NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang?

Kamar itu terlalu luas, terlalu sunyi, dan terlalu sempurna untuk disebut sebagai tempat pemulihan.

​Sinar matahari sore yang keemasan menerobos masuk melalui jendela kaca raksasa setinggi langit-langit, menyinari lantai marmer impor yang berkilau tanpa setitik debu pun.

Di tengah ruangan, sebuah ranjang berukuran king-size dengan tiang-tiang kayu jati berukir klasik dan kelambu sutra putih tampak seperti sebuah takhta yang megah. Namun bagi Kayna, tempat ini terasa seperti sebuah sangkar emas yang perlahan-lahan mengimpit pernapasannya.

​Kayna menyentuh pelipisnya yang masih dibalut perban tipis. Kepalanya masih kerap berdenyut nyeri setiap kali ia mencoba mengingat sesuatu—apa saja—tentang dirinya sendiri. Kosong. Lembaran ingatannya seperti dihapus bersih oleh kecelakaan tragis yang menimpanya beberapa minggu lalu.

​Pintu kamar itu terbuka tanpa suara.

​Damara masuk dengan langkah kaki yang tenang namun dominan. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan perak berisi semangkuk sup hangat dan segelas susu.

​"Bagaimana perasaanmu, sayang? Kepalamu masih sakit?" suara Mara terdengar begitu rendah, lembut, dan penuh perhatian saat ia duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Kayna.

​Kayna menatap mata abu-abu itu. Ada kehangatan yang tampak begitu tulus di sana, tetapi di saat yang sama, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Kayna meremang tanpa alasan yang jelas.

Mengapa setiap kali pria ini menyentuhnya, tubuhnya secara tidak sadar ingin menjauh? Mengapa ada alarm bahaya yang berteriak di dalam kepalanya, padahal pria di hadapannya ini adalah tunangan yang sangat ia cintai?

​"Aku... aku baik-baik saja, Pak Mara—maksudku, Mara," sahut Kayna gugup, segera meralat panggilannya saat melihat kilatan dingin yang sempat melintas di mata pria itu sebelum kembali mencair menjadi kelembutan.

​Mara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sanggup meluluhkan hati jutaan wanita di luar sana. Ia meletakkan nampan di meja nakas, lalu jemari tangannya yang kokoh dengan lembut merapikan anak rambut Kayna yang menghalangi wajah cantiknya.

​"Jangan memanggilku seformal itu, Kayna. Kita sudah melewati banyak hal hingga akhirnya bisa bersatu. Panggil aku seperti biasa... seperti saat kita hanya berdua," bisik Mara, suaranya seperti hipnotis yang menenangkan sekaligus mengikat.

​"Maafkan aku," lirih Kayna, menundukkan kepalanya. "Aku hanya... merasa sangat frustrasi karena tidak bisa mengingat apa-apa. Bahkan ketika Ibu dan Ayah mengantarku ke sini tadi pagi, aku merasa seperti orang asing di tengah-tengah kalian."

​Mara menghela napas panjang, memasang raut wajah penuh simpati dan kepedihan yang sangat meyakinkan. Ia meraih kedua tangan Kayna, menggenggamnya dengan begitu protektif.

​"Kecelakaan itu hampir merenggutmu dariku, Kayna. Hari ketika mobilmu tergelincir adalah hari paling hitam dalam hidupku," Mara menjeda kalimatnya, matanya menatap Kayna dengan tatapan obsesif yang dibalut topeng cinta yang mendalam. "Dokter bilang, ingatanmu akan pulih perlahan. Tapi untuk sekarang, prioritas utamaku adalah keselamatanmu. Di luar sana, media dan saingan bisnisku tidak akan membiarkanmu istirahat dengan tenang. Di mansion ini, kamu aman. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau mengganggumu."

​"Tapi... apakah kita benar-benar saling mencintai sebelum ini?" Tanya Kayna, menyuarakan keraguan terbesar yang terus menggerogoti hatinya. "Mengapa aku merasa... bahwa kita ini asing?"

​Mara tidak terkejut dengan pertanyaan itu. Ia sudah mengantisipasi bahwa insting alami Kayna yang membencinya di masa lalu tidak akan hilang begitu saja meski memorinya terhapus.

Namun, seorang Damara Lexander Veldens tidak akan membiarkan kebohongan yang telah ia susun dengan rapi runtuh begitu saja.

​Mara merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah bingkai foto perak kecil yang tampak mewah. Ia menyerahkannya kepada Kayna.

​"Jika kamu tidak mempercayai kata-kataku, lihatlah ini," ujar Mara lembut.

​Kayna menerima bingkai foto tersebut. Matanya langsung melebar menatap gambar di dalamnya.

​Di dalam foto itu, berlatar belakang jendela kaca raksasa sebuah mansion mewah yang menampilkan kerlip lampu malam kota Jakarta yang buram, berdiri dirinya dan Mara. Kayna tampak begitu anggun mengenakan gaun warna putih yang mewah, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah dan kulitnya yang bersih.

Sementara itu, Mara berdiri tepat di belakangnya, mengenakan setelan hitam premium, dengan kedua tangan yang melingkar posesif di pinggang ramping Kayna.

​"Ini... foto pertunangan kita?" bisik Kayna, menyentuh permukaan kaca foto tersebut.

​"Ya. Malam itu adalah malam terindah dalam hidup kita," dusta Mara tanpa berkedip sedikit pun. "Kamu terlihat sangat anggun malam itu, meskipun kamu terus mengeluh karena gugup menghadapi begitu banyak tamu penting. Kamu bahkan memintaku untuk terus memelukmu seperti di foto itu agar kamu tidak gemetar di atas panggung."

​Kayna menatap wajahnya sendiri di foto itu. Ekspresi wajahnya memang terlihat kaku dan dingin, tidak tersenyum. "Tapi... mengapa aku tidak tersenyum di sini? Aku terlihat... tidak bahagia."

​Mara terkekeh pelan, sebuah tawa manipulatif yang terdengar begitu meyakinkan. Ia mengusap pipi Kayna dengan ibu jarinya. "Itu karena kamu sedang menahan tangis haru, sayang. Sesaat sebelum foto ini diambil, aku baru saja menyematkan cincin berlian peninggalan nenekku di jarimu. Kamu sangat emosional malam itu. Dan lihat bagaimana aku menatapmu... apakah kamu melihat ada kebohongan di mataku?"

​Kayna menatap mata Mara di dalam foto tersebut. Di sana memang terpancar tatapan yang sangat intens, penuh pujaan, dan kepemilikan yang mutlak. Kayna tidak tahu bahwa tatapan itu bukanlah cinta yang sehat, melainkan obsesi gelap seorang pria yang tidak pernah menerima kata 'tidak' dalam hidupnya.

​"Ibu dan Ayahmu juga ada di sana malam itu," lanjut Mara, memperkuat kebohongannya dengan membawa nama orang tua Kayna. "Mereka menangis bahagia melihat kita akhirnya bertunangan. Liliana, ibumu, bahkan memelukku dan menitipkanmu sepenuhnya kepadaku. Mereka tahu seberapa besar aku mencintaimu, Kayna. Itulah sebabnya mereka dengan sangat sukarela membiarkanmu tinggal di sini bersamaku untuk masa pemulihanmu."

​Mendengar nama kedua orang tuanya disebut, keraguan di hati Kayna perlahan mulai goyah. Jika kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya saja setuju dan memercayakan dirinya di bawah pengawasan Mara di mansion pribadi ini, maka semua keraguannya pasti hanyalah akibat dari trauma pasca-kecelakaan.

​"Apakah... aku benar-benar mencintaimu sebelum amnesia ini terjadi?" tanya Kayna lagi, suaranya kini terdengar lebih rapuh, seolah menyerahkan dirinya pada narasi yang dibangun oleh Mara.

​Mara mendekatkan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Kayna bisa merasakan embusan napas pria itu yang hangat namun terasa mencekik.

​"Kamu sangat mencintaiku, Kayna. Kamu bahkan berjanji tidak akan pernah meninggalkanku, apa pun yang terjadi," bisik Mara tepat di depan bibir Kayna. "Dan sekarang, aku memegang janji itu. Kamu adalah milikku, dan selamanya akan tetap seperti itu."

​Kayna memejamkan matanya saat bibir Mara menyentuh keningnya dengan lembut namun posesif.

Ia tidak melihat seringai kemenangan yang terukir di wajah tampan pria blasteran Belanda itu. Seringai dingin seorang predator yang berhasil mengurung mangsa paling berharga ke dalam sangkar emasnya.

...●Bersambung●...

1
Putri💅🏻💅🏻
bagus banget
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!