Anyelir, gadis pekerja keras yang tak mengandalkan orangtuanya dalam menata masa depan pilihannya sendiri. Tiba-tiba harus mengabulkan satu-satunya permintaan papanya yaitu menikah dengan anak teman papanya.
Diandra, seorang pengusaha yang ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya. Apakah kehadiran Anyelir mampu melupakan kekasihnya itu?
Atau mereka akan memilih jalan berbeda?
#slow update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jojo Natasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Ulang tahun
Acara ulang tahun Albert diadakan di rumah mewah miliknya di Bandung. Acara ini dihadiri banyak pengusaha muda dan beberapa artis ibu kota tentunya. Anyelir memutuskan datang sendiri tanpa di dampingi Roni karena Anyelir sudah tidak tega untuk memonopoli Roni sedang istrinya mendekati masa persalinannya. Anyelir sudah meminta Roni mengambil tanggung jawab atas semua pekerjaan Monica, sedangkan untuk pekerjaan yang biasa dikerjakan Roni akan Anyelir selesaikan sendiri.
Karena akhir pekan, Anyelir memutuskan berangkat lebih pagi untuk menghindari jalanan yang pasti akan macet di beberapa tempat. Sampai di kota Bandung, Anyelir memutuskan untuk istirahat dahulu di salah satu hotel mewah milik kakaknya, langsung menuju kamar miliknya. Kamar itu memang dihadiahkan langsung oleh Mahardika saat ulang tahunnya yang ke 23.
Anyelir merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk mengurangi lelah perjalanannya. Kemudian Anyelir mengotak-atik telepon genggamnya mencari nomor kakak perempuan satu-satunya di keluargan Rahadiansyah.
" Assalamualaikum kakakku yang cantik.." sapa Anyelir ketika terdengar tanda nya telah dijawab.
" Fira... Tumben telepon. Pasti ada maunya." Balas Nadya dari seberang.
" Tahu aja kakakku ini. Istri Roni sudah mau melahirkan makanya aku malas keluar kalau gak ada yang nemenin. Bisa gak kakak suruh orang kirim pakaian untukku. Aku mau ke pesta Albert"
" Aman cantik, kakak ada koleksi baru. Nanti akan ada yang kirim ke kamu. Kamu di mana?"
" Tempat biasa, kamar favorit ku di Bandung."
"Nanti Susan yang antar. Ketemu sama kak Dika gak?"
" Kak Dika lagi ada bisnis sama Kak Zaidan. Dah dua hari di New York."
" Ok cantik. Ada hal yang harus kakak selesai kan ini. Selamat berpesta." Ucap Nadya kemudian menutup sambungan telepon.
Nadya, memiliki nama lengkap Zulfa Nadya Rahadiansyah. Memutuskan karir dan bisnisnya di dunia fashion dengan merk dagang ZuNa. Sekarang sudah memiliki 100 cabang di dunia. Bandung memiliki satu diantaranya. Sedangkan Nadya lebih memilih tinggal di Paris sejak kepergiannya dari rumah.
***
Tepat pukul 19.00, Anyelir sampai di tempat pesta. Suasana sudah cukup ramai. Ada beberapa tamu yang Anyelir kenal sebelumnya, tetapi ada juga yang belum pernah Anyelir temui. Maklum Anyelir lebih sering menghindari pertemuan-pertemuan bisnis yang non formal. Roni yang akan melakukannya. Yang Anyelir lakukan hanya melempar senyum ke setiap orang yang dia temui dan menyapa beberapa orang yang dia kenal. Hingga sang empunya acara terlihat asik bercengkerama dengan beberapa orang di salah satu sudut taman.
" Albert, selamat ulang tahun." Anyelir memberikan selamat sambil menyerahkan sebuah kado kecil.
" Anyelir. Kakakku sayang. Terimakasih sudah datang. Apakah perjalananmu menyenangkan?"
" Tentu saja."
" Tapi aku tahu. Kamu tak akan nyaman dengan suasana di sini. Apa perlu kita ngobrol di tempat lain yang agak sepi?"
" Gak usah Albert. Kelihatannya aku harus mulai membiasakan diri dengan suasana seperti ini untuk beberapa bulan ke depan. Maklum Roni sedang handle kerjaan istrinya. Sudah mau melahirkan dia"
" Pantas. Dari tadi aku gak lihat asisten kamu yang jarang tersenyum itu" perkataan Albert sontak membuat mereka tertawa.
" O ya. Buka dulu dong kadonya. Kamu gak pengen tahu kado apa yang aku kasih ke kamu?"
" Iya ya. Tapi sebenarnya kamu dah mau datang itu sudah menjadi kado terindah di ulang tahunku kak."
Albert membuka kotak kecil di tangannya. Sebuah kartu emas dengan pahatan bunga Anyelir terpampang di sana. Albert terpesona.
" Apa ini Kak?"
" Kamu adalah orang yang akan bebas keluar masuk ke paradise village. Simpan saja untuk sekarang. Nanti saat bisa digunakan pasti dikabari"
" Wah jadi penasaran. Makasih ya Kak"
" Sama-sama"
" Bro Albert..." Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Betapa terkejutnya Anyelir melihat sang pemanggil. Diandra yang dengan manisnya menggandeng seorang perempuan dengan pakaian yang memamerkan bentuk tubuhnya bahkan mengekspos beberapa bagiannya.
" Hai Diandra, makasih sudah datang. Siapa gadis cantik ini?"
" Sekretaris aku"
" Terserah kamu saja. Mau sekretaris atau kekasih baru kamu. Ayo nikmati pestanya"
Diandra bercerita dengan Albert dan sesekali perempuan di samping Diandra ikut menimpali.
" Albert, boleh aku istirahat sebentar."
" Tentu Saja. Di kamar aku aja ya, kamu tahu kan? Nanti biar Lisa antar makanan ke sana" Anyelir mengangguk.
Tentu saja Anyelir tahu dimana kamar Albert karena Anyelir ikut mengantarkan Albert dulu ketika baru pulang dari rumah sakit. Anyelir berjalan dengan perasaan yang apa rasanya. Lelaki yang hampir dua Minggu ini dinikahinya pura-pura tidak mengenalnya. Bahkan asik menggandeng perempuan lain untuk datang ke sebuah pesta. Anyelir membuka pintu kamar Albert, masih seperti beberapa tahun yang lalu dengan kesan gelap dan maskulin sesuai dengan kepribadian pemiliknya. Anyelir menuju balkon mengarahkan pandangannya ke taman tempat berlangsungnya pesta. Diandra masih di sana. Masih dengan perempuan yang terus menempel di sampingnya. Sekilas Diandra melihat ke arah balkon tempat Anyelir berdiri dan pandangan mereka bertemu. Namun sedetik kemudian Diandra mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Anyelir kembali ke dalam kamar saat Lisa datang membawa beberapa makanan.
" Kamu bawa kembali saja Lisa. Sampaikan pada Albert saya pulang. Tiba-tiba tidak enak badan"
" Baik Bu, nanti saya sampaikan"
Lisa adalah salah satu sekretaris kepercayaan Albert yang Anyelir tahu. Selalu berpembawaan tenang namun seperti banyak menyimpan rahasia. Ketika menuruni tangga Anyelir bertemu dengan Aldo, Rio dan Roland. Aldo dan Roland membawa pasangan yang tak kalah menarik dengan perempuan yang di bawa Diandra.
" Hai Bos, kok bisa hadir di tempat seperti ini?Mau kemana?" Tanya Roland yang melihat Anyelir yang turun dari lantai atas dengan tergesa.
" Pulang. Pusing."
" Roni mana?" Aldo terlihat khawatir melihat wajah Anyelir yang dia sadari tidak bahagia seperti biasanya.
" Aku datang sendiri kok."
Semakin terlihat jelas, bahwa bos mereka sedang dalam kondisi emosi yang kurang bagus.
" Mau pulang? Biar kuantar" Aldo langsung menarik tangan Anyelir tanpa meminta persetujuannya.
" Bukannya kamu bawa mobil?"
" Nanti bakal ada yang ambil, tenang saja."
Aldo membukakan pintu untuk Anyelir kemudian membuka pintu untuknya sendiri. Mereka melaju di jalanan yang cukup ramai. Aldo membawa mobil dalam kecepatan sedang dengan harapan suasana malam dapat membantu Anyelir menenangkan pikirannya.
" Bagaimana kalau kita makan dulu? Tadi aku belum sempat makan dan sekarang kelaparan. Apakah kamu gak kasian dengan supir yang malang ini bos?"
" Terserah"
Akhirnya Aldo membawa Anyelir makan di sebuah pondok angkringan. Karena Aldo sangat tahu jika Anyelir akan bisa dengan mudah berubah suasana hati jika dibawa ke tempat dengan suasana yang menyentuh hatinya. Di tempat seperti ini biasanya mereka bertemu dengan banyak kalangan masyarakat dari bawah sampai menengah. Ada beberapa komunitas motor yang juga sedang nongkrong di sana. Anak-anak remaja menari dan menyanyi di seberang jalan. Dan sepertinya Anyelir menikmati suasana itu karena tidak berapa lama kemudian Anyelir terlihat tenang.
" Ada yang pengen di ceritain?"
" Gak.."
" Ok Bu Bos. Terserah Anda."
tbc
lanjut ya author aku menunggu mu😘
kirain dah pada pindahan semua 🤭