Gadis Bellova yang terjebak di rumah mewah milik pria yang baru dikenalnya, Elan Ferdiand Bocelli. Tempat di mana membawanya terjerumus ke dalam masalah besar hingga akhirnya Gadis Bellova menjadi tahanan oleh pria tersebut. Namun tidak disangka ada sesuatu yang tersembunyi diantara mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Untuk Kabur
Devan memasuki ruang kerjanya dan menutup pintu itu dengan kasar. Devan berdiri sambil melonggarkan dasinya dengan kesal. Kebetulan Andy berada dalam ruangan tersebut sedang menyusun berkas yang akan ditanda tangani oleh Devan.
"Arghhh ...!" teriak Devan kesal dan menendang kursi yang ada di depannya.
"Ada apa, Tuan Dev?" tanya Andy cemas.
"Gadis menjadi tahanan pria itu sekarang, bagaimana ini Andy? Aku tidak bisa tenang jika Gadis masih di sana," cemas Devan sambil menarik rambutnya.
"Kau menemui Gadis di rumah pria itu? Kenapa tidak bilang padaku? Kau jangan gegabah, Tuan. Nanti bisa berakibat fatal untuk Gadis. Tunggulah dulu sebentar, anak buahku sedang mencari informasi tentang pria itu," jelas Andy memperingatkan.
"Aku sangat merindukan Gadis, Andy!" ujar Devan lirih kemudian menduduki sofa di sampingnya.
"Perasaanmu terlalu besar untuk Gadis, kau akan tersiksa jika seperti ini terus, Tuan!" Andy begitu iba melihat Devan meratapi kesedihannya semenjak Gadis dibawa pergi oleh Elan.
Devan dan Gadis tak pernah terpisahkan sejak kecil sampai mereka tumbuh dewasa. Mereka begitu ceria dan bahagia bersama-sama. Jadi Devan begitu merasa kehilangan sosok Gadis yang selalu menghiasi hari-harinya.
"Aku berusaha untuk menjaga perasaanku pada Gadis, hingga aku sampai membawa para wanita-wanita ke rumah, agar aku bisa mengubur perasaanku pada Gadis, tapi nyatanya tidak bisa dan perasaanku tetap saja tertuju pada Gadis," Devan menatap ke arah depan dengan pandangan kosong.
"Aku turut prihatin dengan keadaanmu, Dev. Selama kau mempunyai perasaan pada Gadis, selama itu pula kau akan tersakiti, Dev. Semoga kau bisa menerima takdir yang sudah digariskan untukmu kelak di masa depan," batin Andy yang mengkhawatirkan Devan.
*******
Elan tersenyum penuh kemenangan. Hatinya gembira atas keberhasilan dia membawa Gadis di kediaman miliknya. Dia akan selalu melihat wajah wanita itu setiap saat, kapanpun dia mau.
"Tuan, kapan Tuan El kembali ke Italia? Dua orang menyebalkan itu selalu menanyakan anda, Tuan Vero dan Tuan Leon. Saya bingung harus menjawab apa," tanya John memberitahu.
"Entahlah, biarkan mereka yang mengurus perusahaan di sana. Kalau memang mendesak atau sangat penting baru saya kembali ke Italia. Di sini saya sudah ada mainan baru. Kemungkinan saya di sini akan lama," Elan membayangkan wajah Gadis yang menjadi mainan barunya.
"Bicaralah pada mereka, Tuan. Saya tidak sanggup lagi bicara pada Tuan Vero dan Tuan Leon. Mereka akan menerkam saya jika mereka berdua pulang ke Jakarta. Mereka selalu mengancam saya, Tuan," John berkata lirih dan sedikit takut.
"Hahaha, mereka tidak akan berani selama ada saya, jadi tenang saja," Elan tertawa dan meyakinkan John.
"Tetap saja mereka adalah dua orang yang sangat menyebalkan, Tuan."
"Jika Vero dan Leon tahu kau mengejeknya, tamat riwayatmu John."
"Tuang El jangan bilang ke mereka, saya benar-benar emosi jiwa dibuat mereka," kesal John pada para bos-bos yang bertindak semaunya saja.
"Kau ini John, ada-ada saja. Oh ya, bagaimana kinerja di perusahaan Mahen Group? Apa kau sudah tahu banyak mengenai perusahaan milik keluarga Mahendra?" tanya Elan menyelidik.
"Sejak dulu perusahaan Mahen Group itu cukup terkenal saat dipimpin oleh tuan Mahendra dan sekarang pun juga sama, malah lonjakan tinggi saat dipimpin oleh tuan Devan, perusahaan itu menduduki peringkat kedua setelah perusahaan Ferdiand Group, Tuan!" jelas John secara detil.
"Wow ... boleh juga Devan itu. Tugas kamu sekarang adalah kamu beri ancaman pada Devan melalui perusahaannya. Bilang padanya bahwa Elan Ferdiand Bocelli bisa menghancurkan perusahaan Mahen Group kapan saja jika dia tidak menerima kesepakatan dari saya. Saya ingin lihat bagaimana reaksi kakak angkat si Gadis itu," Elan menyeringai sinis.
"Baiklah, perintah Tuan akan saya laksanakan sekarang juga."
"Kau jangan mengecewakan saya, John," ucap Elan memperingatkan.
"Pasti Tuan!" John menunduk hormat dan mulai melakukan tugasnya dari sang tuannya.
*******
Siang hari pukul 14.00, Bi Ani mengambil piring kotor di kamar Gadis. Selama Elan berada di kantor, Gadis harus selalu di kamarnya hingga makan pun harus ada pelayan yang mengantar makanan ke kamar Gadis. Kecuali jika Elan berada di rumah, maka Gadis bisa makan bersama Elan, itu pun jika Elan yang meminta.
"Bi Ani, bolehkah aku ikut Bibi ke dapur? Aku akan bantu Bibi memasak untuk makan malam. Gadis bosan di kamar ini terus Bi," pinta Gadis memelas.
"Maaf Non Gadis, tuan El berpesan agar Non Gadis harus tetap di kamar ini," jelas bi Ani.
"Apa yang harus aku lakukan di sini, Bi? Walau kamar ini besar tapi tidak ada kehidupan di sini, sunyi, senyap dan membuat aku lama-lama stres," kata Gadis membuat alasan.
"Mendengarkan musik atau membaca novel saja, Non. Mungkin Non Gadis tidak akan merasa bosan. Di kediaman ini ada ruangan khusus tempat buku-buku bacaan novel dan sastra. Nanti Bibi ambilkan beberapa buku untuk Non Gadis baca kalau mau," ucap bi Ani memberi saran.
"Benar Bi, di sini ada tempat khusus seperti itu? Gadis jadi penasaran, ingin deh kesana."
"Kalau mau kesana, bilang dulu sama Tuan El, pasti di izinkan. Kalau sekarang Bibi tidak berani, Non."
"Ya Bi, terima kasih sudah memberi tahu. Gadis akan memintanya pada Elan nanti," ucap Gadis tersenyum ramah.
"Kalau begitu Bibi permisi, Non mau ke dapur untuk masak makan malam."
"Ya Bi," Gadis mengangguk.
Bi Ani pun berbalik melangkah keluar kamar sambil membawa piring kotor lalu mengunci pintu kamar itu kembali agar Gadis tidak bisa kabur.
"Mumpung di sini lagi sepi dan Elan juga masih di kantornya, aku harus bisa keluar dari rumah terkutuk ini. Aku takut jika harus tinggal di sini terus menerus. Aku muak dengan ancaman Elan," batin Gadis sambil mondar-mandir mencari ide untuk kabur dari rumah Elan.
Tiba-tiba Gadis mempunyai ide yang bisa membuat dirinya bebas dari Elan. Idenya ini terinspirasi dari beberapa film-film yang pernah di tontonnya di TV. Gadis benar-benar nekat kali ini. Dia maju mundur melakukan idenya yang cukup ekstrim untuk kabur dari rumah Elan. Tapi Gadis terpaksa harus melakukannya.
Gadis menarik seprei di ranjang tempat tidur lalu membuka lemari dan mencari beberapa seprei lagi di sana, kemudian Gadis menyambungkan beberapa seprei agar lebih panjang untuk dia turun ke bawah dari lantai 2 tempat Gadis sekarang berada melalui jendela kamar.
Dengan lihai Gadis menyambungkan seprei-seprei itu menjadi satu lalu dia mengikat ujung seprei itu dengan kencang di sudut kaki bawah ranjang tempat tidur. Dirasa ikatan itu sudah kuat, Gadis melemparkan seprei yang menjulang panjang itu keluar jendela, lalu Gadis memulai aksinya turun melalui seprei itu perlahan. Walau sulit Gadis tidak pantang menyerah. Saat dipertengahan, seprei itu semakin ke bawah karena ternyata seprei yang diikat Gadis tidak terlalu kencang. Akibatnya seprei itu terputus.
"Aaaaa...!" teriak Gadis sambil memejamkan matanya ketakutan.
"Gadisss...!"
lanjutkan cerita cinta king dan jelita
suka deh Ama king