Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Detak Jantung Aritmia
Pintu ruang kerja itu tertutup dengan bunyi klik yang pelan, tapi efeknya seperti ledakan bom di telinga Elvano.
Hening.
Elvano Diwantara berdiri mematung di tengah ruangannya yang luas dan dingin. Matanya terpaku pada tumpukan uang di atas meja. Uang merah dan biru yang masih kaku, masih harum bau bank, tapi ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis yang sepatunya saja sudah tipis sebelah.
"Kerja pakai hati?" gumam Elvano, mengulangi kalimat terakhir Aluna. "Bukan cari duit?"
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Bagi Elvano, kalimat itu tidak masuk akal. Tidak logis.
Dalam kamus hidupnya, semua orang bekerja untuk uang. Integritas itu punya harga, dan dia baru saja menawar dengan harga tinggi. Kenaikan gaji dua puluh persen plus uang laundry? Itu penawaran yang sangat murah hati.
Tapi Aluna menolaknya.
"Gadis aneh," desis Elvano. "Sangat tidak efisien. Menolak profit demi ego."
Elvano hendak kembali duduk untuk melanjutkan pekerjaannya memeriksa laporan saham, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
Dug.
Ada sensasi aneh di dadanya.
Dug. Dug. Dug.
Jantungnya berdetak. Bukan detak biasa, tapi detak yang keras, cepat, dan tidak beraturan. Seperti ada drum yang dipukul acak di dalam rongga dadanya.
Elvano memegang dadanya sebelah kiri. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Napasnya terasa sedikit pendek.
"Apa ini?" Elvano mengernyit. Dia melihat jam tangannya.
Pukul 08.15 pagi.
Dia baru minum setengah cangkir kopi arabica dengan takaran kafein yang presisi. Dia tidur cukup—yah, terpotong sedikit gara-gara insiden klub malam, tapi dia sudah tidur lagi tadi. Tidak ada riwayat penyakit jantung di keluarga Diwantara, kecuali Papa yang darah tinggi kalau saham anjlok.
Tapi detak ini...
Dug-dug-dug... Dug... Dug-dug.
"Aritmia," diagnosa Elvano cepat. Otaknya langsung memindai artikel kesehatan yang pernah dia baca sekilas. "Gangguan irama jantung. Bisa fatal kalau dibiarkan."
Kepanikan melanda, tapi wajah Elvano tetap datar. Dia tidak boleh mati muda. Asetnya masih banyak yang belum diamankan. Elora masih belum becus pegang uang. Kalau dia mati sekarang, Diwantara Group bisa runtuh dalam seminggu. Sedangkan orang tuanya, masih di Eropa.
Dengan tangan sedikit gemetar, Elvano meraih telepon di mejanya. Dia menekan tombol speed dial nomor 1.
"Halo, Pak Elvano?" suara di seberang terdengar santai.
"Dokter Adrian," panggil Elvano, suaranya terdengar sangat serius dan mendesak. "Ke kantor saya sekarang. Bawa alat EKG portabel dan suntikan adrenalin. Darurat."
"Hah? Darurat? Bapak kenapa? Pingsan? Sesak napas?" suara dokter pribadi itu berubah panik.
"Jantung saya," jawab Elvano kaku sambil menekan dadanya yang makin bergemuruh setiap kali mengingat wajah marah Aluna tadi. "Detaknya tidak sinkron. Cepat dan tidak beraturan. Sepertinya saya kena serangan jantung ringan atau ada gangguan katup yang mendadak bocor."
"Oke, Pak! Tetap tenang! Jangan banyak gerak! Saya meluncur sekarang! Lima menit sampai!"
Telepon ditutup.
Elvano duduk perlahan di kursi kebesarannya. Dia melonggarkan dasinya, mencoba mengatur napas. Dia memejamkan mata, mencoba fokus.
Tapi sialnya, setiap kali dia memejamkan mata, bayangan Aluna yang berdiri menantang dengan mata berapi-api itu malah muncul. Bayangan gadis kecil yang berani pasang badan demi adiknya. Bayangan gadis yang menolak uangnya.
Dan setiap bayangan itu muncul, jantungnya berulah lagi.
Dug-dug-dug!
"Sialan," umpat Elvano sambil memukul meja pelan. "Ini pasti komplikasi dari kopi yang salah takaran tadi pagi. Baristanya harus saya pecat."
Dia lupa, dia sendirilah yang bikin kopinya. Dimana biji kopi diambil dan dihitung secara teliti menggunakan pinset.
Sepuluh menit kemudian.
Pintu ruangan terbuka lebar. Dokter Adrian, seorang pria muda berkacamata dengan jas putih yang berkibar-kibar, berlari masuk sambil menenteng tas medis besar. Dua perawat mengikutinya di belakang membawa alat rekam jantung portable.
"Pak Elvano! Bapak masih sadar?!" teriak Adrian panik.
"Saya belum mati, Dok. Jangan teriak-teriak," tegur Elvano datar. Dia masih duduk di kursinya, wajahnya sedikit pucat tapi masih terlihat berwibawa.
"Syukurlah," Adrian menghela napas lega. Dia langsung memberi isyarat pada perawat. "Pasang EKG sekarang. Cek tekanan darah dan saturasi oksigen."
Dalam hitungan menit, ruang kerja CEO yang mewah itu berubah menjadi ruang IGD dadakan. Kemeja mahal Elvano dibuka kancingnya. Kabel-kabel ditempelkan di dada bidangnya. Manset tensi melilit lengannya.
Elvano diam saja, pasrah diperlakukan seperti pasien kritis. Dia menatap layar monitor EKG yang menampilkan grafik garis hijau yang naik turun.
"Gimana, Dok?" tanya Elvano saat Adrian sedang mendengarkan detak jantungnya menggunakan stetoskop dengan wajah berkerut serius. "Ada penyumbatan? Perlu operasi bypass? Atau pasang ring?"
Adrian diam. Dia memindahkan stetoskopnya ke titik lain di dada Elvano. Lalu pindah lagi. Lalu pindah lagi.
Wajah Adrian yang tadinya panik, perlahan berubah menjadi bingung. Lalu berubah lagi menjadi curiga.
Adrian melepas stetoskopnya dan menggantungkannya di leher. Dia menatap layar EKG, lalu menatap Elvano.
"Pak," panggil Adrian.
"Ya? Parah? Berapa persen fungsi jantung saya yang tersisa?" Elvano sudah siap mental mendengar vonis terburuk.
"Seratus persen, Pak," jawab Adrian datar.
Elvano mengernyit. "Maksudnya?"
"Jantung Bapak sehat walafiat. Kuat kayak kuda pacu," Adrian menunjuk layar monitor. "Tekanan darah normal seratus dua puluh per delapan puluh. Saturasi oksigen sembilan puluh sembilan persen. Tidak ada kebocoran katup, tidak ada penyumbatan, tidak ada tanda-tanda serangan jantung."
"Dokter jangan bercanda," Elvano tidak terima. "Tadi detaknya cepat sekali. Rasanya aneh. Seperti mau meledak. Ada sensasi panas menjalar. Jangan sampai salah diagnosa, Dok!"
"Itu namanya takikardia sesaat, Pak. Peningkatan detak jantung sementara," jelas Adrian sambil membereskan alatnya. "Biasanya dipicu oleh stres, kafein berlebih, atau..."
Adrian menggantung kalimatnya. Dia menatap Elvano dengan senyum geli yang menyebalkan.
"Atau apa?" desak Elvano.
"Atau respons emosional yang kuat terhadap stimulus tertentu," Adrian menaikkan alisnya, menggoda. "Bapak habis ketemu siapa tadi? Atau habis mikirin siapa?"
Elvano terdiam. Wajah Aluna melintas lagi di benaknya. Dan benar saja, jantungnya berkedut lagi.
"Nggak ada," sangkal Elvano cepat. "Cuma urusan bisnis. Ada negosiasi alot dengan... karyawan baru."
"Karyawan baru?" Adrian tertawa kecil. Dia sudah mengenal Elvano sejak kuliah. Dia tahu manusia es ini tidak pernah deg-degan karena urusan bisnis. Elvano menghadapi kerugian triliunan saja nadinya tetap stabil.
"Pak Elvano," Adrian menepuk bahu bosnya itu layaknya teman lama. "Secara medis, Bapak bersih. Fisik Bapak prima. Tapi gejala yang Bapak rasakan itu... itu bukan penyakit medis."
"Lalu apa? Penyakit psikis? Saya gila?" tanya Elvano tersinggung.
"Bukan gila, tapi hampir," Adrian terkekeh. "Itu gejala awal penyakit merah jambu."
Elvano melongo. Alis tebalnya bertaut tajam, otaknya yang jenius mencoba mencari referensi istilah medis 'Penyakit Merah Jambu' di database ingatannya. Nihil.
"Penyakit merah jambu?" ulang Elvano bingung. "Istilah latinnya apa? Rubella? Campak?"
Adrian menepuk jidatnya sendiri. "Bukan campak, Pak Bos. Maksud saya... Bapak itu lagi jatuh cinta. Atau minimal, Bapak lagi naksir berat sama seseorang."
Hening.
Elvano menatap dokternya seolah Adrian baru saja mengatakan kalau bumi itu datar.
"Jatuh cinta?" Elvano mendengus remeh. Dia merapikan kancing kemejanya dengan gerakan kaku. "Analisa Dokter ngawur. Saya tidak punya waktu untuk hal tidak produktif seperti itu. Cinta itu cuma reaksi kimia otak yang bikin orang jadi bodoh dan boros."
"Ya, dan sekarang reaksi kimia itu lagi bikin jantung Bapak mau copot," ledek Adrian sambil menutup tas medisnya. "Akui saja, Pak. Siapa cewek yang bikin CEO Diwantara Group panik sampai mau panggil ambulans begini?"
Elvano berdiri, kembali memasang wajah temboknya.
"Tidak ada. Diagnosa Dokter salah total. Saya sehat. Mungkin tadi cuma efek samping AC ruangan yang terlalu dingin," elak Elvano keras kepala.
"Terserah Bapak deh," Adrian menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi saran saya sebagai dokter: hati-hati. Penyakit merah jambu ini nggak ada obatnya di apotek. Kalau nggak diobati dengan cara 'ditembak', bisa jadi komplikasi kronis bernama 'gagal move on'."
"Keluar," usir Elvano. "Bawa alat-alat ini keluar. Saya mau kerja."
Adrian tertawa sambil memberi hormat, lalu berjalan keluar diikuti para perawat yang senyum-senyum sendiri.
Begitu pintu tertutup, Elvano kembali sendirian. Dia memegang dadanya lagi. Masih ada sisa-sisa getaran aneh itu.
"Penyakit merah jambu..." gumam Elvano jijik. "Mana mungkin."
Dia berjalan menuju jendela besar, menatap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
"Jatuh cinta itu tidak masuk akal. Probabilitas kerugiannya terlalu tinggi," Elvano bermonolog, mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan logika.
Tapi kemudian, dia teringat wajah Aluna yang menolak uangnya.
"Pasti alergi," putus Elvano tiba-tiba, menemukan jawaban yang menurutnya paling ilmiah.
Dia mengangguk yakin.
"Saya pasti alergi," gumam Elvano serius sambil mengetuk-ngetuk dagunya. "Tapi alergi apa? Debu? AC? Atau... alergi sama orang miskin yang sok idealis?"
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁