NovelToon NovelToon
Possessive Husband

Possessive Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:863.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji Rahayu Ningsih

"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.

"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.

Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.

"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.

"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Istri kecil ku.

Nadia sedang belanja di minimarket dekat rumah keluarga Mahendra. Perempuan cantik itu sibuk memilih-milih cemilan.

Nadia tidak sendiri, tentu dia pergi dengan Rehan. Lelaki itu sampai meninggalkan pekerjaan kantornya ketika dia menelponnya dan menyuruh dirinya mengantarnya ke minimarket. Rehan tidak ambil pusing, sifat manja Nadia ini lah yang dia inginkan.

"Kripik kentang kesukaan ku," Nadia mengambil lima bungkus keripik kentang. Dia rasa suaminya tidak akan bangkrut hanya karena dia membeli 5 bungkus keripik kentang.

Mata Nadia kembali berbinar ketika melihat Kacang sembunyi, rasanya yang manis, membuat lidahnya tidak sabar ingin memakan makanan itu.

Nadia berjinjit, tapi tangannya tetap saja tidak sampai. Dia mendesah kecewa, suami tampannya sedang membeli perlengkapan mandi, pasti sangat lama. Lalu dia harus minta tolong kepada siapa untuk mengambilkan cemilan kesukaannya?

"Kenapa aku tumbuhnya kesamping gak keatas ajasih?!" Kesal Nadia. Tapi tiba-tiba....

"Nih..." Seorang lelaki tampan sedang berdiri didepannya. Senyuman lelaki itu...., Ah....

"Terimakasih." Ucap Nadia dengan bibir tersungging manis.

Lelaki itu mengangguk, pelan. "Sama-Sama."

Nadia hendak mendorong trolinya pergi dari tempat cemilan. Dia rasa belanjaannya siang ini sudah cukup banyak. Namun...

"Kita belum kenalan, nama ku Gavin, Kamu?" Lelaki yang bernama Gavin mengulurkan tangannya di depan Nadia.

"Nadia." Balas Nadia, dia menjaba tangan Gavin.

Namun...

"Pulang lewat mana mas?" Rehan datang dengan mata berapi-api. Dia tidak membuka kesempatan untuk lelaki manapun mendekati istrinya ketika dia tidak ada.

"Maksutnya?" Lelaki yang bernama Gavin mengerutkan keningnya, apa maksut lelaki di depannya?

"Mata kamu buta? Jelas-jelas di jari dia sudah ada cincin, masih aja di deketin. Kamu gak laku, atau gak ada yang mau?" Wajar saja Rehan cemburu, lelaki yang berdiri di depannya wajahnya seperti aktor Hollywood.

"Oh soal itu, sorry mas, tapi istri mas tangannya tidak sampai untuk mengambil cemilan itu, hingga saya..."

"Apapun alasannya, saya tidak suka anda menyentuh milik saya." Potong Rehan penuh penekanan.

"Maaf ya Mas Gavin, Maklum suami saya lagi banyak kerjaan, jadi gampang marah." Cengir Nadia, malu.

"Ngapain kamu minta maaf sama dia?" Rehan menatap Gavin tidak suka.

"Diam, bikin malu aja." Nadia menyeret tangan suaminya menuju kasir. Wajahnya sudah sangat malu berhadapan dengan Gavin. Suaminya benar-benar....., Ah, sudahlah.

***

"Tidak bisakah kamu bersikap biasa saja ketika di depan umum?" Nadia sedang berjalan menuju dapur, siang ini dia akan memasak gurami bakar sambal hijau.

"Maksutnya?" Tangan Rehan terurur membuka kulkas dapur rumahnya, dia meneguk sebotol air dingin sampai tandas.

"Kamu terlalu over protektif, Aku tidak suka." Sengit Nadia.

Rehan mengupas kulit pusing di depannya, dia melirik Nadia yang sedang mencuci ikan.

"Lalu aku harus bersikap seperti apa ketika ada lelaki yang mendekati istri ku?" Pertanyaan yang Rehan ajukan terdengar santai di telinga Nadia, tapi terkesan mengimindasi.

"Ngomong sama orang berotak batu kayak kamu tuh emang susah." Rehan hanya mengedikkan bahunya, sedangkan Nadia menatap suaminya malas

"Oh ya, kayaknya tadi malam ada yang commen di story kamu, Perfeck gitu." Sepertinya Rehan sengaja memancing amarah istrinya.

"Emang kenapa? Mau dia commen apa, itu hak mereka. Media sosial itukan hal publiks." Yang Nadia katakan memang benar, yang salah itu yang commen.

"Kamu jangan lagi upload foto seperti itu." Rehan melarang keras istrinya untuk mengaploud foto seperti tadi malam di sosial media manapun.

"Kenapa?" Alis Nadia terangkat sebelah.

"Kamu sexsy kalau lagi pakai baju tidur." Jawab Rehan terus terang. Nadia tertawa keras mendengar jawaban Rehan.

"Besok beli kerangka, biar aku tidak bisa ngapa-ngapain." Tawa Nadia berhenti, berganti dengan plototan mata.

***

"Coba tebak, jeo. Apakah Rehan siang ini sedang bermesraan dengan istrinya?" Luwis yang bekerja sebagai orang kepercayaan Rehan, melirik Jeo yang sedang memakan ayam geprek.

"Paling dia sedang bercinta dengan istri sexsy_nya itu." Dengus Jeo. Tadi Rehan tiba-tiba menelponnya dan menyuruh dia memeriksa dokumen kerjanya, sedangkan Luwis..., Lelaki humoris itu dia suruh untuk menggantikan dirinya rapat.

"Sampai kapan aku jadi lajang terus begini?" Luwis meratapi nasibnya, Rehan sudah menikah, Jeo katanya juga sedang dekat dengan perempuan, lalu dirinya....

"Aku punya kenalan perempuan buat kamu." Luwis langsung menatap Jeo semangat.

"Siapa? Apakah bodynya seperti gitar spanyol? Atau mungkin dia sexsy seperti Cinta Laura? Menggoda seperti Aura kasih? Oh, aku tahu, atau montok seperti Nikita Mirzani?" Luwis sedang sibuk membayangkan perempuan yang ingin Joe kenalkan kepadanya.

"Oh tentu lebih dari itu." Jeo terlihat sangat serius. Luwis yang tadinya sedang sibuk membaca isi kontrak kerja dengan perusahaan lain, langsung meninggalkan pekerjaannya. Sekarang dia duduk di sofa ruangan kerja Rehan, lebih tepatnya disamping Jeo.

"Rambutnya panjang? Putih? Atau mungkin hitam eksotis? Tidak, tidak, atau dia tinggi? Mungil tapi menarik? Seperti model?" Luwis mengusap dagunya, membayangkan perempuan yang ingin Jeo kenalkan kepadanya, berkali-kali dia menelan salivanya.

"Tidak, dia..."

"Tunggu, tunggu, kalau tebakan aku yang tadi salah, berarti dia orangnya biasa saja. Pasti kamu mau ngenalin aku dengan perempuan yang biasa saja, tapi berotak cerdas. Miliader muda? Pembisnis muda? Arsitek? Dokter? Perawat? Oh aku tahu, polwan ya?" Seketika Jeo langsung tersedak makanannya ketika Luwis menyebut polwan.

"Apa kamu bilang tadi? Polwan?" Luwis menganggu semangat ketika mendengar pertanyaan Jeo.

"Polwan itu cocoknya sama aku, Kamu udah aku cariin. Janda anak 5 yang tinggal di samping apartemen ku, siap untuk menjadi istri mu. Soal cantik, ya lumayanlah. Pokoknya Eli Sugigi lewat." Luwis menjitak kepala Jeo.

"Iya, Eli Sugigi lewat, maksutnya sangking jeleknya dia, sampai-sampai kamu samain dia sama Eli Sugigi yang..., Arggg...., Baru aku ajak tidur, kulitnya nempel semua. Udah pada kendor." Sontak ucapan blak-blakan Luwis, membuat Jeo tertawa terpingkal-pingkal.

***

Nadia sedang duduk di ruang keluarga bersama Rehan. Keduanya sedang menonton film SIN.

"Itu bukannya yang adiknya suka sama kakaknya sendiri ya, yank?" Nadia mengangguk, matanya tidak fokus dengan film yang Rehan putar.

Jemari Nadia sibuk meremas-remas bajunya. Hal itu tidak luput dari pengamatan Rehan.

Sedari tadi Nadia hanya akan mengangguk dan menggeleng ketika dia tanya. Selebihnya dia bungkam.

"Kamu kenapa?" Rehan membelai rambut Nadia, lembut.

"Bisakah besok kita pergi ke rumah Papa? Aku rindu." Bibir Rehan tersenyum, sedari tadi istrinya memikirkan itu?

"Bukannya kamu benci dengan mama tiri mu?" Nadia bangun dari tidurnya, dia sibuk bermain di dada bidang Rehan.

"iya, tapi...." Nadia mendongak keatas, tatapannya terlihat sendu.

"Disana ada Papaku, aku merindukan dia." Nadia hampir menangis, dengan cepat Rehan memeluk istrinya.

"Besok kita akan kesana, tentunya setelah..." Rehan menggantungkan ucapannya.

"Aku memakan mu sekarang." Nadia langsung berlari keluar dari ruang keluarga. Dia segera masuk kedalam kamarnya dan menguncinya.

"Rasakan kamu Rey, malam ini kamu harus mandi dengan air dingin agar junior mu bisa tenang." Kekeh Nadia.

"Sialan, Dasar istri kecil ku." Rehan masuk kedalam kamar tamu, Nadia sudah sering mempermainkan dirinya seperti ini. Setelah menyiksa hasratnya dengan bermain di dada bidangnya, sekarang perempuan itu mengunci dirinya di dalam kamar dan tidak mau di sentuh.

1
Muna Junaidi
Hadirrrr kembali thorrrr💃💃💃
Alyah Nasution
😂😂 lucu hahaha
Apih Nabila
lanjut kak
Teriyanti Yan
Musiknya terlalu brisik, sehinga suaranya kurang jelas
Rahayu
Kalau saya lanjut ceritanya masih ada yang baca?
Rita Erisha
visual + bio nya nadia donk thor
Rita Erisha
visual nadia nya donk thor
Andez Ajja
🤣🤣🤣😂😂😂😂resiko mas hhhhh
Andez Ajja
cerita xa sangat mnarik
Yana Saleh
next dong
Ulfa Sawani
asyik bacax
Ulfa Sawani
seru yaaa
Ulfa Sawani
ceritax seru yaaaa..pengen sepeti dlm cetita ini..
Reni Tri Cahyowati
lanjut thor
Onih Sumarni
.😁😁🤲
Wiwin Yustika Yustika
Lanjut dong
Öžôŕã
bunuh aja si rehan sebel aq
Öžôŕã
gedek gwe sma rehan,,,, cuma manis di mulut doang
Öžôŕã
knapa kagak keluar negri skalian thorr
Ni Made Partini
habis sampai sini Aja nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!