10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Yang Keluar Bukan Aku
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Tidak ada waktu.
Alya berdiri kaku di dalam ruangan itu, berhadapan dengan… dirinya sendiri.
Atau sesuatu yang memakai dirinya.
Wajah itu sama.
Bentuk tubuhnya sama.
Bahkan cara berdirinya—sedikit condong ke kanan, seperti kebiasaan Alya sejak kecil—juga sama.
Tapi mata itu…
Hitam.
Penuh.
Seperti tidak ada ruang untuk apa pun selain sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Dan senyumnya—
Terlalu tahu.
Terlalu sadar.
“Akhirnya…” kata sosok itu pelan.
Suaranya bukan sekadar mirip.
Itu suaranya.
Namun tanpa ragu.
Tanpa takut.
Tanpa ragu-ragu yang selalu menghantui Alya.
“Aku capek nunggu.”
Alya mundur satu langkah.
“Kamu… siapa?”
Sosok itu tertawa kecil.
Pendek.
Kering.
“Aku?” ia memiringkan kepala. “Aku kamu.”
“Bukan…” Alya menggeleng cepat. “Aku bukan kayak gitu.”
“Justru itu,” jawabnya santai. “Kamu yang sekarang bukan kayak aku.”
Ia melangkah maju.
Setiap langkahnya terasa… salah.
Seperti gerakan yang terlalu sempurna.
Terlalu halus.
Tanpa ragu.
“Aku bagian yang kamu buang,” lanjutnya.
“Yang kamu tutup. Yang kamu pendam. Yang kamu pura-pura gak ada.”
Alya menelan ludah.
Jantungnya berdegup keras.
“Semua ketakutan kamu…”
“Semua penyesalan kamu…”
“Semua pilihan yang gak pernah kamu ambil…”
Sosok itu berhenti tepat di depannya.
“Semua itu… jadi aku.”
Sunyi.
Namun bukan sunyi kosong.
Sunyi yang… menekan.
Seolah udara ikut mendengar.
Alya menggenggam tangannya.
“Kalau kamu aku…” suaranya gemetar, “kenapa kamu mau keluar?”
Sosok itu tersenyum.
Lembut.
Namun menyeramkan.
“Karena kamu gak sanggup hidup dengan semuanya.”
Ia mendekat.
Hampir menyentuh wajah Alya.
“Dan aku… bisa.”
Tiba-tiba—
Ruangan itu berubah.
Dindingnya berdenyut.
Seperti jantung.
Lantai retak.
Dari retakan itu—
Keluar suara.
Bisikan.
Tangisan.
Kenangan.
Semuanya bercampur.
Dan satu per satu—
Muncul.
Bayangan-bayangan kecil.
Versi Alya.
Berbeda usia.
Berbeda waktu.
Ada yang menangis.
Ada yang berteriak.
Ada yang diam.
Namun semuanya—
Menatapnya.
“Lihat…” sosok itu berbisik.
“Mereka semua… kamu.”
Alya menutup telinganya.
Namun suara itu tetap masuk.
Karena bukan dari luar.
Tapi dari dalam.
“Kamu ninggalin kami…”
“Kamu pura-pura gak ingat…”
“Kamu kabur…”
Alya menggeleng.
“Enggak… aku cuma—”
“Takut?” sosok itu menyela.
Senyumnya melebar.
“Ya. Kamu takut.”
Ia mengangkat tangannya.
Dan semua bayangan itu—
Bergerak.
Serentak.
Mendekat.
Perlahan.
Langkah demi langkah.
“Kamu selalu lari…”
“Selalu nunda…”
“Selalu berharap semuanya hilang sendiri…”
Alya mundur.
Namun tidak ada tempat lagi.
Dinding di belakangnya… bukan lagi dinding.
Tapi sesuatu yang hidup.
Berdenyut.
Mengawasi.
“Aku beda,” lanjut sosok itu.
Nada suaranya berubah.
Lebih dalam.
Lebih kuat.
“Aku gak lari.”
“Aku gak takut.”
“Aku gak nunggu.”
Ia mengangkat kepalanya sedikit.
Bangga.
“Aku ambil.”
Sekejap—
Semua bayangan itu menerjang.
Alya menjerit.
Namun mereka tidak menyentuh tubuhnya.
Mereka—
Masuk.
Satu per satu.
Menembus kulitnya.
Masuk ke dalam.
Membawa semua rasa itu.
Takut.
Sedih.
Penyesalan.
Semua.
Alya jatuh berlutut.
Tubuhnya gemetar hebat.
Ia mencengkeram dadanya.
Seolah sesuatu di dalamnya sedang ditarik.
“BERHENTI…!”
Namun sosok itu hanya berdiri.
Menonton.
Tenang.
“Rasain,” katanya pelan.
“Semua yang selama ini kamu hindari.”
Alya menangis.
Namun bukan air mata biasa.
Ini—
Terlalu dalam.
Terlalu berat.
Seolah jiwanya ikut terkoyak.
“Aku gak kuat…” bisiknya.
Sosok itu mendekat.
Berjongkok di depannya.
Menatap langsung ke matanya.
“Makanya aku di sini.”
Ia menyentuh pipi Alya.
Dingin.
Namun… akrab.
“Serahin aja.”
Alya membeku.
“Kalau aku yang keluar…” lanjutnya pelan, “aku bisa nutup semuanya.”
“Gak ada lagi suara.”
“Gak ada lagi rasa sakit.”
“Gak ada lagi takut.”
Ia tersenyum.
“Tenang aja… aku bakal jaga semuanya.”
Sunyi.
Alya terdiam.
Tubuhnya lemah.
Pikirannya kacau.
Dan untuk pertama kalinya—
Tawaran itu…
Terdengar… masuk akal.
“Kalau aku hilang…” suaranya kecil.
Sosok itu mengangguk.
“Kamu gak hilang.”
Ia mendekat.
Hampir berbisik di telinga Alya.
“Kamu cuma… berhenti.”
Jantung Alya berdegup keras.
Namun bukan karena takut.
Karena…
Lelah.
Terlalu lelah.
Ia menutup matanya.
Air matanya jatuh lagi.
Dan perlahan—
Ia mengangguk.
Sosok itu tersenyum lebar.
Akhirnya.
Ia berdiri.
Dan mengulurkan tangan.
“Bagus.”
Alya menatap tangan itu.
Diam.
Beberapa detik.
Lalu—
Ia mengangkat tangannya.
Hampir menyentuh—
Namun—
Sebuah suara.
Lemah.
Jauh.
Namun nyata.
“Alya…”
Tangannya berhenti.
Matanya terbuka.
Suara itu…
Ia kenal.
“Alya…”
Lebih jelas sekarang.
Dari jauh.
Dari luar.
Dari—
Dunia lain.
“Raka…?” bisiknya.
Sosok di depannya langsung berubah.
Senyumnya hilang.
Matanya menyempit.
“Jangan dengar dia.”
Namun suara itu semakin kuat.
“Alya… jangan…”
Cahaya kecil muncul.
Di sudut ruangan.
Lemah.
Namun cukup.
Cukup untuk mengganggu kegelapan.
“Dia gak bisa bantu kamu,” sosok itu berkata cepat.
“Dia udah hilang.”
Namun Alya menoleh ke arah cahaya itu.
Dan di dalamnya—
Ia melihat sesuatu.
Siluet.
Seseorang.
Berdiri.
Menahan sesuatu.
Berjuang.
“Raka…” air matanya jatuh lagi.
Sosok di depannya marah.
Untuk pertama kalinya.
“LIHAT AKU!”
Namun Alya tidak menoleh.
Ia berdiri.
Perlahan.
Masih lemah.
Namun—
Bergerak.
Menuju cahaya itu.
“Jangan pergi…” suara itu berubah.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
“Kalau kamu keluar…”
Ruangan mulai retak.
Semua bayangan bergetar.
“Semuanya bakal balik lagi.”
Alya berhenti.
Sejenak.
Namun—
Ia mengingat sesuatu.
Dira.
Raka.
Semua yang sudah hilang.
Semua yang ia perjuangkan.
Ia menggeleng pelan.
“Kalau aku tinggal…” suaranya pelan, tapi tegas.
“Aku bukan aku lagi.”
Sosok itu menatapnya.
Diam.
Lalu—
Tersenyum lagi.
Namun kali ini—
Lebih dingin.
“Kalau kamu pergi…”
Ia mundur.
Masuk ke dalam kegelapan.
“Jangan pernah balik.”
Ruangan itu runtuh.
Benar-benar runtuh.
Dinding pecah.
Lantai menghilang.
Semua jatuh.
Alya berlari.
Menuju cahaya.
Menuju satu-satunya jalan keluar.
Di belakangnya—
Suara itu bergema.
Terakhir.
Namun jelas.
“Aku tetap di sini…”
“Menunggu…”
Alya melompat.
Dan—
Ia terbangun.
Di lantai kamarnya.
Ia langsung melihat cermin.
Pantulannya…
Ada.
Normal.
Bergerak sesuai dirinya.
Alya hampir menangis lega.
Namun—
Ia berhenti.
Karena di belakang pantulannya—
Sesuatu bergerak.
Cepat.
Hitam.
Seperti bayangan yang tidak ikut aturan.
Alya membeku.
Perlahan…
Sangat perlahan…
Pantulannya tersenyum.
Padahal—
Ia tidak.
Lampu berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu stabil.
Pantulan kembali normal.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Alya tahu.
Sesuatu—
Sudah keluar.
Dan sesuatu itu…
Masih di sini.
Di dalam dirinya.
Menunggu.
Dengan sabar.
Untuk saat yang tepat.
Untuk—
Mengambil alih.