Part 2, lanjutan dari Ta'aruf Pembawa Cinta. Disarankan untuk membaca part pertama terlebih dahulu.
Daffa pergi meninggalkan rumah dan melepaskan semua yang akan menjadi miliknya dan mulai membuka usahanya sendiri.
Lelaki bernama Daffa itu adalah seorang duda yang memiliki seorang putri kecil yang begitu cantik, Ia sangat menyayangi putrinya itu bahkan memberinya nama seperti nama mendiang istrinya, Zeline.
Daffa dibuat frustasi saat semua orang mendesaknya agar menikah lagi, hal yang sangat sulit lelaki itu pikirkan, bahkan dengan membayangkannya saja ia sama sekali tidak sanggup jika harus mencari pengganti dari istrinya, wanita yang sangat ia cintai itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Itu Sangat Dingin
Daffa dan Zeline tiba di depan toko roti milik Zafina yang letaknya tidak jauh dari sekolah Zeline, Zeline dengan semangat menunjukkan jalan menuju toko roti Zafina pada Daffa hingga akhirnya mereka tiba disana.
Toko roti milik Zafina tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil juga, ia menjual roti yang fresh from the oven dan beberapa cake yang ia simpan di lemari pendingin agar cakenya awet.
Zeline kemudian menarik tangan Daffa agar ia cepat masuk ke dalam sana. Begitu tiba didalam, mereka disambut ramah oleh seorang gadis muda yang sepertinya pekerja di toko roti tersebut
"Hai Zeline, kau datang" sapa gadis muda tersebut menghampiri Zeline dan Daffa, Daffa sedikit terkejut karena ternyata anaknya sudah sangat dikenal di tempat ini
"Kakak Arin, Bibi Zafina mana?" tanya Zeline sembari melihat sekitar namun tidak menemukan keberadaan Zafina
"Dia ada dirumahnya, sepertinya kakinya terluka Zeline" jawab gadis muda yang bernama Arin tersebut
"Ini semua karenaku kak Arin, kaki Bibi Zafina terluka karena menolongku tadi" kata Zeline merasa bersalah, ia khawatir keadaan Zafina jauh lebih parah darinya
"Tapi kau tidak apa-apa kan?" tanya Arin begitu khawatir
"Tidak apa-apa kak Arin, hanya lecet sedikit saja di tanganku" jawab Zeline menunjukkan tangannya yang terbalut perban
"Syukurlah" kata Arin bernafas lega, Daffa pun menatap heran kepada gadis muda itu
"Tapi Bibi Zafina.." Zeline masih saja memikirkan Zafina, terlebih saat ia bangun ia tidak menemukan keberadaan wanita itu dan juga ia tidak mengetahui bagaimana kabarnya sekarang
"Tidak apa-apa Zeline, Zafina tidak apa-apa. Kalau kau mau kau bisa mengunjunginya dirumahnya" kata Arin yang membuat Zeline senang
"Rumah Bibi Zafina dimana kak Arin?" tanya Zeline begitu bersemangat.
"Sebentar ku tuliskan alamatnya untukmu" Arin berlalu dari sana menuju ke meja kasir untuk menuliskan alamat rumah Zafina
Daffa sedari tadi hanya diam mendengar dan menyimak obrolan anaknya dengan gadis muda itu, mungkin ia hanya mematung saja tapi dalam kepalanya sangat banyak pertanyaan yang ia lontarkan.
"Aneh sekali, gadis itu terleihat jauh lebih muda dibanding Zafina tapi dia sepertinya sangat akrab dengan Zafina. Dan anehnya kenapa dia malah lebih khawatir Zeline yang terluka dibanding Zafina?" batin Daffa merasa aneh dengan situasi ini.
Tidak lama kemudian, Arin kembali menghampiri Zeline dan Daffa lalu memberikan secarik kertas berisikan alamat rumah Zafina
"Ini alamatnya Zeline" kata Arin memberikan kertas itu kepada Zeline
"Terima kasih kak Arin" ucap Zeline menerima kertas tersebut
"Sama-sama anak cantik, oh iya apa ini Papamu?" tanya Arin memperhatikan Daffa
"Iya kak Arin, ini Papaku" jawab Zeline menggenggam tangan Papanya
"Perkenalkan tuan, nama saya Arina. Zeline banyak bercerita tentang anda pada kami" kata Arin memperkenalkan dirinya pada Daffa
"Oh..iya, saya Daffa. Kalau begitu kami permisi dulu" jawab Daffa datar sekaligus langsung pamit dari sana
Daffa menarik tangan Zeline dan mengajaknya pergi dari sana, Zeline mengikuti Daffa yang berjalan begitu cepat namun Zeline menyempatkan menoleh ke arah Arin dan melambaikan tangannya pada gadis muda itu. Arin pun turut melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Zeline
"Dingin sekali orang itu, kenapa baik Zeline dan Zafina mengatakan dia orang yang baik dan hangat dan ramah?" gumam Arin berbicara pada dirinya sendiri saat melihat Daffa secara langsung
Arin lalu mengambil ponselnya di saku celemek yang ia gunakan begitu Daffa dan Zeline sudah meninggalkan tempat itu, ia lalu menuliskan pesan singkat untuk Zafina
"Zeline dan Papanya menuju ke rumah mu sekarang, Zeline sangat mengkhawatirkanmu jadi ku beri saja alamatmu. Ohiya, Ramah? Ramah darimananya, orang itu sangat dingin" __Arin
Setelah mengirimkan pesan tersebut, ia pun kembali ke tempatnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
Mobil yang dikendarai oleh Daffa berhenti tepat di depan gedung apartemen tempat ia dan Zeline tinggali. Anehnya Daffa baru menyadarinya ketika sampi disana
"Papa, kenapa kita pulang?" tanya Zeline yang sama bingungnya dengan Daffa
"Benar juga sayang, ternyata nona Zafina tinggal di gedung apartemen yang sama dengan kita" kata Daffa yang baru menyadarinya
"Benarkah? kenapa aku baru mengetahuinya sekarang" gumam Zeline bertanya pada dirinya sendiri.
Daffa dan Zeline menuju ke apartemen milik Zafina yang hanya berbeda satu lantai dengan mereka.
Begitu tiba disana, Daffa menekan bel apartemen Zafina dan tidak lama kemudian pintu tersebut dibuka oleh Zafina
"Bibi Zafinaa" sapa Zeline menghampiri Zafina dengan begitu senang saat melihat wajah wanita itu
"Zeline sayang, kenapa bisa sampai kesini?" tanya Zafina berlutut di depan Zeline untuk menyamakan tinggi mereka, Zafina terlihat sedikit meringis karena kakinya yang terasa sakit
"Aku mencari Bibi Zafina di toko tapi tidak ada, jadi kak Arin memberiku alamat Bibi. Apa Bibi tidak apa-apa?" jawab Zeline tak lupa menanyakan keadaan Zafina
"Tidak apa-apa sayang, Kau bersama siapa kesini? tanganmu tidak apa-apa?" tanya Zafina lagi yang terlihat jauh lebih mengkhawatirkan Zeline, sekali lagi Daffa merasa ada yang aneh dengan wanita itu.
"Tidak apa-apa Bi, aku kemari bersama Papaku" Zafina mendongakkan kepalanya melihat keluar dan mendapati Daffa sedang berdiri disana, Zafina lalu kembali berdiri dengan perlahan lalu menghampiri Daffa
"Maaf tuan Daffa, kali ini aku tidak mengganggu putrimu" kata Zafina menundukkan wajahnya
"Saya tau, kan saya yang kesini dengan putri saya" jawab Daffa merasa tidak enak hati
"Kalau boleh ku tau, ada keperluan apa tuan Daffa kemari" tanya Zafina, Zeline lalu berjalan ke arah Daffa dan memperhatikannya lebih tepatnya tatapannyan itu seperti memperingatkan Papanya mengenai tujuan mereka datang ke rumah Zafina
"Sudah jelas Zeline mengkhawatirkan mu, dan jugaa..saya.." Daffa menggantungkan kata-katanya merasa sangat berat untuk melanjutkannya
"Saya apa tuan?" tanya Zafina penasaran
"Saya minta maaf karena sudah kasar denganmu, dan juga..." ucap Daffa dan kembali menggantungkan lagi ucapannya, Zeline pun merasa gemas dengan Papanya itu
"Papaaa!" tegur Zeline memberi kode pada Daffa
"Dan juga saya ingin berterima kasih karena anda telah menyelamatkan putri saya" ucap Daffa akhirnya dengan begitu susah
Zafina menahan senyumnya melihat Zeline tersenyum puas saat Daffa telah meminta maaf dan berterima kasih kepada Zafina. Sungguh pemandangan yang lucu dan menggemaskan bagi Zafina.
lanjut dg karya yg bagus lagiii....
semangaaaattt....
MENGEJAR CINTA KAKAK KELAS dari Endergamer 1256
"Malam ini kamu pulang ke rumah.
Rumah kita.
Udah terlalu lama kamu berkeliaran di luar.
Aku harus jaga calon istriku biar gak ditidurin orang lain.
Besok..kita pulang ke Indonesia.
Langsung kawin.
Sedikit aja kamu mau kabur...aku gak akan segan-segan ngeluarin video kita." kembali Michael mengancam.
Numpang iklan dan terima kasih kakak author 😘