Larisa Kurniawati adalah gadis belia yang mengandung karena kecelakaan. Sejak kecil ia memiliki kehidupan yang malang karena sering disia-siakan oleh ayahnya. Karena hamil di luar nikah, ia di tuduh menjual diri dan diusir dari rumah.
Namun pada akhirnya, ia dapat melahirkan anak jenius yang berhasil membawanya pada kehidupan yang mapan. Ia merupakan anak dengan kelebihan yang luar biasa. Sehingga, Orang-orang banyak yang mengincarnya untuk di manfaatkan. Akankah kecerdikan anak genius ini mampu melindungi sang ibunda? Bagaimana kelanjutan kisah antara ibunda dengan ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_Ifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pengantin Baru
Brian dan Larisa sudah tiba di apartemen, keduanya baru saja masuk dan meletakkan barang-barang yang di bawa. Sepertinya, keduanya masih sedikit canggung saat berdua saja.
Kamar kita ada di sebelah sana Larisa..!!! ucap Brian memecah hening.
Larisa hanya mengangguk pelan, ia tak membayangkan akan satu ranjang dengan mantan musuhnya itu seumur hidup.
"Aku lapar Larisa dan aku ingin kopi, tolong buatkan kopi ya..!!!" ucap Brian
"Baik mas," ucap Larisa.
Larisa menuju dapur untuk membuat kopi dan memasak nasi goreng untuk makan malam.
"Mas ini kopinya, kita makan nasi goreng ya untuk makan malam," ucap Larisa.
"Terimakasih istriku," ucap Brian.
Brian dan Larisa makan malam bersama di apartemen itu, sementara Larisa sedikit pendiam karena masih canggung dengan Brian.
"Larisa aku seneng deh punya istri pinter masak gini."
"Nasi gorengnya enak banget, berasa punya syef pribadi sekarang," ucap Brian.
Larisa tersenyum karena di puji oleh Brian.
"Makasih ya mas udah mau makan masakanku," ucap Larisa.
"Iya istriku, mulai sekarang kamu harus sering masak buat aku," pinta Brian.
"Iya mas Brian," jawab Larisa.
Usai makan malam, Larisa membuka kado dari ibu Lina. Ia juga menemukan surat di dalamnya.
"Dear.. keponakanku, pakailah kimono ini untuk membahagiakan hati suamimu, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah dan barokah."
Larisa kemudian mengeluarkan kimono berwarna merah dan berenda-renda itu.
"Ini transparan sekali, apa aku harus pakai ini...?" batin Larisa.
"Tapi perutku sudah buncit, pantaskah aku dengan ini..?" ucap Larisa.
Tiba-tiba Brian masuk kamar dan memeluk Larisa dari belakang. Brian mengelus perut Larisa yang sudah buncit itu. Brian mengelusnya memutar perlahan-lahan.
"Aduh.. duh.. aduh.. masss," ucap Larisa.
"Kenapa Larisa, kamu kenapa..?" tanya Brian.
"Bayinya menendang-nendang mas," ucap Larisa.
"Wahh.. dia senang ya deket papah, anak papah mau jadi pemain sepak bola nih," ucap Brian.
"Larisa tersenyum geli, mendengar ucapan Brian."
"Larisa, dia anak kandungku bukan..?" tanya Brian. Bukankah aku sudah menembakmu saat pertama kita bertemu...?" ucap Brian.
"Sudah jelas ini anakmu mas. Aku tak pernah macam-macam dengan Anton apalagi orang lain," ucap Larisa.
"Untung saja dia tak pernah menyentuhmu, jika dia berani sedikit saja, akan aku tembak kepalanya," ucap Brian.
"Larisa tersenyum... mas, aku dan Anton memang tak pernah macam-macam," jelas Larisa.
"Syukurlah, itu artinya kamu memang di takdirkan untukku Larisa," ucap Brian memeluk erat Larisa.
"Eh apa isi kotak itu, Brian membukanya.
" Wahhhh... sayang kimononya cantik ya, secantik dirimu sayang," gombal Brian.
Larisa tersenyum manis. "Mas gombalin aku nih..? udah ya aku mau mandi," ucap Larisa.
"Sayang aku ikut," goda Brian.
"Mana boleh mas," ucap Larisa.
Larisa langsung mengunci kamar mandi. Hatinya berdebar-debar saat Brian memanggilnya sayang.
"Ya Tuhan, perasaan apa ini," batin Larisa.
Entah kenapa lutut Larisa jadi lemas, ia bingung harus apa jika terus berdua dengan Brian di apartemen.
Setelah mandi, Larisa mencoba mengenakan kimono yang diberikan oleh bu Lina.
"Tampaknya aku terlihat gendut dengan ini," batin Larisa.
Belum sempat ganti baju, Brian yang baru saja mengambil minuman dingin di kulkas, membuka pintu kamar. Ia memergoki Larisa dengan kimono baru itu. Ibarat kucing yang melihat ikan.
Pemandangan itu sangat menggairahkan. Tanpa menunggu lama .Brian langsung menerkam Larisa di atas ranjang. Ia ******* bibir Larisa hingga kebas. Mereka berdua melewati malam panjang dengan beberapa ronde dan berbagai macam gaya.
Usai melakukan pertempuran, keringat mereka bercucuran dan merasa kelelahan.
"Terimakasih sayang, kamu sudah melayaniku dengan baik," ucap Brian.
"Mas aku ngantuk, aku tidur dulu ya," ucap Larisa.
Meskipun sedang hamil, hal itu tak mengurangi keinginan Brian untuk melakukan pertempuran. Mereka bangun kesiangan karena baru tidur saat menjelang subuh.
Dilihatnya, sudah pukul 9 pagi. Ia bangun dari tempat tidurnya lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi.
Saat Larisa mandi, Brian mengetuk-ngetuk pintunya.
"Sayang masih lama gak..?" aku mau buang air Larisa," ucap Brian.
"Sebentar mas, ini mau selesai," ucap Larisa.
"Karena sudah tak sabar, Brian membuka pintunya dan ikut masuk ke kamar mandi."
"Bodohnya aku tak mengunci pintunya," batin Larisa.
"Mas Brian, sudah kubilang aku mau selesai. Mas gak sabaran banget," ucap Larisa.
"Sayang..aku udah kebelet kamu hadap sana gih..." ucap Brian.
Larisa tampak belum berbusana, ia hanya memakai handuk di kamar mandi itu. Seketika itu, Brian mengajaknya bertempur lagi di kamar mandi. Kejadian itu berakhir dengan mandi bersama di pagi hari.
Usai mandi bareng, Larisa ganti baju dan menyandarkan diri di tempat tidur. Betapa lelahnya melayani suami barunya itu. Brian memang buas sekali saat bertempur.
Tak lama kemudian, Larisa menawarkan sarapan pada Brian.
"Mas mau makan apa hari ini...?" tanya Larisa.
Ia ingin ke dapur setelah cukup puas untuk istirahat.
"Sayang kamu gak usah masak ya, kita pesan grab food aja hari ini," ucap Brian.
"Ya udah, terserah mas aja," ucap Larisa.
Seharian di apartemen hanya berdua, Larisa seperti ingin tidur lagi karena kurang tidur semalam.
"Mas kamu gak akan macem-macem lagi kan, aku sungguh ingin tidur lagi..?" batin Larisa.
"Mas hari ini ngak kerja..?" tanya Larisa.
"Tidak sayang kita kan pengantin baru, aku gak mau lagsung kerja sayang," ucap Brian
Hari itu Brian ambil cuti, ia ingin menghabiskan beberapa hari bersama Larisa.
"Sayang, kamu mau honey moon dimana..?" tanya Brian.
"Ndak usah mas, uangnya di tabung aja untuk persalinan bayi kita," ucap Larisa.
"Sayang, aku kan direktur perusahaan. Kamu jangan khawatir tentang hal itu," ucap Brian.
"Besok kita ke Bali ya, aku ingin kita honey moon," ucap Brian.
"Baiklah mas, terserah mas aja kalau begitu," ucap Larisa.
"Tingg.. tunggg... bunyi bel sudah berbunyi, pesanan makanan mereka sudah datang, Larisa membukakan pintu untuk abang grab itu dan Brian menyusul.
" Mbak ini makanannya ya...!!!" ucap mas-mas grab food itu.
"Terimakasih mas," ucap Larisa sambil tersenyum.
"Bayar pakai ovo ya mas," ucap Brian.
"Iya mas," ucap mas-mas grab itu dan pamit meninggalkan mereka.
"Sayang, lain kali jangan senyum sembarangan sama laki-laki lain," ucap Brian menegur istrinya.
"Mas, aku hanya bersikap ramah pada penjual jasa itu," ucap Larisa.
"Ya tetap saja dia itu laki-laki lain, kamu itu milikku," nanti dia kecantol sama kamu.
"Baru sehari nikah udah seposesif ini mas Brian," batin Larisa.
"Pokoknya kalo aku ndak suka ya jangan, titik Larisa," ucap Brian.
"Iya mas iya," ucap Larisa.
"Iya kenapa Larisa..?" ucap Brian.
"Iya, aku gak bakal senyum sembarangan sama cowok," ucap Larisa.
"Nah, itu baru istriku....cuuuppp," ucap Brian mencium Larisa.
Ciyee Brian cemburu nih sama abang grab... wkwkwk
"Kita sarapan dulu ya mas," ucap Larisa menyodorkan sepiring makanan.
"Aku pengen di suapin dong sayang."
"Sini kamu duduk sebelahku," pinta Brian.
Yang hamil siapa, yang pengen di manja siapa..? pengantin baru yang aneh ya...!! wkwkwk
"Aaa... mana makanannya," ucap Brian.
Suapan pertama itu mendarat dengan sempurna dan berlanjut hingga bersih isi piringnya. Setelah menghabiskan sarapannya, kedua sejoli itu menghabiskan waktu menonton TV bersama.
"Mas, makasih ya udah menerimaku apa adanya," ucap Larisa.
"Kembali kasih sayang."
"Makasih juga sudah memberikan anak untukku Larisa," ucap Brian mencium tangan Larisa.
"Mas janji gabakal ninggalin aku..?" ucap Larisa.
"Tentu saja Larisa," ucap Brian.
Cuuup... Brian mencium kening Larisa dan perutnya. Brian suka sekali mengelus perut buncit Larisa.
Seumur hidupnya, Larisa merasa tak pernah di cintai sehangat dan sebaik perlakuan Brian. Kesan pertama di apartemen ini membuat Larisa merasa tak akan ada sosok lain yang bisa menggantikan Brian. Wanita berbadan dua itu rupanya mulai jatuh hati pada suaminya sendiri.
"Mass..bolehkah aku bertanya sesuatu..?" ucap Larisa.
"Jika mas bertemu gadis yang lebih cantik, apa mas akan menduakan aku..?" tanya Larisa.
"Bagiku kamu yang paling cantik sayang," ucap Brian.
Usia pasangan itu memang terpaut lumayan jauh, Brian yang berusia 27 tahun menikahi gadis belia yang masih 19 tahun. Tentu saja Brian selalu tergoda dengan Larisa yang putih bersih, berbadan ramping, tinggi dengan rambutnya lurus-hitam pekat.
"Jujur saja, aku belum pernah menyentuh gadis lain sebelum pertemuan pertama kita malam itu Larisa," ucap Brian.
"Benarkah...?" tanya bumil itu.
"Aku berani sumpah demi Allah," ucap Brian.
"Temanku menyodorkan banyak minuman waktu itu. Aku yang menemukanmu saat mabuk berat sudah hilang kendali," ucap Brian.
"Mas yakin, gak nyentuh gadis lain saat mabuk..?" tanya Larisa.
"Aku tak pernah tersadar di samping seorang gadis setelah mabuk, hanya denganmu aku melakukannya," ucap Brian.
"Baiklah aku percaya mas. Makasih ya mass, kamu sudah memberiku tempat tinggal setelah aku di usir oleh ayahku," ucap Larisa.
"Sama-sama sayang, cuuppp... " ucap Brian mencium kening Larisa lagi.
"Sayang, kita main lagi yuukkk..." goda Brian saat melihat adegan panas di tv.
"Mass semalam kan sudah, tadi pagi juga," ucap Larisa.
"Ayolah Larisa, kamu tau aku lagi ngidam pengen begitu," ucap Brian.
"Lah mas.. yang hamil kan aku, kok jadi kamu yang ngidam," ucap Larisa.
"Iya, tadi dedek bayinya juga ngode kalo dia harus dapet sentuhan papanya Larisa," ucap Brian.
"Dedek bayinya masih tidur di perut mas," nanti keganggu istirahatnya.
"Larisa dia malah pengen deket loh sama papanya, makanya harus di genj*t terus," ucap Brian.
"Mas aku ngantuk, aku bobok siang dulu ya," ucap Larisa masuk kamarnya.
Larisa tak pernah sebahagia ini, laki-laki yang dulu ia benci telah menjadi sosok yang hangat dan memperlakukan Larisa dengan sangat baik.