NovelToon NovelToon
Efisiensi Kaum Rebahan

Efisiensi Kaum Rebahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.

​Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.

​Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.

​Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.

​Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 12

Arga yang sudah rapi dengan kemejanya mendadak menghentikan langkah di dekat meja. Ia baru teringat bahwa ponselnya sudah ia matikan sejak di Jakarta demi menuruti ancaman Mamah Mira.

Pria itu memutar tubuh, menatap Kinan yang sedang asyik merebahkan tubuhnya di atas kasur.

"Kinan, pinjam ponselmu sebentar," ujar Arga.

Kinan menaikkan sebelah alisnya. "Ponsel saya? Untuk apa, Pak CEO?"

"Ponsel saya mati. Saya harus menghubungi Evan untuk urusan pekerjaan," sahut Arga seraya mengulurkan tangannya.

Kinan tidak ambil pusing. Ia merogoh tas kecilnya, mengambil ponsel miliknya, lalu menyerahkannya pada Arga. "Jangan dipakai main game, ya. Baterainya tinggal sedikit."

"Saya tidak se-senggang itu," balas Arga datar.

"Hump... kamu aja yang ga tahu kalau di dalam ponsel saya banyak game seru."

Arga tidak menggubris ucapan Kinan. Ia menerima ponsel itu, lalu jemarinya dengan cepat mengetikkan nomor telepon Evan yang sudah ia hafal di luar kepala. Pria itu menempelkan ponsel Kinan di telinganya, melangkah pelan menuju jendela kamar sembari menunggu sambungan terhubung.

"Halo? Ini siapa?" suara Evan terdengar dari seberang telepon.

"Ini saya, Arga. Saya pakai nomor Kinan," ucap Arga. "Evan, pastikan berkas audit dari tim Singapura sudah ada di tanganmu sebelum kita turun ke lounge. Kita tidak punya banyak waktu..."

Bzzzt... Bzzzt...

Kalimat Arga mendadak terhenti. Getaran panjang terasa di telapak tangannya. Arga menjauhkan ponsel itu dari telinganya untuk melihat layar.

Sambungan teleponnya dengan Evan mendadak teralihkan oleh sebuah panggilan masuk yang memotong layar. Sebuah nama terlihat jelas di sana.

Danu is calling...

Dahi Arga seketika berkerut. Tatapannya tertahan pada nama pria itu. Belum sempat Arga merespons, panggilan itu terputus, namun selang dua detik kemudian, nama yang sama kembali memanggil untuk kedua kalinya.

Arga memutar tubuhnya perlahan. Yang ia lihat, Kinan sedang berguling-guling santai di atas kasur mewah itu, berpindah dari ujung ranjang ke ujung ranjang lainnya dengan wajah yang sangat menikmati.

Melihat panggilan dengan Evan yang sudah terputus, Arga melangkah mendekati tempat tidur, menyodorkan ponsel di tangannya.

"Terima kasih, Ponselnya" ujar Arga.

Kinan yang masih sibuk berguling hanya menjawab tanpa menghentikan aksinya, "Taruh saja di atas nakas, Pak."

Arga menaruh ponsel itu di atas nakas. Pria itu mengamati tingkah Kinan beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan kepala.

"Saya tidak tahu kalau kamu Senorak ini, Kinan," celetuk Arga.

Kinan yang mendengar ledekan itu sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia justru menjawab santai sembari terus berguling pelan dari kiri ke kanan. "Saya lagi terapi tahu, Pak. Ini terapi yang sudah saya teliti sendiri untuk menghilangkan pegal di kaki dan supaya cepat tertidur karena lelah berguling-guling."

Arga mendengus pelan, benar-benar tak habis pikir dengan logika ajaib wanita di hadapannya.

"Penelitian kamu itu sungguh konyol, Kinan," balas Arga dingin, walau sudut matanya berkedut menahan geli. "kamu tahu saya justru melihatnya seperti apa?"

"Kamu itu, terlihat persis seperti panda yang sedang rebutan bambu, tahu tidak?"

Kinan tidak menggubris ledekan itu. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis. "Terserah kamu saja, Pak CEO. Yang jelas saya sudah membuktikan metode ini bertahun-tahun," sahutnya santai.

Arga yang mulai jengah, akhirnya berdeham dan bersuara. "Tadi Danu menelpon."

Deg.

Seketika itu juga, Kinan refleks berhenti berguling. Gerakannya terdiam di tengah ranjang.

Ia bangun dan langsung menyambar ponselnya di atas nakas, membalas tatapan Arga dengan wajah yang mendadak berseri-seri dan mata berbinar antusias. "Kenapa nggak bilang dari tadi, Pak?"

Hening seketika.

Arga berdiri terdiam di samping ranjang, menatap perubahan ekspresi drastis Kinan dengan rahang yang perlahan mengencang.

"Kamu tunggu apa lagi, Pak CEO? Udah sana pergi... Katanya mau rapat? Waktu adalah uang, bukan?"

Arga yang semula bermaksud melangkah pergi menuju pintu, mendadak memperlambat gerakannya. Ia berpura-pura merapikan kancing lengan kemejanya di depan cermin, padahal sepasang mata dan telinganya sibuk memperhatikan gerak-gerik wanita di atas kasur itu.

Arga sempat tertegun sebab ini pertama kalinya sejak ia mengenal kinan. Ia melihat wanita itu ternyata punya energi lebih. Di tambah wajahnya yang biasanya terlihat santai dan terkesan tidak punya semangat hidup itu kini dipenuhi binar ceria.

"Danu! Parah banget lu ya, acara nikahan sahabat sendiri malah nggak dateng!" cerocos Kinan begitu sambungan Video call terhubung.

Dari balik layar, terlihat Danu sedang berdiri di sebuah toko elektronik di salah satu mall Jakarta. Dengan latar belakang deretan mesin kopi premium yang terlihat jelas di belakang tubuhnya.

Danu terkekeh pelan. "Ya sorry, Kin... Klien proyek branding yang dari Surabaya mendadak majuin jadwal kaji ulang file cetaknya. Mana bisa gue tinggal? Kalau file-nya masalah atau warna cetaknya belang, bisa Amsyong proyek agensi kita."

"Ya tapi kan tetep aja..." Kinan mengerucutkan bibirnya berpura-pura merajuk.

"Sebagai gantinya, nih, gue lagi di mall," ujar Danu mengarahkan kamera ponselnya ke arah deretan mesin kopi. "Gue mau beliin kado nikahan. Lu mau mesin kopi yang mana? Yang kapsul apa yang manual? Gue tahu banget kelakuan lu kalau lagi dapet proyek ilustrasi suka kalap minum kopi pas deadline."

Kinan tertawa lepas, matanya berbinar. "Wah, emang lu ngertiin gue banget, Nu! Yang kapsul aja deh, praktis nggak usah ribet bersihin ampasnya pas lagi kejar revisi."

Arga yang masih pura-pura merapikan kancing lengan kemejanya di dekat cermin mendadak berdeham pelan. Tanpa menoleh penuh, ia bersuara dengan nada datar.

"Di rumah saya ada mesin kopi yang jauh lebih mahal dan canggih, Kinan. Kamu tidak perlu barang murahan," cetus Arga.

Kinan yang mendengar itu refleks menoleh, menyadari Arga yang ternyata masih berdiri di tempatnya. Sudut bibir Kinan terangkat jahil.

"Eeeh... Anda belum pergi juga, Pak CEO?" ledek Kinan. "Itu kan punya Anda, Pak. Nah, yang ini kan punya saya sendiri."

Arga mengencangkan rahangnya. Tanpa membalas ucapan Kinan, pria itu menyambar jas kerjanya yang tersampir di atas kursi. Saat melangkah melewati sisi tempat tidur menuju pintu keluar, pasang mata Arga sengaja mencuri pandang ke arah layar ponsel yang dipegang Kinan.

Dalam hitungan detik, mata Arga menilai tampilan Danu dari layar.

Wajah biasa. Gaya rambut bahkan berantakan. Postur tubuh... Biasa saja.

Arga menarik napas pendek, menegakkan postur tubuhnya, lalu menyunggingkan senyum. Ternyata masih kalah jauh dibanding saya. batin Arga sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu kembali.

Danu memindahkan sudut kameranya. Ia berjalan menuju area yang lebih sepi di sudut mall, lalu memelankan suaranya.

"Nan... lu beneran di Singapura berdua doang sama dia?" tanya Danu dengan nada yang mendadak serius. "Lu... nggak beneran tidur sekamar sama dia, kan? Lu ingat perjanjian lu, kan?"

1
Alyaaa_Lryyy.
apa sih danu kepo amat sama yang udh nikah😒😒
Alyaaa_Lryyy.
cemburu nih cerita nya si argaa🤭
Alyaaa_Lryyy.
danu lo ganggu banget sih😭😒
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
nyesel pasti. enak banget malam malam makan martabak hangat
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aku ngiler Thor
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dah nan makan sendiri aja
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah enggak jadi seneng deh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Surga dunia ya nan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah mirip rumah aku dong.
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
hua aku rindu suasana bandara Soekarno Hatta. udah bertahun-tahun enggak ke sana
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
enggak penasaran kah kamu Ga?
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasih gps ga
Alyaaa_Lryyy.
serah kamu kinan yang penting kmu bahagia🤭🤭
Alyaaa_Lryyy.
arga seperti nya ada dendam pribadi deh, kinan di skat mulu😭🤭
RahmaYesi
gak cemburu kan kamu Kinan? gak lah ya. toh kamu juga kan yg dinikahi Arga. mantan mah apa, masa lalu yg gak penting juga 🤣
RahmaYesi
gak apa-apa Bik, buka aja semuanya 😅
RahmaYesi
oh ada barang peninggalan mantan juga toh....
RahmaYesi
kurir ternyata yg datang syukur deh 😅
Hs Mochi
wkwkwk.. sini bi, aku bantuin. aku tarik yaa bibirnya
Hs Mochi
iiish si bibi. nyeplos aja dah ah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!