karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Teras Mansion Daneswara yang megah kini terasa seperti reruntuhan martabat. Suara sirine polisi yang menjauh membawa Seina pergi, meninggalkan keheningan yang lebih menyakitkan daripada keributan sebelumnya.
"TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!" Eliza menjerit, suaranya melengking memecah kesunyian. Ia menjambak rambutnya sendiri, menatap tangannya yang gemetar. "Aku bukan anak Mama Ambar? Aku... aku anak wanita penjahat itu.,Aku tidak mau...?"
Plakkkk
Plakkkk
"Ini pasti mimpi, " Eliza menyakiti dirinya sendiri dengan menampar wajah cantiknya...
Eliza menatap gaun mahalnya, perhiasan di lehernya, dan segala kemewahan yang melekat pada tubuhnya. Semuanya mendadak terasa seperti api yang membakar kulitnya. Ia merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri.
Saka, dengan air mata yang mengalir deras, merangkul Eliza. Ia memeluk adiknya adik yang kini ia tahu adalah satu-satunya saudara kandung nya dengan sangat erat.
"Eliza, tenanglah... Kakak di sini," bisik Saka tersedu-sedu. Ia menoleh ke arah Doni dan Kakek Harison dengan wajah hancur. "Papa, Kek... Maafkan kami. Kami akan pergi sekarang. Kami tidak pantas berada di sini setelah apa yang Ibu lakukan pada Maudi dan Mama Ambar."
Doni melangkah maju. Bahunya yang tegap kini tampak merosot karena beban duka. Ia menarik Saka dan Eliza ke dalam pelukannya. Tangis pria itu pecah, sebuah pemandangan yang jarang terlihat di keluarga Daneswara.
"Mau ke mana kalian?" suara Doni serak oleh isak tangis. "Dosa Seina adalah dosanya sendiri. Kalian adalah anak-anak Papa. Papa yang membesarkan kalian, Papa yang menggendong kalian saat kecil. Darah mungkin berbeda, tapi cinta Papa pada kalian tidak akan pernah berubah."
Kakek Harison mendekat, ia meletakkan tangannya di bahu Eliza yang masih terguncang hebat.
"Rumah ini milik kalian," ucap Kakek dengan suara yang dalam namun lembut. "Eliza, kau tetap cucuku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke jalanan hanya karena kesalahan ibumu. Tetaplah di sini, di mansion utama. Kita akan melalui kegelapan ini bersama-sama."
Maudi berdiri tak jauh dari mereka. Ia melihat pemandangan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Kebencian yang ia pelihara selama meski hidup di pesantren perlahan luruh melihat ketulusan Kakek dan Papanya. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya menginginkan keadilan, tapi juga menginginkan sebuah keluarga.
Doni menatap Maudi, ia melepaskan pelukannya dari Eliza dan berjalan perlahan menuju putri kandungnya. Ia berlutut di hadapan Maudi, memegang tangan putrinya yang selama ini ia abaikan.
"Maudi... bisakah kau memaafkan Papa yang buta ini?" tangis Doni pecah di kaki Maudi. "Papa membiarkanmu disiksa, Papa membiarkanmu diasingkan... padahal kau adalah separuh nyawa Ambar yang tersisa."
Maudi ikut berlutut, ia memeluk Papanya dengan erat. Isak tangis keduanya menyatu, melepaskan rindu dan luka yang terpendam belasan tahun.
"Sudahlah, Pa... Maudi sudah di sini,...Papa tidak salah, hati papa terlalu lembut sampai Papa tidak bisa melihat keburukan orang lain" bisik Maudi pelan.
"Maudi....Seina sudah tidak ada di sini, kami sudah tahu, kau adalah putri kandung ku, mulai sekarang kau jangan tinggal di paviliun, tinggallah di kamar Ambar dulu, kamarnya selalu Rapi.... Papa sesekali tidur di sana saat merindukan mamamu " ucap Doni dengan lembut.
"Ia pah...Maudi akan membereskan barang-barang Maudi" balasnya tersenyum.
"biar pelayan saja yang memindahkan barang-barang mu" Doni menarik tangan Maudi masuk.
Saka masih menggandeng tangan adiknya yang terasa dingin... sedangkan kakek Harison segera menghubungi istrinya, menceritakan apa yang terjadi di Indonesia.
Sesuai permintaan Kakek Harison dan papanya, hari itu juga Maudi pindah dari paviliun kecilnya ke kamar utama di lantai dua kamar yang dulunya adalah milik mendiang Ambar.
Kakek Harison sendiri yang mengantar Maudi masuk. Ia mengusap kepala Maudi dengan kasih sayang yang tulus. "Dulu, sebelum aku tahu kau cucuku, hatiku selalu merasa tenang setiap kali di dekatmu. Ternyata, ikatan batin itu tidak pernah salah."
Maudi duduk di tepi ranjang yang besar dan empuk, namun matanya menatap ke jendela, ke arah paviliun tempat ia menderita selama ini. Ia tahu, meskipun ia sudah mendapatkan posisinya kembali, luka Eliza dan Saka akan menjadi luka baru di rumah ini.
"Terimakasih kek, maafkan Maudi, dulu juga saat bertemu kakek,Maudi merasakan hal yang sama, Maudi merasa hangat saat kakek diam-diam memberiku jajan " sahut Maudi tersenyum.
____
Di sebuah kamar VVIP rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam, Rasya terbaring lemah dengan selang infus terpasang di tangannya. Wajahnya yang biasanya angkuh kini sepucat kertas. Bukan karena penyakit mematikan, melainkan karena trauma psikis dan perut kosong yang dipaksa menyaksikan serangan kotor Maudi kemarin.
"Tuan, minumlah bubur organik ini. Sudah saya pastikan disaring tiga kali dan dimasak di ruang hampa udara dengan suhu yang pas ," bujuk Kevin dengan wajah memelas, mengenakan masker ganda.
Rasya hanya memejamkan mata, memalingkan wajahnya. Setiap kali ia mencoba menelan sesuatu, bayangan cacing tanah yang menggeliat di tangan berlumpur Maudi kembali menari-nari di ingatannya.
"Singkirkan itu, Kevin," gumam Rasya serak. "Gadis itu... dia bukan manusia. Dia adalah senjata biologis yang dikirim untuk menghancurkan sistem pencernaanku. Cari tahu keberadaannya sekarang. Aku tidak bisa tenang sebelum memastikan dia tidak sedang memegang kotoran di suatu tempat!"
Kevin menghela nafas nya kasar, tidak ada apapun yang masuk ke perut Rasya selain cairan infus yang membuat Rasya sedikit bertenaga.
"kalau begitu, saya akan membawa bakteri itu kesini untuk mengusir bakteri jahat yang ada di pikiran Anda" ucap Kevin setelah berdiri...
Wajah Rasya berbinar " itu ide yang bagus Kevin, aku akan memberikan mu bonus kalau kau bisa membawa bakteri itu ke sini" .
Kevin menggelengkan kepalanya, melihat tingkah bos nya yang semakin aneh.... Obsesi nya terlalu dalam pada gadis yang bahkan tidak mau menatap bos nya sedikitpun.
___
Sementara itu, di gerbang sebuah universitas ternama, sebuah mobil mewah menurunkan tiga orang yang menjadi pusat perhatian. Namun, Maudi tetap pada pendiriannya. Ia turun dengan cadar dan pakaian lusuh yang menutupi kecantikan aslinya.
"Maudi, apa kau yakin tidak mau memakai baju yang lebih pantas?" tanya Saka dengan nada khawatir. Ia dan Eliza berdiri di samping Maudi, kini mereka bersikap sangat protektif terhadap saudara kandung dan saudari sepersusuan mereka itu.
"Ini demi misi, Kak Saka," bisik Maudi pelan. "Identitasku sebagai Maudi yang tertukar akan membuat gempar. Jika identitas asliku sebagai putri kandung papa akan membuat Eliza malu...aku tidak mau itu "
Eliza, yang kini lebih banyak diam dan menunduk, memegang lengan Maudi. "Maafkan aku... karena dulu sering merundungmu di kampus ini. Aku benar-benar malu."
Maudi menepuk tangan Eliza lembut. "Fokuslah pada kuliahmu, Eliza. Biarkan aku yang mengurus sisanya."
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.