Ketika dua gadis kembar jatuh cinta pada pria yang sama. Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arni, ternyata pertemuan keduanya dengan Agni membuatnya semakin jauh pada Arni. Saat menjelang pernikahannya dengan Agni, Andra mendapat informasi bahwa Agni sedang hamil. Reno asisten pribadi sekaligus sahabat dekat Andra dituduh sebagai ayah dari anak yang di kandung Agni karena kepergok satu kamar bersama Agni dalam keadaan mabuk. Arni yang bercadar terjebak masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya ada Andra di dalamnya membuat Andra harus menikahinya. Kebencian demi kebencian muncul terhadap wanita bercadar yang tidak diketahui Andra bahwa dia adalah wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Arni yang merasa sangat sakit hanya bisa menerimanya. Nasibnya berubah saat Andra mengetahui bahwa wanita di balik cadar itu adalah cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Rusmiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Selesai meeting tadi Andra dan Reno mengerjakan pekerjaan mereka di laptop dan kamar masing-masing. Banyak pekerjaan yang harus dituntaskan sebelum besok karena agenda besok mereka harus mengontrol cabang perusahaan mereka yang mulai berkembang dengan pesat. Andra akan mengunjungi cabang perusahaannya di Amerika. Kerja keras Andra dan Reno serta karyawannya mengahasilkan prestasi yang luar biasa.
Sore hari Andra mendapat email dari kampus saat kuliah dulu.
"Email dari kampus." Andra mengernyitkan dahinya karena merasa heran kenapa ada email dari kampusnya dulu.
"Undangan?" Senyumnya tersungging di bibir Andra karena merasa sangat tersanjung ketika ia diundang untuk acara sharing. Andra diundang sebagai narasumber alumni berprestasi.
Dengan begitu bangganya Andra pergi ke kamar Reno untuk menunjukkan betapa hebatnya dia bisa diindang sebagai narasumber dengan tema alumni berprestasi.
"Ren, besok selesai dari perusahaan gue mau ke kampus. Elo ikut yuk!" Ajak Andra.
"Ogah ah, gue mau istirahat. Capek gue. Elo ngapain ke kampus? Mau cari si bidadari itu ya?" Goda Reno.
"Eh gue diundang jadi narasumber Bro. Sebagai alumni berprestasi. Keren kan bro?" Dengan bangganya Andra menepuk dada di hadapan Reno.
"Wah? Masa? Gue sih bodo amat. hahaha." Ejek Reno.
"Sialan Lo Ren. Awas aja kartu kredit Lo gue tarik tahu rasa." Ancam Andra.
"Eh jangan gitu Bro, gue besok bukannya gak mau nganter elo, gue cuma mau ke tempat oleh-oleh. Gue mau beliin Lia hadiah." Ucap Reno dengan senyum khasnya.
"Elo beneran naksir sama Lia? Menurut gue sih Lia gak suka sama elo Ren. Lepasin dia, kasian tahu. Biarin dia bahagia." Andra mengingatkan Reno.
"Gak bisa bro. Lia milik gue. Gue gak peduli apapun perasaannya sama gue yang penting dia milik gue." bantah Reno.
"Terserah elo Bro, capek gue sama keegoisan Lo." Ucap Andra kemudian kembali ke kamarnya.
Di kamarnya, Reno menikmati secangkir kopi dengan pandangan ke luar jendela
Kata-kata Andra mulai menghantui pikirannya.
"Seegois itukah gue?" Tanya Reno pada dirinya sendiri.
Lama Reno melamun tiba-tiba handphonenya berdering.
"Hai kak, apa kabar?" Tanya Agni di balik telepon.
"Siapa?" Reno balik bertanya.
"Aku Agni. Kakak lupa?" Ucap Agni.
"Agni siapa? Ada perlu apa ya?" Tanya Reno.
"Aku yang ketemu sama kakak di club itu." Jawab Agni.
"Club mana? Maaf aku gak suka ke club. Sepertinya anda salah orang Nona." Reno langsung memutus sambungan teleponnya.
Reno lupa kalau Andra memberikan nomornya kepada Agni.
Sedangkan di apartement Agni menjerit-jerit tak karuan.
"Dek, kamu kenapa?" Tanya Arni yang berlari menuju kamar Agni.
"Non Agni kenapa? Ada yang sakit Non?" Tanya Nenti dengan panik.
"Aku kesel sama diaaaa. Cowok sok ganteng. Nyebeliiiiin." Teriak Agni.
"Ya ampun Non, mba pikir ada apa." Ucap Nenti.
"Hey mba, ini tuh penting banget. Patah hati aku mba." Bentak Agni pada Nenti.
"Dek, gak boleh gitu sama mba Nenti." Arni mengingatkan Agni.
"Ah udah deh Kak, kalian semua mending keluar. Aku lagi males ngobrol. Aku pengen sendiri." Agni mengusir Arni dan mba Nenti.
"Ayo mba kita keluar dulu." Ajak Arni pada Nenti.
Mereka berdua keluar dan baru saja beberapa langkah keluar dari kamar Agni, Arni menangis memeluk Nenti.
"Non Arni kenapa? Patah hati juga? Sama siapa Non?" Tanya Nenti.
"Bukan mba, aku cuma sedih. Setelah kepergian papa Agni semakin menjadi-jadi. Hampir tiap malam Agni pulang larut malam. Kuliah jarang masuk bahkan beberapa tugas kuliah aku yang ngerjain mba." Ucap Arni.
"Ohh saya pikir ada apa Non. Jangan sedih Non, bukannya dari dulu Non Agni begitu? Menurut saya, Non udah memberikan yang terbaik buat Non Agni. Jangan banyak pikiran Non. Kuliah yang bener kan kalo udah beres bisa pulang nerusin perusahaan bapak." Nenti mencoba menenangkan Arni.
"Makasih yah mba masih selalu setia bersama kami. Aku gak tahu gimana kalo gak ada mba di sini." Ucap Arni.
"Non, saya menyayangi Non seperti anak kandung saya sendiri. Saya akan menjaga Non semampu saya. Sudah banyak hutang budi saya pada keluarga Non." Nenti mengusap air mata Arni.
"Sekali lagi makasih ya mba. Aku sayang mba. Jangan pernah ninggalin aku mba. Aku gak punya siapa-siapa lagi." Ucap Arni lirih.
"Non jangan takut, saya gak akan pernah ninggalin Non. Kita akan sama-sama terus seperti perangko." ucap Nenti sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Arni menyambutnya dengan sangat senang.
Di hotel Reno, dia masih gelisah dengan ucapan Andra belum lagi ada telepon nyasar.
Sudah malam, namun Reno masih belum bisa tidur.
Laptopnya masih nyala dan berkas masih bertumpuk berserakan di meja hotel. Reno bukan orang yang lemah. Segalau apapun keadaanya, kerjaan adalah tetap nomor satu. Dia tidak ingin mengecewakan Andra yang sudah memberikan kepercayaan penuh padanya.
Reno bersyukur bisa bertemu dengan Andra. Sahabat yang sangat solid. Tidak pernah Reno bertemu dengan orang seperti Andra.
Di kamar Andra, dia masih senyum-senyum karena merasa bangga atas undangan itu.
"Besok gue bakal jadi pusat perhatian di sana. Bidadari itu bakalan ada gak ya? Tapi apakah rasanya akan sama? Gue takut rasa itu hilang buat selamanya. Ya Tuhan kalau seandainya dia jodohku, dekatkan lah dia." Andra bicara pada dirinya sendiri.