Novel ini mengandung bawang🤧 siapkan tissu terlebih dahulu.
"Pernikahan kita terjadi karena kesalahan, jadi jangan berharap aku akan mencintaimu!" Dimas Fahrian.
"Aku memang bukan istri Dimas, tapi akulah yang selalu Dimas prioritaskan!" Sila Derkain.
"Akulah istri rasa simpanan." Renata Lusiana.
"Dan aku yang akan meratukan mu, Renata!" Reza Argantara.
Pernikahan yang terjadi karena kesalahan satu malam yang mengharuskan Dimas menikahi Renata tanpa rasa cinta, karena hati nya telah berpaut pada wanita lain.
Apakah Renata bisa mempertahankan rumah tangga nya bersama Dimas atau memilih pergi dan membangun hidup baru dengan orang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sendi andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 IRS
Di base camp tempat Dimas nongkrong bersama teman-teman yang suka mengadakan acara balapan liar, Sila menjadi pusat perhatian. Bukan karena kecantikan nya, tapi karena penampilan nya yang sangat mencolok.
Bagaimana tidak? Dia memakai gaun seksi berwarna merah terang dengan make up menor. Tentu saja hal itu membuat teman-teman Dimas saling melempar tatapan heran.
"Kalian kenapa?"
"Siapa nih cewek?" Balik tanya Alex, teman Dimas yang sering kalah dalam balapan, sama seperti Dimas.
"Kenalin, ini Sila pacar gue." Jawab Dimas memperkenalkan Sila dengan bangga nya pada teman satu tongkrongan nya.
"What? Serius, jangan bercanda Dimas." Ujar Alex merasa tak percaya dengan apa yang Dimas katakan.
"Serius, dia pacar gue Lex. Emang nya napa? Cantik kan?"
Pppfffffttt, haha..
Semua teman-teman Dimas kompak tertawa mendengar ucapan Dimas.
"Kenapa sih? Emang Sila cakep, iri kalian tuh gue juga tau!"
"Lo buta atau rabun sih Dim? Cantikan Renata kemana-mana!" Jawab Danar, teman Dimas juga. Dengan terang-terangan dia memuji kecantikan Renata di depan Dimas dan Sila.
"Bener Lo, Dan. Renata mah jauh kalo di bandingin cewek nya Dimas yang sekarang ya!" Ucap Alex lagi, masih dengan kekehan yang membuat emosi Dimas memuncak.
"Maksud kalian apa sih? Pake banding-bandingin Renata sama Sila."
"Wahh mata Lo bener gak beres, Dim. Liat dong penampilan nya, persis kayak ayam kampus. Make up nya, pakaian nya, wajah emang cantik sih, tapi menurut mata gue Renata lebih cantik, lebih natural." Jelas Alex panjang lebar, tentu saja membuat wajah Sila memerah menahan kekesalan.
Dimas menatap pakaian yang di pakai Sila, ucapan Alex ada benarnya juga. Penampilan Sila dan Renata jauh berbeda, Renata jika ikut kumpul disini pasti akan memakai pakaian sederhana dan make up seadanya, hanya bedak dan liptint. Tapi meski begitu, cantiknya tak berkurang sedikit pun karena pada dasarnya Renata sudah cantik alami.
"Sorry nih Dim, gue cuma mau nanya. Apa Lo gak ngerasa bersalah sama Renata?"
"Bersalah apaan?" Tanya Dimas dengan kening yang berkerut tanda keheranan.
"Yang ngurus Lo selama di rumah sakit sampe sembuh siapa? Renata kan? Tapi Lu jadian nya malah dia. Jujur aja gue heran sama Lo, Dim, gue kira yang jadi pacar Lu itu Renata, soalnya dia perhatian banget." Cetus Dani, dia pria yang ikut mengantarkan Dimas ke rumah sakit dan menyangka kalau Renata adalah pacar Dimas.
Dimas bungkam, membuat Alex tersenyum penuh arti.
"Syukur aja sih, Renata gak jadian sama cowok pengecut kayak Lo." Sindir Alex, dia yang notabene nya menyukai Renata langsung menunjukan ekspresi senang.
Dimas menggebrak meja, lalu berdiri dan mencengkram kerah kemeja yang di pakai Alex, membuat pria itu berdiri. Dimas menatap Alex dengan api kemarahan yang berkobar, sedangkan Alex menatap Dimas dengan senyuman mengejek dan mata yang terlihat tenang.
"Pecundang!" Ejek Alex, membuat Dimas melayangkan bogem mentah ke wajah Alex, namun tak di tanggapi pria itu.
Jelas saja, keributan itu membuat Danar, Dani, dan yang lain langsung menghentikan Dimas dengan cara memegang tangan nya, sedangkan Sila hanya melihat saja tanpa berniat melerai pertengkaran yang terjadi diantara para teman itu.
Bahkan teman-teman Dimas menggelengkan kepala nya, betapa datar nya perempuan yang di bawa Dimas. Dia bisa bersikap tenang dan santai saat pacar nya berkelahi.
"Bawa pacar Lo pergi, sana." Bentak Arka, membuat Sila mendelik lalu menarik tangan Dimas keluar dari cafe yang menjadi base camp itu.
"Heran aing, si Dimas ngapain bawa cewek macem gituan kesini sih. Buta kali mata nya!" Rutuk Danar, lalu membantu Alex berdiri. Pria itu tersenyum smirk lalu mengusap ujung bibir nya yang berdarah dengan ibu jari.
"Nama nya juga cinta, lupa? Cinta itu buta, yang pinter aja bisa bodoh karena cinta, Dan." Cetus Alex masih dengan smirk nya.
Di jalan, terjadi pertengkaran lagi antara Sila dan Dimas.
"Kamu ngapain sih bawa aku ketemu temen-temen kamu itu? Aku malu, Dimas!" Pekik Sila, dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat kesal.
Bagaimana tidak kesal? Secara langsung dia mendengar teman-teman Dimas memuji Renata, bahkan mereka membanding-bandingkan dirinya dengan Renata di depan mata, itu membuat harga diri Sila sangat terluka.
"Lagian kamu kenapa pake baju gitu sih? Harusnya kayak Renata dong, pake baju seadanya aja. Kamu malah pake dress, kayak mau ke pesta aja!"
"Kamu banding-bandingin aku juga sama Renata? Sebenarnya kamu itu pacar aku apa Renata sih? Saat aku di banding-bandingin sama temen kamu, kamu juga cuma diam gak belain aku sama sekali." Debat Sila membuat Dimas muak dan memilih diam.
Hingga sampai apartemen, Sila turun dari motor Dimas dan langsung pergi tanpa menunggu Dimas atau sekedar menawari nya untuk mampir dulu. Dimas menggelengkan kepala nya, benar sekali. Sila berbeda jauh dengan Renata.
Dengan lesu, Dimas kembali melajukan motor nya menjauhi gedung apartemen berlantai 15 itu dengan kecepatan tinggi.
Keesokan harinya, Reza nampak keheranan dengan Dimas yang datang sendirian, tanpa Sila yang biasa nya selalu menggelayut manja di lengan nya.
"Kemana kucing Lo, Dim?"
"Kucing apaan? Gue kagak punya kucing, Lo tahu sendiri gue alergi bulu kucing." Jawab Dimas polos, tanpa tahu maksud di balik pertanyaan teman nya itu.
"Cewek Lo, mana?"
"Masih di luar, dia ngambek Za."
"Ngambek kenapa?" Tanya Reza santai sambil ngemil ciki.
"Kemaren gue bawa dia ke base camp, Lo tahu sendiri gimana mulut lemes temen-temen gue kan, mereka banding-bandingin Sila sama Renata. Mulai dari cara berpakaian, sampai tetekk bengek juga mereka bahas. Jelas aja bikin Sila bad mood."
"Emang dia pake baju apa sih? Goni atau karung?" Tanya Reza sambil terkekeh geli mendengar ucapan Dimas.
"Pake dress selutut, warna merah terang, make up full, kayak mau ke pesta padahal cuma ke base camp." Jelas Dimas lagi, kali ini bukan kekehan lagi, tapi gelak tawa yang terdengar dari mulut Reza.
"Kenapa Lo?"
"Lucu anjir, cewek Lo ada bakat tuh jadi pelawak!" Sindir Reza membuat Dimas memutar matanya jengah, lalu memilih pergi dan duduk di kursi nya.
Tak lama kemudian, Sila datang dengan wajah asyem nya, membuat Reza mengulum senyum nya.
Selesai kelas, Reza berjalan dengan bersenandung penuh kebahagiaan. Jelas saja dia bahagia, hari ini dia akan menjemput Renata dan membawa nya ke rumah, bertemu Mommy nya yang sudah seringkali menanyakan Renata.
Dia beberapa kali menyungging senyum manis sambil melajukan sepeda motor matic nya, dan tak butuh waktu lama Reza sudah sampai di depan pintu kost an Renata, Reza sengaja membunyikan klakson dan gadis itu langsung muncul.
"Udah Dateng aja, tunggu bentar ya. Bolu nya belom Mateng nih,"
"Ya ampun, Lo beneran bikin bolu ya?" Tanya Reza.
"Iya dong, masuk dulu gue mau siap-siap bentar." Reza pun menurut dan duduk di kursi, aroma manis menguar dari arah dapur.
"Wangi banget Re!" Reza memekik heboh saat aroma manis itu membuat perut nya lapar.
"Nih cobain dulu, Za." Renata menyodorkan sepiring kue bolu yang sudah di iris. Reza mencomot satu irisan dan memasukan nya ke dalam mulut, dia memejamkan mata nya menikmati rasa manis yang melebur begitu saja.
"Enak, mantul Re." Ucap Reza sambil mengacungkan dua jempol nya ke arah Renata.
"Sip, yaudah gue udah siap tinggal berangkat." Renata meletakan dua buah kue bolu ke dalam cup plastik dan menghias nya dengan pita.
Reza kagum dengan Renata, pakaian nya sangat sederhana hanya mengenakan blouse berbahan rajut yang dia padu padankan dengan kulot jeans.
'Cantik.' batin Reza sambil tersenyum, lalu keduanya pun pergi dengan beriringan, dengan Renata yang mengekor di belakang Reza.
Reza menaruh kap kue itu di depan, agar Renata tak kesulitan duduk dengan menahan kue. Dan dia berharap Renata mau memeluk nya seperti waktu itu, tak ada salahnya berharap kan? Kali aja jadi kenyataan, begitu pikir Dimas.
....
🌷🌷🌷