Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau kah?
Alina yang terkejut dengan ucapan yang baru saja di dengarnya itu mengangkat kedua alisnya tak percaya. Bagaimana mungkin laki-laki yang baru kemarin mati-matian tidak mau mengakui dan menyuruh membunuh anaknya sendiri, sekarang dengan tenangnya bilang akan bertanggung jawab.
"Maaf Pak Reyhan, apa anda sudah melupakan ucapan anda sendiri?"
"Anda sudah tidak memiliki tanggung jawab atas anak yang saya kandung, karena Pak Reyhan sendiri yang bilang ini bukan anak Bapak."
"Kamu pikir saya melakukan ini karena kemauan saya, jika bukan karena ancaman orang tua saya, saya juga tidak akan mau melakukan ini." Reyhan yang mulai terpancing emosi sedikit menaikkan intonasi suaranya.
"Kalau begitu Pak Reyhan tidak perlu melakukan ini karena saya juga tidak memerlukannya lagi. Saya bisa membesarkan anak saya sendiri dan ... anggap saja anak ini sudah mati saat Pak Reyhan menyuruh saya menggugurkannya," jawab Alina setenang mungkin dia memang sudah menduga tidak mungkin Reyhan melakukan ini jika tidak ada masalah lain.
"Jika sudah tidak ada yang ingin Pak Reyhan sampaikan saya permisi dulu." Alina pun pergi meninggalkan Reyhan sendiri.
Reyhan yang baru saja mendapatkan penolakan itu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sepertinya ini benar-benar tidak mudah. Biasanya mereka akan dengan sukarela menawarkan diri menjadi istriku, mungkin dia sekarang hanya sedang bermain tarik ulur denganku," batin Reyhan menggenggam tangannya erat merasa dipermainkan Alina.
———————
Alina sedang berjalan-jalan disekitar villa, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Alina yang kaget langsung menoleh. "Aah, Bu Rani?"
"Ohh, saya mengagetkan kamu ya?" tanya Bu Rani merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Bu Rani. Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Alina sopan.
"Apa kau sedang sibuk? Saya ingin kamu temani saya ke restoran di depan sana sebentar."
"Oh tidak, Bu Rani. Saya hanya sedang jalan-jalan saja."
"Panggil saja saya Tante jangan terlalu formal, kalau begitu ayo temani saya." Bu Rani mengajak Alina berjalan ke arah restoran yang dimaksud.
"Alina apa yang ingin kamu pesan?"
"Terserah Tante saja saya tidak terlalu pemilih soal makanan," jawab Alina sambil tersenyum.
Rani memesankan makanan untuk mereka, sambil menunggu mama Rani dan Alina banyak bercerita satu sama lain. Mereka menceritakan masalah pekerjaan, kosmetik dan apapun seputar wanita, mama Rani sangat senang berbicara dengan Alina karena dia merasa Alina adalah sosok yang menyenangkan dia cantik, ceria dan juga sopan.
"Alina sebenarnya Tante ingin membicarakan masalah dirimu dan Reyhan," ucap mama Rani tiba-tiba.
Alina seketika menghentikan aktivitasnya, dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
"Tante tau anak Tante sudah melakukan kesalahan, Tante juga tau Tante tidak berhak mewakilinya meminta maaf jadi biarkan dia sendiri yang akan meminta maaf padamu nak."
"Tapi Tante sangat berharap kamu mau menerima niat baik keluarga Tante untuk bertanggung jawab atas perbuatan Reyhan dan mau menikah dengan Reyhan nak," ucap Rani bersungguh-sungguh.
"Tante, Alina tau Tante adalah orang yang baik Alina juga sangat berterimakasih atas niat baik Tante tapi Alina tidak bisa, Alina tidak bisa bersama orang yang bahkan tidak mengharapkan anak ini lahir tante."
"Alina Tante tau ini egois untuk membujukmu, tapi Tante juga sebagai seorang ibu Tante sangat tau bagaimana perasaan ibumu saat ini."
"Walaupun dia terlihat baik-baik saja, tapi Tante yakin didalam hatinya sangat sakit saat memikirkan kamu yang harus melewati kehamilan ini sendiri tanpa seorang suami, apalagi menghadapi masyarakat yang mungkin akan merendahkan posisimu tentu sebagai seorang ibu itu adalah hal yang sangat menyakitkan."
"Alina percayalah kami hanya ingin bertanggung jawab, jika setelah anak ini lahir dan kalian memilih berpisah kami juga tidak akan mengambil hak asuhnya."
"Apakah kamu tidak kasihan jika dia harus lahir tanpa nama ayah, dan bagaimana catatan kelahirannya nanti, nama ayahnya akan kosong bagaimana jika itu akan berpengaruh saat dia besar, Nak?"
Alina sama sekali tidak memberi jawaban dia hanya menatap kosong, mencoba mencerna semua yang disampaikan mama Rani. Otaknya tidak bisa bekerja saat ini semua perkataan itu hanya berputar-putar di kepalanya tanpa ada jawaban, air mata Alina mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya.
"Ahh maafkan Alina Tante." Wanita itu mengusap air mata yang tanpa disadari sudah membasahi pipi.
"Tidak apa-apa Alina, jika kamu tidak bisa membuat keputusan sekarang Tante tidak memaksa." Tersenyum ke Alina.
"Baiklah sekarang sudah mulai malam sebaiknya kita segera kembali kamu harus istirahat, bukankah besok kalian sudah harus kembali ke Jakarta?"
"ohh iya, saya bahkan lupa belum membereskan barang-barang saya."
"ayo kita kembali Tante, Sinta pasti akan marah-marah jika tidak menemukan saya." Alina baru ingat dia tidak memberi tahu Sinta kalau dia pergi bersama tante Rani
Alina yang tidak mau diomeli sahabatnya itu segera kembali ke villa, dia tau betul bagaimana jika sahabatnya itu sudah mulai mengomel kalimatnya bisa sepanjang rel kereta api. Beruntunglah karena Sinta juga belum kembali saat ini, mungkin dia masih sibuk memilih baju untuk oleh-oleh.
Setelah membersihkan diri Alina merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia kembali teringat perkataan Tante Rani.
Alina tidak tau apa yang harus diputuskan untuk sekarang, tapi semua yang disampaikan Tante Rani memang benar adanya. Dia sudah beberapa kali melihat ibunya yang tiba-tiba melamun menatap foto putrinya, mungkin Ibu Yuni memikirkan nasib Alina kedepannya. Seorang wanita yang bahkan tidak pernah menikah tapi mempunyai anak, apa yang akan dipikirkan orang-orang nanti tentang putrinya.
Ibu pasti juga sangat malu jika ada tetangga yang bertanya padanya, bahkan tidak memikirkan itu sebelumnya.Ya, sepertinya aku memang anak yang bodoh. Hanya karena melihat ibu yang selalu menampakkan senyumnya di depanku, aku lantas mengira dia memang baik-baik saja. Aku bahkan tidak memikirkan sedalam apa luka yang aku ciptakan untuk ibu sekarang, dia tidak pernah mengeluh dengan apapun selama ini. Seharusnya aku lebih memikirkan perasaan ibu bukan? seharusnya aku tidak egois dengan keputusanku sekarang kan? batin Alina.
Tapi Alina tidak bisa mengabaikan perasaannya begitu saja. Dia benar-benar tidak bisa jika harus bersama laki-laki itu. Dia tidak mencintainya, bahkan sangat membencinya. Yang paling penting adalah Reyhan tidak percaya ini anaknya, dia menganggap Alina seorang jalang dan bahkan meminta menggugurkan darah dagingnya sendiri. Apa aku harus menjadikan laki-laki brengsek seperti itu menjadi seorang ayah? dia bahkan sama sekali tidak pantas.
...Bersambung .......
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍