Andrea Pricillia, gadis berusia 22 tahun. Dia di tipu oleh kekasihnya sendiri dan terjebak dengan sejumlah hutang yang sama sekali tidak dia lakukan. Untuk bisa melunasi semua hitang itu, Andrea harus menjadi pelayan dan mengabdikan diri pada pria yang menjadi tuannya.
Malvin, pria yang di juluki dewa kematian itu adalah pimpinan klan paleng berbahaya di Italia.
Dengan dendam masa lalu, hatinya hanya di isi dengan kekejaman dan penyiksaan.
Sayangnya, wanita yang dia pikir adalah penyebab kematian adiknya malah membuat dia jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marisa Canon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
"Signore, dia tidak ke mana-mana, hanya mengobati tangannya dan sepertinya ada yang terjadi di Puelba, Andrea menangis setelah menghubungi keluarganya?"
"Kau mendengar apa yang di bicarakan di telepon tadi?"
"Tidak, Signore. Posisi ku cukup jauh. Di sana tempat bermain. Jika aku mengendap mereka akan mengira aku ingin menculik anak-anak?"
"Baiklah, ikuti dia kembali."
"Sì."
****
"Andrea kau sudah kembali?"
Andrea berpaling berniat untuk mengabaikan Garilla, tetapi wanita itu malah menahannya.
"Tunggu Andrea, apa kau sudah menghubungi Ayahmu?"
"Yah tentu saja." Andrea mencoba melepaskan tangan Garilla yang menahannya.
"Apa semua baik-baik saja?"
Wanita itu kembali mengangguk tanpa menatap Garilla.
"Apa yang sedang kau sembunyikan dariku Andrea." Wanita tua itu membalikkan badan Andrea dan mendapatinya dengan air mata yang sudah mengenang. "Andrea, ada apa? Kenapa kau menangis."
Tidak kuat menahannya lagi Andrea pun terisak di depan Garilla. "Aku ingin pulang Garilla, aku ingin bertemu dengan Ayahku," ucapnya dengan air mata yang mengalir deras.
"Apa sesuatu terjadi dengan Ayahmu?"
Tangan putih itu melepaskan diri dari Garilla, berlari begitu saja meninggalkan Garilla, dia masuk kembali ke kamarnya mengunci pintu.
Entah Siapa orang yang sudah mengatakan semua itu pada Ayahnya, dia bahkan belum memberi kabar apa-apa tentang keadaannya. Hidup di antara dua iblis yang menyebalkan membuat Andrea hampir tidak bernapas.
Malvin dan Arsula, mereka adalah pasangan yang gila akan penderitaan orang lain. Benar-benar menyebalkan. Andrea berharap ada petir yang menyambar keduanya dan juga pelayan gila itu, Sella. Mereka benar-benar mengerikan, Andrea tidak akan pernah lupa, luka yang mereka berikan akan terus membekas dalam ingatan.
••••
Andrea bergegas membersihkan diri, setelah merasa lebih baik. Dia harus bersiap-siap untuk kembali melaksanakan tugas. Dia memakai seragam pelayan yang akan menemaninya selama kurang lebih 2 bulan lagi. Dia menyelipkan anak rambut ke belakang, rambutnya di biarkan tergerai begitu saja.
Beruntung karena Malvin tidak pernah mempermasalahkan bentuk rambut atau yang lainnya untuk semua pelayan. Pemilik manik abu-abu itu keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk menikmati sarapan paginya sebelum mulai bekerja. Namun saat sampai dia di sambut tatapan tidak menyenangkan oleh Sella. Tanpa memperdulikan keberadaan Sella, Andrea mendekati Garilla yang memanggilnya. "Kau butuh bantuanku?"
"Bawakan ini, Tuan Malvin ada di taman belakang."
"Aku?"
"Yah, tentu saja ."
"Garilla, aku tidak mau."
"Kau harus melakukannya Andrea, Signore akan marah jika ini terlambat di bawah."
"Dasar pria menyebalkan! tidak punya hati! Apa dia akan terus menyiksaku seperti ini?" Andrea menjerit dalam batinnya.
"Baiklah."
Andrea mengambil alih baki berisi sarapan juga beberapa butir obat yang harus dia minum. Tentu saja karena Malvin dalam tahap penyembuhan karena demam tinggi beberapa hari ini. Ketika Andrea sampai, dia melihat Arsula yang sedang berusaha menempelkan tubuhnya pada Malvin. Kening Andrea berkerut, tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Apa yang mereka lakykan di siang bolong seperti ini." Gadis itu mengerutu. "Lalu bagaimana dengan ini." Andrea bingung, berfikir antara harus maju atau tidak.
Sadar jika ini harus dia berikan, Andrea kembali melangkah, melewati beberapa bunga yang membuat matanya segar. Hingga matanya kembali membulat, menunduk seketika saat melihat sepasang manusia tengah bergumul kembali di hadapannya.
"Maaf, Signore," ucap Andrea saat keduanya menyadari kehadiran dirinya.
Sang wanita yang tubuhnya sedang memberikan rangsangan kepada lawannya itu terlihat kesal, dia mengeratkan rangkulan pada leher si pria. "Abaikan dia Baby."
Malvin bergerak menjauh dari tubuh wanita yang mendambakannya. "Berikan itu padaku."
"Sì." Andrea memberikan nampan itu tanpa melihat ke arah Malvin, setelahnya dia langsung pergi dari sana.
Nafsu Arsula masih di atas puncak, dia kembali memeluk Malvin dari arah belakang. "Aku akan menginap di sini, apa kau suka."
Namun, tidak dengan Malvin. Dia melepas tangan yang memeluknya memilih menyantap sarapannya di banding wanita yang sedang bergairah itu.
"Malvin! Aku tidak suka jika kau mengabaikanku."
"Aku harus sarapan Arsula."
Wanita itu membulatkan mata karena kaget. "Apa yang terjadi denganmu, tidak biasanya kau menolak permintaanku."
Malvin membalikkan badan menatap manik mata yang sama dengan Andrea itu dengan tajam. Dengan penuh penekanan dia berkata. "kembalilah nanti."
"Baby."
"Pergilah atau aku benar-benar akan mengabaikanmu."
"Dan setelah itu kau akan bersama dengan pelayan wanita itu? Tidak! itu tidak akan terjadi."
"Bukankah kau juga lebih senang menghabiskan waktu melayani pria-pria kaya itu?"
Wanita itu tampak pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di katakan Malvin." Baby! Apa maksudmu?"
"Kau tahu jelas apa yang aku maksud?" Malvin membuang pandangan menatap Arsula, dengan ujung netranya jelas memperlihatkan kemarahan. Bagaimana tidak, wanita itu menolak bersamanya kemarin dengan alasan sibuk bekerja. Namun, faktanya, dia sibuk melayani para pengusaha kaya yang akan menjadikannya brand model pada perusahaan mereka.
"Baby itu semua ti--" Ucapannya terpotong saat Malvin memberikan tatapan nyalang.
"Pergi Arsula!"
Wanita itu berdehem, dia merapikan pakaiannya lalu mengambil tas dan melangkah pergi dengan menggerutu sepanjang langkah kakinya.