Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tukar nasib yang menyakitkan
Dua hari setelah insiden pelunasan utang di bengkel, sebuah taksi berhenti di depan rumah Farhan tepat saat maghrib usai. Alya keluar dengan langkah terburu-buru. Wajahnya sembap, kerudungnya sedikit berantakan, dan ia hanya membawa tas tangan kecil. Begitu Alika membuka pintu, Alya langsung memeluk kembarannya itu dan tangisnya pecah seketika.
"Ada apa, Al? Ayah memukulmu?" tanya Alika panik, menuntun kakaknya masuk ke ruang tengah.
Farhan yang baru saja melipat sajadah di ruang tamu segera mendekat. Ia memberikan isyarat pada Ummi Salamah untuk mengambilkan air minum. Setelah Alya sedikit tenang, ia mulai bercerita dengan suara yang masih bergetar.
"Ayah... Ayah menjodohkanku dengan Pak Broto," bisik Alya.
Alika mematung. "Pak Broto? Pemilik pabrik tekstil yang usianya hampir sama dengan Ayah itu? Yang istrinya baru meninggal tahun lalu?"
Alya mengangguk lemas. "Bisnis Ayah sedang hancur, Alika. Beberapa investasi besarnya gagal total sebulan terakhir. Pak Broto menawarkan suntikan modal besar, tapi syaratnya dia ingin memperistri aku. Ayah langsung setuju tanpa bertanya padaku. Katanya, ini adalah penebusan karena aku gagal menikah dengan Farhan."
Kemarahan menjalar di dada Alika. Ia mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. "Gila! Ayah benar-benar sudah gila! Dia menjualmu hanya karena uang?"
"Ayah bilang aku anak yang berbakti, tidak seperti kamu. Dia bilang kalau aku menolak, aku sama saja dengan menghancurkan martabat keluarga yang sudah susah payah dia bangun," lanjut Alya dengan isak tangis yang tertahan. "Aku tidak tahu harus ke mana lagi. Ibu cuma bisa menangis dan tidak berani membela."
Alika menoleh ke arah Farhan. Suaminya itu mendengarkan dengan raut wajah yang sangat serius. Farhan tidak langsung memaki atau emosi, ia tampak sedang menimbang setiap kata yang diucapkan Alya.
"Kapan pernikahan itu direncanakan?" tanya Farhan lugas.
"Minggu depan, Farhan. Ayah bilang tidak perlu ada pesta besar, yang penting sah dan modal usaha segera cair," jawab Alya. "Aku takut. Pak Broto itu orangnya kasar, aku pernah dengar cerita dari karyawannya."
Alika berdiri dari duduknya. "Kamu tidak boleh pulang ke rumah itu, Al. Kamu tinggal di sini saja. Biar aku yang bicara pada Ayah."
"Jangan, Alika! Ayah pasti akan menyeretmu juga kalau kamu ikut campur," cegah Alya ketakutan.
Farhan berdiri, meletakkan tangannya di bahu Alika untuk menenangkannya. "Alika benar, Alya bisa tinggal di sini untuk sementara. Tapi bersembunyi bukan solusi jangka panjang. Ayahmu punya hak wali secara hukum dan agama. Kita harus menghadapinya secara jantan."
Malam itu, suasana rumah Farhan menjadi markas diskusi yang tegang. Alika merasa dunianya seolah terbalik. Dulu, ia adalah orang yang selalu dianggap membawa masalah, sementara Alya adalah simbol kedamaian. Sekarang, ia berdiri sebagai orang yang memiliki perlindungan, sementara Alya menjadi korban dari ambisi ayahnya sendiri.
"Farhan, apa kita bisa membantu keuangan Ayah agar perjodohan ini batal?" tanya Alika penuh harap.
Farhan menggeleng pelan. "Uang tujuh juta untuk utangmu kemarin adalah tabungan operasional bengkel yang bisa saya putar kembali. Tapi modal bisnis untuk menyelamatkan perusahaan Ayahmu itu jumlahnya pasti miliaran. Saya tidak punya uang sebanyak itu, Alika. Dan jujur saja, memberi uang kepada orang yang menjual anaknya hanya akan memperburuk keadaan."
"Lalu kita harus bagaimana? Membiarkan Alya menikah dengan kakek-kakek itu?" suara Alika meninggi.
"Kita akan ke rumah Ayahmu besok pagi," tegas Farhan. "Saya akan bicara sebagai menantunya. Kita tawarkan solusi lain. Alya bisa bekerja di kantor cabang salah satu rekan bisnis saya, atau kita cari bantuan hukum jika ada unsur paksaan yang melanggar haknya sebagai wanita."
Alika menatap Farhan dengan rasa kagum yang makin dalam. Suaminya tidak hanya menyelamatkannya dari jalanan, tapi sekarang bersiap melawan mertuanya sendiri demi keadilan bagi Alya.
Keesokan paginya, mereka bertiga berangkat menuju rumah orang tua Alika. Sepanjang jalan, Alya hanya menunduk dan berdzikir, sementara Alika menggenggam tangan kakaknya erat-erat. Begitu sampai di halaman rumah, mobil Ayah sudah terparkir. Suasana rumah terasa sangat sunyi, namun mencekam.
Ayah keluar dari pintu depan dengan wajah merah padam begitu melihat Alya berada di antara Farhan dan Alika.
"Berani-beraninya kamu membawa lari anak saya, Farhan!" teriak Ayah tanpa basa-basi. "Alya, masuk ke dalam sekarang! Kamu sudah punya janji dengan Pak Broto!"
Farhan melangkah maju, berdiri paling depan melindungi kedua wanita di belakangnya. "Ayah, saya datang bukan untuk mencari keributan. Saya datang untuk bicara soal masa depan Alya. Pernikahan bukan transaksi bisnis, Ayah. Allah tidak meridhai orang tua yang memaksa anaknya menikah hanya untuk menutupi hutang."
"Tahu apa kamu soal bisnis?! Kamu cuma tukang bengkel!" Ayah menunjuk wajah Farhan. "Gara-gara kamu memilih Alika, rencanaku berantakan. Sekarang biarkan aku memperbaiki semuanya dengan caraku!"
Alika tidak tahan lagi. Ia keluar dari belakang punggung Farhan. "Ayah! Lihat aku! Ayah bilang aku sampah, tapi lihat siapa yang sekarang bertindak seperti sampah? Ayah menjual Alya! Anak yang selalu patuh pada Ayah, anak yang tidak pernah membantah sepatah kata pun. Apa Ayah tidak punya hati?"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Alika. Ayah napasnya memburu, matanya melotot. Farhan segera menarik Alika ke belakangnya, tatapan matanya yang biasanya teduh kini berubah menjadi sangat tajam dan dingin.
"Cukup, Ayah," suara Farhan merendah namun sangat menekan. "Tangan Ayah tidak boleh lagi menyentuh istri saya. Dan mulai hari ini, Alya berada di bawah perlindungan saya. Jika Ayah tetap memaksa menjodohkannya dengan cara yang tidak sah secara agama—tanpa keridhaan mempelai wanita—maka saya tidak akan segan-segan membawa masalah ini ke pengadilan agama dan melaporkan tindak kekerasan ini."
Ayah tertegun. Ia tidak menyangka menantunya yang pendiam itu berani mengancamnya dengan hukum. Di ambang pintu, Ibu hanya bisa menangis sesenggukan, menutup mulutnya dengan daster.
"Pergi kalian semua dari sini! Jangan pernah anggap aku Ayah lagi!" usir Ayah sambil membanting pintu depan hingga kaca jendelanya bergetar.
Mereka bertiga kembali ke mobil. Alika memegangi pipinya yang panas, namun hatinya merasa lega. Alya menangis di kursi belakang, tapi kali ini bukan tangis ketakutan, melainkan tangis syukur karena beban berat itu setidaknya sudah terangkat sedikit.
"Kita pulang," kata Farhan sambil menyalakan mesin mobil. "Alya, kamu aman bersama kami."
Hari itu, Alika menyadari satu hal: terkadang, untuk menjadi sholehah, seseorang juga harus memiliki keberanian untuk melawan kezaliman, meskipun itu datang dari orang tuanya sendiri.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...