NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pelatihan Khusus dan Rahasia Kuno

Hari-hari setelah insiden kedatangan Ordo Pengawas, suasana di kota Lunaria berubah total.

 Ketakutan mulai menyebar di kalangan warga. Banyak yang merasa bahwa dunia mereka yang aman dan damai kini telah terbuka terhadap bahaya dari luar.

Namun, di sisi lain, kehadiran Elara dan Kael menjadi sumber harapan terbesar. Mereka adalah satu-satunya yang mampu menahan serangan dari makhluk luar angkasa tersebut.

Di kedai Bintang Jatuh, sebuah rapat kecil namun penting sedang berlangsung. Hadir di sana adalah Elara, Kael, Darian, dan Nenek Mara. Suasana ruangan terasa serius.

"Kita tidak bisa hanya berdiam diri menunggu mereka datang kembali," buka Darian memulai pembicaraan. Wajahnya tampak lebih tua dari biasanya, beban pikiran terlihat jelas di matanya. "Ordo Pengawas itu bukan organisasi biasa. Dari cara mereka bertarung dan energi yang mereka gunakan, aku yakin mereka berasal dari dimensi yang lebih tinggi atau dunia paralel di mana aturannya sangat kaku."

"Terus apa yang harus kami lakukan, Ayah?" tanya Elara. Ia merasa kekuatannya sudah cukup kuat, tapi melihat kekuatan musuh tadi, ia sadar masih ada jarak yang jauh.

"Kalian harus menjadi lebih kuat," jawab Darian tegas. "Bukan hanya soal jumlah energi, tapi penguasaan teknik dan pemahaman mendalam tentang kekuatan kalian sendiri. Gabungan Cahaya dan Kegelapan yang kalian miliki itu... menurut kitab-kitab kuno yang pernah kubaca dulu, itu disebut Energi Nol atau Energi Pencipta Itu adalah sumber dari mana segala sesuatu berasal."

"Energi Pencipta?" Kael mengerutkan kening. "Jadi kekuatan kami bisa menciptakan sesuatu?"

"Bisa menciptakan, dan juga bisa menghancurkan kembali menjadi nol," jelas Darian. "Tapi masalahnya, kalian menggunakannya secara insting saja. Kalian melepaskannya begitu saja seperti ledakan. Itu boros dan berbahaya. Kalian harus belajar memadukannya menjadi satu aliran yang halus dan mematikan."

"Nenek Mara punya ide," tiba-tiba Nenek Mara bersuara sambil merapikan tumpukan buku tebal di meja. "Aku ingat ada sebuah tempat di bagian paling utara pulau ini. Disebut Lembah Keseimbangan. Di sana ada sebuah kuil kuno yang dibangun oleh penyihir generasi pertama. Konon, di tempat itu, batas antara Cahaya dan Kegelapan sangat tipis. Lingkungan di sana sempurna untuk melatih penyatuan energi."

"Lembah Keseimbangan..." Kael mengangguk pelan. "Aku pernah mendengar namanya. Tapi katanya tempat itu berbahaya dan penuh dengan ilusi?"

"Justru karena itu kalian harus pergi ke sana," sahut Darian. "Musuh kalian selanjutnya tidak hanya akan menyerang dengan pedang atau sihir, mereka bisa saja menyerang pikiran dan jiwa kalian. Di kuil itu, kalian akan diuji seberapa kuat ikatan jiwa kalian. Jika ikatan itu goyah sedikit saja, kalian akan terjebak dalam ilusi selamanya."

Elara menggenggam tangan Kael erat-erat. "Aku tidak takut. Selama bersamanya, ilusi apa pun pasti bisa ditembus."

"Bagus," Darian tersenyum tipis. "Kalau begitu, persiapkan dirimu. Berangkatlah besok pagi. Perjalanan ke sana memakan waktu tiga hari, dan kalian mungkin butuh waktu berminggu-minggu di dalam sana untuk menyelesaikan pelatihan."

***

Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing, Elara dan Kael memulai perjalanan mereka. Mereka tidak membawa banyak barang, hanya bekal secukupnya dan senjata mereka masing-masing. Nenek Mara dan Darian mengantar mereka sampai ke gerbang kota.

"Jagalah dirimu, putriku," pesan Darian sambil menepuk bahu Elara. "Dan kau, Kael... lindungi dia dengan hidupmu."

"Akan kulakukan, Tuan," jawab Kael mantap.

Mereka pun berjalan menjauh. Perjalanan menuju utara sangat berbeda dengan jalan menuju Benteng Kegelapan. Jika jalan ke benteng gelap dan menyeramkan, jalan ke utara justru dipenuhi pemandangan indah namun sepi. Hutan di sana lebih rimbun, sungai-sungainya jernih, namun hembusan anginnya membawa pesan-pesan kuno yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki hati terbuka.

Selama perjalanan, hubungan mereka semakin dalam. Mereka berbicara tentang masa depan, tentang apa yang ingin mereka lakukan setelah semua masalah ini selesai. Kael bercerita tentang masa kecilnya yang keras dan penuh latihan, sementara Elara bercerita tentang kesepiannya dulu sebelum bertemu Kael.

Pada malam hari di hari kedua, mereka berkemah di tepi sungai. Api unggun kecil menyala hangat di antara mereka.

"Elara," panggil Kael pelan sambil menatap nyala api. "Jika suatu hari nanti... ada kemungkinan bahwa keberadaan kita memang salah. Jika memang benar bahwa kita merusak keseimbangan alam semesta... apa yang akan kau lakukan?"

Pertanyaan itu membuat Elara terdiam. Ia menatap profil wajah Kael yang diterangi cahaya api.

"Aku akan tetap memilih sama," jawab Elara tegas.

Kael menoleh, terkejut. "Tapi kalau itu berarti kehancuran?"

"Cinta itu sendiri adalah keseimbangan, Kael," kata Elara lembut namun yakin. "Lihatlah api ini. Ia punya nyala yang panas, tapi juga punya bayangan gelap di sekitarnya. Jika tidak ada gelap, kita tidak akan melihat terang. Jika tidak ada terang, gelap akan menjadi tak berujung. Mereka butuh satu sama lain. Sama seperti kita."

Elara menyandarkan kepalanya di bahu Kael.

"Jangan pernah ragu lagi tentang kita, ya. Kita adalah takdir yang terbaik yang pernah terjadi padaku."

Kael menghela napas lega, seolah beban berat di dadanya terangkat. Ia memeluk bahu Elara erat. "Terima kasih, Elara. Kau adalah alasan aku tetap menjadi manusia, bukan menjadi monster penghancur."

***

Setelah tiga hari berjalan, mereka akhirnya tiba di lokasi yang dimaksud.

Di depan mereka terbentang sebuah lembah hijau yang dikelilingi pegunungan tinggi. Di tengah lembah itu, berdiri sebuah bangunan megah namun sudah tertutup lumut dan akar pohon. Itu adalah Kuil Keseimbangan.

Saat mereka melangkah masuk ke area kuil, udara di sekitar mereka berubah drastis. Waktu seolah terasa melambat. Suara burung dan angin hilang seketika, digantikan oleh keheningan total yang sakral.

Di pintu masuk utama kuil, terdapat dua patung batu raksasa. Satu patung berbentuk malaikat bercahaya, dan satu lagi berbentuk naga kegelapan. Kedua patung itu saling berhadapan, namun tangan mereka saling bersentuhan membentuk sebuah gerbang.

"Ini dia," bisik Kael. "Gerbang Uji Coba."

Mereka berjalan mendekat dan melewati di antara kedua patung itu.

Saat tubuh mereka melewati gerbang, pandangan mereka berubah seketika. Kuil yang tadinya tua dan rusak, kini berubah menjadi bersih, megah, dan bercahaya. Lantainya terbuat dari marmer hitam dan putih yang bergantian membentuk pola catur raksasa.

Dan di ujung aula utama, terdapat sebuah cermin besar setinggi lima meter yang terbungkus emas.

"Itu Cermin Kebenaran," kata sebuah suara yang bergema dari seluruh penjuru ruangan. Bukan suara orang lain, tapi suara yang keluar dari dalam pikiran mereka sendiri.

"Selamat datang, para penyatu. Kalian yang telah melanggar hukum alam demi cinta. Apakah kalian siap membuktikan bahwa ikatan kalian layak untuk dipertahankan?"

"Kami siap!" jawab Elara dan Kael serempak.

"Maka lihatlah ke dalam cermin... dan hadapilah diri kalian yang sebenarnya."

Mereka berdua menatap ke arah cermin besar itu. Namun, yang terlihat di sana bukanlah bayangan mereka saat ini.

Di dalam cermin, terlihat dua sosok. Di sisi kiri, ada Elara namun ia terlihat sangat gelap, matanya merah menyala, dan dikelilingi aura kehancuran. Di sisi kanan, ada Kael namun ia terlihat bersinar terang menyilaukan, wajahnya dingin tanpa emosi, layaknya para Pengawas yang mereka lawan.

"Itu adalah kalian jika kalian terpisah," suara itu menjelaskan. "Jika ikatan putus, kau Elara akan mewarisi sisi gelap ayahmu dan menjadi penghancur dunia. Dan kau Kael, kau akan menjadi penegak aturan yang dingin dan membunuh segala rasa kemanusiaan."

Elara dan Kael terbelalak kaget. Itu adalah masa depan terburuk mereka.

"Jangan biarkan bayangan itu mempengaruhimu!" seru Kael. "Kita adalah kita! Bukan mereka!"

"Tarik napas, Kael. Fokus pada rasamu padaku," bimbing Elara. Ia menggenggam tangan Kael sangat erat, hingga jari-jemari mereka saling mengunci. "Rasakan detak jantungku. Rasakan cintaku."

Mereka menutup mata, membiarkan energi mereka berputar. Cahaya perak dan Hitam pekat berputar membentuk pusaran di antara mereka.

"Aku mencintaimu, Elara."

"Aku mencintaimu, Kael."

DUG!

Sebuah ledakan energi kecil namun padat meledak dari tubuh mereka. Saat mereka membuka mata kembali dan menatap cermin, bayangan gelap dan terang itu lenyap. Yang tersisa hanyalah bayangan mereka berdua yang berdiri berdampingan, bersinar dengan warna ungu keemasan yang indah dan damai.

"Kalian telah lulus uji pertama," suara itu terdengar lagi, kali ini terdengar lebih lembut. "Sekarang, wilayah latihan ini terbuka untuk kalian. Gunakan waktu ini dengan bijak. Kuil ini akan melindungi kalian dari waktu luar. Satu bulan di sini sama dengan satu hari di dunia luar."

Mereka tersenyum lega. Tahap pertama selesai.

Selama sebulan penuh di dalam kuil, Elara dan Kael berlatih tanpa henti. Mereka belajar memadukan sihir mereka menjadi berbagai bentuk baru. Mereka menciptakan pedang gabungan, perisai tak terlihat, hingga serangan jarak jauh yang presisi. Mereka juga belajar membaca aliran energi musuh hanya dengan getaran di udara.

Ikatan jiwa mereka semakin sempurna. Mereka bisa bertukar pikiran tanpa bicara, bergerak seolah satu tubuh, dan merasakan apa yang dirasakan pasangannya dengan sangat jelas.

Di akhir masa latihan, kekuatan mereka tidak lagi terasa seperti dua aliran sungai yang bertemu, melainkan sudah menjadi satu lautan yang tenang namun sangat dalam dan tak terduga.

"Sekarang kita siap," kata Kael sambil menghunuskan pedangnya yang kini tidak lagi hitam pekat, melainkan memiliki garis-garis ungu yang berkilau. "Siap menghadapi apa pun."

"Ya," jawab Elara dengan senyum percaya diri. "Mari kita pulang. Dan biarkan dunia melihat kekuatan kita yang sesungguhnya."

Mereka berjalan keluar dari kuil, siap untuk melanjutkan babak baru dalam pertarungan mereka demi melindungi cinta dan dunia tempat mereka tinggal.

 

(Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!