saga menyatakan cinta, kini berganti dengan hawa dingin yang mencekam.
"Mas?" bisik Nala. Suaranya kecil, gemetar karena ketakutan yang mulai merayap kembali.Saga menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya bergetar hebat.
"Sarah... dia di UGD, Nala. Dia menyayat pergelangan tangannya setelah pergi dari sini."
Duar.Dunia Nala serasa runtuh untuk kedua kalinya dalam satu malam. Ia merasa seperti sedang menonton film thriller di mana tokoh utamanya tidak pernah diberi napas untuk bahagia.
Ada rasa ngeri yang menjalar mendengar kabar itu, tapi di sisi lain, ada rasa sakit yang luar biasa hebat saat menyadari bahwa "masa lalu" itu kembali menarik Saga dengan cara yang paling ekstrem: sebuah nyawa.
"Ibunya minta saya datang," suara Saga terdengar parau, nyaris tak terdengar.
"Dia terus memanggil nama saya dalam kondisinya yang kritis."Nala mundur satu langkah. Ia menatap koper yang tadi ia tendang ke pojok ruangan. Rasanya ia ingin masuk ke dalam koper itu dan menghilang saja.
"Dan Mas mau pergi? Sekarang?"Saga menatap Nala dengan tatapan yang menyayat hati.
"Nala, ini soal nyawa. Saya memang membencinya, tapi saya tidak pernah menginginkannya mati. Kalau saya tidak datang dan terjadi sesuatu padanya, saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya seumur hidup."
"Dan kalau Mas pergi," suara Nala mulai meninggi, air matanya kembali tumpah, "Mas tahu apa yang terjadi sama aku? Mas tahu apa yang Mas hancurkan di sini?"Nala memukul dadanya sendiri.
"Tadi Mas bilang cinta sama aku. Tadi Mas bilang dia masa lalu. Tapi sekarang, satu tangisan dan satu tindakan nekat darinya cukup buat Mas ninggalin aku di malam kita baru aja mau mulai jujur satu sama lain!"
"Ini bukan soal cinta, Nala! Ini kemanusiaan!" Saga membentak, bukan karena marah pada Nala, tapi karena frustrasi pada situasi yang menjepitnya.
"Kemanusiaan atau rasa bersalah yang belum selesai?" Nala membalas telak.
"Mas merasa bertanggung jawab atas hidupnya karena dulu Mas gagal jagain dia? Mas, dia manipulatif! Dia tahu persis apa yang dia lakuin. Dia tahu kalau dia mati atau hampir mati, Mas bakal lari ke dia!"Saga memejamkan mata rapat-rapat.
Logikanya membenarkan kata-kata Nala. Ia tahu Sarah adalah wanita yang penuh drama. Namun, risiko bahwa ini adalah nyata—bahwa Sarah benar-benar bisa kehilangan nyawa—adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul bahu Saga yang kaku.
"Saya harus pergi, Nala. Sebentar saja. Hanya untuk memastikan dia lewat dari masa kritis," Saga meraih kunci mobilnya di meja. Langkahnya terhenti saat Nala berdiri di depan pintu, menghalangi jalan.
"Kalau Mas keluar dari pintu ini sekarang," Nala berkata dengan nada dingin yang belum pernah Saga dengar sebelumnya,
"jangan pernah balik lagi ke unit ini sebagai calon suami aku. Mas boleh balik sebagai mitra kontrak, sebagai rekan bisnis Papa, tapi jangan harap ada Nala yang bakal nungguin Mas dengan martabak manis di meja ini."Saga terdiam.
Di depannya adalah wanita yang ia cintai, yang baru saja ia beri pengakuan tulus. Di belakangnya, melalui ponsel itu, ada bayang-bayang kematian dari masa lalu yang menuntut penebusan.
"Nala, tolong... jangan kasih saya pilihan seperti ini," rintih Saga.
"Dunia yang kasih Mas pilihan ini, bukan aku. Dan Mas baru saja milih dia dengan ngambil kunci mobil itu," Nala menggeser tubuhnya, memberi jalan.
"Silakan, Mas. Selamatkan pahlawan masa lalu Mas."
Tanpa kata lagi, Saga berjalan melewati Nala. Suara pintu yang tertutup di belakang pria itu terdengar seperti bunyi vonis mati bagi hati Nala.Saga mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan menuju Rumah Sakit Medika.
Pikirannya terbagi menjadi dua bagian yang saling berperang. Satu bagian berteriak bahwa ia harus segera sampai di UGD, bagian lain menangis melihat wajah Nala yang hancur di balik pintu apartemen tadi.
Begitu sampai di rumah sakit, ia berlari menyusuri lorong yang bau karbolnya menusuk hidung. Di depan UGD, ia melihat ibu Sarah, seorang wanita paruh baya yang dulu sangat ia hormati, sedang duduk terisak.
"Saga! Kamu datang, Nak!" Ibu Sarah menghambur memeluknya.
"Sarah... dia kehilangan banyak darah. Dia terus mengigau namamu. Dia bilang dia menyesal sudah meninggalkanmu dulu. Dia depresi karena suaminya kasar, Saga. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu yang dia percaya.
"Saga berdiri kaku. Kalimat "tidak punya siapa-siapa lagi" terasa seperti jerat yang semakin kencang di lehernya. Ia mengintip melalui kaca kecil di pintu UGD. Di sana, Sarah terbaring pucat dengan perban tebal di pergelangan tangan kirinya. Berbagai selang menempel di tubuhnya yang ringkih.D
i titik itu, Saga merasa muak. Muak pada Sarah yang menggunakan nyawanya sebagai senjata, muak pada dirinya sendiri yang tidak bisa tega, dan muak pada takdir yang seolah tidak membiarkannya bahagia bersama Nala.Satu jam berlalu. Dokter keluar dan menyatakan bahwa Sarah sudah stabil, meski masih harus diobservasi ketat.
"Saga... bisakah kamu di sini sampai dia bangun? Hanya sampai dia bangun," mohon ibunya.Saga menatap jam di tangannya. Pukul 02.00 pagi. Ia membayangkan Nala di apartemen.
Apakah gadis itu sedang mengemas koper? Apakah dia sedang menangis sambil memakan sisa keripik micinnya untuk meredam sakit hati?Tiba-tiba, ponsel Saga bergetar.
Bukan telepon, melainkan sebuah notifikasi dari media sosial. Ia membukanya dengan tangan gemetar.Nala baru saja mengunggah sebuah foto.
Bukan foto wajahnya yang sembap, melainkan foto dua porsi martabak manis yang sudah dingin di atas meja makan Unit 402.
Caption-nya singkat, namun sanggup membuat jantung Saga berhenti berdetak:"Terima kasih untuk malam yang luar biasa pahit. Kontrak selesai lebih awal. Selamat menempuh hidup baru dengan masa lalu, Mas Iron Man."
Saga tersentak. Ia sadar, saat ia berusaha menyelamatkan nyawa orang yang tidak lagi mencintainya secara sehat, ia justru baru saja membunuh jiwa orang yang sangat ia cintai.
"Maaf, Tante. Saya tidak bisa," kata Saga tiba-tiba.
"Tapi Saga, Sarah—"
"Sarah sudah aman. Dia punya Tante, dia punya dokter. Tapi ada seseorang di apartemen yang nyawanya mungkin tidak terancam, tapi hatinya sedang saya bunuh pelan-pelan. Dan saya tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi," Saga berbalik dan berlari.Ia tidak peduli pada teriakan ibu Sarah.
Ia tidak peduli pada etika. Ia hanya peduli pada satu hal: mencapai Unit 402 sebelum Nala benar-benar menghilang dari hidupnya.Saga sampai di depan apartemen dengan napas memburu. Ia menempelkan kartu aksesnya, tapi lampu indikator berwarna merah.Aksesnya ditolak. Nala sudah mengganti kode kunci atau memblokir kartunya dari dalam.
"Nala! Buka pintunya!"
Saga menggedor pintu baja itu dengan tinjunya.
"Nala, saya sudah balik! Sarah sudah aman, saya tidak tinggal di sana! Nala!"Tidak ada jawaban.
Apartemen itu sunyi senyap.Saga terduduk di depan pintu, menyandarkan punggungnya di sana. Ia merasa seperti pecundang paling besar di dunia. Ia punya perusahaan besar, punya mobil mewah, punya segalanya, tapi ia tidak bisa membuka sebuah pintu untuk menemui wanita yang ia cintai.
"Nala... saya tahu saya salah," suaranya serak karena lelah dan tangis yang mulai pecah.
"Saya bodoh. Saya merasa harus jadi pahlawan buat semua orang sampai saya lupa kalau pahlawan yang sebenarnya adalah kamu. Kamu yang nyelamatin saya dari hidup saya yang kaku."Tiba-tiba, suara kunci terbuka terdengar.
Klik.
Pintu terbuka sedikit. Nala berdiri di sana, masih mengenakan piyama beruangnya, matanya merah dan bengkak.
Di tangannya, ia memegang sebuah koper besar."Mas telat," bisik Nala. "Martabaknya sudah basi. Kayak janji Mas."
"Jangan pergi, Nal. Tolong," Saga meraih ujung koper Nala, memohon layaknya seorang pengemis.
"Saya janji, mulai detik ini, nggak akan ada lagi Sarah. Nggak akan ada lagi masa lalu. Saya akan blokir semuanya. Saya akan jadi 'Iron Man' yang cuma jagain kamu."
Nala menatap Saga dengan tatapan kosong.
"Mas tahu apa yang paling sakit? Bukan karena Mas pergi ke rumah sakit. Tapi karena Mas nggak percaya kalau aku bisa dampingin Mas di sana. Mas milih buat ninggalin aku, seolah aku ini beban yang nggak kuat liat kenyataan."
Nala menarik kopernya, memaksa Saga bergeser.
"H-6, Mas Saga. Mulai besok, kita cuma dua orang asing yang kebetulan punya kontrak pernikahan yang harus dibatalkan."
Nala berjalan menuju lift tanpa menoleh. Saga hanya bisa menatap punggung itu menjauh, menyadari bahwa kali ini, dinamit itu benar-benar meledak dan menghancurkan seluruh pondasi yang pernah mereka bangun.
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.