Nyai sekar ayu hanindia dikenal sebagai dukun manten yang cerdas, cantik dan berhati suci di desa terpencil yang masih menganut budaya jawa kejawen yang kental.
Ilmu dukun manten merupakan ilmu ma'rifat yang turun temurun didapat sejak zaman kerajaan terdahulu. Tidak sembarang orang mampu mewarisi ilmu ma'rifat tersebut.
Dalam lingkungan masyarakat kerajaan terdahulu dukun manten memiliki tujuan membangun kerukunan sesama manusia melalui budaya, adat, wuku dan tahun.
Apa jadinya kalau keempat sahabat. Leo Radin Syah, Elang rahardika, intan champa dan Sundari harus mengalami hal supranatural sehingga melibatkan sang DUKUN MANTEN, Nyai sekar ayu hanindia harus turun tangan membantu konflik mereka??
Dapatkah mereka terbebas dari segala konflik BLACK MAGIC atau supranatural lainnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laura Hussein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diteror lagi. (alur masa lalu)
"Alhamdulillahirobbil alamin.." seru Bima dan Ratna bersamaan ketika selesai menikmati hidangan makan siang sederhana di gubug.
"Sebaiknya, kau pulanglah ke rumah!!" Seru bima sambil mencuci tangannya dengan air didalam botol.
"Loh, bukannya pegawean menanam jagung belum selesai, toh mas??" Tanya Ratna mengernyit.
"Soal itu biar, mas lanjut besok saja. Karena mas harus ke hutan mencari bambu dan kayu.." jelas Bima.
"Untuk apa toh mas??" Tanya ratna sambil membereskan rantang dan menyusunnya rapih bertingkat.
"Untuk memperbaiki gubug ini. Lihatlah ada beberapa bagian yang keropos!!" Tukas Bima seraya menuding kearah kayu yang keropos dan jika dibiarkan, gubug tersebut bisa roboh sewaktu-waktu.
"Aku ikut ke hutan, mas.." decis Ratna manja.
"A-aku ingin mencari akar kakas, kayu secang dan daun onje untuk perawatan RATUS.." sambung ratna sedikit memohon dengan mata puppy eyes nya.
"Aku takut nanti kamu dipatok ular, jika kau ikut.." terang Bima khawatir.
"Seperti awal pertemuan kita waktu itu, kan mas.." sahut ratna seraya tersenyum.
"Ya, awal kita dipertemukan takdir. Alam semesta bekerja dengan jalannya sendiri, sehingga kita bertemu secara tak terduga. Hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.." ujar bima seraya tersenyum.
"A-aku ikut ya mas, ke hutan??" Tutur Ratna mengulangi pertanyaannya dengan nada kolokan, bak anak balita merengek minta balon.
"Bahaya, sayang. Di hutan banyak binatang buas. Mas takut membahayakan dirimu.." sambar bima seraya mengelus puncak kepala istrinya lembut.
"Lagipula soal rempah-rempah alami untuk kebutuhan perawatan RATUSmu biar mas yang carikan. Bukankah selama ini Elang cukup mencarikan rempah-rempah untuk perawatan kecantikan mu?! kau pulanglah ke rumah.." sambung bima.
Ratna menggelayuti lengan suaminya erat, lalu bersandar di bahu bima tak mau lepas sambil memasang wajah kolokan untuk mendesak bima mengizinkan permintaannya.
"Iya, mas. Elang memang selama ini yang mencarikan rempah-rempah di hutan, tapi ada bahan yang hampir habis. Boleh, ya mas. Aku ikut?!" Serunya memaksa.
Setelah berfikir panjang, bima pun mengangguk.
"Baiklah, kau boleh ikut mas ke hutan.."
Ratna tersenyum bahagia sambil berulangkali mencium kedua tangan suaminya.
"Tapi ingat, kau harus selalu berjalan bersamaku di hutan nanti, mas takut terjadi sesuatu.." sambung bima khawatir.
"Iya, mas.." sahut ratna seraya memejamkan mata.
"Dimanapun tempatnya, hutan bahkan tempat angker sekalipun, asal berjalan beriringan bersama kamu. Aku tenang, mas!!" Sambung ratna seraya tersenyum manis.
🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈
Sesampainya di hutan, bima memperhatikan pohon sonokeling untuk ditebang. Namun sebelum ia menebangnya. Bima telah mempersiapkan bibit pohon sonokeling kecil yang ia bawa dari ladang untuk ditanam kembali sebagai ganti pohon sonokeling yang nantinya akan ia tebang dan bawa ke ladang untuk memperbaharui gubuk di ladangnya.
Dengan cara demikian, bima tetap melestarikan alam. Meskipun ia menebang pohonnya.
"Kau istirahatlah, sejenak. Mas mau menebang pohon sonokeling ini dulu.." ujar bima seraya mengeluarkan bendo tajamnya.
"A-apa aku boleh ke talang air disana!! Aku mau mengambil daun cincau yang menjalar sekitaran talang itu, mas. Sekalian cuci kaki.." Ujar ratna seraya menuding talang air dari bambu yang letaknya agak sedikit jauh, namun bima tetap bisa memperhatikannya dari tempat ia berdiri menebang pohon.
"Baiklah!! Tapi hati-hati.." ujar bima tegas.
Mendengar persetujuan suaminya, Ratna berjalan menghampiri talang air yang jernih itu. Namun sebelum itu, ia memetik daun cincau yang nantinya akan dibuat takjil cincau di rumah.
"Mmmmmhhh..." Ratna menunduk dan melihat tubuhnya, kotor. Memang menginjak tanah di hutan pasti akan membuatnya kotor. Dari telapak kaki hingga ke bajunya yang tipis, terdapat bercak tanah basah yang tinggal membekas.
Meskipun di hutan, Ratna memandang sekeliling memastikan tidak ada orang di sekitarnya. Selain suaminya yang tengah menebang pohon sonokeling.
Setelah yakin aman, Ratna melepas pakaian atas yang menutupi tubuhnya lalu mencucinya sedikit di genangan air talang.
Srekk..srekkk..
Disaat tengah asyik membersihkan pakaiannya, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara semak-semak.
"Pufthh?!" Ratna seketika menoleh kebelakang lalu melihat sekeliling.
Tak ada apa-apa. Ratna pun melihat ke arah bima yang masih menebang pohon tak jauh dari tempat ia duduk di dekat talang.
"Gulp.." Ratna menelan salivanya lalu lanjut membersihkan pakaiannya di talang air.
Gara-gara suara kresek-kresek tadi, jantungnya berdebar. Hembusan angin yang menggetarkan daun juga membuat bulu kuduknya berdiri merinding. Namun tetap memandang ke arah suaminya, ratna berusaha untuk tenang.
"Apa jangan-jangan suara binatang buas mengintai?!"
Ratna menggeleng menolak untuk percaya dugaannya. Namun suara itu persis seperti suara makhluk yang mengintainya di jendela dapur hingga membuatnya demam.
Tak mau berlama-lama. Ratna menyudahi membersihkan pakaiannya dan meletakkan baju basahnya ke keranjang dengan daun cincau yang sebelumnya ia cari.
Ratna hanya mengenakan kain jarik meliliti tubuh sintalnya. Meski usianya tak muda lagi, namun bentuk tubuh ratna masih terlihat segar dan menggoda iman.
Setelah selesai, Ratna lanjut mencari daun onje untuk perawatan RATUSnya. Ketika asyik mengumpulkan daun onje, sekali lagi ratna mendengar bunyi semak-semak bergesekan.
Sreek..sreekkk
Ratna sontak berbalik lagi ke arah suara itu. Bukan angin. Itu bukanlah angin yang menggoyangkan semak-semak. Kaki Ratna perlahan berjalan mundur, mode waspada.
"Gulp.." Ratna menelan kembali salivanya dan bersiap kabur, menghampiri suaminya. Kemungkinan terburuk adalah jika dibalik semak-semak itu, binatang buas yang tengah mengintai untuk memangsanya.
Kyah?!
Namun ketika hendak berbalik dan berniat menghampiri Bima yang tengah menebang kayu. Kaki Ratna terpeleset.
Bruk!! Gedebuk!!
"Arrghhhhh.."
Ratna terguling-guling jatuh dari dataran tinggi ke semak-semak.
"Uuugghh!!"
Tubuh mulusnya tergores ranting-ranting. Untung saja tidak terlalu parah.
"Aduhhh.." Ratna merangkak keluar dari semak-semak. Pakaiannya sedikit sobek, sama seperti luka gores di kulit yang mulai sedikit mengeluarkan darah.
Mendengar jeritan istrinya, Bima bergegas menghampiri arah suara istrinya berteriak. Siapa sangka ternyata di balik pohon tempatnya tadi mencari daun onje ada jurang yang cukup tinggi. Unting saja Ratna jatuh ke semak-semak sehingga tidak terluka parah.
Melihat istrinya kesakitan, Bima menolong dan membopong tubuh istrinya ala bridal style menuju tempat aman di bawah pohon.
"Puftt..puftthh.." Bima meniup-niup lutut serta siku istrinya yang terluka. Setelah membersihkan luka istrinya, Bima mengikatkan sobekan kain menutupi luka istrinya di lutut dan siku.
"Ini yang mas takutkan, mengapa mas tak mengizinkan mu, ke hutan.." tutur bima mengingatkan.
"Ma-maaf mas. Tapi, tadi ketika aku mencari daun onje ada suara di dekat semak-semak. Aku berfikir itu suara binatang buas tengah mengintai mencari mangsa, makannya aku berlari, eh malah terpeleset.." terang Ratna panjang lebar.
"Binatang buas?! Jika ada mungkin kita berdua sudah diterkam sejak tadi.." sahut Bima masuk akal.
Bima berlari ke arah posisi ratna terjatuh dan mengawasi suasana sekitar, barangkali binatang buas itu memang mengintai mereka. Setelah memperhatikan secara seksama, tak terdapat apa-apa.
Bima mengambil keranjang bambu penampung daun onje dan daun cincau juga baju basah istrinya yang ikut jatuh berserakan di tanah.
Bima memungut baju ratna dan memasukannya ke dalam keranjang lalu melangkah kembali menghampiri istrinya.
"Tidak ada apa-apa, aman.." tutur bima seraya meletakkan keranjang bambunya.
"Loh, kenapa hanya bajuku. Daun onje dan daun cincau yang sudah ku cari tidak kau pungut, mas??" Tanya Ratna hanya melihat baju basahnya saja di dalam keranjang.
"Sudah hancur berserakan, biar nanti aku mencarinya lagi untukmu.." sahut Bima menenangkan.
kalau buah kutilayu mungkin d tempat ku namanya buah klayu x ya. jd penasaran gambarnya kekmana
kasian ibunya elang.
burung gagak petanda akan meninggalnya ibu elang.
kasian Ratnya jiwanya d bawa pergi sm s luman d jd kan ratunya.
mari saling dukung
Salken ya...
Mampir yuk di novelku
GADIS TIGA KARAKTER