NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kau Abaikan

Cinta Yang Kau Abaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Romansa
Popularitas:83.7k
Nilai: 5
Nama Author: h.alwiah putri

8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.

Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.

Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.

Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.

Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13. bimbang?

Langkah kaki Aldric terasa lebih ringan saat menyusuri lorong rumah sakit yang berbau antiseptik itu. Di dekapannya, Sera tertawa kecil sambil memainkan kancing kemeja sang ayah. Pemandangan ini seolah menjadi anomali bagi siapa pun yang mengenal Aldric setahun lalu—pria yang dikenal dingin, kaku, dan lebih memilih tumpukan berkas daripada suara tawa anaknya sendiri.

Namun, lima hari terakhir telah mengubah segalanya. Aldric baru menyadari bahwa selama ini ia telah melewatkan keajaiban kecil yang tumbuh di depan matanya. Dulu, ia menganggap peran ayah hanyalah sebatas pemberi nafkah dan pelindung nama baik keluarga. Ia pikir, pulang ke rumah dan mendengarkan celoteh anak kecil hanya akan menambah beban kepalanya yang sudah penuh dengan urusan korporasi.

Ternyata, ia salah besar. Setiap kali Sera menyambutnya dengan binar mata saat ia datang lebih awal, lelah yang menghimpit bahunya justru luruh seketika. Menemani Sera bermain boneka kelinci putihnya atau sekadar menyuapi bubur rumah sakit menjadi terapi yang lebih ampuh daripada kopi pekat mana pun.

"Daddy, nanti di rumah kita main lagi, ya?" bisik Sera, menyandarkan kepalanya di bahu lebar Aldric.

Aldric tersenyum—senyum tulus yang kini tak lagi asing di wajahnya. Ia mengecup puncak kepala Sera. "Tentu, Sayang. Apapun yang princess Daddy mau."

Di belakang mereka, Eveline berjalan dengan langkah tenang namun tetap menjaga jarak. Tangannya sibuk menenteng tas berisi perlengkapan Sera. Ia memperhatikan punggung suaminya dengan perasaan yang masih sulit didefinisikan. Ada kelegaan melihat Sera begitu bahagia, namun di sudut hatinya, ia masih berjaga-jaga. Ia seperti seseorang yang melihat ombak tenang setelah badai besar; keindahannya menenangkan, tapi ia tetap ingat betapa hancurnya ia saat badai itu menghantam.

Di samping Eveline, ibunda Aldric, Mama Sofia, berjalan dengan wajah berseri-seri. Ia sesekali mengusap lengan menantunya itu, seolah ingin berbagi kebahagiaan yang membuncah. Sebagai ibu, Sofia tahu persis betapa keras kepala putranya selama ini, meniru sifat Tuan Lucien yang dominan. Melihat Aldric kini begitu telaten menggendong Sera, Sofia merasa separuh bebannya terangkat.

"Lihat dia, Eve," bisik Mama Sofia pelan agar tidak terdengar Aldric. "Mama hampir tidak percaya itu putra Mama. Dia sepertinya baru saja menemukan bagian jiwanya yang sempat hilang."

Eveline hanya tersenyum tipis, hampir tak kentara. "Semoga saja ini selamanya, Ma. Bukan sekadar perasaan bersalah yang lewat sebentar."

Aldric berhenti sejenak di depan pintu otomatis lobi, menunggu Eveline dan ibunya sejajar dengannya. Ia menoleh, menatap istrinya dengan tatapan yang kini lebih lembut, seolah meminta izin untuk melanjutkan langkah menuju mobil. Tidak ada lagi perintah ketus atau nada intimidatif.

Saat mereka tiba di parkiran, Aldric dengan hati-hati mendudukkan Sera di *car seat*. Ia memastikan sabuk pengaman terpasang sempurna sebelum beranjak membukakan pintu untuk Eveline.

"Terima kasih, Mas," ucap Eveline datar saat masuk ke dalam mobil.

Aldric mengangguk singkat, matanya mencari sekilas pengakuan di mata Eveline, namun ia tahu ia belum berhak mendapatkannya sepenuhnya. Perjalanan pulang hari itu terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang menyesakkan, melainkan awal dari sebuah babak baru yang penuh kehati-hatian. Aldric menyadari, menebus waktu yang hilang tidak bisa dilakukan dalam lima hari, tapi ia siap menghabiskan sisa hidupnya untuk memastikan Sera dan Eveline tidak pernah lagi merasa kesepian di rumah mereka sendiri.

Aroma teh melati yang diseduh Nyonya Lucien memenuhi dapur, namun suasana di antara kedua wanita itu terasa jauh lebih pekat. Eveline bergerak mekanis, menata cangkir di atas nampan, sementara pikirannya masih tertinggal di lantai atas—pada bayangan Aldric yang dengan sabar membacakan buku cerita hingga Sera terlelap.

Nyonya Lucien menghela napas panjang, menatap punggung menantunya dengan tatapan penuh simpati. Sebagai seorang ibu yang juga hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan Tuan Lucien selama puluhan tahun, ia tahu persis luka seperti apa yang dipikul Eveline.

"Eve," suara Nyonya Lucien memecah keheningan. "Aldric benar-benar sudah berubah. Mama bisa melihat binar yang berbeda di matanya. Dia seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang."

Eveline terhenti sejenak, namun ia tetap memunggungi ibu mertuanya. Jari-jarinya mencengkeram pinggiran wastafel.

"Bukankah ini kabar yang membahagiakan? Melihat dia rela menanggalkan egonya demi Sera?" Nyonya Lucien melanjutkan dengan nada lembut, hampir memohon. "Mama tahu ini sulit, tapi apakah tidak ada ruang untuk kesempatan kedua? Jauh di lubuk hati Mama, Mama ingin pernikahan kalian tetap utuh. Mama ingin melihat Aldric menebus semua waktunya sebagai suami dan ayah yang baik."

Eveline masih bergeming. Kalimat "kesempatan kedua" terasa seperti beban ribuan ton yang dijatuhkan ke bahunya. Logikanya berteriak bahwa luka bertahun-tahun tidak bisa dihapus hanya dengan perubahan selama lima hari di rumah sakit.

Nyonya Lucien berjalan mendekat, menyentuh bahu Eveline dengan kasih sayang seorang ibu. "Tapi, Eve... Mama tidak akan memaksamu. Semua keputusan ada di tanganmu. Entah kamu memilih untuk tetap bertahan atau melangkah pergi, Mama akan mendukungmu. Mama sadar, putra Mama telah memberikan luka yang teramat dalam padamu. Kamu berhak untuk bahagia, dengan atau tanpa dia."

Eveline akhirnya berbalik. Matanya yang lelah menatap Nyonya Lucien dengan pandangan kosong. Ia ingin membalas, ingin mengatakan betapa takutnya ia jika perubahan ini hanyalah fatamorgana. Ia ingin berteriak bahwa setiap kali Aldric menyentuh tangannya, memori tentang makian dan pintu yang dibanting selalu terputar otomatis di kepalanya. Namun, lidahnya kelu.

"Pikiran aku sedang sangat penuh, Ma," suara Eveline serak, nyaris tak terdengar.

Kebimbangan itu merayap seperti kabut tebal. Di satu sisi, ada secercah harapan saat melihat Sera kembali tertawa di pelukan ayahnya. Di sisi lain, ada harga diri dan rasa trauma yang menolak untuk dikhianati lagi. Eveline merasa seperti berdiri di persimpangan jalan tanpa papan petunjuk. Bertahan terasa seperti berjudi dengan sisa kewarasannya, sementara pergi terasa seperti merampas kebahagiaan Sera yang baru saja mekar.

Nyonya Lucien hanya mengangguk paham, memberikan ruang bagi Eveline untuk bergelut dengan batinnya sendiri. Di dapur yang megah itu, keheningan kembali meraja. Eveline menatap ke arah tangga, membayangkan Aldric di sana. Sebuah pertanyaan besar terus menghantui benaknya: Apakah penyesalan pria itu cukup kuat untuk meruntuhkan tembok kebencian yang telah ia bangun demi melindungi hatinya sendiri?

Waktu mungkin akan menjawab, namun bagi Eveline, setiap detik saat ini terasa seperti ujian yang menyiksa. Ia belum siap memaafkan, namun ia juga belum sanggup untuk benar-benar melepaskan.

gays sorry bgtt kemarin gak sempet up,sumpah aku kelupaan lagi 😭 pliss siapapun tolong kasih tau aku,kalau aku harus up bab setiap hari 😭😭

Sorry yah gays.

Oh iya untuk info update dan spoiler bab baru cek Ig @h.alwiah_putri.writers

See you next chapter gayss 😆

1
Asmar Wati
kasian ya anak di abai terus sama ayah nya
Supri Yanti
satu kata buat Evelyn, bodoh ngorbanin anak yg lucu huh,
Supri Yanti
lagian laki kayak gitu masih aja di pertahanin, orang mah pergi kek, jadi greget sama perempuannya jadinayka n anak jd korban bego
Siti M Akil
lanjut thor
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeeet ku bcnya asyik klw sekarang krn Evelyn dah membalas sakit hatinya selama 5 th biar si Aldric merasakan gmn sakitnya di acuhkan semangat Evelyen ,meskipun dlm berumah tangga itu ngga boleh kecuali dah perjanjian ....hehehe ko ku ngenes ya Thor pdhal tuh cuma ceritra ....ok
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Nur Anna
bagus
nn
next
Syifa
ko engga up sih tour udah lama nunggunya
Uthie
Kayanya bakalan Gol proyek nya sehabis ini nanti 😁👍
Nia nurhayati
mongho sing wareg mas aldric😂😂😂
Uthie
Semoga segera launching proyek adik baru nya Sera 👍😁
Yeni Wahyu Widiasih
bagus
Uthie
ikut senyum-senyum juga bacanya 😁👍👍
Uthie
Lanjuuttttt 😁👍
Daulat Pasaribu
selamat sera mommy dan daddymu lagi buat kan kamu adik🤣
smoga segera launching adikmu
Yeni Wahyu Widiasih
umur balita cadel wajar lah ini udah 7 thn
Dewi Yanti
aku setuju dengan tasya, bertahan demi anak tp malah anak nya yg menderita jg bodoh itu
Syifa
aaah udah engga sabar nunggu lonceng adeknya sera 🤩
Daulat Pasaribu
akhhh cepetan dong gak sabar kalau sera punya adik pasti lucu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!