Karena suatu tragedi buruk membuat Hara Ayunda Nugraha seorang gadis yatim piatu harus kehilangan kesuciannya. Hara tak tahu siapakah pria yang telah menodainya itu karena malam sudah gelap.
Albert Hito Radjasa cucu tunggal dari keluarga Radjasa dengan terpaksa harus menikahi Hara gadis yang telah ternodai itu karena keinginan dari kakeknya William Hito Radjasa.
Albert atau yang akrab disapa Al itu merasa tak sudi jika harus menikahi Hara karena ia merasa harus bertanggung jawab pada gadis yang tanpa sengaja telah ia nodai, Albert tak ingat siapakah gadis itu. Hingga suatu kebenaran telah terungkap bahwa Hara lah ternyata gadis yang telah ia nodai.
Namun sayang, semua kebenarannya seolah tiada berguna karena Hara telah lebih dulu pergi dengan membawa serta kedua malaikat kecil yang ada di rahimnya.
Akankah Albert bisa menemukan istri dan juga anak-anaknya?.
❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Dengan perlahan benda persegi panjang yang berdiri kokoh yang berfungsi sebagai tempat masuk dan keluarnya seseorang mulai Albert buka.
Albert kembali ke tempat di mana dirinya telah menodai seorang gadis. Dan kini, tanpa diketahui oleh orang lain diam-diam pria itu kembali masuk ke ruangan ini.
Beruntung juga di tempat ini ada ruangan kosong yang hampir pasti tak akan didatangi oleh seseorang, kecuali dirinya yang datang ke tempat ini untuk mencari keamanan.
Disaat Albert memasuki tempat ini dan melangkah untuk mendekati area kasur pandangan Albert langsung jadi melotot. Albert sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebuah kondisi kasur yang begitu sangat berantakan serta adanya bercak merah yang berceceran.
Albert melangkah ingin lebih dekat mendekati sang kasur, namun masih belum langkah Albert sampai tiba-tiba langkahnya itu jadi terhenti, Albert dikejutkan dengan kondisi lantai yang juga terdapat bercak merah, dan apa ini, bahkan ada bekas kaki yang berhiaskan barcak da*rah.
Albert pun jadi berjongkok untuk melihat bekas-bekas itu dengan jelas. Dan Albert melihat bekas kaki yang menurut pandangannya berukuran kecil.
" Tidak. " Albert tak percaya hal ini, setelah melihat bekas bentuk kaki dari gadis yang ia nodai, mengapa bentuknya seperti bentuk kaki seorang gadis remaja.
" Tidak, ini tidak mungkin. " Albert berharap semoga gadis yang dinodainya masih bukan gadis di bawah umur.
Albert kembali melihat kondisi sang kasur, pria blasteran itu bangkit untuk melihat lebih jelas lagi.
Semuanya berantakan, sangat memprihatinkan. Albert memperhatikan bercak merah yang banyak itu. Bahkan bekas merahnya masih belum kering, dan itu artinya gadis itu masih belum lama ini pergi dari ruangan ini.
Albert mengusap wajahnya dengan kasar, pria blasteran itu mulai agak frustasi, bagaimana jika gadis yang dinodainya adalah gadis di bawah umur, jika itu benar maka dirinya sudah melakukan kesalahan besar, bahkan perbuatannya itu sangatlah keji.
" Maafkan aku. " dua kata itulah yang keluar dari kedua belah bibir Albert karena rasa bersalahnya.
Albert adalah orang yang memiliki ego yang sangat tinggi, sangat pantang baginya untuk meminta maaf, namun kini semua itu seolah runtuh. Karena perbuatan kejinya membuat Albert merasa bersalah sehingga tanpa disadari keluarlah kalimat permohonan maaf itu.
" Aku harus mencari gadis itu. " dan Albert mulai merogoh saku celananya.
Albert tak tahu siapakah gadis yang telah ia nodai. Ini adalah masalah yang sangat serius, sebelum kehilangan jejak gadis itu, Albert ingin agar orang-orang kepercayaannya mencari tahu tentang sang gadis.
Namun masih belum Albert menyalakan handphone pintarnya, tiba-tiba pandangan Albert jadi terfokus akan sesuatu. Albert melihat sesuatu di dekat salah satu kaki ranjang kasur itu.
Ada semacam benda yang nampak berkilau namun ada benangnya. Penasaran dengan benda itu cepat-cepat Albert mendekat. Ruangan ini adalah tempat di mana dirinya telah merenggut secara paksa kesucian seorang gadis, maka dari hal itu jika ada sesuatu yang memungkinkan bisa memberi petunjuk akan sang gadis tak akan Albert lewatkan.
Albert mulai meraih benda itu, ternyata ini adalah sebuah kalung liontin, tapi mengapa bentuknya seperti ini, liontin dengan benang merah.
" Kalung ini milik gadis itu. " Albert sangat yakin jika kalung liontin yang unik ini memang milik sang gadis.
Bukan tanpa alasan Albert yang memiliki keyakinan seperti itu, pasalnya model kalung ini memang dirancang khusus sebagai kalung wanita, apalagi benang dari liontin ini sampai terputus yang menandakan jika kalung ini telah ditarik paksa. Albert merasa sudah mendapatkan secercah harapan, setidaknya dirinya sudah mengantongi benda berharga milik gadis itu.
" Maafkan aku kek, aku tidak bisa menuruti keinginan kakek. " Albert akan mengingkari janjinya pada kakeknya.
Sebelumnya Albert sudah berjanji jika akan menerima perjodohan dengan seorang gadis yang telah kakeknya pilih. Namun setelah mengetahui keadaan di tempat ini membuat Albert berubah pikiran total. Albert merasa lebih baik menikahi gadis yang telah dirinya nodai daripada harus menikahi gadis pilihan kakeknya.
Tak peduli apapun yang terjadi, dan bagaimana pun nanti, Albert harus menemukan gadis itu. Kakeknya tak boleh tahu jika dirinya sudah menodai seorang gadis, karena jika sampai hal itu terjadi, bukan tak mungkin jika kakeknya akan menggagalkan semua rencananya.
*****
Sinar mentari pagi telah datang menyapa ke hampir setiap atap rumah yang berpenghuni. Masih terasa sejuk namun ada kehangatan itulah yang menggambarkan bagaimana keadaan di pagi hari ini.
Malam telah berlalu, berganti dengan pagi hari yang mendatangkan semangat baru.
Di sebuah ruangan kamar kos, Hara masih duduk diam meratapi atas kejadian yang dialaminya.
Gadis itu duduk terdiam di atas ranjang kasur dengan tubuh mungilnya yang bersandar pada dinding.
Hara menangis tak bersuara, sudah lama gadis itu menangis sampai-sampai sudah tak ada suara isakannya, hanya lelehan air mata yang terus menerus bercucuran.
Jika saja waktu bisa diulang tak ingin dirinya datang ke pesta pernikahan itu, dan kejadian buruk itu pun pasti tak akan terjadi.
Tok... tok... tok...
" Hara... "
Suara - suara dari luar pintu memanggil Hara.
Tok... tok... tok...
" Hara buka pintunya, ini kita mau masuk. "
Hara yang mendengar kedatangan teman-temannya dengan segera mungkin menghapus lelehan air matanya.
" Bagaimana ini?, mereka datang. " Hara mulai panik, ketiga temannya datang ke kosnya, sementara dirinya dalam keadaan seperti ini.
" Hara... "
" I-iya... " sahut Hara.
Tak ada cara lain selain harus menerima kedatangan mereka.
Dengan perlahan Hara mulai turun dari ranjang kasurnya. Luka di bagian sensitifnya masih belum sembuh, jika teman-temannya tahu keadaannya yang seperti ini pasti mereka akan bertanya-tanya.
" Hara buka pintunya kenapa kamu lama sekali yang mau buka pintu?. "
" Iya, ini aku sudah mau buka pintunya. " dengan terpaksa Hara harus menerima kedatangan teman-temannya.
Dengan langkah kakinya yang tertatih-tatih Hara mendekati pintu, gadis itu harus membiarkan teman-temannya masuk, jika tidak mereka akan curiga.
Kriett...
Dan dengan perlahan Hara pun membuka pintu kamar kosnya. Nampak lah ketiga teman Hara dengan sikap mereka yang seolah menghadang.
" Ya ampun kamu lama sekali yang... " Siska malah langsung tercengang.
" Ya ampun Hara, apa yang sudah terjadi?, kenapa matamu sampai bengkak begitu?. "
" Mata kamu bengkak Hara, kamu nangis?. "
" Ya ampun sampai bengkak begitu. "
Siska, Santi dan juga Ita sangat terkejut dengan keadaan Hara. Baru juga masih pagi hari tetapi keadaan Hara sudah seperti ini.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Hara, baru semalam menghilang dari pesta tahu-tahu di pagi harinya keadaannya sudah seperti ini.
" Hara kamu kenapa?, kamu menangis, sampai bengkak seperti ini matamu. " Ita menyentuh wajah Hara.
" Tidak apa-apa kok. " Hara mencoba menurunkan tangan Ita.
" Tidak mungkin tidak apa-apa, lihat matamu sampai bengkak seperti itu, pasti kamu semalaman nangisnya. " Santi sangat yakin pasti sudah terjadi sesuatu pada Hara, jika tidak, tidak mungkin wajah Hara sampai sangat sembab seperti sekarang ini.
Bagaimana ini, Hara merasa cemas, jangan sampai teman-temannya ini tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya.
Hara merasa takut dan juga malu, bukan berniat untuk menutupi suatu kejahatan, tapi bagaimana cara untuk menjelaskan pada mereka. Tidak, Hara tak sanggup yang harus menceritakan semuanya.
" Ayo sebaiknya kita masuk saja, kamu ceritakan semuanya di dalam Hara. " Ita merasa perlu mendapatkan kejujuran dari Hara, jika tidak dipaksa untuk bercerita, maka Hara tak akan bercerita.
" Ayo-ayo kita masuk ke dalam, kamu ini memang kebiasaan Hara, kalau tidak paksa untuk cerita tidak mau cerita. " Siska sudah tak sabar yang ingin mendengar cerita dari Hara, dan gadis itu sedikit mendorong tubuh Hara agar mau berjalan.
" Aw akh... "
Deg...
Hara memekik sehingga reflek membungkukkan badannya.
" Ada apa Hara?. " teman-teman Hara langsung tersentak khawatir.
" Kamu kenapa Hara?, kamu sakit?. " tanya Ita.
" Kamu jangan buat kami khawatir Hara, kamu sakit?, harusnya kamu cerita kalau sakit. " Siska penasaran dengan keadaan Hara.
" Tidak, tidak apa-apa, kakiku hanya terkilir semalam, jadinya sakitnya sampai sekarang, iya benar begitu. "
" Kalian mau masuk kan, ayo masuk. " dengan perlahan Hara pun mulai melangkah.
Hara melangkah dengan kedua kakinya yang tertatih-tatih. Hara tak ingin jika ketiga temannya ini sampai ada kecurigaan.
" Ya ampun astaga Hara, bisa-bisanya kamu terkilir sampai jalannya seperti itu, sebenarnya kamu mau ke mana sih sampai terkilir begitu?. " Siska merasa tak habis pikir dengan Hara, mengapa Hara bisa ceroboh sampai membuat kakinya terkilir.
Siska dan Santi lanjut masuk mengikuti Hara yang jalannya seperti orang yang sakit kaki. Namun tidak dengan Ita, Ita merasa jika Hara sedang menutupi sesuatu.
Jika kaki Hara terkilir sampai membuat jalannya susah seperti itu masih masuk akal, lalu bagaimana dengan wajahnya yang sudah sangat sembab seperti orang yang terkena masalah besar.
Dengan masih memegang tas dan juga handphone milik Hara, Ita masih memperhatikan cara berjalan Hara. Benar-benar sangat mencurigakan. Ita sangat yakin jika Hara sudah menutupi sesuatu.
" Tidak, kamu berjalan bukan seperti orang terkilir, tapi seperti orang yang selesai melakukan hal seperti itu. " hati Ita yang berbicara.
Bersambung..........
❤❤❤❤❤
Terima kasih. 🙏❤