Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.
Namun hidup punya selera humor yang aneh.
Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.
Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memories - Malam Itu
Setelah Tyas pulang, Mila duduk sendirian di tepi kasur. Kamarnya gelap, hanya lampu tidur kecil yang menyala redup.
Ponsel masih berada di tangannya. Layarnya menyala, tapi matanya hanya menatap tanpa benar-benar membaca apa pun.
Pikirannya terus memutar ulang percakapan tadi. Kata-kata Tyas. Pertanyaan yang menggantung. Kekhawatiran yang terasa di setiap kalimatnya.
"Kamu masih ada perasaan sama dia?"
"Enggak," gumam Mila pelan.
Tapi kalau benar tidak ada apa-apa, kenapa dadanya terasa seperti diremas?
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menutup wajah dengan lengan.
Dan tanpa ia sadari, memori lama itu muncul lagi.
Memori yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Memori tentang mereka.
.
.
Flash Back On
September 2012 - Awal Kebersamaan
Dulu, bagi Mila, Arya itu sempurna. Ganteng, populer, berprestasi. Dan Mila yakin, di mata orang lain pun Arya terlihat seperti itu.
Yang sampai sekarang masih terasa seperti keajaiban baginya adalah, Arya memilihnya.
Awalnya Mila curiga ini pasti salah alamat dari semesta. Karena kalau boleh jujur, waktu itu Mila bukan tipe gadis yang akan dilirik oleh cowok populer macam Arya.
Kulitnya agak coklat, rambutnya hampir selalu dikuncir asal, dan kacamatanya hampir sebesar tutup selai. Damian -sahabat Mila- pernah bilang kalau dulu Mila terlihat culun dan dekil. Mila-pun mengakui itu.
Tapi anehnya, Arya seolah tidak pernah melihat semua kekurangannya. Ia selalu memperlakukan Mila dengan baik. Bahkan dengan bangga menggandengnya ke mana-mana.
Setiap pagi, Arya sudah menunggunya di gerbang sekolah. Motor tuanya yang berisik diparkir di pinggir trotoar.
"Kamu telat lagi," kata Arya suatu pagi.
"Ini baru jam tujuh lewat tiga."
"Jam tujuh lewat tiga itu telat kalau aku udah nunggu dari jam enam empat puluh."
"Kamu sendiri yang dateng kepagian," protes Mila.
Arya hanya tertawa kecil, lalu mengambil tas Mila.
Tas itu berat sekali. Penuh buku matematika, fisika, dan kimia.
"Kamu bawa batu bata ya ke sekolah?"
"Ini buku."
"Buku kamu bisa buat bangun rumah."
Mila mendengus, tapi diam-diam ia senang, karena pertengkaran kecil seperti itu selalu berhasil membuat hari-harinya terasa ramai dan tidak membosankan.
.
.
Juni 2013 - Arya Lulus
Ketika Arya lulus SMA, Mila menangis seperti orang yang akan ditinggal perang.
Ia takut mereka akan berpisah. Takut Arya kuliah jauh. Mungkin ke Bandung, mungkin ke Jogja. Lalu perlahan-lahan melupakannya.
Tapi saat itu Arya langsung menenangkannya.
"Aku nggak akan ke mana-mana," katanya. "Aku tetap di Jakarta. Kerja dulu, nabung. Nanti kalau uangnya cukup, baru kuliah."
"Kenapa nggak kuliah sekarang aja? Kan bisa sambil kerja."
Arya sempat terdiam, lalu tersenyum pahit. "Nggak semudah itu. Tabunganku belum cukup."
Sejak awal Mila tau Arya bukan anak orang kaya. Dia ke sekolah pakai motor jelek. Kalau mau traktir Mila, harus tunggu gajian dulu. Tapi Mila baru tau beberapa hal penting lainnya waktu itu.
Arya adalah anak yatim. Ibunya bekerja sebagai TKW di Hongkong. Arya tinggal sendirian di Jakarta, di kos kecil, sambil kerja serabutan.
"Kata orang gaji TKW lumayan besar. Harusnya kamu nggak perlu ikut banting tulang cari uang," kata Mila suatu kali.
Arya terdiam beberapa detik. Wajahnya berpaling ke arah lain. "Aku nggak mau pakai uang ibuku. Seenggaknya untuk makan sehari-hari."
"Kenapa?"
"Aku cuma mau mandiri." jawabnya ragu. Lalu ia menatap Mila. "Memangnya siapa ibuku penting buat kamu?"
"Aku cuma mau tau lebih banyak tentang kamu."
"Kalau gitu kamu cukup tahu tentang aku." lalu Arya memeluknya erat.
Sejak saat itu Mila tidak pernah lagi membahas soal keluarga Arya. Ia tidak benar-benar mengerti apa yang ada di balik ekspresi murung Arya saat itu. Tapi satu hal ia tahu, Arya tidak suka membicarakan keluarganya. Dan Mila tidak ingin membuat Arya tidak nyaman.
Setiap hari ia melihat sendiri bagaimana Arya berjuang. Kerja sebagai pelayan kafe, mengantar katering, cuci piring. Dan tidak sekali pun Mila mendengar Arya mengeluh. Itu membuat Mila semakin kagum padanya.
Arya tangguh, dewasa, gigih meskipun hidupnya berat.
.
.
Desember 2014 - Malam Itu
Mila masih ingat malam itu dengan sangat jelas.
Malam ketika semuanya berubah.
Mila bilang pada Mama dan Papanya bahwa ia akan menginap di rumah teman. Tapi sebenarnya ia datang ke kosan Arya. Kamar kecil dengan kasur tipis, kipas angin yang berdecit, dan jendela yang menghadap gang sempit.
Saat itu Arya baru pulang dari shift malam di minimarket. Wajahnya lelah, rambutnya basah oleh keringat. Tapi ia tetap tersenyum ketika melihat Mila datang membawa makanan.
"Kamu ngapain repot-repot?" tanya Arya sambil memeluknya.
"Nggak repot kok," jawab Mila. "Aku memang mau. Pasti kamu belum makan, kan?"
Mereka lalu makan nasi bungkus dengan lauk sederhana. Arya bercerita tentang pelanggan yang marah karena harga sabun naik lima ratus rupiah. Mila mengeluh tentang PR matematika yang membuat kepalanya hampir pecah. Lalu mereka tertawa pada gurauan Arya yang kebayanyakan sama sekali tidak lucu.
Setelah makan, mereka duduk bersandar di dinding, berbagi satu earphone. Lagu-lagu Coldplay favorit Arya mengalun pelan dari ponselnya yang layarnya sudah retak.
Mila menyandarkan kepala di bahu Arya sedangkan Arya melingkarkan tangannya di pinggang Mila, menariknya lebih dekat.
Hening yang nyaman.
"Mila," bisik Arya di telinganya.
"Hmm?"
"Aku sayang kamu. Kamu tau, kan?"
Mila mengangkat kepala dan menatap wajah Arya.
Jarak mereka sangat dekat sekarang. Ia bisa melihat kantung mata Arya yang menghitam. Bisa merasakan hangat napasnya di kulitnya.
"Aku juga sayang kamu." balas Mila.
"Aku serius."
Suara Arya serak. Tangannya naik menyingkirkan rambut dari wajah Mila dengan lembut. "Kamu satu-satunya hal baik yang aku punya sekarang. Satu-satunya alasan aku masih bisa bertahan."
Dada Mila terasa penuh.
Ada sesuatu dalam cara Arya mengatakan itu. Seperti pernyataan cinta. Tapi juga… seperti salam perpisahan yang belum terjadi.
"Kamu kenapa ngomong gitu?"
"Nggak apa-apa," jawab Arya pelan. "Aku cuma mau kamu tau. Apa pun yang terjadi nanti, kamu penting buat aku."
"Memangnya mau terjadi apa?"
Arya menggeleng dan tersenyum. "Nggak ada. Lupain aja."
Sebelum Mila sempat bertanya lagi, Arya menciumnya.
Pelan.
Hati-hati.
Mila membalas ciuman itu. Tangannya melingkar di leher Arya. Musik masih mengalun pelan.
🎼 Nobody said it was easy…
🎼 It's such a shame for us to part…
🎼 Nobody said it was easy…
🎼 No one ever said it would be this hard...
Ciuman itu semakin dalam. Napas mereka mulai memburu. Bibir Arya turun ke leher Mila, dan Mila membiarkannya.Tangan Arya meraih kancing cardigan Mila, Mila tetap tidak menghentikannya.
Sampai akhirnya Arya tiba-tiba berhenti, seolah tersadar dari sesuatu. Lalu ia menjauh sedikit.
"Kenapa?" tanya Mila dengan napas yang masih berat.
Arya menatapnya lama. "Mila… kita nggak boleh--"
"Aku mau," potong Mila pelan.
"Kamu yakin?"
Mila mengangguk. "Aku yakin. Aku percaya sama kamu."
Sesuatu berubah di wajah Arya ketika mendengar itu. Seperti rasa bahagia dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu.
Ia mencium kening Mila lama. Seperti sedang berdoa. "Aku sayang kamu," bisiknya.
.
.
Keesokan paginya Mila bangun lebih dulu. Cahaya pagi masuk pelan dari celah tirai lusuh kamar itu. Arya masih tidur di sampingnya, satu tangannya melingkar di pinggang Mila. Wajahnya terlihat damai.
Tidak ada beban, tidak ada kekhawatiran. Mila menatapnya lama, mencoba menghafal setiap detail wajah itu.
Garis rahangnya. Alisnya yang tebal. Bulu matanya yang panjang. Hidungnya yang mancung.
Ia merasa berbeda.
Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosi.
Seolah ada bagian dari dirinya yang sekarang menjadi milik Arya, dan sebaliknya. Seperti mereka sudah terikat dalam cara yang tidak bisa diputus.
Mila tersenyum kecil lalu menyandarkan kepalanya kembali ke dada Arya, mendengarkan detak jantungnya yang pelan dan teratur.
Saat itu, Mila benar-benar percaya bahwa ini adalah awal dari selamanya.
Tapi ternyata, selamanya tidak pernah ada.
.
.
Maret 2015 - Hari Itu
Setelah malam itu, hubungan mereka terasa semakin dalam. Mila merasa mereka sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Ia mulai membayangkan masa depan bersama Arya. Kuliah bersama, bekerja, lalu suatu hari menikah.
Semua terasa begitu jelas di kepalanya, sampai hari itu datang.
Seperti biasa, Mila datang ke kos Arya sambil membawa makanan. Ia berniat menghabiskan sore bersama, mungkin menonton film dari laptop tua Arya, atau sekadar mengobrol sampai malam.
Namun begitu sampai di depan kamar, Mila langsung berhenti. Pintu kamar Arya terbuka. Dan di dalamnya kosong. Barang-barang Arya sudah tidak ada.
"Arya pindah," kata ibu kos dari belakang.
Mila cepat menoleh.
"Dia pindah tadi pagi. Katanya mau pulang kampung."
Mila terdiam.
Dunianya seperti berhenti berputar.
Dimana kampungnya? Arya tidak pernah cerita soal kampung. Lalu Mila ingat, Arya memang tidak pernah cerita apapun soal keluarga atau masa kecilnya.
"Dia… nggak bilang apa-apa?"
"Nggak," jawab ibu kos santai. "Dia cuma bayar sisa kos, terus langsung pergi."
Mila langsung meraih ponselnya. Ia menelepon Arya berkali-kali, tapi suara yang terdengar di seberang tetap sama.
📞 Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
Jawaban otomatis itu terus berulang.
Ia mencoba mengirim pesan, tapi tidak terkirim. Ia membuka media sosial Arya, semua akunnya hilang. Seolah Arya menghapus dirinya sendiri dari dunia.
Arya benar-benar pergi. Tanpa kata. Tanpa penjelasan. Tanpa pamit. Seperti hantu yang tiba-tiba lenyap.
.
.
April 2015 - Kehancuran
Mila mencari Arya ke mana-mana. Ke minimarket tempat Arya bekerja, bertanya ke teman-temannya, ke siapa pun yang mungkin tau sesuatu tentangnya. Tapi ia tidak bisa menemukan apapun. Tidak satu pun orang tahu ke mana Arya pergi.
Dan seolah itu belum cukup, hidup Mila juga mulai runtuh satu per satu.
Papa bangkrut, beberapa minggu kemudian, ia menceraikan Mama. Bimo mulai bermasalah di sekolah. Bude Yanti bilang Papa selingkuh. Om Ari bilang Papa sudah menikah lagi dan pindah ke luar kota.
Mila tidak tahu mana yang benar. Dan ia tidak punya tenaga lagi untuk mencari tahu. Ada terlalu banyak masalah sekaligus. Terlalu banyak kehilangan.
Mila mulai berhenti makan, berhenti tidur dengan nyenyak, nilai-nilainya di sekolah jatuh. Setiap malam ia menangis sampai suaranya habis.
Sampai suatu hari Damian menamparnya.
"Bangun, Mil!" bentaknya. "Dia udah pergi! Lo nggak bisa terus kayak gini!"
Mila menatapnya dengan mata merah.
"Tapi gue nggak ngerti… kenapa semua orang pergi…" isaknya.
Damian menghela napas panjang. "Mungkin emang mereka brengsek. Mungkin mereka pengecut," katanya pelan. "Tapi lo nggak bisa hancurin hidup lo gara-gara orang-orang yang bahkan nggak peduli sama lo."
Air mata Mila semakin deras. "Tapi gue udah kasih semuanya ke dia…"
Damian langsung memeluknya erat. "I know, sayang," bisiknya. "I know."
.
.
Flash Back Off
Mila membuka mata. Air matanya mengalir deras membasahi bantal. Kenangan itu masih terasa menyakitkan, bahkan setelah sebelas tahun.
Ia pikir ia sudah pulih. Ia pikir ia sudah memaafkan semuanya. Tapi begitu Arya tiba-tiba muncul lagi, luka lama itu seperti terbuka kembali.
Dan ada satu hal yang paling menyakitkan.
Arya terlihat baik-baik saja.
Ia sukses, mapan, tampan, percaya diri. Seolah sebelas tahun lalu tidak pernah terjadi. Seolah ia tidak pernah meninggalkan Mila dalam kehancuran.
Mila menutup matanya dan menarik napas dalam.
Aku punya Tyas sekarang. Aku nggak boleh hancur lagi.
Tapi jauh di dalam hatinya, ada suara kecil yang tidak bisa ia bungkam.
Kenapa kamu datang lagi, Arya?
Kenapa sekarang?
...***...
Rekomend...
tetep semangat Author, di tunggu karya terbarunya, yang lebih bombastis, membawaku ke duniamu 🤭
kira-kira Tyas di undang ga ya 🫠
Ga tau mau belain Mila atau Arya. Kalian berdua tuh ya sama2 punya masa lalu yg kelam. Dah cocok kalian jadi pasutri, persis lah jodoh itu cerminan diri