ARE YOU A MERMAID? SEASON 2
Please don't SPAM!! Hargai sesama author.
Update : Di usahakan seminggu 3-4 kali Up.
Diharapkan untuk membaca cerita sebelumnya agar dapat memahami jalan ceritanya. Terima kasih 🙏
Sinopsis :
Namaku Deryne Mikaelson, kalian tidak akan pernah tahu seberapa besar rasa takutku saat aku mengetahui takdirku yang sebenarnya!
Aku ditakdirkan mati di usia 18 tahun karena tidak bisa meminum darah kedua orangtuaku sesuai ritual yang sudah di tentukan oleh kakek buyut'ku...
Aku ingin merubah takdirku, merubah nasib buruk yang diberikan oleh gadis gila itu! Mampukah aku melewati ini semua? Apakah mereka akan percaya jika aku bilang aku ini putrinya? Sementara umur kita sama di tempat ini.
~
Jangan lupa LIKE!! dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
D.M
"Apa maksudmu??" Moa terkejut mendengar pertanyaan Moegi, putranya.
"Hari ini..." Moegi menundukkan kepalanya, anak berusia 12 tahun itu nampak sedih dan murung.
"Hari ini???"
"Hari ini teman-temanku membicarakan yang bukan-bukan tentang kakak Ryn"
"Membicarakan apa?" Mod menyentuh bahu Moegi pelan.
"Ayolah Mo!! Mereka cuma iseng, apa ini yang menyebabkan kau berkelahi dengan teman-temanmu??"
Moa berjalan mendekati sofa, ia menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di sofa dan mendengar penjelasan Moegi.
"Iseng?? Papa bilang itu cuma iseng??"
"Memangnya apa yang mereka katakan??"
Moegi menatap sekeliling ruangan, mencari keberadaan Ryn disana namun tidak ada. Sebetulnya Ryn saat ini sedang bersembunyi untuk mendengarkan pembicaraan tiga orang tersebut.
"Temanku bilang, aku beruntung punya kakak secantik kakak Ryn..." Moegi terlihat marah. "Saat aku dewasa nanti aku bisa berhubungan dengan kakak Ryn layaknya pacar karena kakak Ryn bukanlah saudara kandungku!"
Mod terkejut mendengar kalimat putranya, ia menyentuh dada tepat di bagian jantungnya ketika merasakan sedikit rasa sakit akibat kalimat Moegi.
"Dan kau percaya itu??" Tantang Moa tegas.
Moegi terlihat gusar, ia mengelap wajahnya yang sudah mulai berkeringat. Antara bingung, sedih dan marah semua bercampur menjadi satu.
"Mungkin saat aku masih kecil aku akan menganggap kakak Ryn kakak kandungku karena saat itu aku tidak bisa membedakan perbedaan diantara kami"
"........."
"Tapi..." Moegi menatap mamanya lembut. "Sekarang aku sadar! Kakak Ryn tidak memiliki kemiripan denganku dari segi wajah, bahkan tidak mirip mama dan papa juga"
"Hentikan Mo!!" Ujar Moa yang sudah terlihat tak enak hati.
"Kenapa?? Apa yang sedang kalian sembunyikan di rumah ini?? Kenapa hanya kakak Ryn yang memiliki mata berwarna biru??"
"Papa bilang hentikan Mo!!"
"Tidak! Jawab aku?? Apa benar kakak Ryn bukan kakak kandungku??"
"Moegi..." Mod mengusap dada Moegi pelan, ia mencoba menenangkan putranya.
"Satu lagi!!" Moegi terdiam sejenak. "Kenapa nama belakang kakak dan aku berbeda?"
"Dia kakakmu! Hentikan pembicaraan ini"
Moa berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati Moegi dan menatap mata putranya sejenak lalu berbalik hendak meninggalkan Moegi dan Mod.
"Kau belum menjawab pertanyaan dariku papa!!" Moegi menggenggam lengan Moa.
"KAN SUDAH PAPA BILANG HENTIKAN!!"
Moa berteriak keras, membuat Moegi seketika melepaskan genggaman tangannya pada Moa. Anak berusia 12 tahun itu nampak terkejut, ini pertama kalinya papanya marah pada dirinya.
"Huh!" Moegi nyengir, ia tertawa kecut mendengar bentakan orangtuanya.
"Siapa itu Densha dan Isabella Mikaelson??" Tanya Moegi tegas.
Infisius~
(Mantra menghentikan pergerakan)
Moa mengangkat tangan kanannya hendak menampar Moegi, namun aksinya terhenti.
Secara tiba-tiba Moa tak mampu menggerakkan tubuhnya, Mod yang melihat suaminya seperti itu terlihat panik. Sedangkan Moegi mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ryn.
"Kakak??"
Ryn menjentikkan jemarinya, melepas ikatan sihir yang mengikat tubuh Moa. Gadis itu memandang tiga orang yang selama ini ia anggap keluarga secara bergantian.
"Moegi benar!" Ryn mulai berbicara. "Jawab pertanyaan darinya papa, siapa itu Densha Mikaelson??"
Moa dan Mod saling pandang, mereka berdua bungkam tak ingin mengatakan apapun pada Ryn.
"Kau... Bisa menggunakan sihir??" Tanya Mod ragu.
Ryn menganggukkan kepala pelan, ia berjalan mendekati kedua orangtuanya dan memandang mereka dengan sedih.
"Aku tidak normal, siapa sebenarnya aku??" Mata Ryn mulai berkaca-kaca. "Tidak ada manusia yang bisa melakukan sihir, siapa itu Densha? Siapa itu Isabella? Siapa itu Katrina? Dan siapa itu Fuu??"
Pertanyaan Ryn terlontar secara bertubi-tubi begitu saja dari bibirnya. Sudah tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi di rumah ini, Ryn menundukkan wajahnya berusaha menyembunyikan mimik mukanya yang sedang bersedih.
"Kau tau darimana??" Suara Moa terdengar bergetar.
"Aku menemukan surat Isabella Mikaelson saat membersihkan gudang" sahut Moegi.
"Dan...." Moegi memandang Ryn sekilas. "Kami berdua melihat foto orang yang bernama Densha di ruang kerja papa"
"Jadi... Kalian sudah tahu mengenai mereka berdua?"
"Tidak! Kami tidak tahu apapun! Dan aku tidak mau tahu apapun!" Bantah Ryn tegas.
"Ryn??" Muka Mod memelas, ia mendekati putrinya dan memeluk gadis itu.
"Aku... Aku..." Ryn membalas pelukan Mod erat. "Apa aku sungguh bukan anak kalian??"
Moegi mendekati Ryn, ia mengusap punggung kakaknya lembut. Sedangkan Moa memilih membalikan badannya menghadap arah lain, tak tau lagi apa yang harus ia katakan pada Ryn dan bagaimana cara menjelaskan semuanya.
"Namanya Fuu" gumam Moa lirih.
"Apa?!" Ryn memandang papanya dengan tatapan nanar.
"Moa... Apa kau yakin akan mengatakannya??" Mod berjalan mendekati suaminya.
"Bagaimana lagi?? Dia bisa menggunakan sihir, sepertinya Ryn memiliki darah Fuu dalam tubuhnya. Cepat atau lambat dia harus menerima dirinya sendiri"
"Kalian ini sedang membicarakan apa??" Sentak Ryn di belakang mereka, Ryn saling melempar pandang pada Moegi sebelum akhirnya memandang kedua orangtuanya.
"Ibumu..." Moa mengusap wajahnya sendiri. "Maksudku, ibu kandungmu! Namanya Fuu"
Jadi aku betulan Hybrid?? - Ryn.
(Di sini Ryn masih belum tahu soal Tribrid ya??)
"Fuu bukan manusia, dia... Mmm..." Moa terlihat tak enak hati untuk berbicara yang sebenarnya.
"Duyung??" Tanya Ryn tanpa ragu.
Moegi yang berdiri di samping Ryn, seketika langsung mendelik mendengar ucapan kakaknya. Anak laki-laki itu sedikit menggeser tempatnya berdiri dari Ryn.
"Bagaimana kau tahu??" Mod tertegun memandang putrinya.
Dengan ragu, Ryn mengangkat kedua tangannya pelan. Ia menyentuh ujung kaos yang ia kenakan saat ini, Ryn melirik ke arah Moegi antara malu dan tidak malu tapi ia harus menunjukkannya pada mereka semua.
Ryn mengangkat kaosnya ke atas, memperlihatkan perut rata dan punggung mulus miliknya. Moegi menutup kedua matanya saat Ryn melakukan aksinya, sedangkan Moa dan Mod menutup mulut mereka secara bersamaan.
Di bagian sisi kiri dan kanan perut gadis itu terdapat luka terbuka, seperti garis miring yang sempurna. Ryn menghela nafasnya untuk menunjukkan bahwa luka itu bisa bergerak sesuai dengan intonasi udara yang keluar masuk di tubuhnya.
"Astaga!"
"Ini perut ikan kan??" Ryn menatap Moa dengan tajam.
"Kau mengalami perubahan??" Mod mendekati Ryn, wanita paruh baya itu mengusap pipi putrinya lembut. Wajahnya terlihat sangat cemas saat ini.
"Dimana dia??"
"Ng?" Mod memandang Moa lalu beralih menatap Ryn lagi. "Siapa??"
"Dimana ibuku??"
Ryn menurunkan kaos yang ia angkat ke atas untuk menutup bagian perutnya kembali.
"Itu..."
"Apa?! Dimana dia?? Aku ingin marah pada orang yang meninggalkan anaknya begitu saja! Aku kira selama ini aku aneh karena berbeda dengan anak-anak lain!!" Gerutu Ryn kesal.
"Mereka tidak disini, tidak dimana pun" sahut Moa kesal.
"Apa??"
"Maafkan kami karena selama ini menyembunyikan banyak hal darimu! Sekarang bisakah kau tidak membahas hal ini, karena itu sama saja kau membuat luka lama terbuka lagi"
"Moa!!" Mod menatap suaminya tajam.
"Luka?? Luka apa?? Siapa yang lebih terluka dari kalian selain aku hah?!" Ryn membentak kedua orangtuanya dengan amat kesal.
"RYN!!!!" Moa meninggikan suaranya.
Ryn menangis, ia berlari menuju dapur! Gadis itu begitu frustasi dan ingin segera mengakhiri drama yang sedang terjadi di rumah ini.
"Hei! Apa yang sedang kau lakukan?!" Moa mengikuti Ryn dari belakang.
"Jika aku benar Hybrid!!" Ryn terisak, ia mengambil sebuah pisau pemotong daging dari tempatnya. "Di umur 18 tahun aku harus meminum darah kedua orangtuaku, jika tidak aku akan mati"
"Apa?! Kau bicara apa?? Kau tahu darimana??"
Moa dan Mod begitu panik, begitu juga Moegi ketika Ryn mengayun-ayunkan pisau pemotong daging itu mendekati pergelangan tangannya.
"Aku mengunjungi rumah keluarga Shawn dan keluarga Mikaelson, aku menemukan buku harian milik Katrina"
"......." Mata Mod membulat menatap Ryn.
"Ini kutukan Katrina! Aku benar kan??" Ryn terlihat begitu berantakan dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajah cantiknya.
"Katrina menginginkan kematian ku! Maka dari itu dia membunuh kedua orangtuaku dan membiarkan aku hidup agar dia bisa bahagia menyaksikan aku yang ketakutan menghadapi kutukan ini"
"Tidak Ryn!! Pikiranmu salah!!" Bantah Mod.
"Oh iya?? Salah darimana??"
Ryn menggoreskan bagian pisau yang tajam ke pergelangan tangannya sendiri, cairan merah kental mengalir deras dari pergelangan tangan gadis itu.
"YA TUHAN!! RYN!!!" Mod berteriak, ia menangis dan segera menghampiri putrinya.
BRUK!!!
"Biarkan aku mati... Aku tidak ingin Katrina menang dengan melihatku mati karena tak mampu meminum darah ayah dan ibuku"
Ryn jatuh di pelukan Mod, gadis remaja itu kehilangan banyak darah. Ia menangis menginginkan kematian datang lebih cepat untuknya. Dalam ketidaksadarannya, ia seperti melihat sosok gadis remaja dengan wajah yang super cantik sedang tersenyum padanya.
Siapa itu?? - Ryn.
"Moa, bawa dia ke kamar!" Pinta Mod.
"Iya, apa kita perlu memanggil dokter?!"
"Tidak, dia memiliki darah Fuu dalam tubuhnya. Kita harus berhati-hati"
"Apa kakak sudah meninggal mama??" Moegi menangis, ia mengikuti papanya yang sedang menggendong tubuh Ryn.
Bersambung!!!
Jangan lupa Like, Favorit, Komentar, Follow, Vote dan Rating ya!! 😉 Aku sangat berterima kasih loh...
baru tahu ad novel sebagus ini tentang mitologi..
kebetulan aku sangat suka mitologi..
maaf ya jarang meninggalkan kesan pd eps🙏
tp fiks aku suka...
tp yg manis2 saja...
tp berharap tdk ad katrina ke 2