Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak
Sania berjalan mengikuti Arlan dan Erika, Arlan dan Erika berhenti disebuah toko buah pinggir jalan karena Erika ingin membeli buah.
"Sayang, aku mau anggur." Ucap Erika seraya menatap tidak suka kearah Sania.
Arlan kemudian meminta pedagang buah itu untuk membungkus satu kilo anggur.
"Pengantin baru ya?" Tanya sipedagang buah, laki laki berusia tiga puluhan itu mengira Erika adalah istrinya Arlan.
"Iya pak." Erika langsung mengaku ngaku Arlan adalah suaminya.
Erika sangat senang karena ia dianggap sebagai istrinya Arlan. berbeda dengan Sania, ia merasa sedih. bahkan pedagang buah yang tidak ia kenal mengira Erika adalah istrinya Arlan.
"Kalau yang ini adiknya?" pedagang buah itu menanyakan Sania pada Arlan.
Saat itu Sania berdiri disebelah kanan Arlan. sedangkan Erika, ia berdiri disebelah kiri Arlan.
Arlan ingin sekali mengatakan kalau Sania adalah istrinya, tapi karena ia tidak ingin membuat Erika malu, ia memilih untuk diam. Menurut Arlan pedagang buah itu terlalu banyak bertanya.
"Bukan, dia cuma pembantu. dia ini pembantu saya." meskipun sedang berbohong kata kata Erika terdengar meyakinkan.
Sania tidak mau perduli dengan apa yang Erika katakan. biar saja, Erika bilang kalau dirinya adalah asistent rumah tangga toh ia tidak mengenal pedagang buah itu. belum tentu juga mereka akan bertemu lagi, jadi buat apa ia repot repot menjelaskan kalau sebenarnya ia adalah istrinya Arlan. lagi pula Arlan tidak mau mengakuinya sebagai istri, itulah yang ada dipikiran Sania.
"Hati hati sama pembantunya." Kata kata Pedagang buah itu membuat Erika sedikit bingung.
"Memangnya kenapa?" Tanya Erika yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan sipedagang buah tersebut.
"Pembantunya cantik, nanti bisa bisa suami mba naksir." Sambung sipedagang buah. ia sebenarnya hanya asal bicara, namun hal itu membuat Erika kesal.
Sania tersenyum senang mendengar ucapan sipedagang buah, rasanya ia ingin sekali menertawakan Erika. maksud Erika ingin menghina Sania, tapi pedagang buah itu justru memuji kecantikan Sania.
Arlan melirik Sania, dilihatnya Sania sedang tersenyum. meskipun hanya sesaat Arlan senang melihat Sania tersenyum. Arlan memang selalu ingin menyakiti hati Sania, tapi anehnya ia lebih suka melihat Sania tersenyum dari pada melihat Sania menangis.
"Bapak jangan ngomong sembarangan, mana mungkin suami saya naksir sama pembantu." ucap Erika marah.
Tanpa basa basi dan tanpa berpamitan pada Arlan, Erika pergi begitu saja meninggalkan toko buah itu.
Usai membayar buah anggur yang diminta Erika, Arlan mengajak Sania keluar dari toko buah itu.
"Ayo, kita pulang." Entah apa yang Arlan inginkan tiba tiba ia menggandeng tangan Sania membuat Sania merasa senang.
Pedagang buah yang sedang memperhatikan Sania dan Arlan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Erika masih sangat marah, didalam mobil ia tidak bicara. mukanya yang cemberut sungguh tidak enak dipandang mata.
Untuk meredakan amarah Erika, Arlan mengajaknya kesebuah restaurant. tentu saja Erika senang, ia langsung memesan banyak makanan seakan akan ia tidak pernah makan.
Karena kekenyangan perut Erika sedikit mulas, Erika bergegas pergi menuju ketoilet, Selesai dari toilet Erika buru buru keluar dari sana.
Keluar dari toilet Erika berpapasan dengan seseorang yang ia kenal. Erika bertemu dengan Dennis, ketika itu Dennis baru saja keluar dari toilet pria.
"Dennis." Panggil Erika.
Dennis memutar bola matanya malas. tidak tahu kenapa, Dennis merasa tidak senang bertemu dengan Erika.
"Kamu sudah pulang dari luar negeri?" Tanya Erika yang tidak mendapat respon baik dari Dennis.
"Hmm.. " Dennis hanya berdehem lalu ia berjalan pergi meninggalkan Erika.
"Dennis tunggu." Erika mengikuti Dennis ia berusaha menghalangi kepergian Dennis.
"Ada apa?" Dennis tampak kesal.
"Kamu tahu tidak? Aku kesini sama siapa?" Tanya Erika, pertanyaan yang menurut Dennis sama sekali tidak penting.
"Bukan urusanku." Ujar Dennis acuh tak acuh, ia tetap berjalan melangkahkan kakinya.
"Aku kesini bersama Sania dan Arlan."
Mendengar nama Sania disebut, Seketika Denins menghentikan langkahnya.
"Lalu?" Dennis pura pura tidak perduli padahal dalam hati ia senang karena mungkin saja, ia bisa bertemu dengan Sania.
Erika tahu kalau Dennis hanya berpura pura, buktinya ketika Erika menyebutkan nama Sania, Dennis baru mau bicara dengannya.
"Kalau kamu mau, aku bisa membantumu." Erika menawarkan bantuan.
"Bantu apa?" Dennis tidak tahu apa maksud Erika.
"Tidak usah pura pura Dennis, aku tahu kamu menginginkan Sania. malam ini aku akan membantumu untuk mendapatkan Sania."
Erika memang sudah tahu, Dennis tidak pernah lagi datang kerumah Sania karena nenek Sania melarangnya. Erika juga tahu kalau semua itu karena Dennis ingin berbuat kurang ajar pada Sania.
"Benarkah? bagaimana caranya?" Dennis merasa ragu.
Dennis sangat mengenal Sania, Sania tidak mungkin mau menyerahkan dirinya kecuali pada suaminya. Dennis belum tahu kalau Sania sudah menikah dengan Arlan.
Erika kemudian membisikan sesuatu pada Dennis pada Dennis.
"Bagaimana kalau setelah ini Sania marah padaku? dan bagaimana kalau dia tidak bisa memaafkan aku? aku juga takut Sania akan melaporkan aku pada polisi." Dennis merasa rencana Erika sedikit berbahaya, dulu ia pernah melakukannya tapi gagal.
"Denniss... Dennis... kamu jauh jauh kuliah kuliah keluar negeri, tapi begitu saja kamu tidak tahu. Jangan sampai kamu ketahuan sama Sania atau siapapun. setelah kamu mendapatkan Sania, kamu harus pergi. pergi sebelum Sania sadar."
"Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu, aku harus pergi setelah aku mendapatkan Sania, tapi disini ada Arlan. dia bisa saja menghalangiku." Dennis khawatir rencana Erika tidak berhasil.
"Aku sudah bilang, aku akan membantumu. kamu urus Sania dan Arlan, biar aku yang mengurusnya ." Erika yakin rencananya akan berhasil.
Erika mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya lalu ia memberikannya pada Dennis, setelah itu ia berjalan menghampiri Sania dan Arlan
Dennis duduk dimeja yang sedikit jauh dari meja Arlan dan Sania, Dennis tidak ingin Arlan dan Sania sampai melihatnya, Dennis duduk sambil menunggu perintah dari Erika.
Erika mendekati meja, tempat dimana Sania dan Arlan duduk.
"Sayang perut aku sakit." Erika memegang perutnya yang tidak sakit.
"Erika kamu kenapa?" Arlan sangat mencemaskan Erika.
"Arlan bisa tolong ambilkan obat mahku ditas, tasku ada didalam mobil kamu." Erika memohon wajahnya terlihat memelas.
"Baiklah kamu tunggu disini, Sania tolong jaga Erika." Arlan buru buru keluar meninggalkan restaurant itu.
Sania menatap sedih kepergian Arlan, Arlan begitu mengkhawatirkan Erika membuat hati Sania terasa sakit.
Melihat Sania sedang tidak memperhatikan dirinya, dengan gerakan cepat Erika sengaja menumpahkan air kebaju Sania.
"Sania maaf, aku tidak sengaja." Erika meletakan gelas yang ia pegang lalu ia kembali memegang perutnya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Erika melepaskan jaket yang ia pakai kemudian ia memberikannya pada Sania.
"Sani, bajumu basah. kamu pakai saja jaketku." Erika seakan akan perduli pada Sania padahal ia mempunyai niat buruk.
"Tumben perhatian." Kata kata itu keluar begitu saja dari mulut Sania.
"Aku bukan perhatian, baju kamu itu kena noda. aku malu jalan sama kamu." Air yang ditumpahkan Erika bukan air putih hingga nodanya terlihat jelas dibaju yang Sania pakai.
"Ya sudah, aku ganti. cerewet."
Sania lalu pergi ketoilet untuk mengganti bajunya, Sania lupa kalau Erika sedang sakit perut. lebih tepatnya pura pura sakit perut.
Erika tersenyum puas, ia melihat kearah Dennis. ia mengedipkan satu matanya sebelum ia pergi dari restaurant itu.
Erika menyusul Arlan yang sedang mencari cari obat didalam tas Erika.
"Arlan, mana obatnya?" Tanya Erika, ketika itu ia sudah masuk kedalam mobil Arlan.
"Ditas kamu tidak ada." Arlan menoleh kearah Erika.
Karena lelah Arlan menarik napas panjang, ia menyandarkan kepalanya dibangku mobil untuk sesaat ia tidak memperdulikan Erika yang tadi mengeluh sakit perut.
"Kalau tidak ketemu kita pulang saja, mungkin obatnya ketinggalan divilla. Arlan maaf, aku jadi ngerepotin kamu." Erika masih saja berlagak sakit, ia memegangi perutnya.
"Tapi perutmu masih sakit, Kita kerumah sakit saja."
"Tidak usah, sakitnya sudah berkurang. kita pulang saja. divilla aku bisa minum obat terus istirahat, aku tidak mau kerumah sakit. aku cape." Erika mencari cari alasan agar Arlan tidak membawanya kerumah sakit.
"Kita tunggu Sania dulu, dia masih ada didalam."
Arlan ingin menunggu Sania, tapi Erika yang licik tidak mungkin membiarkan Arlan menunggu Sania.
"Arlan kita pulang saja, aku harus cepat cepat minum obat. Sania tadi sudah bilang kalau dia mau pulang naik taksi online."
"Benarkah?"
"Iyaa..Sania pergi ketoilet. katanya aga lama, jadi dia minta kita pulang duluan." Erika mengarang cerita.
"Tapi... " Arlan tidak tega meninggalkan Sania sendirian.
"Arlan, ayo kita pulang kevilla. aku mau minum obat." Erika merengek karena Arlan tidak juga menjalankan mobilnya
Erika takut Sania keluar dari toilet dan akhirnya Arlan mengajaknya pulang, kalau seperti itu rencananya bisa berantakan.
Dengan sangat terpaksa Arlan menjalankan mobilnya, ia dan Erika pergi dari restaurant itu meninggalkan Sania yang masih berada didalam toilet.
Sania membuka kemejanya didalam toilet, ia lalu menggunakan jaket yang diberikan Erika. saat Sania sudah keluar dari toilet, Sania melihat Erika sudah tidak ada didalam restaurant itu.
Sania mengira Arlan dan Erika menunggunya didalam mobil. Sania pergi ketempat parkir mobil, tapi disana ia tidak menemukan mobil Arlan. Sania baru menyadari kalau Arlan dan Erika meninggalkannya seorang diri.
"Arlan, kenapa kamu tega ninggalin aku?" Sania seperti ingin menangis.
"Sania." Seseorang menyebutkan nama Sania sambil memegang bahu Sania dari belakang.
Sania membalikan tubuhnya dan ia terkejut melihat Dennis.
"Dennis." Sania menyeka air mata yang hampir jatuh dari matanya.
"Kamu ngapain? malam malam sendirian dijalan." Tanya Dennis, ia seakan tidak tahu apa apa padahal itu adalah rencana Erika dengannya.
"Aku baru mau pesan taksi online" Sania tidak menceritakan kalau Arlan dan Erika pergi meninggalkannya sendirian, baginya itu sesuatu yang menyakitkan.
"Kamu sendiri, sedang apa disini? aku kira kamu masih diluar negeri."
Sejak kejadian dimana Dennis menuduh Arlan ingin berbuat jahat pada sania, Dennis memang tidak pernah menghubungi Sania lagi. Sania mengetahui kalau Dennis kembali keluar negeri dari sosial media.
"Aku sudah pulang beberapa bulan yang lalu, sekarang aku sedang liburan bersama teman temanku. mereka pasti sedang menungguku." cerita Dennis.
"Kalau begitu aku pergi dulu Sania." Dennis berpamitan pada Sania.
"Dennis tunggu dulu."
Sesuai dengan perkiraan Dennis, Sania akan memanggilnya.
"Ada apa?" Dennis berlagak bodoh.
"Tolong antar aku pulang." Sania terlihat sedih.
Dennis tidak menjawab, ia hanya mengangguk sambil tersenyum, ia lalu mengajak Sania masuk kedalam mobilnya.
"Sania, kamu kelihatannya cape, ini minum dulu." Dennis memberikan sebuah botol minuman pada Sania.
Jantung Sania berdegub kencang, tiba tiba ia teringat kejadian beberapa tahun. Saat itu Dennis memintanya meminum teh yang Sania buat, alasannya Dennis tidak suka teh.
Setelah meminum teh itu Sania pingsan. Sania jadi takut kalau sekarang ia meminum air yang diberikan Dennis, ia akan pingsan seperti dulu.
Mungkin saja yang dikatakan Arlan benar.Dulu, Dennislah yang mau berbuat kurang ajar padaku. bagaimana kalau sekarang dia mau melakukannya lagi? Sania mulai ketakutan.
"Sani, kamu kenapa? kok malah bengong." Dennis membuyarkan lamunan Sania.