Ketika seorang gadis yang hidupnya hanya untuk membalaskan dendam kematian keluarganya, tapi hati gadis itu ditakdirkan untuk mencintai pembunuh keluarganya. Akankah gadis itu memilih memaafkan pembunuh keluarganya atau terus pada tujuan utamanya yaitu balas dendam? Ikuti keseruannya yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"ZYLVANCA JJOXAVIEL KEYVARA!" bentak seorang cowok dengan sorot mata amarah menatap Zylva.
Baru saja Zylva berbalik untuk menatap cowok itu, satu tamparan keras mendarat di pipinya hingga bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Tapi untungnya pipi yang ditampar bukan pipi yang tersayat pisau.
Tangan Gibran yang melihat kejadian itu didepan matanya langsung terkepal erat. Matanya sudah berkilat-kilat menandakan amarah. Dadanya kembang kempis menahan amarah. Ingin rasanya maju dan menghajar Raka habis-habisan tetapi Zylva melarangnya melalui kode tangan.
"Cih banci."
"Jangan sekali-kali Lo sakitin cewek gue!"
"Mau Lo larang berapa kalipun, gue bakal tetap siksa semua orang di sekitar Lo." ucap Zylva sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
"Kalau Lo ada masalah sama gue, jangan libatin orang yang gak ngerti apa-apa anjg!"
Plak! Plak! Plak! Duagh! Zylva menampar Raka berulang kali dan diakhiri tendangan di perut cowok itu hingga membuatnya jatuh tersungkur. Kedua pipi Raka terlihat goresan tipis karena terkena kuku Zylva yang tajam. Sudut bibirnya mengeluarkan darah persis seperti Zylva. Gibran tersenyum bangga melihat sepupunya yang membalas berkali lipat. Sedangkan seluruh yang ada di ruangan itu terkejut melihatnya, bagaimana bisa ada gadis sekuat Zylva.
"Gue cuma ngelakuin apa yang Lo ajarin ke gue!" pungkas Zylva kemudian berjalan pergi menerobos gerombolan siswa-siswi.
Melihat sepupunya pergi dengan keadaan terluka, Gibran langsung bergegas menyusulnya. Dia paling tidak bisa melihat keluarganya terluka.
Sedangkan Raka masih terduduk di tempat yang sama berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan Zylva barusan. Lucy sudah berusaha menyuruh Raka bangun tapi cowok itu tidak bergeming.
"Bangun Lo, jangan kayak orang lemah." ujar Daffi sambil mengulurkan tangannya ke Raka.
Karena Raka tidak langsung meraih tangan Daffi, cowok itu kehilangan kesabarannya. Dia langsung menarik tangan sahabatnya hingga bangkit dari duduknya.
"Raka, kamu ga--"
"Aku ingin sendiri." ucap Raka memotong perkataan Lucy. Setelah itu dia meninggalkan kelas tersebut dan pergi ke ruang pribadi Thunder Boys. Disusul bubarnya gerombolan yang melihat kejadian tadi.
"Raka!" Lucy ingin mengejar Raka, tetapi di tahan oleh Daffi.
"Dia butuh waktu sendiri." ucap Daffi sambil menggenggam erat pergelangan tangan Lucy.
"Tapi Daff--"
"Dia pasti baik-baik aja." kata Gilang.
*
"Sakit ya?" tanya Gibran sambil mengobati wajah Zylva yang terluka.
"Nggak, gue pernah luka yang lebih parah dari ini."
"Kenapa Lo tadi ngehalangin gue?" tanya Gibran lagi.
Zylva memegang tangan Gibran. Dan menatap sepupunya tersebut. "Identitas keluarga gue harus dirahasiakan. Gue gak mau ada yang nyusul orang tua dan adik-adik gue." ujar Zylva membuat sepupunya tersebut bungkam.
Walaupun itu bukan keluarga kandungnya, tetapi dia bisa merasakan bagaimana sakitnya Zylva saat itu. "Gue bakal balas dia."
Zylva mengerutkan keningnya. "Lo mau ngapain?"
"Lo gak perlu tahu." ucap Gibran sambil mengacak Rambut Zylva. "Mau bolos nggak? Lo kan masih sakit." ajak Gibran.
"Lo kalau mau sesat sendiri aja!" sahut Zylva sambil menjitak dahi Gibran kemudian pergi meninggalkan UKS.
"Sabar-sabar, untung sepupu." gumam Gibran sambil mengelus dadanya.
Karena memang pada dasarnya Gibran malas masuk sekolah, cowok itu memilih bolos di UKS. Bisa alasan masih sakit bukan?
Waktu berlalu, jam istirahat Zylva dilalui dengan damai. Lucy tidak membully. Thunder Boys juga tidak terlihat sejak tadi pagi berselisih dengan Zylva.
"Tumben mereka nggak nongol?" tanya Amel sambil melihat sekelilingnya mencari biang kerok pembullyan di SMA mereka.
"Biarin aja kali, kan enak kalau gak muncul. Jadi bisa santai dikit ya nggak Zyl?" sahut Jessy.
Zylva hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan kedua gadis dihadapannya tersebut. Gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya sambil matanya melihat sekelilingnya. Bukan mencari Thunder Boys ataupun Lucy. Zylva mencari dimana sepupunya itu.
"Jangan bilang bolos lagi." gumam Zylva ketika ingat Gibran yang mengajak dirinya membolos tadi pagi.
"Hah? Bolos? Hayuk!" sahut Jessy tiba-tiba.
"Kalau bolos aja gercep!" ketus Amel sambil menoyor kepala Jessy.
"Yeuu masa bodoh gue mah."
"Kalian udah beli yang gue minta?" tanya Zylva.
"Udah dong!" jawab mereka dengan kompak.
"Nanti 10 menit sebelum bel bunyi kita bolos." ucap Zylva.
"Gass!"
*
Saat ini adalah jam pulang sekolah SMA Cempaka Putih. Sebagian besar siswa siswi berkumpul di tempat parkir melihat ulah Zylva.
Tidak ada yang menyangka apa yang dilakukan Zylva kali ini. Ya, Zylva membalas perbuatan Lucy kemarin. Zylva menancapkan banyak paku ke ban mobil Lucy. Bukan hanya di ban, tetapi body mobil bahkan hingga kaca juga ia paku. Tidak hanya di paku, mobil putih bersih tersebut sekarang sudah dicorat-coret menggunakan Pylox berwarna merah dan hitam yang semakin memperburuk penampilannya.
"Apa-apaan Lo hah?!!" teriak Lucu yang baru sampai.
"Oh? Empunya sudah datang." ucap Zylva dengan santainya.
"Maksud Lo apa hah?! Ngerusak mobil gue kayak gini?! Lo tahu berapa harga mobil ini?!" bentak Lucy dengan emosi.
"Hm, tahu. Harganya seperempat motor gue." jawab Zylva dengan senyum miringnya.
Lucy mengepalkan tangannya erat-erat. Wajahnya merah padam. Matanya sudah perih hampir menangis, tapi gadis itu berusaha menahannya. Jujur saja dia cukup sedih mobil kesayangannya dirusak. Tapi kayaknya dia nggak pantas dikasihani sih.
Darimana dia tahu? Jessy memegang handphone Zylva dan memulai siaran langsung di Instagram gadis itu. Makanya langsung banyak yang tahu ulah Zylva kali ini.
"LO KENAPA SIH DEMEN BANGET GANGGU GUE?!" teriak Lucy meluapkan emosinya.
"Simpel, karena Lo pacar si kampret."
"Kenapa?! Lo iri gue pacarnya Raka? Lo suka dia?! Lo pengen jadi pacarnya kan?!"
Zylva seketika meludah mendengar pertanyaan Lucy. "Gue? Iya pengen, pengen matiin dia maksudnya." jawab Zylva sambil menatap tajam Lucy. "Lo salah besar kalau ngira gue demen pacar Lo yang spek setan." kata Zylva. "Ingat baik-baik! Gue datang sebagai neraka buat dia! Gue yang akan ngehukum semua perbuatan dia!" imbuhnya lagi.
"Lucy.." panggil Raka.
"Rakaaa, lihat dia rusakin mobil aku!" ucap Lucy mengadu kepada kekasihnya.
"Biarin aja, besok aku beliin yang baru. Ayo aku antar pulang." kata Raka.
"Tapi dia--"
"Ayo pulang." ucap Raka sambil tersenyum. Tetapi kalimatnya menekan membuat Lucy langsung menurut.
Setelah Lucy dan Raka pergi diikuti dua anggota inti Thunder Boys. Zylva menghampiri kedua sahabatnya dan melakukan tos ria bersama mereka.
"Gila keren banget njir!" puji Amel.
"Lo lihat nggak tadi dia hampir nangis?" tanya Jessy dengan sumringah.
Zylva hanya tersenyum. Matanya melihat ke sekelilingnya lagi mencari sepupunya. "Ngilang kemana sih tuh orang?" batin Zylva.
...***...
...Bersambung......