NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waktunya Berbelanja

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, Raymon langsung diam di bawahnya.

Gwen memang benci membicarakan hal itu, tapi dia harus mengatakannya. Dia tidak mau mengambil risiko tiba-tiba terkena serangan panik kalau Raymon tanpa sengaja melakukan sesuatu yang memicu dirinya.

Raymon tetap diam, dan Gwen bisa mendengar detak jantungnya yang makin cepat di bawah telinganya. Lalu pria itu melepaskan tangannya dari punggung Gwen.

“Balik ke kamar kamu, Babby. Kita enggak ngelakuin ini,” katanya tajam.

Sial.

Gwen sudah menduga dia bakal bereaksi seperti ini.

“Enggak apa-apa, Raymon.”

“Enggak. Kamu pernah disakiti. aku enggak bakal maksa kamu—”

“Kamu enggak maksa aku.”

Gwen mengangkat kepala, menatapnya, lalu merangkak sedikit sampai wajah mereka benar-benar dekat.

“Gwen,” Raymon mulai bicara, tapi Gwen cepat-cepat menempelkan jarinya ke bibir pria itu.

“Aku enggak punya masalah berada di ranjang yang sama sama kamu. aku juga enggak bakal panik cuma karena kamu peluk aku atau karena dekat kamu.”

Bibir Raymon terasa begitu lembut di bawah jarinya, dan sesaat Gwen kehilangan fokus karena cara pria itu menatapnya begitu intens.

Raymon terlalu tampan.

“Enggak sampai sejauh itu,” lanjut Gwen pelan. “Dia… dia belum sempat nyakitin aku sampai ke situ. aku udah hajar duluan kepalanya pakai laptop sebelum dia sempat ngelakuin apa-apa.”

“Kamu mukul kepala dia pakai laptop?”

“Dua kali. Yang kedua bikin hidungnya patah, terus aku kabur.”

Gwen mengangkat bahu, lalu menggeser jarinya menyusuri alis Raymon.

“Meski begitu, itu tetap bikin kepala aku kacau. Kadang aku enggak bisa ngontrol reaksi aku. Tapi itu enggak ada hubungannya sama kamu.”

“Kamu yakin? aku mau kamu benar-benar yakin, Gwen.”

“Aku yakin.”

Langkah kaki terdengar mendekat, disertai suara piring dan alat makan yang saling beradu pelan.

Sudah saatnya bersandiwara. Gwen langsung menunduk dan mencium Raymon. Awalnya hanya ingin ciuman singkat, tapi begitu bibir mereka bersentuhan, semua pikiran itu lenyap. Dalam hitungan detik, tangan Gwen sudah mencengkeram Raymon erat-erat.

Ada dorongan aneh dalam dirinya untuk semakin dekat, padahal dia sudah menempel sepenuhnya di atas tubuh pria itu, dengan kedua kaki di sisi tubuh Raymon.

Terdengar helaan napas dari belakangnya.

Gwen menghentikan ciumannya dan menoleh. Gadis yang kemarin, berdiri di ambang pintu dengan nampan makanan di tangan, mulutnya sedikit terbuka, matanya membesar.

Gwen menjerit pelan dan buru-buru menarik turun ujung gaun rendanya yang tersingkap ke atas punggung, tepat di bawah tangan Raymon yang masih memegang pinggulnya.

Semoga saja gadis itu tidak akan menceritakan soal celana dalam renda hitam yang sempat terlihat.

“Tuan aku… Min min minta maaf, aku tidak tahu—”

“Taruh saja di dapur dan keluar,” bentak Raymon dari bawah Gwen, seolah-olah dia marah karena gadis itu masuk. Padahal semua ini memang direncanakan supaya dia melihatnya.

Setidaknya bagi Raymon.

Kalau Gwen… dia sendiri tidak yakin dia sedang berpura-pura atau tidak. Dan itu membuatnya takut.

Gwen menunggu sampai gadis itu pergi, lalu kembali menatap Raymon. “Aku… aku pergi dulu ya,” katanya, tapi tubuhnya tidak juga bergerak turun.

Raymon hanya menatapnya dengan mata setengah terpejam, tangannya masih berada di pinggul Gwen.

Kulit dada Raymon terasa hangat di telapak tangannya. Bibir pria itu begitu dekat. Gwen hanya perlu sedikit condong ke depan untuk menciumnya lagi.

Apa akan jadi masalah kalau dia tetap di sini saja?

Ya.

Kemungkinan besar.

Akhirnya Gwen bergerak turun, dan tangan Raymon langsung lepas dari tubuhnya.

“Aku harus beli baju,” katanya sambil turun dari ranjang, mengambil satu sandwich dari nampan, lalu berjalan ke arah pintu. “Istri sombong kamu ini enggak mungkin kelihatan pakai hoodie kamu.”

“Aku antar besok pagi. Siap jam sembilan.”

Gwen menoleh. Raymon masih berbaring di ranjang, tangan disilangkan di belakang kepala, membuat tubuhnya yang sudah besar terlihat semakin besar.

Tidak seharusnya ada orang setampan itu. Dan lagi-lagi Gwen melewatkan kesempatan untuk melihat tato di tubuhnya.

Sial.

“Oke. Selamat malam,” katanya cepat, lalu buru-buru keluar dari kamar.

...***...

Saat Raymon tiba di dapur sekitar pukul delapan lewat tiga puluh, Gwen sudah hampir selesai sarapan.

Alih-alih duduk bersamanya, Raymon mengambil segelas jus jeruk dan meminumnya sambil berdiri di dekat meja, karena ia tidak yakin bisa berdiri lagi kalau sekarang ia duduk.

Orson sudah menyiksanya hampir dua jam pagi ini saat sesi fisioterapi. Setelah itu, mandi dan berpakaian saja sudah terasa berat. Seharusnya ia langsung memakai kursi roda, bukan tongkat.

“Kita harus mampir sebentar sebelum aku anter kamu belanja.” Raymon meletakkan gelas kosongnya di wastafel. “Salah satu anak buah aku nelpon, ada masalah yang harus aku beresin. Enggak bakal lama.”

“Boleh sekalian mampir ke toko alat seni? Carolina tadi bilang barang-barang aku sudah sampai, tapi aku masih perlu beli cat lagi.”

“Tentu saja. Nanti aku suruh orang bawa kotaknya ke atas. kamu mau ditaruh di mana?”

“Di depan jendela dekat rak buku. Enggak apa-apa kan kalau aku bikin ruang kerja di sana? aku bakal tutup lantainya, enggak bakal berantakan, janji.”

“Silakan.”

Raymon mengangguk, lalu berbalik menuju kamarnya untuk mengambil kursi roda. Namun, rasa nyeri tajam tiba-tiba menjalar sepanjang kaki kanannya.

Sial.

Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam, lalu memaksa melangkah. Dua langkah berikutnya terasa seperti siksaan sebelum akhirnya ia harus berhenti.

“Raymon?”

Ia menoleh dan melihat Gwen memperhatikannya dari meja.

“Kamu oke?”

“Iya.” Raymon mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya pelan, berusaha tidak membebani kaki kanannya.

Raymon meraih gagang pintu mobil dan menoleh ke Gwen.

“Tunggu di mobil. Aku enggak lama.”

“Siap, Babby.” Gwen tersenyum sambil mengecup udara.

Raymon menggeleng kecil, lalu berpindah dari kursi mobil ke kursi roda yang sudah disiapkan Grimm, kepala keamanan.

Gudang itu berada di selatan kota, di lahan kosong di antara dua pabrik terbengkalai. Permukaannya kasar, membuat roda lebih sulit didorong, tapi Grimm tahu betul untuk tidak mencoba membantunya.

Mereka masuk lewat pintu besar untuk kendaraan dan berhenti di tengah ruangan luas, tempat dua anak buahnya sudah menunggu.

“Siapa yang bikin kacau?” bentak Raymon.

“Sopirnya,” jawab Jamerson. “Dia kena razia karena ngebut. Dan dia juga mabuk. Barangnya disita.”

Raymon menatapnya tidak percaya. “Dia ngebut sambil bawa narkoba aku. Dalam keadaan mabuk?” suaranya rendah. “Di mana orang tolol itu?”

“Dia berhasil kabur dari polisi. Sekarang di ruang belakang.”

“Bunuh dia,” kata Raymon dingin kepada Jamerson, lalu menoleh ke Xavier. “Pastikan yang lain tahu, supaya hal begini enggak terulang.”

“Iya, Boss.”

“Kasih aku peta. Kita harus ubah rute pengiriman berikutnya.”

Sekitar dua puluh menit mereka menyusun rute alternatif. Lalu hampir satu jam lagi dihabiskan untuk meninjau pengiriman dua minggu ke depan dan melakukan penyesuaian.

Mungkin ia tidak seharusnya membawa Gwen. Gadis itu pasti sudah bosan menunggu di mobil selama ini.

Saat akhirnya mereka kembali, Grimm membuka pintu mobil. Raymon berhenti di tengah gerakan begitu melihat Gwen.

Dia duduk bersila di kursi belakang, matanya terpejam.

Di pangkuannya, ponsel menyala menampilkan video seorang wanita dalam posisi yang sama, menggumamkan omong kosong tentang energi dan spiritualitas, sementara Gwen mengikuti gerakannya.

Dia sedang yoga?

Konyol sekali.

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!