NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Sultan Qatar

Terpaksa Menikahi Sultan Qatar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Miliarder Timur Tengah / Tamat
Popularitas:193k
Nilai: 4.9
Nama Author: Momoy Dandelion

Selama 4 tahun Paula bekerja keras dan rajin menabung demi mengejar impiannya untuk bertemu Paulo Dybala, pemain sepak bola favoritnya yang akan berlaga di Piala DuniaQatar. Hasil dari kerja kerasnya selama ini, akhirnya ia bisa membeli tiket pesawat ke Qatar.

Sesampainya di Doha, Qatar, ia justru bertemu dengan seorang lelaki yang tengah terluka parah tergeletak di dekat penginapannya. Rasa kemanusiaan membuatnya tergerak untuk menolong lelaki tersebut. Ia membawa lelaki itu masuk ke dalam kamar dan mengobatinya.

Saat malam, cuaca Doha sangat dingin. Penginapan murah yang Paula tempati hanya memiliki satu ranjang dan satu selimut. Paula rasanya hamper mati kedinginan. Terpaksa ia ikut berbaring di samping Hamish dan memakai selimut bersama.

Menjelang pagi, tiba-tiba polisi Qatar datang menggerebek mereka. Karena tidak bisa menunjukkan bukti surat nikah, mereka terancam sanksi penjara selama dua tahun dengan tuduhan perzinahan. Mereka diberi pilihan untuk menikah atau dipenjara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Rengekan Aisy

Paula keluar dari kamarnya mencari Hamish. Di rumah terlihat sepi. Memang, rumah sebesar itu dengan lima orang penghuni yang sibuk dengan urusan masing-masing akan terlihat sepi. Apalagi para pelayan yang akan kembali ke tempat mereka di belakang selesai melaksanakan pekerjaan di dalam rumah.

Paula mencoba turun ke bawah menuju ruang kerja Hamish. Seharusnya lelaki itu ada di sana karena akhir pekan tak mungkin Hamish berangkat ke kantor.

Benar saja, lelaki itu tengah duduk di mejanya sembari membuka-buka dokumen. Hamish memang pekerja keras. Meskipun di rumah masih saja mengurusi pekerjaan kantor.

"Kenapa berdiri di pintu terus? Masuklah!"

Ternyata keberadaan Paula diketahui oleh Hamish. Ia berjalan mendekat dengan langkah canggung karena takut mengganggu.

"Kamu masih bekerja, ya?" tanyanya.

Hamish mengangguk. "Kamu mencariku? Mau bicara apa?" tanyanya.

Paula menggeleng. "Aku hanya bosan di kamar. Kamu tidak membolehkanku melakukan pekerjaan rumah."

Hamish tersenyum. "Sudah ada banyak pelayan yang bekerja di rumah ini. Kamu tidak perlu melakukan apapun."

"Tapi, aku merasa tidak enak tinggal menumpang di sini."

"Siapa yang bilang kamu menumpang? Kamu di sini karena kamu istriku." Hamish tak menyukai pendapat Paula. "Kalau kamu memang ingin kesibukan, temani aku bekerja. Aku akan sangat senang," pintanya.

"Ah, oke. Aku akan menemanimu bekerja," kata Paula.

Ia hendak duduk di kursi depan Hamish, namun tangannya ditarik hingga tubuhnya jatuh tepat di pangkuan Hamish. Pinggangnya dipeluk dengan mesra, membuat jantung Paula berdebar-debar.

"Sepertinya menyenangkan jika setiap hari bekerja ditemani istri," gumam Hamish.

"Apa ini malah tidak mengganggumu bekerja? Biarkan aku duduk sendiri," kata Paula.

"Tidak perlu, kamu di sini saja. Seperti ini," ucap Hamish.

Paula benar-benar merasa risih dan canggung berdekatan dengan Hamish. Bahkan ia bisa merasakan napas lelaki itu yang mengenai tengkuknya.

Hamish melanjutkan pekerjaannya mengetik sesuatu di laptop dengan aksara arab yang tak Paula pahami.

"Apa aku bisa meminjam jemarimu untuk mengetik?" tanya Hamish.

"Aku tidak pandai Bahasa Arab, kamu lupa?"

"Ah, iya. Aku lupa kalau kamu terbiasa memakai abjad latin."

"Sekalipun aku paham juga tidak bisa membantumu. Soalnya aku tak pernah bekerja di kantor. Aku hanya lulusan SMA."

"Benarkah?" tanya Hamish terkejut.

Paula mengangguk. "Aku yatim piatu. Sejak SMA saja sudah mulai bekerja untuk bertahan hidup. Aku sudah tidak punya keluarga."

"Seharusnya kamu lahir di sini," gumam Hamish.

"Hahaha ... Benar juga. Kalau aku lahir di sini, hidupku pasti terjamin. Sekolah gratis dan mudah mencari kerja."

"Sudahlah, itu juga masa lalu. Yang terpenting adalah masa depan. Kamu bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik kedepannya."

Hamish menghentikan lagi pekerjaannya. Ia kembali memeluk wanita di pangkuannya. Kali ini Hamish menciumi tengkuk Paula dengan gemasnya.

"Kamu bisa melanjutkan pendidikanmu, Paula. Aku akan membiayaimu," kata Hamish.

"Aduh, itu akan aku pikirkan. Tapi, hentikan dulu, ini sangat geli," ucap Paula seraya menggerakkan tubuhnya agar bisa lepas dari Hamish.

Hamish menghentikan perbuatannya. Ia menggeser posisi Paula menyamping agar bisa bertatapan dengannya.

"Sebenarnya aku cukup lelah dan butuh tambahan energi," kata Hamish.

"Oh, apa aku perlu memasakkan sesuatu untukmu? Kamu mau makan apa?" tanya Paula dengan polosnya.

"Memangnya kamu bisa memasak?" tanya Hamish penasaran. Wanita di Qatar kebanyakan tidak bisa memasak karena terbiasa diurusi pelayan rumah.

"Aku bisa memasak. Hanya saja mungkin akan berbeda dengan masakan di sini karena kita beda negara," kata Paula. Ia sempat bekerja di restoran dan sedikit-sedikit bisa memasak.

"Saat aku di Bali, aku suka makanan di sana. Aku yakin bisa menyukai masakanmu juga."

"Hamish ...."

Paula langsung turun dari pangkuan Hamish saat mendengar suara Salma. Ia merasa kikuk dipergoki mertuanya sendiri. Jelas sekali jika tatapan sang mertua terhadapnya menunjukkan rasa tidak suka.

"Ada apa, Ibu?" tanya Hamish.

"Aisy datang. Dia menunggu di ruang tamu. Temuilah dia," pinta Salma.

Hamish mengajak Paula untuk keluar menemui Aisy. Ternyata wanita itu datang untuk mengajak Hamish pergi ke festival.

"Kak Hamish, ayolah ... Kita kan jarang pergi bersama. Sekali ini saja temani aku ke festival musik ... Dulu kita sering melakukannya," rayu Aisy.

Ia terus merengek membujuk Hamish agar mau mememaninya pergi.

"Sudahlah, Hamish, dia kan sepupumu sendiri. Temani Aisy pergi," pinta Salma.

Hamish menoleh ke arah Paula. Wanita itu tersenyum padanya. Ia semakin menjadi tidak enak hati namun tak bisa menolak Aisy dengan cara yang kasar.

"Maaf, Aisy, aku sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor selama seminggu ini. Kamu pergilah dengan temanmu atau Harun," usul Hamish.

"Tidak mau. Aku maunya pergi bareng Kak Hamish. Mereka kurang suka acara musik, tidak seperti kita."

"Harun juga suka," kata Hamish.

"Suka dari mana? Aku pernah mengajaknya tapi baru sepuluh menit sudah meminta pulang. Aku tidak mau!"

Ponsel Hamish berbunyi. Ia mendapatkan telepon dari salah satu anak buahnya di kantor. Ia merasa beruntung karena punya alasan untuk menolak keinginan Aisy.

"Maaf, Aisy. Aku harus kembali ke kantor sekarang. Kamu menonton dengan yang lain saja," ujarnya.

Hamish menghampiri Paula. Ia berpamitan untuk pergi ke kantor. Sebelum pergi, ia sempat mencium kening Paula. Hal itu membuat Aisy terlihat jengkel.

Aisy beralih ke arah taman belakang. Ia memperhatikan beberapa pelayan yang tengah memandikan unta-unta milik keluarga Hamish.

Memang, pernikahan Hamish dan Paula hanya bersifat sementara. Namun, ia tidak rela jika harus menyaksikan kedekatan mereka setiap hari. Apalagi Hamish sekarang terkesan semakin tak peduli padanya.

"Aisy," sapa Paula.

Aisy memasang wajah tak suka saat Paula datang menghampirinya. Mereka sama-masa berdiri di balik pagar memperhatikan pemandangan yang sama.

"Hamish tidak berbohong kalau dia memang sibuk dengan urusan kantornya. Beberapa hari terakhir, ia sering pulang larut malam," kata Paula.

Aisy tersenyum sinis. "Apa kamu sedang pamer kalau sekarang kamu tinggal sekamar dengan Kak Hamish dan tahu kapan dia pulang?"

"Aku tidak berksud begitu." Paula terkejut karena Aisy justru menyalahartikan tujuannya. Niatnya ia ingin menghibur Aisy agar tidak sedih.

"Semua gara-gara kamu! Kalau saja Kak Hamish tidak bertemu denganmu, kami akan lebih cepat menikah!" Aisy menyalahkan Paula.

Paula merasa bersalah. Ia memang orang yang tanpa sengaja hadir di antara mereka.

"Kak Hamish tak pernah menolak ajakanku. Hubungan kami selama ini sangat baik. Sejak ada kamu, Kak Hamish jadi menjauhiku." Aisy mengatakannya dengan tetesan air mata yang mengalir di pipi. Ia merasa sangat sedih harus jauh dari lelaki yang dicintainya.

"Maafkan aku. Semua ini juga terjadi tanpa bisa aku kendalikan," kata Paula. "Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Keadaannya memang sudah seperti ini, aku tak bisa berbuat apa-apa."

"Bagaimana kalau aku yang menemanimu ke festival itu?" tanya Paula menyarankan.

Aisy menoleh ke arah Paula. Melihat wajah wanita itu selalu membuatnya kesal. Ia sebenarnya tak sudi berdekatan dengannya.

"Boleh. Ayo kita pergi bersama," ajak Aisy. Ia memiliki sebuah niat terselubung dengan menyetujui usulan Paula.

1
Gintania nia
Luar biasa
dani
novelnya selalu gaantung niat bikin GK sih🥴
Momoy Dandelion: kuat baca novel sampai berapa bab kak? blm coba baca novel-novelku yg 300 bab lebih?
total 1 replies
Siti Khodijah Irawati
very good
beybi T.Halim
jadi keinget telenovela cinta Paulina😀
Nimah New
bagus saya suka
Ra Jib
Bagus sekali..
Maznah Komeng
tkda sambungan ke ? certa bagus tapi tergantung
Ditaa
wey Dybala itu suamikuuu🤣🤣
Harley
thor kok ceritanya ngegantung sih, tanggung amat g ada kelanjutannya, gmn nasib paula sm hamish apa mereka bisa bertemu kembali.
Momoy Dandelion: udah berpisah mereka 🫣
total 1 replies
Nenk Herawati
ga happy ending😭😭
berharap hamish nyusul perjuangin cintanya
lanjut thor
Zuny Achmad
next lanjutan kisahnya ya kak
Norintan Nazmie Tim's Sha
next season 2 nya thor
Mer Mersyih
season 2nya lah thorrr🐱:)
You Bitch
Tidak rekomendasi utk dibaca, gantung.
Momoy Dandelion: maaf, kak, gantungnya dimana? emang gak boleh ya cerita berakhir gak happy ending? 🫢
total 1 replies
Dedeh Herawati
endingnya nyesek ach ga happy
🍒PuTRi🍒
serius udhan gak seru bgd sih thor.. padahal ceritanya bagus bgd ..
lanjutin ngapa hikss
🍒PuTRi🍒
visual mana nih min 😁
ceritanya bagus seru gak monoton
Zubaidah Dahlan
lanjut kan ceritanya
Zubaidah Dahlan
moga hamish bisa melihat hari Paula pergi sbelum ya ada aisy dtg
Zubaidah Dahlan
aduhh..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!