Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak perjodohan
Siang hari itu, di aula kaca Elara duduk diantara dua bangsawan. Di atas meja bundar dari marmer putih, tiga cangkir porselen telah tersaji dengan uap teh yang mengepul pelan.
Seraphina duduk di sisi kanan meja, senyumnya lembut namun matanya penuh selidik. Di hadapannya, Lucien duduk tenang dengan sikap yang nyaris tak berubah sejak pagi. Sementara Elara, yang baru saja diundang, tampak kaku di kursinya. Tangannya menggenggam erat ujung roknya, berusaha menutupi kegugupannya.
“Silakan duduk…” ucap Seraphina ramah. “Namamu Elara, bukan?”
Elara menunduk sedikit.
“I—iya, nyonya. Nama saya Elara.”
“Aku ingin berterima kasih karena kau telah merawat taman Kaelmont dengan sangat indah,” kata Seraphina sambil tersenyum.
“Aku memperhatikan bunga-bunganya tumbuh rapi. Itu tentu bukan pekerjaan mudah.”
“Tidak nyonya. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saja.”
Lucien menatap Elara dari seberang meja, pandangannya tajam namun tak terbaca. Seraphina memperhatikan keduanya bergantian.
“Aku jarang melihat pelayan sepertimu di rumah bangsawan. Kau tampak begitu muda… apakah kau baru bekerja di sini?”
Elara terdiam sejenak, lalu menjawab hati-hati,
“Bisa dibilang begitu, Nyoya.”
Keheningan turun seketika. Hanya suara sendok yang beradu dengan cangkir terdengar lembut. Elara menatap ke arah luar jendela, mencoba menghindari tatapan dua bangsawan itu.
Seraphina akhirnya berdeham kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Elara, apa kau menyukai teh?”
“Saya lebih sering menyajikannya, nyoya daripada meminumnya,” jawab Elara pelan.
“Kalau begitu, anggap ini pengecualian. Hari ini kau bukan pelayan, tapi tamu,” ucap Seraphina tersenyum manis.
“Terimakasih sebelum nya, tapi maafkan saya, Nyonya Seraphina… sepertinya saya harus pamit.”
"Pamit? Padahal perbincangan baru saja dimulai.”
Elara tersenyum tipis, menundukkan kepala.
“Maafkan saya Nyonya. Saya baru ingat jika sudah berjanji bertemu seseorang. Saya tidak ingin membuat nya menunggu.”
"Baiklah. Aku mengerti. Pergilah.” Ucap Seraphina pada akhirnya
Elara beranjak dengan gerak hati-hati, melangkah mundur sebelum menundukkan kepala dalam-dalam.
“Terima kasih atas jamuannya, Nyoya
Seraphina.”
“Elara. Aku berharap kita dapat berbincang lagi suatu waktu.”
“Jika diperkenankan, tentu saja, Nyonya.”
Dengan langkah kecil dan penuh kehati-hatian, Elara meninggalkan aula itu. Suara langkahnya pelan, hampir tak terdengar, hingga akhirnya pintu kaca tertutup rapat di belakangnya.
“Kau tidak mengatakan apa pun tentang gadis itu,” ucapnya.
"Karena tidak ada yang perlu dikatakan.”
Seraphina meletakkan cangkirnya perlahan, menatapnya penuh arti.
“Benarkah demikian, tuan Marquis?.”
Lucien menoleh, menatap Seraphina lurus tanpa ekspresi
“Sepertinya tidak ada yang perlu penjelaskan."
Lucien membalas dengan nada ringan namun tajam.
Siang menjelang sore, Elara bertemu dengan Eryn. Sambil memakan burgernya, Elara menceritakan apa yang baru terjadi pada dirinya.
"Beneran? Tuan Marquis melakukan itu?"
"Apa aku terlihat bohong Eryn. Aku hampir saja mati dalam ke canggung karena calon istrinya. Lady Seraphina."
Walaupun itu adalah kali pertama Lady Seraphina datang ke Valenbourg, akan tetapi seluruh keluarga kaelmont mengenal nya termasuk para pekerja. Karena, Seraphina adalah perempuan yang sudah dijodohkan dengan Lucein sejak mereka dalam kandungan.
"Terus apalagi?" Eryn bertanya dengan nada antusias.
"Terus aku buru-buru pamit untuk bertemu denganmu, beruntung mereka tidak masalah." Jawab Elara.
"Sekarang kau tau bukan bagaimana para bangsawan. Dan aku sarankan jangan percaya pada mereka, karena mereka hanya akan membuangmu pada akhirnya."
"Benarkah Eryn?"
"Apa perlu aku perjelas, dari ceritamu tentang tuan Marquis sudah jelas itu hanya modus pasti dia sedang mengincar sesuatu darimu."
Sebagai calon penerus ayahnya, Eryn memang tampak selalu jeli dalam menilai, penilaiannya hampir tidak pernah salah jadi Elara sedikit percaya pada Eryn. Meskipun itu hanya tiga puluh persen.
"Tapi apa yang tuan Marquis inginkan dari aku? Aku kan hanya pelayan?"
Eryn menatap wajah Elara.
"Kau sungguh tidak tahu?"
Elara mengangguk.
Tatapan Eryn semakin serius sebelum akhirnya Eryn menjawab.
"Kecantikanmu, mata indahmu, senyum manismu. Siapa pria yang tidak akan tergila-gila denganmu, Elara." Jawab Eryn yang langsung mendapat tabokan kecil Elara.
"Ini serius Eryn. Kenapa malah bercanda sih."
Eryn menyinggir, pria itu menatap Elara dengan wajah riang nya.
"Kau ini memang tidak pernah serius." Ujar Elara.
Tanpa mereka berdua sadari, seseorang dari balik dalam mobil sedang mengawasi mereka. Tatapan pria itu sangat tajam wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Ternyata dia buru-buru pergi untuk bertemu bocah ingusan itu." Serunya menatap tajam ke arah mereka.
Pria itu adalah Lucein. Tanpa sengaja saat melewati taman, Lucien melihat Elara yang tengah menyatap burgernya dengan lahap, awal nya hanya sekedar tak sengaja melihat tapi Lucein justru mengawasi dari kejauhan saat Eryn tiba-tiba muncul.
Melihat Elara yang tertawa karena Eryn membuat Lucien bergumam.
"Dia bisa tersenyum tapi tadi..."
Lucein mengingat saat Seraphina mengajak Elara minum teh di aula kaca. Gadis itu bahkan sama sekali tak meminumnya, dia hanya menunduk diam.
Mobil Lucein kembali jalan, mobil itu melaju hingga kembali kehalaman kaelmont.
Lucein turun dari mobil.
"Bagaimana Lucein. Apa kau sudah mengantar Lady Seraphina dengan aman?" Tanya madam Marianne pada putranya kembali.
"Aku pastikan itu... Tapi ibu, aku tidak menyukainya."
"Apa yang kau katakan Lucein. Seraphina adalah perempuan yang sudah ditakdirkan sebagai calon istri Marquis."
"Aku tahu tapi perasaan aku tidak bisa bohong. Aku tidak merasakan apapun padanya."
"Dia sangat baik, cantik, ramah dan elegan dan terpenting dia dari keluarga bangsawan. Jadi apa yang membuat kau tidak nyaman, Lucein?"
"Aku tahu itu tapi hatiku yang berkata seperti itu."
Madam Marianne menghela nafasnya.
"Perjanjian antar dua keluarga harus dilakukan, mau atau tidak kau tidak bisa menolak, Lucein."
Lucein diam tak menjawab, tatapannya datar tanpa ekspresi, lalu dengan hormat Lucein memberikan salam sebelum akhirnya dia melangkah pergi meninggal madam Marianne.
**
Lucein duduk di sofa king nya, tatapannya seolah lelah tapi tidak bisa berbuat apapun. Setelah perdebatan kecil tadi, Lucien memilih untuk tidur dimansion pribadinya.
Pria itu menatap langit-langit diatas rumahnya, pikiran nya tiba-tiba teringat dengan Elara.
Tanpa sadar Lucein mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum.
"Tujuh tahun, dia benar-benar tubuh dengan baik. "
Lucein memang tidak punya kenangan banyak di Valenbourg tapi setiap kali Lucein berada di perbatasan, Elara selalu membuatnya mengingat Valenbourg. Wajah mungil nya dan keberaniannya, patut Lucein diacungi jempol.
Saat semua orang menunduk padanya, hanya Elara yang berani mengangkat kepala dan menatap dirinya, bahkan hingga pandangan mereka saling bertemu.