NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:252.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Samar

Dengan ragu, Kaivan mengangkat tangannya, menggerakkannya perlahan di depan wajahnya. Sesuatu tampak berbeda. Ia seperti menangkap bayangan samar, meskipun bentuknya tidak jelas.

Kaivan menghela napas panjang, tak yakin dengan apa yang ia alami. “Apakah aku mulai bisa melihat... atau ini hanya ilusi?” katanya dengan nada rendah, seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Ia terus menggerakkan tangannya, mencoba memastikan apa yang dilihatnya bukan sekadar imajinasi. Sebuah perasaan campur aduk muncul dalam hatinya, antara harapan dan ketakutan.

Di sisi lain, setelah selesai memasak, Airin beralih membersihkan rumah. Dengan cekatan, ia menyapu lantai dan merapikan perabot. Ketika sampai di ruang tamu, ia menatap jendela yang masih basah sisa hujan semalam. “Hujan deras sekali kemarin. Semoga hari ini cerah,” ujarnya sambil mengelap kaca.

Sesaat Airin melirik pintu kamar neneknya. "Nenek belum bangun. Pasti semalam nggak bisa tidur karena kedinginan. Semalam aku pasti juga nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk Kak Ivan," gumamnya. Pipinya memerah mengingat ia tidur dipeluk Kaivan sampai pagi, meskipun ia hanya dianggap guling oleh suaminya, tapi pelukan itu membuat tidurnya nyenyak.

Setelah semua beres, Airin masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Air yang dingin membuatnya menggigil, tapi ia tak mengeluh. “Harus semangat, Airin. Mulai sekarang, hidupmu tidak hanya untuk dirimu sendiri,” pikirnya sambil mengguyur tubuhnya.

Ketika kembali ke dapur, ia menatap ke arah kamar. “Apa Kak Ivan sudah bangun? Kalau belum, aku harus membangunkannya. Sarapan tidak boleh dingin. Kak Ivan juga harus minum obat,” ujarnya pelan sebelum melangkah kembali ke kamar untuk memeriksa suaminya.

Sementara di dalam kamar, suara langkah kaki Airin yang mendekat membuat Kaivan cepat-cepat menjatuhkan tangannya ke sisi tubuh, kembali berusaha tenang.

“Airin,” bisiknya pelan, menunggu hingga pintu kamar terbuka.

Saat tinggal beberapa langkah lagi menuju kamarnya, Airin berpapasan dengan Nenek Asih yang baru saja keluar dari kamarnya. Wajah nenek itu tampak sedikit pucat, dengan selendang tebal yang melingkari bahunya.

“Airin, kamu sudah mandi?” tanya Nenek Asih sambil menatap cucunya dengan lembut.

Airin tersenyum dan mengangguk. “Sudah, Nek. Tadi setelah masak dan beres-beres rumah.”

Nenek Asih menarik napas panjang dan mengusap bahunya. “Maaf ya, Nak. Nenek tidak bisa membantu masak dan beres-beres pagi ini. Semalam dingin sekali, nenek susah tidur, jadi baru bisa bangun sekarang.”

Airin menggelengkan kepala, tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa, Nek. Nenek 'kan butuh istirahat. Lagipula, semuanya sudah beres kok. Nenek tenang saja.”

Nenek Asih mengangguk perlahan, meski wajahnya masih memancarkan rasa tidak enak hati. “Kamu memang cucu yang baik, Rin. Nenek bangga padamu.”

“Ah, Nenek ini, jangan berlebihan,” sahut Airin dengan tawa kecil. “Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Nek. Aku mau membangunkan Kak Ivan. Dia harus sarapan dan minum obat. Luka-lukanya juga harus diobati.”

“Baiklah, Nak. Hati-hati ya, sama Ivan. Dia 'kan masih butuh waktu buat beradaptasi di sini,” pesan Nenek Asih dengan nada lembut.

Airin mengangguk, senyumnya merekah. “Iya, Nek. Kalau sudah lapar, Nenek sarapan saja lebih dulu.” Setelah itu, ia melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Nenek Asih yang tersenyum kecil sambil memandangi punggung cucunya.

Airin membuka pintu kamar dengan pelan, tak ingin membuat terkejut jika Kaivan masih terlelap. Namun, malah ia yang sedikit terkejut saat melihat pria itu sudah duduk di tepi ranjang. Senyuman langsung terulas di bibirnya, meskipun ia tahu Kaivan tak bisa melihatnya.

"Kak Ivan," panggilnya lembut sambil melangkah mendekat. "Kamu sudah bangun? Sudah lama?"

Kaivan menoleh ke arah suara itu. Ia mencoba tetap tenang meskipun hatinya berdebar, masih memproses apa yang barusan ia rasakan. “Baru saja,” jawabnya singkat, suaranya terdengar tenang.

Airin duduk di tepi ranjang di dekatnya. “Apa kamu tidur nyenyak?” tanyanya lagi dengan perhatian, meskipun ia yakin kalau semalam Kaivan tidur nyenyak sampai menganggap dirinya sebagai guling.

Kaivan mengangguk kecil. “Lumayan. Suara hujan semalam cukup menenangkan.”

Airin tertawa kecil, “Kalau begitu, syukurlah.” Ia menatap Kaivan dengan lembut, merasa lega melihatnya tampak segar pagi ini. “Apa kamu mau aku antar ke kamar mandi? Biar aku bantu.”

Kaivan terdiam sejenak. Ia sebenarnya merasa sungkan, tetapi tak ingin menolak perhatian istrinya yang begitu tulus. “Kalau tidak merepotkan...”

Airin segera berdiri dan menggenggam tangan Kaivan. “Mana ada merepotkan! Itu tugas istri.”

Kaivan tersenyum tipis, meskipun tak terlalu terlihat. Ia membiarkan gadis itu menuntunnya perlahan. Saat Airin menggenggam tangannya, ada kehangatan yang menyentuh hatinya, membuatnya merasa dihargai dan diterima.

“Pelan-pelan saja, ya,” ujar Airin sambil memastikan langkah Kaivan stabil.

Kaivan mengangguk. Saat mereka berjalan menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur, Kaivan mencuri pandang ke arah Airin. Ia bisa melihat bayangan tubuhnya, meskipun masih sangat samar. Namun, bagi Kaivan, itu sudah cukup memberikan secercah harapan.

“Kamar mandinya tidak jauh, kok,” kata Airin dengan suara lembut. “Cuma di dekat dapur. Kalau nanti kamu sudah hafal rutenya, pasti lebih mudah.”

Kaivan hanya berdehem pelan, tak ingin banyak bicara. Tapi di dalam hatinya, ada rasa hangat yang menjalari. Perhatian Airin membuatnya merasa dihargai, sesuatu yang jarang ia rasakan selama ini.

Saat mereka tiba di depan kamar mandi, Airin menghentikan langkahnya dan menoleh ke Kaivan. Ia tersenyum lembut sambil memastikan Kaivan berdiri dengan stabil.

“Kak Ivan,” panggilnya pelan, ragu sejenak sebelum melanjutkan, “apa aku perlu menemanimu di dalam kamar mandi? Takutnya ada yang... sulit.”

Kaivan terdiam, merasa sedikit canggung mendengar pertanyaan itu. Ia berdehem pelan, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang. “Tidak perlu, Airin. Aku rasa aku bisa melakukannya sendiri.”

Airin mengangguk pelan, meskipun hatinya masih sedikit khawatir. “Baiklah, tapi kalau ada apa-apa, langsung panggil aku saja, ya. Aku akan menunggu di sini. Ini, sementara kamu pakai handuk ini dulu. Kakak hanya bisa membersihkan tubuh dari pinggang ke bawah. Bagian atasnya tidak boleh basah karena luka Kakak belum kering. Nanti akan aku seka.”

Kaivan tersenyum tipis, meskipun tak begitu terlihat. “Terima kasih.”

Airin melepaskan genggaman tangannya perlahan, memastikan Kaivan berdiri stabil sebelum melangkah mundur.

“Kalau begitu, aku tunggu di dapur, ya,” ujar Airin, memberikan ruang pada Kaivan.

Kaivan mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan hati-hati. Di balik pintu yang tertutup, ia berdiri sejenak, menghela napas panjang, merasa tenang meskipun tadi sedikit terkejut dengan perhatian Airin yang begitu tulus.

Sementara itu, Airin berjalan ke dapur sambil terus memastikan telinganya peka jika Kaivan memanggil. Dalam hati, ia merasa lega karena Kaivan tampak mulai nyaman bersamanya, meskipun masih dalam tahap awal pernikahan mereka.

Setelah pintu kamar mandi terbuka, Airin yang tengah sibuk merapikan rak piring mendengar suara langkah Kaivan. Ia segera bergegas menghampirinya, namun langkahnya mendadak melambat ketika melihat Kaivan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.

Wajah Airin memanas, pipinya memerah seketika. Dada bidang, bahu lebar, dan perut berotot Kaivan terlihat begitu jelas. Ia tertegun sesaat, tapi segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa malunya. "Astaga, Airin... fokus," batinnya mengingatkan.

"Sudah selesai, Kak? Ayo, aku antar ke kamar," ucap Airin dengan nada yang sedikit gemetar, namun ia tetap berusaha terdengar biasa saja.

Kaivan mengangguk meskipun samar-samar menyadari reaksi Airin. "Baik," jawabnya singkat. "Kenapa dia gugup?" batinnya.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!