NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Clay bersandar di pagar rumah Sonya, satu kakinya menekuk santai, bahunya menempel pada besi dingin itu. Sudah cukup lama ia berdiri di sana. Namun anehnya, ia tidak merasa terganggu.

Kunci rumah di tangannya terus dimainkan. Dilempar pelan ke udara, lalu ditangkap kembali. Berulang. Sekadar mengisi waktu. Sesekali, matanya melirik ke arah pintu rumah. Menunggu.

Dan untuk pertama kalinya, Clay sadar menunggu seseorang bisa terasa, tidak membosankan.

Klik.

Suara pintu terbuka membuat tangannya otomatis berhenti bergerak.

Nindi keluar.

Langkahnya ringan. Penampilannya sederhana, kaos putih polos, rok mini yang jatuh sedikit di atas lutut, sneakers putih, dan sling bag kecil yang menggantung di bahunya. Namun entah kenapa, bagi Clay, semuanya terasa pas. Bahkan sangat pas. Membuat Clay sedikit tertegun.

“Clay?”

Suara Nindi memanggilnya, sedikit heran.

Clay tersadar. Ia menurunkan tangannya, lalu menyelipkan kunci ke saku. Senyum tipis terbentuk di bibirnya, nyaris tak terlihat.

“Ngapain di situ?” tanya Nindi sambil mendekat beberapa langkah.

“Nunggu kamu.” Jawabannya singkat. Seolah itu hal yang paling wajar di dunia.

Nindi mengernyit. “Nunggu aku?”

“Iya.”

“Untuk apa?”

Clay menghela napas pendek, lalu mengangkat bahunya ringan. “Berangkat ke café bersama.”

“Eh?” Nindi benar-benar tidak menyangka.

“Ayo.”

Tanpa menunggu jawaban, Clay sudah melangkah lebih dulu melewati Nindi.

Gadis itu berdiri sejenak, masih mencoba mencerna.

“Ini bukan pertama kalinya kita jalan bersama,” ujar Clay dari depan, tanpa menoleh. “Jadi tidak perlu heran.”

“Iya sih…” Nindi mempercepat langkahnya agar sejajar. “Tapi kita kan belum sedekat itu.”

Clay berhenti. Ia menoleh. Tatapannya tidak dingin seperti biasanya tapi juga tidak sepenuhnya hangat.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “mulai hari ini kita jadi lebih dekat saja.”

Nindi mengedip, sedikit bingung. “Maksudnya? dekat?”

Clay menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Ayo kita berteman,” katanya akhirnya, dengan nada sedikit kesal. “Itu maksudku.”

“Oh…” Nindi meringis kecil, merasa sedikit salah paham. “Kirain…”

Clay langsung berbalik dan kembali berjalan.

“Ayo.”

“Eh? iya,” Nindi buru-buru menyusul. “Maaf.”

Beberapa langkah berjalan dalam diam. Namun seperti biasa, Nindi tidak tahan terlalu lama tanpa bertanya.

“Clay…”

“Hm?”

“Kamu, berubah.”

Clay melirik sekilas. “Berubah?”

“Iya. Kamu tiba-tiba baik sekali padaku.”

Clay tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan sedikit lebih pelan.

“Aku sudah minta maaf,” katanya akhirnya.

“Iya, aku tahu.”

“Dan aku juga sudah bilang,” lanjut Clay, nada suaranya lebih serius, “aku orangnya profesional. Kalau aku salah, aku akui.”

Nindi terdiam.

“Dan kalau sudah aku akui,” Clay melanjutkan, “aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Nada bicaranya tenang, tapi tegas. Seolah itu prinsip.

Nindi mengangguk pelan. “Oke… aku percaya.”

Lalu, seperti biasanya, ia tidak bisa menahan diri.

“Kalau begitu, berarti mulai hari ini aku sudah boleh kerja di meja bar?”

Clay langsung berhenti. Refleks. Ia menoleh, menatap Nindi dengan ekspresi datar.

“Tidak.” Jawaban cepat. Tegas.

“Kita sudah bertaruh.”

Nindi mendecak pelan. “Ck, tidak seru.”

“Soal itu tidak bisa dinegosiasi.”

“Ya sudah,” jawab Nindi santai. “Aku juga profesional, kok.”

Clay mengangkat alis.

“Jadi tidak masalah,” lanjut Nindi sambil tersenyum manis, “meskipun sampai pulang aku tetap jadi kasir.”

Nada suaranya jelas menirukan Clay. Untuk sesaat, Clay terdiam. Lalu sudut bibirnya bergerak. Tipis. Sangat tipis. Namun cukup terlihat.

“Wah!” Nindi langsung menunjuk wajahnya. “Kamu tersenyum!”

“Apa?” Clay langsung memasang wajah datar lagi.

“Tadi kamu senyum. Aku lihat.”

“Kamu salah lihat.”

“Enggak,” Nindi mendekat sedikit, memperhatikan wajahnya. “Pipimu bahkan merah.”

“Tidak ada.”

“Serius! Telingamu juga,”

“Hentikan.”

Nindi malah tertawa. Tawa lepas, ringan, tanpa beban. Dan entah kenapa, suara itu membuat Clay merasa aneh. Rasanya berubah jadi hangat?

“Aish… berangkat sama kamu ternyata tidak menyenangkan,” gumam Clay, lalu mempercepat langkahnya.

“Eh! Tunggu!” Nindi kaget, lalu langsung mengejar.

Clay semakin cepat. Nindi pun ikut berlari.

“Hei! Jangan lari!”

Clay tidak menjawab.

“Hahaha! Kamu imut sekali, Clay!” teriak Nindi dari belakang, masih tertawa.

“Aish!”

Langkah Clay semakin cepat. Namun diam-diam, ada senyum kecil yang kembali muncul.

Beberapa saat kemudian, Akhirnya, mereka tiba di kafe. Clay membuka pintu lebih dulu, menahannya, dan menunggu. Nindi datang beberapa detik kemudian, napasnya terengah-engah.

“Lain kali, jangan lari,” keluhnya sambil membungkuk, tangan bertumpu di lutut. “Aku capek kalau harus mengejarmu.”

Clay menatapnya sebentar. “Staminamu segitu saja?”

Nindi langsung menegakkan tubuh. “Jangan bandingkan kakimu yang panjang dengan kakiku yang cuma segini!”

Clay mengangkat alis.

“Itu tidak adil!” lanjut Nindi. “Satu langkahmu itu tiga langkahku!”

“Lebay.”

Tanpa banyak bicara, Clay mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Dan sebelum Nindi sempat bereaksi, ia mengusap kening gadis itu.

“Eh!” Nindi kaget, langsung mundur sedikit. “Kamu ngapain?”

“Menghapus keringatmu.”

“Aku bisa sendiri!”

Nindi merebut sapu tangan itu dan mengelap wajahnya sendiri.

Clay mengangguk kecil. “Bagus. Memang itu tujuannya.”

Nindi mengerling kesal. Tetap saja tengil.

“Nindi!”

Suara itu membuat mereka menoleh. Maron berlari mendekat, wajahnya penuh rasa ingin tahu.

“Dari mana saja kamu? Kok pagi-pagi sudah berkeringat?” tanyanya.

Nindi langsung menunjuk Clay. “Tanya saja dia.”

Maron menatap Clay tajam. “Dia ganggu kamu lagi?”

Dengan ekspresi jahil, Nindi mengangguk kecil. “Iya. Ganggu.”

Ia mengembalikan sapu tangan Clay yang sudah basah, lalu masuk ke dalam kafe tanpa menunggu. Clay melihat sapu tangan itu. Beberapa detik. Lalu tanpa sadar, ia tersenyum tipis. Dan menyimpannya kembali ke dalam saku.

“Kamu ganggu dia lagi?” tanya Maron.

Clay menatapnya datar. Tidak menjawab. Namun tatapan itu saja sudah cukup membuat Maron mundur setengah langkah.

“Eh, jangan takut!” Maron buru-buru berkata, meski jelas suaranya tidak yakin. “Kalau dia ganggu kamu lagi, bilang saja! Aku pasti bela kamu, Nindi!”

Dan kali ini Maron sudah bergerak masuk ke dalam. Mencari aman.

Nindi sudah berdiri di meja kasir. Maron langsung berdiri di belakangnya.

“Sepertinya yang takut padanya bukan aku, melainkan kamu,” gumam Nindi geli.

“Mana ada,” bantah Maron cepat.

Namun tanpa sadar, tangannya justru menggenggam ujung lengan kaos Nindi, seolah mencari perlindungan. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Clay. Tatapannya langsung turun ke tangan Maron yang masih mencengkeram kain kaos Nindi.

Dalam sekejab, rahang Clay mengeras tipis. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Namun langkahnya yang semula santai kini beralih pasti sedikit lebih cepat, lebih tegas, menuju mereka.

Nindi yang semula tertawa kecil, perlahan terdiam. Entah kenapa, suasana di antara mereka tiba-tiba berubah. Dengan satu gerakan cepat, Clay menarik Maron menjauh dari Nindi. Cukup keras. Cukup tegas.

“Jaga sikapmu,” ucapnya dingin.

Maron langsung diam. “Clay…” suaranya mengecil.

Namun Clay tidak berhenti di situ. Tatapannya bergeser. Ke Nindi. Tajam. Nindi terdiam. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan itu. Bukan dingin seperti biasanya. Bukan juga hangat seperti tadi pagi. Tapi, lebih dalam. Lebih menekan. Seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan, tapi ditahan.

Nindi mengernyit pelan. Ia tidak mengerti.

Kenapa Clay menatapnya seperti itu?

Bukankah tadi yang ditegur adalah Maron?

Kenapa sekarang ia yang terasa seperti ikut diperingatkan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!