Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Masalah dengan Nyonya Lim
"Aku …," Kusumawati berkata pelan, "hanya ingin melihat dari jauh."
Jan Coen mengangkat alis.
"Jangan bertemu dulu." Kusumawati menatap keluar jendela, menghindari mata pria itu yang tajam menilai. "Aku hanya ingin tahu tempatnya di mana."
Jan Coen terdiam, mata menilai.
Kusumawati sibuk dengan pikirannya sendiri.
‘Aku harus tahu dulu siapa perempuan ini.’
‘Nyonya Lim. Mucikari rumah bordil elit.’
‘Siapa dia? Kenapa dia berani sekali membeli seorang Kusumawati?’
‘Dia mencari mati atau bagaimana?’
‘Jangan-jangan dia juga punya masalah denganku. Atau aku pernah menyakiti seseorang yang berhubungan dengannya. Jangan-jangan ini memang balas dendam yang sudah direncanakan.’
‘Atau mungkin saja … dia memang tidak mengenalku.’
‘Tapi kalau mucikari itu tahu siapa aku sebenarnya ….’
‘Dan kalau dia mengumumkan bahwa aku sekarang menjadi nyai seorang perwira Belanda ….’
‘Itu bisa jadi masalah besar.’
‘Lebih besar dari sekadar skandal.’
‘Dia tidak boleh melihatku lagi.’
‘Apalagi mengenaliku.’
Itu bisa menghancurkan nama baiknya, juga putranya yang sekarang menjabat sebagai bupati.
"Baiklah." Jan Coen akhirnya mengangguk. "Kita lewat saja di depannya. Pelan. Tapi tidak berhenti."
Dia mengetuk dinding kereta, memberi instruksi kepada kusir.
Kereta berbelok ke jalan yang lebih lebar.
Kusumawati menatap pemandangan di luar dengan mata yang waspada. Jantungnya berdebar semakin kencang.
‘Siapa Nyonya Lim ini?’
‘Apakah aku mengenalnya?’
‘Apakah dia mengenalku?’
‘Apa dia bersekongkol dengan adik-adikku yang keparat itu?’
‘Tapi mereka tidak pernah membicarakan Nyonya Lim ini, lalu bagaimana mereka bisa bekerja sama?’
Deretan rumah bordil berubah. Semakin ke dalam, bangunan semakin terawat. Cat merah dan emas lebih segar. Halaman lebih rapi.
Lalu kereta melambat di jalanan yang sepi. Area ini seperti kota mati di siang hari.
Di sisi kanan, sebuah bangunan berdiri megah, paling mewah di antara yang lain. Dua lantai dengan arsitektur campuran Tionghoa dan kolonial.
Halaman depan yang luas ditata apik dengan pot-pot bunga yang bermekaran. Mawar. Kamboja.
"Itu dia." Jan Coen menunjuk dengan dagu ke arah atas. "Nyonya Lim. Di balkon."
Kusumawati mendongak.
Lantai dua. Balkon dengan pagar bercat merah.
Seorang perempuan duduk santai di sana.
Usia sekitar empat puluhan. Cheongsam sutra hijau zamrud membalut ketat lekuk tubuhnya yang masih sempurna.
Rambut hitam disanggul tinggi dengan tusuk konde emas. Sebatang rokok panjang terselip di antara jari-jari yang lentik.
Setengah wajahnya yang menghadap jalan, cantik luar biasa. Tulang pipi tinggi. Hidung mancung. Bibir merah delima.
Tapi setengah yang lain … Kusumawati membeku.
Setengah wajah itu seperti pernah terbakar. Kulit yang keriput dan mengkerut, warna merah jambu pucat yang tidak wajar, seperti lilin yang pernah meleleh lalu membeku lagi.
Perempuan di balkon itu menghadap ke depan dengan santai. Tidak ada rasa malu atau usaha untuk menyembunyikan kekurangannya.
Matanya yang tajam dan gelap, menatap langsung ke jendela kereta.
Mata bertemu mata dan perempuan itu tersenyum.
Senyum di separuh bibirnya yang normal. Separuh yang lain tidak bisa bergerak.
Senyum itu … bukan senyum sopan, tapi senyum penuh kemenangan yang mengerikan.
Kusumawati langsung mundur dengan dada berdebar tak karuan. Napas tertahan.
Punggungnya menghantam sandaran jok. Kepala tegak. Wajah pucat seperti mayat.
‘Tidak. Tidak. Tidak mungkin.’
‘Dia sudah mati.’
‘Aku melihatnya terbakar di rumah itu.’
Kereta terus bergerak. Pelan. Rumah bordil mewah itu tertinggal di belakang.
Tapi bayangan wajah itu—setengah cantik, setengah hancur … terus berputar di kepala Kusumawati.
"Jadi ... kau pernah punya masalah besar dengannya?"
Kusumawati tidak menoleh. Tatapannya menerawang ke depan. Kosong. Ngeri.
‘Dia bangkit dari kubur.’
‘Perempuan yang kuhancurkan dua puluh lima tahun yang lalu ….’
"Kau dalam masalah besar," Jan Coen melanjutkan, suaranya lebih serius sekarang, "kalau memang punya urusan dengannya. Nyonya Lim punya jaringan bawah tanah. Terhubung dengan banyak kejahatan di kota ini. Penculikan. Pemerasan. Pembunuhan. Dia bukan mucikari biasa."
Kusumawati menelan ludah.
‘Bukan mucikari biasa.’
‘Tentu saja bukan. Mucikari baisa tak akan berani menyenggolnya, apalagi menculik dan menjual.’
Sekarang semuanya masuk akal.
Mengapa dia tidak dibunuh. Mengapa dia "hanya" dijual ke pria bangsat ini.
‘Dia ingin aku merasakan apa yang dia rasakan dulu.’
‘Dibuang. Direndahkan. Dijadikan barang dagangan.’
Dan semalam, pria-pria yang hampir memperkosanya ramai-ramai sebelum Jan Coen datang…
‘Pasti anak buahnya.’
Kusumawati tersentak saat tangan besar menyentuh lututnya. Jari-jari kasar menyelinap ke balik kain sarung batik. Mengelus pelan. Semakin ke atas.
Kusumawati menepis. Tapi tangan itu tak mau mundur barang sedikit, justru semakin dalam.
"Kau tidak punya sopan santun!" Suaranya keluar galak, lupa pria di hadapannya ini adalah tuannya. "Kita sedang di jalan."
Dia menoleh ke dua jendela kereta yang terbuka. Orang-orang di luar bisa melihat mereka dengan jelas—pejalan kaki, pedagang, siapa pun yang kebetulan melihat ke arah kereta.
"Untuk apa sopan santun?" Jan Coen mengedikkan bahu. "Orang-orang sudah paham. Hubungan nyai dan tuannya memang untuk hal semacam ini. Untuk bersenang-senang."
Tangannya kembali bergerak, mencari celah di antara paha yang dirapatkan.
"Hentikan." Kusumawati menepis lagi. "Aku sedang berpikir. Aku tidak bisa berpikir jernih kalau tanganmu terus kurang ajar!"
"Berpikir apa?" Jan Coen terkekeh.
Kusumawati tidak menjawab.
Tangan Jan Coen tidak berhenti, semakin tidak tahu malu. Kusumawati mendesis pelan.
Kusumawati menepis untuk ketiga kalinya.
"Kubilang hentikan!"
"Ceritakan dulu."
"Apa?"
"Masalahmu dengan Nyonya Lim." Jan Coen menarik Kusumawati ke pangkuannya dengan satu gerakan cepat. Punggung Kusumawati sekarang menempel di dada pria itu, kaki menjuntai ke samping. "Ceritakan, atau aku tidak akan berhenti."
Tangannya bergerak lagi. Lebih berani.
“Ayolah, Sayang. Aku penasaran.”
Napas hangat di telinga. Bibir mengecup leher.
Kusumawati memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam. Dua tangannya masih berusaha menahan tangan besar Jan Coen, mencubitnya keras.
‘Menyebalkan. Pria ini benar-benar menyebalkan. Bahkan pikiranku tidak punya privasi di hadapannya.’
Tapi dia tidak punya pilihan.
"Dia …," suaranya keluar pelan, ragu-ragu, "dulu selir favorit suamiku."
Tangan Jan Coen berhenti bergerak.
"Dan?"
"Dan aku menyingkirkannya."
Hening.
"Menyingkirkan bagaimana?" Alis tebal Jan Coen terangkat.
Kusumawati membuka mata. Menatap lurus ke depan, ke jendela kereta, ke jalanan yang terus bergerak di luar.
"Membuangnya dari hidup suamiku." Suaranya datar. Kosong. "Kukira dia sudah mati. Ternyata tidak."
Jan Coen terkekeh pelan, napasnya menggelitik telinga Kusumawati. Suaranya semakin menakut-nakuti. "Mungkin dia memang datang dari neraka. Khusus untuk membalasmu."
Kusumawati menegang.
"Dan wajahnya …." Jan Coen melanjutkan, "yang setengah terbakar itu. Kau juga yang melakukannya?"
Kusumawati tidak menjawab.
Tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Jan Coen bersiul pelan.
(Mohon maaf lahir batin, Teman-Teman … maaf lama baru update, sibuk lebaran. Tidak punya tabungan bab. Terima kasih yang masih setia menanti.)
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
maturnuwun uda update🙏