NovelToon NovelToon
Warisan Dewa: Misteri Benua Tianyun

Warisan Dewa: Misteri Benua Tianyun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah menaklukkan Turnamen Alam Dewa dan mencapai ranah Ascendant, Zhao Xuan dan raksasa perunggu Long Chen kembali ke Benua Fana Tianyun tempat di mana legenda mereka berdua dimulai. Tujuan utama mereka adalah Lautan Kematian, sebuah wilayah terlarang yang menyimpan artefak legendaris.

Namun, turunnya Kunci Asal telah mengubah keseimbangan Benua Tianyun. Energi kuno yang bocor dari Lautan Kematian memicu kebangkitan berbagai warisan rahasia di benua fana. Para jenius lokal tingkat puncak yang merasa diri mereka tak tertandingi mulai bermunculan. Di saat yang sama, pasukan elit dari "Tujuh Penghancur Surga" diam-diam telah menyusup dan memanipulasi sekte-sekte raksasa benua fana untuk menggali Lautan Kematian.

Bagi Zhao Xuan dan Long Chen, Benua Tianyun kini tak ubahnya seperti taman bermain yang terbuat dari kaca tipis. Mereka harus menekan kekuatan destruktif mereka agar tidak menghancurkan benua tersebut, sambil menghadapi arogansi para jenius fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Permukaan Kolam Darah Purba yang tadinya mendidih dan memancarkan uap merah delima kini perlahan mereda. Cairan kental yang dipenuhi energi kehidupan kuno itu berangsur-angsur menjadi bening layaknya air biasa, esensinya telah diserap habis oleh dua eksistensi di dalamnya.

WUUUSSSSH!

Zhao Xuan membuka matanya. Sebuah kilatan cahaya keemasan bercampur ketiadaan hitam pekat melesat dari pupilnya, membelah kabut Hutan Roh sejauh belasan tombak.

Ia melangkah keluar dari kolam. Kulitnya yang pucat kini memancarkan kilau perunggu gelap yang sangat samar tanda bahwa sisa-sisa kerusakan fisik akibat hantaman telapak tangan Kaisar Siluman God King di masa lalu telah pulih sepenuhnya. Tidak hanya itu, fondasi Roda Ketujuh di Dantian-nya kini sedingin dan sekokoh es abadi. Meski kultivasinya masih berada di Ascendant Awal, kepadatan Qi-nya telah mencapai batas puncak dari tahap tersebut.

Di seberang kolam, Ye Sha melompat ke tepian dengan gerakan yang luar biasa ringan. Sisik-sisik iblis di lengannya kini berwarna hitam kemerahan yang pekat, memancarkan tekanan murni dari ranah Nirvana Awal yang telah stabil seutuhnya. Ia tidak lagi terlihat seperti pangeran pelarian yang sekarat, melainkan seorang penakluk yang siap mengklaim takhtanya.

Ye Sha menatap Zhao Xuan. Ia adalah seorang ahli Nirvana, seorang calon penguasa Alam Iblis, dan Zhao Xuan adalah sekutu terkuat yang pernah ia miliki. Kemitraan mereka dibangun di atas darah dan ambisi.

"Energi darah ini luar biasa, Zhao Xuan," ucap Ye Sha, suaranya berat dan penuh dengan rasa hormat antar sekutu. Ia memutar bahunya, merasakan kekuatan ledakan di setiap ototnya. "Fondasiku telah mengakar kuat. Sebagai sekutumu, aku pastikan kau tidak akan membuang tenagamu dengan percuma untuk membantuku."

Zhao Xuan mengenakan kembali jubah hitam tempurnya, menyeringai tipis melihat kepercayaan diri sekutunya. "Pastikan saja tombakmu tidak tumpul saat kita sampai di Reruntuhan Kuno nanti, Ye Sha. Aku tidak datang ke neraka ini untuk membantu seorang beban."

"Kalian berdua benar-benar pasangan penakluk yang paling menawan di seluruh Sembilan Surga!"

Sebuah suara nyaring dan menjilat memecah keheningan yang keren itu. Gu Tianxue dalam tubuh pemuda iblis bersayap api yang buntung berlari mendekat sambil memeluk sebuah buntelan besar yang bergemerincing.

"Tuan Zhao Xuan! Tuan Ye Sha yang perkasa!" Gu Tianxue menjatuhkan diri ke tanah, menyodorkan buntelan itu dengan kedua tangannya ke atas udara. "Hamba telah melucuti semua serangga arogan itu! Hamba mendapatkan empat puluh Cincin Penyimpanan, tiga puluh Token Sayembara, dan... lebih dari lima ratus Kristal Qi Merah!"

Zhao Xuan melirik tumpukan harta itu dengan ekspresi datar. Ia menjentikkan jarinya, dan seluruh Kristal Qi Merah serta barang-barang berharga di dalam cincin penyimpanan itu langsung berpindah ke dalam ruang penyimpanannya.

"Ratusan kristal ini hanya cukup untuk memberi makan satu persen dari Dantian ku," gumam Zhao Xuan, sedikit tidak puas. Untuk menembus Ascendant Menengah, ia membutuhkan energi yang setara dengan jutaan Giok Abadi. "Tapi ini awal yang baik. Bawa token-token itu, Gu Tianxue. Kita akan menggunakannya sebagai tiket jika diperlukan."

"BAIK, TUANKU!" Gu Tianxue segera mengalungkan puluhan token sayembara itu ke lehernya layaknya kalung murahan, terlihat sangat konyol namun ia membusungkan dadanya dengan bangga.

"Ayo bergerak," titah Zhao Xuan, menatap lurus ke arah kabut yang semakin pekat di utara. "Zona selanjutnya adalah Lembah Darah. Mari kita lihat apakah monster dan jebakan di sana bisa memberiku lebih banyak kristal."

Tiga Hari Kemudian (Waktu Alam Rahasia) – Perbatasan Lembah Darah.

Perjalanan menembus sisa Hutan Roh berlangsung cepat. Dengan Zhao Xuan yang menggunakan hukum ruang untuk menghindari jebakan tanaman pemakan jiwa, dan Ye Sha yang auranya mengusir monster-monster menengah, mereka tiba di zona ketiga tanpa hambatan berarti.

Namun, saat mereka melangkah keluar dari garis pepohonan raksasa, pemandangan yang menyambut mereka membuat langkah mereka terhenti.

Di depan mereka, terbentang sebuah lembah tandus yang tanahnya benar-benar berwarna merah karat. Di tengah lembah tersebut, mengalir sebuah sungai selebar seratus tombak yang airnya berupa darah hitam yang mendidih dan melepaskan uap korosif yang mematikan. Sungai itu membelah lembah, menjadi satu-satunya pembatas menuju zona Reruntuhan Kuno di seberangnya.

Namun, bukan sungai darah itu yang menjadi masalah utama.

Di tepi sungai tersebut, ratusan jenius iblis dari berbagai faksi kecil dan menengah sedang berkumpul. Mereka tidak menyeberang, melainkan tertahan oleh sebuah blokade besar.

Di depan jembatan tulang tunggal yang melintasi sungai darah itu, berdiri puluhan prajurit elit dari faksi Raja Iblis Xue Hai (Lautan Darah).

Di atas sebuah singgasana batu yang dibangun tergesa-gesa di dekat jembatan, duduk seorang pemuda iblis berambut merah darah yang memancarkan tekanan absolut dari ranah Ascendant Awal Puncak. Ia adalah Pangeran Xue Tu, jenius nomor satu dari faksi Lautan Darah.

Dan berdiri di sampingnya dengan kipas bulu bangau yang berkibar elegan, adalah Yao Feng, sang jenius dari Klan Yao Alam Dewa yang berada di ranah Ascendant Menengah. Keduanya telah beraliansi untuk memonopoli jembatan tersebut!

"Dengar baik-baik, serangga-serangga faksi kecil!" raung salah satu jenderal faksi Xue Tu kepada kerumunan jenius iblis yang tertahan. "Jembatan Tulang ini telah dikuasai oleh Pangeran Xue Tu dan Tuan Yao Feng! Sungai Darah ini mengandung kutukan penarik jiwa, kalian tidak bisa terbang melewatinya tanpa ditarik jatuh ke dasar sungai!"

Jenderal itu menunjuk ke arah jembatan. "Jika kalian ingin menyeberang dan melanjutkan Sayembara ke Reruntuhan Kuno, kalian harus menyerahkan seluruh Kristal Qi Merah kalian, dan 90% dari isi cincin spasial kalian sebagai 'Pajak Jalan'!"

Kerumunan jenius iblis itu menggertakkan gigi.

"Ini perampokan terang-terangan!" protes seorang iblis tingkat Soul Transformation Puncak. "Aturan sayembara melarang pembunuhan, tapi jika kalian merampas sumber daya kami, bagaimana kami bisa bersaing di Reruntuhan Kuno nanti?!"

Yao Feng yang berdiri di samping singgasana mendengus pelan, menatap kerumunan itu dengan jijik. Ia mengibaskan kipasnya.

ZRAAAASH!

Sebuah pisau angin dari Qi murni tingkat Ascendant Menengah melesat, memotong lengan iblis yang memprotes itu hingga putus!

"Aaaargh!" Iblis itu jatuh berlutut, memegangi bahunya yang menyemburkan darah.

"Aturan melarang pembunuhan, tapi tidak melarang mutilasi," ucap Yao Feng dingin, suaranya mengandung arogansi khas elit Alam Dewa. "Aku tidak peduli dengan takhta kotor kalian. Aku di sini hanya untuk mencari pusaka di Reruntuhan Kuno. Bayar pajaknya, atau aku akan memotong keempat anggota tubuh kalian dan melempar kalian ke dalam sungai darah itu sebagai jembatan tambahan."

Melihat kekejaman dan perbedaan ranah yang mutlak itu, kerumunan jenius iblis seketika terdiam dalam keputusasaan. Mereka mulai dengan enggan merogoh cincin spasial mereka, bersiap menyerahkan hasil jerih payah mereka. Pangeran Xue Tu tertawa terbahak-bahak melihat pundi-pundinya bertambah tanpa harus berkeringat.

Dari balik formasi batu di kejauhan, Zhao Xuan, Ye Sha, dan Gu Tianxue mengamati pemandangan tersebut.

"Mereka menggunakan taktik memancing di air keruh," bisik Ye Sha, matanya menyipit tajam. "Yao Feng dan Xue Tu menjarah peserta lain untuk memperkaya diri mereka sendiri sebelum masuk ke zona inti. Kelicikan yang lumayan, memanfaatkan perlindungan aturan agar tidak dikeroyok sampai mati."

"Kelicikan yang menyedihkan," balas Zhao Xuan, matanya berubah menjadi hitam legam. "Mereka mengumpulkan kristal untukku. Aku harus berterima kasih pada mereka."

"Tuanku, haruskah hamba maju dan menggonggong untuk menarik perhatian mereka?" tawar Gu Tianxue dengan semangat penjilat yang menggebu-gebu.

"Tidak perlu," Zhao Xuan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, menolak untuk merunduk apalagi bersembunyi. "Kita akan berjalan melewati jembatan itu dari pintu depan."

Zhao Xuan dan Ye Sha berjalan santai menuruni bukit berbatu, langsung menuju kerumunan yang sedang dipaksa membayar pajak. Suara langkah Zhao Xuan yang tenang anehnya membelah kebisingan di tepi sungai darah itu.

Beberapa jenius iblis yang sedang antre menoleh. Saat mereka melihat siapa yang datang, mata mereka terbelalak.

"I-Itu Pangeran Ye Sha!"

"Dan pemuda manusia sombong itu! Mereka selamat dari Hutan Roh?!"

Keributan kecil itu menarik perhatian Pangeran Xue Tu dan Yao Feng di depan jembatan. Saat Yao Feng melihat wajah Zhao Xuan, kipas di tangannya seketika berhenti mengayun. Senyum arogan di wajahnya berubah menjadi seringai penuh dendam.

"Hahaha! Lihat siapa yang datang mengantarkan nyawanya!" Yao Feng melangkah maju, menunjuk Zhao Xuan dengan kipasnya. "Cacing fana! Kau ingat janjimu di pelataran altar?! Kau bilang akan menjadikan kepalaku sebagai cangkir arakmu? Sekarang, di hadapan sungai darah ini, mari kita lihat apakah mulut besarmu bisa menyelematkan kakimu dari tebasanku!"

Pangeran Xue Tu berdiri dari singgasananya, mencabut sebuah golok bergerigi raksasa. "Yao Feng, biarkan aku yang memotong kakinya. Pangeran Ye Sha dan manusia ini adalah musuh utama faksiku. Serahkan seluruh token dan kristal kalian, Ye Sha, lalu berlututlah di lumpur berdarah ini!"

Melihat dua ahli tingkat Ascendant menargetkan Zhao Xuan dan Ye Sha, kerumunan jenius iblis segera mundur, tidak ingin terjebak dalam pertarungan tingkat tinggi tersebut.

Ye Sha melangkah maju, Niat Nirvana Awal-nya mulai bocor ke udara, siap untuk membungkam Pangeran Xue Tu.

Namun, Zhao Xuan mengangkat tangannya, menghentikan Ye Sha.

Sang Asura melangkah maju melewati sekutunya, menatap Yao Feng dan Xue Tu layaknya menatap dua serangga yang menghalangi jalan masuk rumahnya.

"Pajak jalan?" Zhao Xuan membeo dengan nada yang sangat datar, lalu tertawa pelan. Tawa itu luar biasa dingin, membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

Ia memiringkan kepalanya, menatap lurus ke mata Yao Feng.

"Aku adalah orang yang selalu membayar hutang, Yao Feng," ucap Zhao Xuan pelan, namun seluruh lembah bisa mendengarnya. "Namun sayangnya, aku lupa membawa uang receh hari ini. Sebagai gantinya..."

Zhao Xuan mengangkat tangan kanannya. Dua bilah Belati Kembar Jiwa muncul di genggamannya, memancarkan resonansi spasial dari Roda Ketujuh yang membuat sungai darah di belakang mereka berhenti mengalir seketika.

"...aku akan membayar itu dengan nyawa kalian berdua.

1
Andi Heryadi
akhir mati juga MCnya,sombong arogan lupa klo diatas langit msh ada langit
saniscara patriawuha.
semoga lekas sembuh mang otor sehat selalu...
Ghotam
kenapa Gu Tianxue jadi begitu ya. dan semoga Tuan mudanya menepati janjinya untuk menemukan tubuh yang tepat untuk Gu
saniscara patriawuha.
sayang inti monster nirwana puncak cuma naikin sampe ascendan menengah,, minimal ya nirwana awal lah mang otor....
Solihin Syamsuddin
Semoga lekas sembuh….
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣😍😍😍😍😄👍👍👍
Markinyo
kenapa tidak menguraa harta sekte & kerajaan yg telah menyerang? itu kn rampasan perang?
Ahmad Nasir
katanya dah jadi dewa... dikit-dikit kalah, dikit-dikit mau mati...🙄😏😏😏
saniscara patriawuha.
sikattttt....
saniscara patriawuha.
sikattttt.,
saniscara patriawuha.
serappppp sampeeee keringggg...
saniscara patriawuha.
sikatttty manggg guuuu,, tunjukann kejantananmuuu...
saniscara patriawuha.
sikattttt dannn serapppppppp....
saniscara patriawuha.
mangapppp manggg otorrrr,,, gasssss
eka suci
syafakillah Thor, semoga cepat sembuh 🤲🏻 biar bisa beraktifitas normal n crazy up lagi💪
eka suci
semakin naik ranah yg dibutuhkan pun semakin sulit tapi bukan berarti tidak bisa💪
saniscara patriawuha.
zrasssdsssss....
saniscara patriawuha.
gasssddd deuiiii...
saniscara patriawuha.
jarahhhh harta sektenya...
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnn sudahhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!