Terjebak di antara dua pilihan yg sulit, antara kakak beradik yg dua duanya ada di hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisha A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 13 Moment Tak Terduga Di puncak
"Sekarang katakan apa yang ingin kamu ketahui, aku akan menjelaskan semuanya." Juan membuka obrolan yang sejak tadi terasa hening.
"Acara apa? Sejak awal kamu mengajak ku kesini kamu tidak bilang akan ada acara." Aku langsung menodongnya dengan pertanyaanku.
"Sebenarnya tujuanku mengajakmu kemari bukan hanya untuk liburan, tapi juga untuk ikut memeriahkan acara pesta ulang tahun Rudi nanti sore." Juan mulai menjelaskan.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal? Aku bahkan tidak membawa pakaian untuk acara itu." Keluhku memasang wajah lesu.
"Kalau masalah itu, kamu serahkan saja padaku, aku sudah memikirkan nya." Jawab Juan santai.
"Ok, ku anggap selesai masalah yang itu" Ketusku yang kembali memandang Juan dengan sinis.
"Lalu apa lagi yang membuatmu masih menatapku sinis?"
"Terus bagaimana dengan kata-kata KAMAR KALIAN yang di katakan Rudi tadi? Apakah kita akan tidur sekamar?" Tanyaku sambil mengerutkan dahiku merasa tak terima.
"Oh, kalau masalah itu biar ku jelaskan secara detail denganmu. Jadi, di Villa ini hanya terdapat Tujuh kamar tidur. Nah kebetulan yang hadir disini ada 14 orang dan semua berpasang-pasangan..."
"Tunggu, tunggu! Berpasangan?" Aku langsung memotong ucapan Juan dengan dahiku yang semakin mengkerut.
"Iya berpasangan, jadi para sepupuku membawa pasangan mereka masing-masing." Jelas Juan tenang.
"Jadi maksudmu mereka akan tidur dengan pasangan masing-masing?" Tanyaku memastikan lagi.
Juan hanya mengangguk tanpa ekspresi.
"Jadi kita juga akan tidur sekamar?" Tanyaku sekali lagi dengan mata terbelalak tak terima.
"Kamu tenang lah dulu, walau pun kita tidur sekamar, bukan berarti kita akan tidur seranjang." Jawab Juan mencoba menenangkan aku.
"Maksudmu?"
"Kamu akan tidur diranjang, sementara aku akan tidur disofa ini, jadi kamu tak perlu khawatir" Juan menggenggam jemariku, satu tangannya lagi dipakai untuk mengelus pipiku dengan sangat lembut.
Aku pun akhirnya bisa mengangguk lega mendengar penjelasan dari Juan. Bisa kulihat Juan sangat tenang ketika menghadapi aku yang sedang berapi-api.
"Apa kamu percaya padaku?" Juan berbalik bertanya padaku sambil mengangkat kepalaku agar melihatnya.
Aku pun mengangguk dan tanpa sadar senyumku lepas begitu saja, kedua mata kami saling bertemu, hidung kami nyaris kembali menyatu, terasa hembusan nafas hangat Juan di wajahku, aroma mint yang segar dari tubuh Juan menembus masuk ke rongga-rongga hidungku. Waktu seakan berhenti, tubuhku terasa membeku, entah setan jenis apa yang sekarang tengah merasuki tubuhku, hingga mampu membuat aku menjadi senyaman ini dalam dekapan Juan.
Hingga akhirnya ku biarkan saat hidung kami mulai bersentuhan, Juan terus menatap lekat mataku, begitu juga denganku yang tak dapat mengalihkan tatapanku darinya, dan perlahan ku rasakan Juan mulai mendaratkan bibirnya tepat di bibirku. Mataku refleks terpejam menikmati sentuhan bibirnya yang mulai memainkan bibirku dengan lembut, bahkan sangat lembut. Aku terbuai, aku terbawa suasana, dan sepertinya aku telah jatuh, Ya, aku jatuh terlalu dalam pada permainan hati yang kuciptakan sendiri.
Drrrttt... Drrrttt...
Ponsel yang berada disaku celanaku bergetar.
Mataku yang terpejam menikmati sentuhan bibir lembut Juan yang baru beberapa detik saja menyatu, kini mendadak terbelalak. Sontak ku lepaskan tautan bibir kami, ku lihat Juan juga menjadi terkejut saat ku lepaskan ciuman kami secara spontan. Ku raih ponsel ku, dan betapa paniknya aku melihat Rendi menelpon ku, bukan kah terlihat sangat kebetulan? Seakan semesta tengah mengingatkan aku, kalau aku sudah memiliki Rendi.
Segera ku angkat telpon dari Rendi tanpa membuatnya menunggu lebih lama lagi.
"Ha, halo sayang" Jawabku terbata sembari ku usap bibirku yang basah dengan ibu jariku.
"Sayang kamu dimana? Apa kamu jadi menginap di rumah teman kamu? Kok gak ada ngabarin aku lagi?"
"Ma, maaf sayang a, aku masih di kamarku, sebentar lagi baru mau pergi." Jawabku berbohong pada Rendi sembari melirik ke arah Juan.
Terlihat Juan duduk bertopang dagu sambil mengepalkan tangannya.
"Oh aku kira kamu sudah berangkat sayang, Entah kenapa aku tiba-tiba kepikiran sama kamu, kamu benar baik-baik saja kan selama aku gak ada?"
Ucapan Rendi sontak membuatku berdesir.
Apa setajam itukah insting Rendi? Atau karena ikatan batin kami sudah terlalu kuat? Hingga membuat Rendi tiba-tiba saja memikirkanku, disaat yang sama ketika aku tengah berciuman dengan lelaki lain, lelaki yang tak lain ialah adik kandungnya sendiri. Ya tuhan, apakah aku sudah sangat kejam kepada Rendi?
"A, aku gak papa sayang aku baik baik aja" Jawabku masih dengan terbata-bata karena harus berbohong kepada Rendi, hal yang sangat sulit untuk ku lakukan.
"Aku rindu kamu, jaga hati kamu ya selama aku gak ada," Kata Rendi secara tiba-tiba.
"iya pasti selalu aku jaga kok." Jawabku lirih.
"Ya sudah 5 menit lagi aku ada meeting. aku sudahin dulu ya sayang, bye."
Tut..Tut..Tut...
Aku pun kembali bernafas lega setelah menerima telpon dari Rendi, ku tatap sejenak wajah Juan, kulihat dia menyandarkan tubuhnya menjadi setengah terbaring disofa, tangannya tampak memijat dahinya, sedangkan matanya terpejam, entah apa yang sekarang tengah di pikirkannya atas kejadian barusan. Aku pun buru-buru memalingkan wajahku dan memilih menatap ke arah jendela. Aku tak tau harus berkata apa, hatiku seperti tertampar mendengar ucapan Rendi barusan.
"Kamu istirahat saja dulu disini." Juan beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju pintu.
"Kamu mau kemana?" Tanyaku refleks.
"Aku mau keluar sebentar" Jawabnya singkat.
"Apa akan lama?" Tanyaku lagi dengan wajah sedikit cemas.
Juan membalikkan badannya ke arahku, lalu kembali melangkah mendekatiku yang berdiri di depan jendela.
"Kenapa? Apa kamu mulai tak bisa jauh dariku?" Juan menatapku dengan tatapan sedang menggodaku lagi.
"Ti, tidak! Ya sudah pergi sana!" Ketusku sembari membelakangi Juan dan kembali menatap ke arah jendela yang sedang terbuka.
Tak lama terasa kedua tangan Juan menyentuh pinggangku, kemudian memeluk ku dari belakang, dia meletakkan dagunya dengan manja di bahuku.
"Apa kamu mulai menyukaiku?" Suara Juan berbisik di telingaku.
"Belum!" jawabku spontan.
"Belum? Apa itu artinya akan menyukaiku?" Tanya Juan lagi yang sontak membuatku refleks menatapnya.
Mata kami beradu kembali, lagi-lagi kini jarak antara wajahku dan Juan hanya beberapa senti, sangat dekat.
"Katakan dengan jujur, Apa kamu mulai nyaman denganku?" Juan bertanya begitu lembut saat mata kami masih beradu.
Aku hanya menundukkan pandangan dan tak menjawab, tapi Juan kembali mengarahkan daguku ke arahnya, memintaku untuk kembali menatap matanya.
"Pergilah Juan, bukan kah kamu mau keluar?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sejenak Juan masih terdiam, dia masih belum melepaskan pelukannya dari belakangku.
"Baiklah aku pergi dulu, aku takkan lama, jadi jangan merindukan aku!" Kata Juan yang kemudian mencium pipiku, lalu ia melepaskan pelukannya dan berlalu pergi begitu saja.
Masih dengan keadaanku yang berdiri di depan jendela, ku lihati tubuh tinggi itu berlalu begitu saja melewati pintu kamar.
"Anak itu benar-benar membuatku gila." Celetukku dalam hati.
Dan aku masih mematung, jantungku masih tak karuan, sepertinya saat pulang ke rumahku nanti aku akan di vonis sakit jantung, bagaimana tidak, beberapa hari ini jantungku dibuat serasa mau copot terus-terusan. Terlalu banyak hal-hal diluar dugaan yang mengejutkan ku akhir-akhir ini, itu membuat jantungku selalu bekerja lebih keras lagi untuk memompa aliran darahku yang serasa membeku.
Kakak beradik itu benar-benar hampir membuatku gila.
Bersambung...
sukses
semangat
mksh
tp bnr ada yahh crita gni d dunia nyata
iyaa Smngtt trs y KK👍👍👍👏👏