Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.
Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.
Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?
Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Berita besar?
"Ay, sudah dengar gosip terhangat hari ini belum sih?" Ola menghampiri meja kerja Alya, menggeser kursi lalu duduk di sampingnya.
"Hmm."
Alya hanya melirik sekilas, lalu kembali asik dengan pekerjaannya. Matanya tetap fokus menatap setiap angka-angka yang tertera di layar komputer di depannya, tak dihiraukannya pertanyaan Ola barusan padanya.
"Ay!!" Ola mengerucutkan bibirnya, gemas dengan sikap Alya yang terlihat cuek dan tak peduli sedikitpun dengan berita besar yang akan dia sampaikan.
"Gue sibuk, La. Banyak kerjaan, laporannya harus selesai sore ini juga. Mending bantuin kerjaan Gue deh, daripada ngegosip nggak jelas!" Alya berdecak tidak suka.
"Hei! Jangan salah, ya Neng. Ini gosip bukan sembarang gosip, ini berita besar buat kantor kita," seru Ola sambil merentangkan tangannya lebar membentuk lingkaran. "Catat ya, Neng! Ini bukan gosip nggak jelas!"
Alya menghembuskan nafas kasar, dipalingkannya wajahnya menatap horor pada sahabatnya yang super rese itu. Tangannya dilipat di dada, siap menunggu berita yang akan segera didengarnya dari mulut Ola.
Sedangkan Ola yang ditatap seperti itu oleh Alya, hanya tersenyum manis sambil memainkan bolpoint di tangannya dengan gerakan memutar ke atas meja kerja Alya.
"Buruan Ola!! Gue sibuk beneran nih! Apa coba beritanya, sampai-sampai Nona cantik yang super rese ini bisa seheboh ini," kata Alya sambil memutar kedua bola matanya.
"Oke, dengar baik-baik ya Neng. Simak dan perhatikan, Minggu depan bu Dhes ngajak kita semua anak-anak kantor buat liburan ke villa miliknya yang letaknya di dekat lereng gunung di kota B. Mau tahu ada acara apa disana? Ulang tahun Daffa," kata Ola sambil mengetuk-ngetukkan kembali bolpoint di tangannya ke atas meja Alya.
"Hilih, kirain berita besar apa! Kalau itu sih Gue juga sudah dengar kali!" Alya melengos sambil memutar kursinya kembali, menghadap layar monitor di depannya melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda karena kehadiran Ola di dekatnya.
"Hah! Serius Ay. Lu sudah tahu! Memang Lu tahu darimana, Ay? Kan Gue barusan ngomongnya." Ola memutar tubuh Alya agar kembali menghadap ke arahnya, dan mengguncang bahunya, bertanya seolah tak percaya.
"Bu Dhes yang langsung telpon Gue siang tadi, kasih tahu kalau mau ngadain pesta kebun buat ulang tahun bos. Sekalian minta bantuan Gue buat ngatur acara disana nanti," jelas Alya kemudian.
"Hemm, mencurigakan. Sepertinya ada sesuatu hal yang disembunyikan sama Bu Dhes. Kenapa harus Elo yang dimintain bantuan, kenapa nggak minta bantuan ke Gue, sih!"
"Meneketehe! Noh, telpon bu Dhes sono. Tanyain kenapa minta bantuannya ke Gue, bukannya ke Elo!" Sembur Alya kesal.
"Ishh, judes banget sih jadi orang! Kalem Neng, jangan ngegas!"
"Au ah gelap."
"Hahaha."
Ola terkekeh geli melihat Alya yang selalu bersikap cuek dan masa bodoh, tapi bila sudah membicarakan hal yang menyangkut nama Daffa, suaranya langsung meninggi. Seperti orang alergi saja, setiap ada yang menyebut namanya, langsung saja secepatnya berusaha menghindar.
Tapi untuk kali ini, sepertinya Alya tidak dapat menolak permintaan bu Dhes untuk membantunya mengatur pesta ulang tahun Daffa adiknya. Terlepas dari sikapnya yang selalu saja ingin menghindari kedekatannya dengan Daffa, bu Dhes adalah orang yang sudah banyak membantunya selama ini. Tak elok rasanya jika dia menolak tanpa ada alasan yang jelas.
"Sudah dapat ide mau kasih kado ulang tahun apa buat mas Daffa?" Ola bertanya dengan mimik wajah menggoda.
"Olaaaa, eh!!" Alya berusaha menahan suaranya yang ingin sekali berteriak kencang.
Ola tak dapat menahan tawanya lagi, senang rasanya menggoda Alya seperti itu.
Dengan tangan kanan yang terkepal, Alya mengacungkannya ke arah Ola seolah ingin memberinya pelajaran. Lagi-lagi Alya hanya dapat mengesah kesal, apalagi saat melihat Ola ngacir pergi sambil tertawa keras.
Huh! Alya mencoba mengatur nafasnya. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sejenak dipejamkannya matanya, tapi tiba-tiba saja ucapan Ola tentang kado ulang tahun buat Daffa terngiang di telinganya.
Alya memang belum memikirkan kado apa yang akan ia berikan pada Daffa, tapi pastinya kado itu harus lah berkesan buatnya.
🌹🌹🌹
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐