Masa lalu yang kelam membuat Helena harus hidup dengan dua identitas. Pertama, sebagai dirinya sendiri. Kedua sebagai Candy, wanita malam yang mendapatkan uang setelah memuaskan hasrat para pria hidung belang.
Semua pria itu sama sekali tidak tahu mengenai Helena. Mereka hanya tahu tentang Candy. Sampai kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga, ada seorang pria yang menyadari jika Helena dan Candy adalah wanita yang sama. Ya, Adam tahu kalau Helena memang sengaja menyamar menjadi Candy. Hal itu membuatnya ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan wanita itu.
Tentu saja seharusnya Adam adalah pria yang Helena jauhi. Namun kenyataannya, Helena malah selalu berakhir di ranjang pria itu. Apa yang harus Helena lakukan? Bagaimana jika seluruh dunia tahu identitas aslinya? Jika itu terjadi, sanggupkah ia menghadapi masa lalu yang kembali terkuak?
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri Lidya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Tapi satu jam kemudian terdengar bunyi bel. Helena mengerutkan dahinya. Berpikir jika itu adalah Laurent yang pergi keluar. Untuk apa Laurent menggunakan bel jika wanita itu memiliki kunci rumah? Tapi tetap saja Helena bergerak menuju pintu dan membukanya. Dan dirinya terkejut mendapati Adam di depannya.
“Kau- bagaimana bisa- ergh! Kau mendapatkan alamatku.” Helena menatap Adam tajam.
“Terima kasih untuk sapaanmu.” Dengan sedikit paksaan akhirnya Adam menerobos masuk ke dalam. Ia melirik setiap penjuru rumah tersebut. Dari luar terlihat seperti jarang dibersihkan layaknya rumah tua. Tapi di dalamnya terlihat bersih dan rapi. Adam mengira jika Helena tidak ingin berbagi alamat rumahnya karena kecil atau hanya sebuah apartemen mungil seperti milik Candy atau temannya. Tapi ini di luar ekspektasi. rumah ini sangat besar.
“Rumah yang indah.”
Helena menghela nafas lalu pergi ke dapur yang dibuntuti Adam. “Kau ingin minum?”
“Sampagne, please.”
“Di rumahku tidak memiliki sampanye.” Helena menuangkan air mineral ke dalam dua gelas. Lalu memberikan salah satunya untuk Adam.
“Oh thank you. Ini lebih baik.”
“Katakan dari mana kau mengetahui alamat rumahku. Dan nomorku.”
“Seperti biasa, Helena? Langsung topik?” Helena menunggu membuatnya menghela nafas. “Baiklah. Aku menyuruh Lucas mengikutimu waktu itu. Semoga jawabanku memuaskanmu.”
Helena terdiam. Apakah Adam juga mencari tahu siapa dirinya?
Adam yang paham apa yang dipikirkan Helena berkata, “Aku menghormatimu, Helena. Tapi jika kau setuju aku akan mencari tahu mengenaimu.”
“Don’t.” Helena berujar cepat.
“Deal.”
Adam bisa melihat Helena yang bernafas lega terang-terangan dengan alis terangkat. Ada apa dengan wanita ini?
“Jadi apa maksud kedatanganmu kemari?” Tanya Helena tersenyum ceria mengingat Adam tahu yang mana batas wajar dalam privasi.
Adam menghabiskan minumannya lalu meletakkan gelasnya di hadapan Helena. Ia menatap lekat wanita itu. “Aku menginginkanmu.”
Adam mencium Helena dengan lapar dan detik berikutnya Helena merasakan kakinya sudah tidak berpijak di lantai.
***
Helena terbangun sendirian di ranjang. Melihat jam digital di nakas samping tempat tidur pukul 10 pagi. Helena tak bisa menghilangkan senyum bodoh di wajahnya saat mengingat adegan tadi malam yang mana Adam terlihat agresif dan Helena menyukainya. Dirinya kembali ke masa sekarang saat mencium aroma lezat makanan. Helena turun dari ranjang dan ekor matanya menangkap kemeja Adam yang tergeletak di bawah ranjang. Well, bukan Laurent yang memasak. Mempunyai pemikiran bahwa Adam masih di sini entah kenapa itu membuatnya tersenyum lebar persis seperti anak gadis yang bodoh. Helena langsung memakai kemeja putih Adam lalu turun ke dapur.
Saat Helena sudah duduk di meja bar, Adam melihatnya. Ia tersenyum, menghampiri Helena, memberikan ciuman basah di bibir Helena lalu melanjutkan aktifitas memanggang bacon tanpa pakaian. Hanya memakai celana hitamnya semalam dan juga apron coklat Laurent.
“Pagi, Baby.” Adam membuka lemari es, mengeluarkan satu kotak susu dan menuangkannya di gelas untuk Helena.
Helena mengangkat alisnya dengan kelihaian Adam di dapurnya. Padahal ini kali pertama Adam menginjak dapurnya. Tapi pria itu hapal dengan letak bumbu-bumbu dapur dan isi lemari es Helena seakan pria itu sudah tinggal lama di sana.
“Pagi juga tampan.” Helena meminum susunya yang diperhatikan Adam. Saat meletakkan kembali gelasnya, Adam dengan cepat menjilat bibir atas Helena membuat Helena terpaku.
“Manis,” bisik Adam dan Helena memerah. Sesegera mungkin Helena mengelap bibirnya yang masih belepotan susu, mungkin?
Adam kembali memasak sedangkan Helena hanya duduk terus memperhatikan gerak-gerik Adam. Menurutnya, pria yang bisa memasak itu sangatlah hot. Dan terbukti sekarang seorang pria dengan celemek coklat Laurent tengah berseteru dengan spatula dan wajan.
“Di mana Laurent?”
“Aku menyuruhnya tamasya.”
Jawaban Adam membuat Helena mendenguskan tawa.
“Speaking of it. Kau membohongiku tentang jati diri Laurent. Dia pelayan di rumah ini.”
Helena menggeleng. “Dia adalah keluargaku. Dulunya, iya. Tapi sekarang, aku menganggapnya seperti seorang ibu.”
Adam tersenyum dan mengangguk paham.
“Sejak kapan kau pandai memasak?”
Adam menoleh sekilas. “Dalam keluargaku, kami semua bisa memasak. Ibuku membesarkan kami dengan cara mengajar anaknya memasak entah itu laki-laki atau perempuan.”
“Kami?”
“Aku dan adikku, Mona.”
“Dua bersaudara?”
“Ya. Dan kau? Ceritakan tentangmu.”
“Aku anak tunggal di keluargaku.”
“Dan?” Adam masih menggali informasi tentang Helena.
“Aku hanya tinggal bersama Laurent. Apa kalian tinggal bersama orang tuamu?”
Terlihat sekali Helena mengalihkan topik dan Adam hanya menghela nafas. “Ayah dan Ibuku menetap di Maldives Island untuk masa tuanya. Mona masih kuliah di Massachussets Institute of Technology, selain memasak dia suka sekali memahat. Dia akan ke New York satu bulan sekali. Sesekali orang tuaku akan ke sini, New York. Atau kami ke sana untuk melihat keadaan mereka. Aku lulusan dari Columbia University mengambil bisnis. Kami sekeluarga lahir di New York. Umurku 28 tahun kalau itu juga perlu. Aku berbakat, multitalenta, kharismatik, dan memiliki banyak uang.” Adam mengedipkan mata. “Sekarang perkenalkan dirimu.”
Helena menghela nafas dalam. “Kehidupanku tidak ada yang menarik. Ceritakan aku bagaimana kehidupan kedua orang tuamu. Mereka pasti merindukan kalian berdua.”
Adam sudah selesai memasak. Ia menghampiri Helena, menghadap wanita itu. Dengan menyandarkan kedua telapak tangannya di meja bar, ia menatap Helena lekat.
“Bukankah lucu? Kita sudah beberapa kali berhubungan namun tidak mengenal satu sama lain. Dan jangan mengalihkan pertanyaan lagi, Baby. Ceritakan tentangmu. Aku sudah cerita sebagian hidupku. Sekarang giliranmu,” kata Adam saat mengunci matanya.
Masih menatap mata abu-abu gelap Adam, Helena berkata, “Lebih baik makan sekarang sebelum dingin.” Lalu mengambil piring untuk mereka berdua.
Adam menggangguk paham bagaimana dengan kuatnya Helena menutupi jati dirinya. Tapi bukan Adam namanya jika menyerah dengan mudah.
Helena sebisa mungkin tidak menatap Adam saat sarapan. Helena mulai dengan suapan pertama lalu mendesah enak. “Kau memang jago memasak!”
Adam hanya tersenyum, “Jadi, ceritakan tentangmu, selain siapa itu Candy.”
“... Bukannya kau bisa mencari tahu sendiri?”
“Percayalah, kau tidak akan menyukainya.”
Helena mengangguk setuju. “Ya. Aku sangat benci orang yang melanggar privasiku.”
“Kau tahu, aku sedang mencoba lembut padamu.”
“Aku hanya seorang gadis yang sangat mencintai uang. Hanya itu. Bukankah segalanya tentang uang?”
Adam menatap mata Helena mencari sesuatu yang selalu bisa membangkitkan gairahnya. Padahal dengan wanita lainnya ia tidak pernah separah ini. Tiap detiknya ia menginginkan wanita yang ia tatap dengan intens sekarang.
Adam mengedikkan bahunya. “Kau pasti terpukau dengan sikap sabarku.”
Helena hanya tersenyum. Dan mereka kembali makan.
Moga aja ada lnjutan cerita khidupan mereka stelah menikah..
tapi bagus ceritanya
saya pernah baca di WP tapi ndak selesai jadi penasaran sampai sekarang endingnya gimana 😭😭😭