NovelToon NovelToon
Story' Of Blue Sky

Story' Of Blue Sky

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Fanfic
Popularitas:172.3k
Nilai: 5
Nama Author: Marcelina Andrian Putri

Sinopsis

Ini bukan kisah gadis cantik yang kaya raya dijodohkan dengan pria tampan nan rupawan yang juga orang kaya raya

Ini bukan cerita seorang preman sekolah tukang bully jatuh cinta dengan seorang gadis cupu berkacamata hitam tebal dengan rambut di kuncir dua

Ini bukan cerita seorang most wanted pria bertemu dengan gadis pindahan yang cantik seperti Dewi Fortuna

Ini bukan cerita badboys bertemu dengan gadis baik dan lugu

Ini bukan cerita pria mesum bertemu dengan gadis polos

Ini bukan cerita Cinderella yang di pakaikan sepatu kaca oleh pangeran

Ataupun seorang gadis yang ambisius berusaha meluluhkan hati pria dingin.

Ini cerita biasa, tentang kehidupan seorang gadis remaja yang tumbuh di lingkungan baru.

Tentang gadis yang hidupnya berubah 180 derajat, gadis biasa yang tidak terkenal di sekolahnya. Tidak terlalu cantik, biasa saja tidak ada yang menarik dalam dirinya. Namun siapa sangka ada hal yang selama ini gadis itu sembunyikan, juga tentang cinta dan cita yang melekat dalam romansa persahabatan. Tentang aku dan kamu yang terikat namun beranggapan tidak bisa bersama. Ingat di bukan kisah putri seperti kartun Disney yang sering kalian tonton.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcelina Andrian Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Story' Of Blue Sky 12

Setelah perdebatan panjang yang menyatakan bahwa Biru menolak Langit mengantarnya kini mereka berdua telah sampai di pasar tradisional di kota Bandung. Langit melakukan itu semata-mata hanya ingin berterima kasih kepada Biru karena telah menolongnya kemarin malam.

"Lo mau gue temenin nggak belanjanya?" Tanya Langit ketika mereka sudah memasuki area parkir kendaraan.

"Nggak usah gue bisa sendiri" ucapnya menolak.

"Fiks gue temenin" ucapnya kemudian berjalan mendahului Biru yang tercengang.

******

"Pak minta bawang merah sekilo" ucap Biru kepada penjual sayur itu.

Setelah bapak itu menimbang bawang Biru memberikan uangnya.

"Siapa atuh aak di sebelah neng?" Tanya penjual itu kepada Biru.

"Sok atuh kenalin ke bapak, biasanya neng Biru sendirian ke sini kalo nggak sama bunda trus aak kasep teh saha?" Tanyanya lagi.

Sontak saja Biru tercekat kaget dengan pertanyaan bapak penjual itu.

"Eh teman Biru kok pak. Dia memang lagi dapat survei tugas liat pasar daerah untuk ngisi jurnal" lanjut Biru berbohong.

"Oh mau neliti pasar tradisional. Memang sih neng banyak banget anak sekolah lagi neliti pasar" lanjut bapak itu memberikan uang kembaliannya ke Biru.

"Makasih neng" ucap bapak itu.

"Sama-sama, pak Biru duluannya"  pamitnya kemudian berjalan menjauhi kios bapak itu.

"Jadi asli Lo itu tukang bohong?".

"Ish nggak lah, Lo pikir gue tukang bohong gara-gara tadi. Ya nggak lah dari pada tu pak Beno mikir yang nggak-nggak tentang Lo dan gue jadi gue bilang aja kek gitu" lanjutnya berjalan menuju penjual kue cubit.

"Pak kue cubit 20 ribu" ucapnya kemudian mereka duduk di bangku panjang yang di sediakan untuk pembeli.

"Lo suka kue cubit?" Tanya Langit kepada Biru.

"Lo tau kue cubit?" Ucapnya balik bertanya.

"Nggak sih gue baca di staling itu" katanya menunjuk ke arah bacaan kue yang di tempel di depan kaca staling.

"Oh, ya gitu deh. Alasan kenapa gue mau di suruh bunda belanja karena gue dapet komisi 30 ribu. Dan uang itu sih buat beli kue cubit sama beli minuman" lanjutnya.

"Eh Lo pernah makan kue cubit nggak?" Tanyanya ke Langit.

"Em gue nggak pernah makan begituan" lanjutnya kikuk.

"Sumpahhh" ucap Biru sedikit berteriak, sehingga membuat orang-orang yang sedang berlalu lalang di pinggiran jalan dan penjual kue cubit menoleh ke arah dirinya.

"Mulut Lo pelanin dikit ntar dikira gue ngapa-ngapain Lo lagi" kata Langit memberikan sinyal agar mulut Biru mengurangi oktaf suaranya.

"Lagian Lo, masa sih nggak pernah makan beginian. Nah sekarang Lo makan" lanjutnya memberikan satu potong kue cubit itu ke Langit.

"Nggak ah ogah" tolaknya mentah-mentah.

"Langit makan, Lo harus cicip ini. Kue cubit ini makanan terenak di dunia. Makan gih, aaaaaaaa" ucapnya menyodorkan kue itu ke arah mulut Langit.

"Enggak mau---" belum sempat Langit menjauhkan mulutnya kue cubit itu di suapkan langsung oleh Biru ke mulutnya.

"Sekarang Lo kunyah, dan Telen" lanjutnya.

Langit pun menelan kue itu. Rasanya enak sekali seumur hidupnya ia belum pernah makan kue pinggiran jalan apalagi rasanya seenak ini.

"Gimana enak kan?" Tanya Biru kepada Langit.

"Enggak biasa aja" ucapnya berbohong ia tak mungkin mengatakan bahwa kue cubit itu sangat enak karena tadi dirinya sendirilah yang menolak di tawari makan kue cubit oleh Biru.

"Oh gitu, yaudah" ucapnya kemudian melanjutkan makan kue cubit dengan gembira.

Langit yang melihat ekspresi bahagia dari raut wajah Biru tersenyum dalam hati "Segitu bahagianya dia cuma makan kue cubit pinggiran jalan" batinnya tak habis pikir.

Saat Langit sedang memandangi ekspresi Biru yang kesenangan makan kue cubit. Sebuah dering ponsel dari dalam saku jaket menghentikan aktivitas nya memandangi wajah rivalnya itu.

"Angkat dulu Lang, siapa tahu penting" perintah Biru pada Langit.

Langit menganguk kemudian berjalan menjauhi keramaian tempat jualan kue cubit ia bergeser ke arah parkiran motor dan mengeluarkan ponselnya.

Om Farhan

Ucapnya setelah membaca nomor yang menelpon dirinya. Ada rasa malas dalam dirinya kenapa om Farhan menelepon dirinya disaat hubungannya dengan Sabrina sudah berakhir. Namun ia masih ingin berlaku sopan terhadap mantan calon mertuanya itu karena bagaimanapun om Farhan sudah ia anggap sebagai papanya sendiri disaat papa kandungnya sibuk dengan bisnis nya di Chicago.

"Halo om ada apa?" .

"Halo Langit tolong cepat kamu ke rumah sakit sekarang, Bina masuk rumah sakit" Perintah suara dari sebrang sana.

Langit mendengus kasar setelah telpon itu berakhir. Dengan malas namun sedikit khawatir ia berjalan ke arah Biru yang selesai memakan kue cubitnya. Biru melihat ekspresi sedih dan kecewa dari raut wajah Langit yang sebelum menerima telpon tampak baik-baik saja.

"Bir sorry gue nggak bisa ngater Lo balik. Gue ada urusan" lanjut Langit.

Biru tersenyum "gapapa kok yaudah sana, gue bisa balik sendiri. Btw thanks Lo udah nganterin sampe nemenin gue belanja" ucap Biru.

Langit menganguk kemudian pergi meninggalkan Biru sendirian di pasar tradisional itu.

*******

"Kenapa Bina bisa kayak gini om?" Tanya Langit ketika mereka sudah berada di ruangan presiden residen VVIP tempat Sabrina di rawat.

"Om nggak tau pastinya Lang, om dengar kabar dari Maid kalo Bina minum obat tidur dengan dosis tinggi sampe dia overdosis" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.

"Yang sabar om" ucap Langit berusaha menenangkan om Farhan.

"Om, selalu berharap Bina hidup sehat bisa tumbuh dewasa dan menikah. Setelah om kehilangan ibunya yang kecelakaan sewaktu Bina masih balita. Bina yang belum mengerti arti keluarga hanya bisa menagis melihat ibunya meninggal karena melindungi dirinya. Ibunya berpesan sama om kalo om harus jaga dan rawat Bina jangan buat dia sampe terluka jangan buat apa yang udah ibunya korbankan untuk dirinya sia-sia" lirihnya lagi.

Langit yang mendengar cerita itu hanya bisa tersenyum "segitu sayangnya kah om Farhan ke Bina" batinnya.

"Om yang sabar ya. Cukup berdoa pasti Bina bisa melalui masa kritisnya" lanjut Langit berusaha memberikan semangat untuk om Farhan.

"Lang, om mohon sama kamu jangan pernah tinggalkan Bina ya. Tolong jaga Bina om minta maaf atas kesalahan yang pernah Bina perbuat ke kamu. Bina cuma punya om dan kamu kalo om udah nggak bisa jagain dia tolong gantikan posisi om ya" pinta om Farhan kepada langit. Langit terhenyak ketika om Farhan berbicara seperti itu kepada dirinya menjaga Sabrina disaat hubungan mereka sudah berakhir.

"Saya nggak bisa om" ucapnya menolak permintaan om Farhan.

"Saya tahu kamu baru putus dengan putri saya. Tapi saya tidak bisa terus bersama dengan dia. Saya menderita penyakit jantung dan waktu saya mungkin tidak banyak lagi" lanjutnya.

"Saya mungkin tidak bisa terus menemani Bina sampai ia dewasa dan berkeluarga jadi saya mohon tolong jaga Bina untuk saya" lanjutnya lagi.

Langit terkejut dengan penuturan om Farhan namun ia berusaha menutupi rasa keterkejutanya itu.

"Kamu mau kan Lang?" Tanyanya lagi.

"Iya om" ucapnya ragu. Om Farhan tersenyum tenang mendengar ucapan Langit "Saya sangat berterima kasih".

1
Anonim
cerita yg "biasa"...mlh asyik bacany
Daryanti Sulanjari
mpe lupa nama2 karakter di sini saking lama
kenzha
apalagi ini😭
ksian langit biru kapan bahagianya
kenzha
thor.. apa bnr yg dblg Farel klo langit sprt itu k adx ny Farel
jgn deh.... aq hrp itu hny slah pahamnya Farel atw hny akal2an Farel biar biru bnci langit
kenzha
aq mah ogak sama org kyak Farel wlpn dy ada slma 10th.....
Weli Ani
lanjut
Weli Ani
semangat thor ceritanya bagus
Anita Ria
semangat ya thor... pasti bisa 😊
kenzha
smngat thor
aq kawal langit biru smpai sah😁
Anita Ria
Semangat trus thor 👍👍
kenzha
lanjut thor.....
Nur Anisah Anto
awan mana
Dewi Yanti
nyesek sumpah thorrr bacanya😭😭😭😭
Dewi Yanti
nyesek banget njirrr bacanya😥😥
💞Aulia Adriani💕
semangat
kenzha
wih. yg dtunggu2...... lanjut thor aq setia mnunggu
Celinee
makasih ya readers peluk online dari anak Palembang;)
Mirdhawati mirdha
rindu dgn kelanjutan.y
Yhou Ann Yhoung Anninie
lanjut aja dikit" gpp thor 👍
Neno
g pa2 thor,yg penting ceritax lanjut,semangat💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!