Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Menuju Ibu Kota Astra
Roda kereta kuda yang dilapisi karet sihir itu berputar dengan sangat halus di atas jalanan berbatu yang membelah padang rumput hijau di luar wilayah Oakhaven. Suara hentakan kaki kuda yang teratur menjadi musik latar yang menemani perjalanan Arlan dan Elena menuju pusat peradaban Kerajaan Astra. Di dalam kereta yang luas dan mewah ini, Arlan duduk bersandar pada kursi beludru berwarna merah tua yang sangat empuk. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia sudah sangat terbiasa dengan kemewahan, mulai dari mobil limosin hingga jet pribadi. Namun bagi tubuh kecilnya saat ini, kenyamanan seperti ini terasa sangat asing setelah tujuh tahun hidup dalam kemiskinan dan penderitaan di gubuk yang bocor.
Arlan menoleh ke arah ibunya, Elena, yang duduk di depannya. Wanita itu tampak sangat terpukau melihat pemandangan di balik jendela kaca kereta. Matanya yang tadinya penuh dengan kesedihan kini bersinar dengan binar harapan yang baru. Elena terus mengusap kain sutra yang menutupi kursi kereta, seolah olah dia masih belum percaya bahwa semua ini nyata. Bagi Elena, perjalanan ini bukan sekadar pindah tempat tinggal, melainkan pelarian dari neraka menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Arlan merasakan kehangatan di hatinya melihat ibunya bahagia, namun dia tetap menjaga kewaspadaannya. Dia tahu bahwa kemewahan yang diberikan oleh pihak akademi ini adalah sebuah pinjaman yang harus dia bayar dengan prestasi, atau mungkin dengan nyawanya di masa depan.
"Arlan, lihatlah gunung itu," ucap Elena sambil menunjuk ke arah pegunungan yang menjulang tinggi di kejauhan dengan puncak yang diselimuti kabut putih. "Itu adalah Pegunungan Celestia. Dulu, ayahmu pernah bercerita bahwa di balik gunung itu terdapat istana musim panas milik raja. Ibu tidak pernah menyangka akan bisa melihatnya sedekat ini."
Arlan tersenyum tipis dan mengangguk. "Suatu hari nanti, aku akan membawamu menginap di sana, Ibu. Bukan sebagai tamu, tapi sebagai pemilik."
Elena tertawa pelan, menganggap kata kata Arlan hanyalah sebuah banyolan anak kecil. Namun, bagi Arlan, itu adalah sebuah janji yang mutlak. Di kehidupan ini, dia tidak akan berhenti sampai dia mencapai puncak tertinggi kekuasaan. Dia menyadari bahwa status keluarga pengkhianat yang masih melekat pada nama Vandermir adalah sebuah noda yang harus dihapus, dan cara terbaik untuk menghapusnya adalah dengan menjadi begitu kuat sehingga tidak ada yang berani menyebutkan kata pengkhianat lagi.
Sambil kereta terus melaju, Arlan memejamkan matanya dan mulai melakukan meditasi rutin. Dia harus memulihkan kerusakan internal pada pembuluh darahnya akibat penggunaan Gerbang Kelima secara paksa saat melawan Julian. Gerbang Kelima: Gerbang Batas, memang memberikan kekuatan yang luar biasa, namun tekanan pada jantung dan saraf sangat besar. Arlan mengarahkan energi kehidupan dari Gerbang Ketiga untuk mengalir perlahan lahan di sepanjang jalur energinya. Dia memvisualisasikan energi tersebut sebagai air yang sejuk, membasuh memar memar energi dan memperkuat dinding pembuluh darahnya.
Di luar kereta, barisan ksatria pengawal yang dipimpin oleh Sir Alistair terus berjaga dengan waspada. Sir Alistair sesekali melirik ke arah jendela kereta, mencoba melihat apa yang sedang dilakukan oleh anak ajaib itu. Dia merasa kagum sekaligus sedikit ngeri melihat ketenangan Arlan. Sejak mereka berangkat dari desa, Arlan tidak pernah mengeluh, tidak banyak bertanya, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermeditasi. Perilaku ini sangat tidak lazim bagi seorang anak berusia tujuh tahun, bahkan bagi anak bangsawan yang sudah terlatih sekalipun.
Setelah dua hari perjalanan melewati berbagai desa dan kota kecil, pemandangan mulai berubah. Jalanan tanah berganti menjadi jalanan batu yang lebar dan sangat rapi. Di kiri dan kanan jalan, mulai terlihat bangunan bangunan megah yang terbuat dari marmer putih dengan atap berbentuk kubah. Inilah wilayah pinggiran ibu kota Astra. Kerumunan orang yang berlalu lalang terlihat mengenakan pakaian yang jauh lebih bagus daripada penduduk di Oakhaven. Arlan melihat ada banyak kereta sihir tanpa kuda yang bergerak menggunakan kristal mana, sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa tingginya teknologi sihir di pusat kerajaan ini.
"Kita akan segera sampai di Gerbang Utama Astra," suara Sir Alistair terdengar dari luar kereta.
Arlan membuka matanya dan melihat ke depan. Di ujung jalan, sebuah tembok raksasa berwarna emas kusam berdiri menjulang tinggi, seolah olah ingin menyentuh awan. Tembok itu dipenuhi dengan ukiran ukiran rune sihir pertahanan yang bersinar redup. Di tengah tembok tersebut, terdapat gerbang besi raksasa yang dihiasi oleh simbol bunga lili dan pedang bersilang lambang dari Kerajaan Astra. Arlan bisa merasakan tekanan mana yang sangat besar dari tembok tersebut. Ini bukan sekadar tembok fisik, tapi sebuah benteng sihir yang mampu menahan serangan dari ribuan penyihir tingkat tinggi sekalipun.
Saat kereta mereka mendekati gerbang, para penjaga zirah emas segera memberikan hormat saat melihat panji akademi kerajaan yang berkibar di atas kereta. Mereka tidak melakukan pemeriksaan yang berbelit belit. Gerbang terbuka perlahan dengan suara gemuruh yang berat, memperlihatkan kemegahan ibu kota yang sesungguhnya.
Begitu masuk ke dalam kota, Arlan merasa seperti kembali ke dunia modern namun dalam versi fantasi. Jalanan ibu kota sangat luas, cukup untuk dilewati oleh empat kereta kuda secara bersamaan. Di pinggir jalan, terdapat trotoar yang dipenuhi oleh toko toko mewah, kafe kafe terbuka, dan taman taman kota yang dihiasi oleh air mancur sihir yang bisa berubah warna. Orang orang di sini terlihat sangat elegan, dan hampir setiap orang yang Arlan lihat memiliki sedikit aliran mana di tubuhnya. Ibu kota adalah tempat berkumpulnya para pemilik berkah dewa terbaik.
"Indah sekali..." gumam Elena dengan suara yang hampir tak terdengar. Dia tampak sangat terharu hingga meneteskan air mata. "Ayahmu dulu selalu ingin membawaku ke sini setelah perang berakhir, tapi..."
Arlan memegang tangan ibunya dengan erat. "Ayah tidak bisa melakukannya, tapi aku ada di sini sekarang. Kita akan membangun masa depan yang baru di sini, Ibu."
Kereta terus melaju menuju bagian utara kota, sebuah wilayah yang disebut sebagai Distrik Akademis. Ini adalah wilayah khusus yang dihuni oleh para pengajar, mahasiswa, dan keluarga mereka. Suasananya jauh lebih tenang dan asri dibandingkan dengan pusat kota yang bising. Di sini, pohon pohon oak raksasa yang daunnya selalu berwarna keperakan tumbuh di sepanjang jalan. Udara di distrik ini juga terasa jauh lebih segar karena dipenuhi oleh mana yang murni.
Kereta akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang elegan. Di baliknya terdapat sebuah kompleks perumahan yang tertata sangat rapi. Sir Alistair turun dari kudanya dan membukakan pintu kereta untuk Arlan dan Elena.
"Selamat datang di tempat tinggal baru kalian," ucap Sir Alistair dengan senyum tipis. "Rumah nomor tujuh di ujung jalan ini adalah milik keluarga Vandermir mulai hari ini. Semua kebutuhan hidup kalian akan ditanggung oleh akademi selama Arlan terdaftar sebagai mahasiswa berprestasi. Pelayan dan kebutuhan rumah tangga juga sudah disiapkan di dalam."
Elena turun dari kereta dengan perasaan yang campur aduk. Dia menatap rumah dua lantai yang terbuat dari batu putih dengan taman bunga yang indah di depannya. Itu adalah rumah yang jauh melampaui impian tertingginya. Arlan turun setelah ibunya, matanya memindai sekeliling dengan cepat. Dia memeriksa setiap sudut jalan dan pohon di sekitar rumah barunya. Kebiasaan waspada nya tidak pernah hilang. Di tempat seperti ini, musuh yang paling berbahaya bukanlah binatang sihir, melainkan tetangga yang ramah namun menyimpan belati di balik punggungnya.
"Terima kasih, Sir Alistair," ucap Arlan dengan sopan. "Kapan jadwal pendaftaran fisikku di akademi dimulai?"
"Besok pagi, Master Eldrian sendiri yang akan menjemputmu untuk pendaftaran administrasi dan pembagian kelas," jawab Sir Alistair. "Hari ini, beristirahatlah. Kamu sudah melalui banyak hal di Oakhaven."
Setelah para pengawal pergi, Arlan mengajak ibunya masuk ke dalam rumah. Di dalam, segalanya sudah disiapkan. Ada perabotan kayu jati yang kokoh, karpet bulu yang hangat, dan sebuah dapur dengan peralatan masak yang lengkap. Dua orang pelayan wanita paruh baya menyambut mereka dengan hormat. Elena tampak sangat bingung bagaimana harus merespons penghormatan itu, karena selama tujuh tahun terakhir dia selalu menjadi orang yang memberikan hormat pada orang lain.
"Ibu, biarkan mereka bekerja. Ini adalah hakmu," bisik Arlan.
Malam harinya, setelah Elena tertidur lelap di kamar barunya yang mewah, Arlan naik ke lantai dua rumah tersebut. Terdapat sebuah balkon yang menghadap langsung ke arah menara utama Akademi Astra yang bercahaya terang di bawah sinar bulan. Arlan berdiri di balkon, membiarkan angin malam menyapu wajahnya. Dia mengeluarkan medali perak yang diberikan Master Eldrian.
Di kehidupan sebelumnya, Adit selalu merasa bahwa kesuksesan adalah tentang seberapa banyak uang yang dia miliki. Namun di dunia ini, dia menyadari bahwa kesuksesan adalah tentang seberapa besar kekuatan yang dia miliki untuk melindungi orang yang dia sayangi dan menghancurkan orang yang mengkhianatinya. Dia tahu bahwa di dalam akademi nanti, dia akan menghadapi diskriminasi, kecemburuan, dan pengkhianatan yang jauh lebih rumit daripada di desa Oakhaven. Julian hanyalah kerikil kecil di tengah jalan musuh yang sebenarnya adalah mereka yang duduk di kursi kursi tinggi kerajaan.
"Panggung sudah siap," gumam Arlan sambil mengepalkan tangannya. "Besok, aku akan melangkah ke dalam akademi itu bukan sebagai pengkhianat, tapi sebagai predator yang menyamar. Dan saat saatnya tiba, aku akan menunjukkan kepada mereka semua bahwa dewa sekalipun bisa berdarah di depan kepalan tanganku."
Arlan kembali ke dalam kamarnya dan mulai melakukan persiapan mental. Dia memeriksa kembali teknik Teknik Tanpa Bayangan nya dan memastikan Gerbang Keempatnya stabil. Dia tahu bahwa di ibu kota, setiap langkah adalah taruhan nyawa. Namun Arlan tidak takut. Justru rasa tertantang mulai membakar semangatnya. Di kehidupan keduanya ini, Arlan Vandermir akan membuat seluruh dunia tunduk padanya.