Sang Superstar, Jason harus berurusan degan gadis biasa yang merepotkan, Han Se Na. Ini adalah kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siluet
Kang Jae Jin (Jason)
Kupikir, ide menempatkan gadis ini sebagai penata busanaku, tidak buruk. Ah, aku sungguh keterlalun menganggap pacar dispta*h-ku, Miss X, dengan sebutan ‘gadis ini’. Se Na. Han Se Na. Nama yang imut seperti orangnya. Aku tertampar oleh setan kecil yang terbang di bahu kiri, seolah ia baru saja menyadarkanku dari lamunan konyol. Apa aku baru mengatakan dia imut?
Ah, sejak semalam aku rasa mulai menggila. Kenapa aku terus memuji Se Na? Ada yang salah dengan mataku. Atau, aku memang sudah tidak waras?
“Yyaa! Kenapa kau malah melamun?” tanya Se Na membuyarkanku dari lamunan. Wajahnya masih jutek. Dia memang tidak pernah ramah padaku. Tsk.
“Ne?” Aku mengerjap bingung.
“Cepat ganti baju!” sungut Se Na sembari menyodorkan satu setel pakaian padaku. Dia bahkan tidak lembut. Padahal, penata busanaku yang dulu, akan sangat berhati-hati dan lembut padaku. Jika dipikir-pikir, dia memang tidak pernah ramah padaku. Benar-benar gadis aneh.
Kulirik pakaian yang ia sodorkan padaku dan menelisiknya sesaat. Aku suka pilihan warnanya. Tapi, aku tidak suka jaketnya. Aku meraih satu setel pakaian itu dan menyingkirkan jaketnya. Se Na menahan tanganku. Dia menatapku serius seperti aku yang juga serius. Aku tidak mau jaket itu!
“Jaketnya... ,” ucapnya sambil mengangsurkan jaket itu kembali padaku.
Aku menepisnya dengan perlahan, “Aku tidak suka... aku alergi dengan bahan imitasi.”
Se Na nampak mendesis kesal. Ia terlihat berkacak pinggang menahan rasa kesal sementara aku melenggang santai memasuki ruang ganti. Sesaat, aku mendengar ia menjerit kecil meluapkan emosinya. Aku tersenyum dalam diam. Bisa kubayangkan, dia terlihat sangat lucu dengan ekspresinya. Tubuh mungil, pendek dan wajah bulat serta pipi sedikit tembem berhias tiga lesung pipi itu pasti sedang merah padam karena kesal. Membayangkannya saja, sudah imut. Sekali lagi, setan kecil yang berkeliaran di bahuku hendak menamparku. Tapi, aku buru-buru menepisnya jauh-jauh.
“Aku tidak perduli kalau aku gila. Dia memang imut. Ya... dia imut. Han Se Na. Kupikir, aku mulai tertarik dengannya.” batasku tertarik padanya hanya karena menyenangkan juga mengganggunya.
Setelah merapikan pakaianku di ruang gantu, aku melangkah ke luar dan menemukan hanya manajer Yoo yang berada di sana. Manajer Yoo dengan wajahnya yang datar dan polos, menatapku. Aku melirik sekelilingku dan tidak menemukan jejak Han Se Na dimanapun. Gadis itu sudah lenyap. Aku hanya menemukan jaket imitasi tadi tergeletak tanpa daya di satu sudut. Yah, aku tidak peduli juga. Aku sungguh tidak bisa memakai barang imitasi. Membuat kukitku ruam merah dan gatal.
“Han Se Na eodieyeyo (Dimana dia)?” tanyaku seraya merapikan ujung pakaianku.
“Dia pergi. Tugasnya sudah selesai dan dia pergi untuk kuliah.” Ujar manajer Yoo dengan santai tenang.
“Begitu saja? Bagaimana dengan pakaianku untuk jadwal lainnya?” tanyaku sedikit protes.
“Kau hanya punya dua jadwal. Pertama, pembacaan naskah pertama drama terbarumu. Lalu, pemotretan untuk Baltazar Magazine. Jadi, semua kostummu sudah disediakan pihak baltazar untuk kau pakai selama pemotretan. Semua pakaian akan sesuai standar mereka. Jadi, Han Se Na bebas tugas sekarang.,” jawab manajer Yoo sedatar mungkin dan sesantai mungkin.
Aku menghela napas panjang sembari memijat kecil kepalaku. Setan kecil yang baru saja kutepis jauh-jauh dari bahu, nampak kembali sambil menyalakan kembang api. Baiklah, setidaknya ada sisi diriku yang terlihat senang akan kepergian Han Se Na yang begitu cepat. Ah, noona imut ini sungguh membuatku penasaran.
-oOo-
Han Se Na
Jason itu benar-benar kunyuk. Dia sungguh tidak tahu sopan santun. Seenaknya saja dia melempar jaket pilihanku. Seharusnya, dia mengatakan sejak awal. Aku memutar botol air mineralku dan meneguknya hingga habis lalu melemparnya ke tong sampah. Suasana kampus sedikit berisik hari ini. Setiap kali melangkah, beberapa orang nampak berbisik-bisik. Aku menatap mereka dengan bingung.
“Se Na!”
Aku terhenti dan berbalik sejenak, melihat Se Kyung berlarian menghampiriku dengan tergopoh-gopoh. Dalam hitungan detik, dia kembali berlari sambil menyeret tanganku. Aku yang pasrah ditarik gadis bongsor ini hingga tiba di atap kampus yang cukup sepi.
Aku menggosok kecil kedua bahuku, “Ah, dingin... kenapa kau mengajakku ke sini? Musim dingin akan datang... ini benar-benar dingin,” keluhku.
Se Kyung mengeluarkan ponsel dan menyodorkannya padaku. Berita mengenai Miss X yang berkencan dengan Jason. “Ini kau, khan?”
Aku mengerjap takjub dan menatap ponsel Se Kyung dengan wajah konyol. Tunggu... Apa aku setransparant itu? Kenapa Jae Hyun dan Se Kyung bisa melihat jika siluet sesamar ini adalah aku? Dengan perlahan, aku mengangguk kecil. Se Kyung nampak melongo sejenak lalu menggebuk bahuku.
“Kenapa kau tidak menceritakan padaku?” tanya Se Kyung penuh selidik.
Aku meringis, menggosok bahuku. “Untuk apa? Aku tidak berkencan dengannya.” sahutku santai.
“Lalu, berita ini?”
“Salah paham. Itu hanya salah paham. Oh, ya... aku penasaran. Bagaimana kau dan Jae Hyun bisa menebak kalau ini aku?” tanyaku penasaran seraya mengalihkan topik.
“Aku dan Jae Hyun tidak buta. Lagipula, orang-orang pasti tahu kalau itu kau."
“Mwo?!” aku menatap Se Kyung dengan seksama, "Bagaimana kau semakin itu jika aku mudah dikenali?"
“Seberapa banyak gadis korea yang sependek dirimu?”
“Ah, gomawo (Terimakasih)... ,” ucapku dengan nada menyindir kesal, “IU? Park Bo Young? Im Young Ran?” mereka sependek aku.
“Ah, cukup. Hanya masalah waktu bagi pemburu berita untuk menemukanmu. Semua yang mengenalmu, mencurigaimu. Jadi, bersiaplah.”
“Kau ini temanku atau bukan, sih?” omelku kesal.
Se Kyung hanya meringis kecil. Aku jadi teringat orang-orang kampus yang berbisik sepanjang langkahku tadi. Apa mereka memang mencurigaiku? Apa aku setransparant itu? Bagaimana jika aku dihajar para fans Jason? Mereka lebih menakutkan ketimbang para pemburu berita. Sial. Aku jadi mulai panik sekarang.
“Apa yang harus aku lakukan, Se Kyung-ah?” tanyaku frustasi.
“Aku punya ide.”
“Apa itu?”
“Make over.”
“Kau menyuruhku operasi plastik? Kau ingin mati?” sungutku.
“Anni (Tidak)... ,” erang Se Kyung. “Bagiamana kalau kau potong rambut saja? Ini akan membuat berbeda dari siluet samar Miss X. Lagipula, kau bisa mengganti penampilan sebelum Anniversary party. Biar lebih fresh... ."
Aku menatap Se Kyung curiga, “Bilang saja kau ingin ditemani ke salon. Benar, khan?”
“Apa terlihat jelas? Ada salon di dekat rumahku. Mereka sedang ada promo. Membawa satu teman, dapat diskon lima puluh persen.”
“Ah, jinja (Benar-benar deh /Keterlaluan)!” omelku yang justru disambut tawa oleh Se Kyung. Gadis ini sungguh keterlaluan. Dia memanfaatkanku untuk mendapatkan diskon lima puluh persen. Tapi, ide itu bagus juga. Setidaknya, ini akan membuat penampilan transparant-ku berubah lebih baik. Aku tidak boleh ketahuan. Tidak untuk sekarang.
-oOo-
TBC
Jangan Lupa Like. Komentar. Favorit. Rating bintang 5. Vote/gift ^^
Regards Me
Far Choinice ^^
semangat yaa..
1 mawar+ like mendarat😍