NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Venom Ink Studio

Malam mulai menyelimuti kota.

Di sebuah gang yang tak jauh dari pusat keramaian, sebuah studio tato baru masih dipenuhi pelanggan. Meski baru tiga bulan dibuka, tempat itu sudah dikenal karena hasil tatonya yang sangat detail dan nyaris tampak hidup.

Ting...

Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan.

Seorang pria bertubuh tinggi memasuki ruangan. Ia mengenakan jaket hitam dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya.

"Selamat datang!" Seorang gadis cantik di balik meja kasir langsung menyambutnya dengan senyum ceria.

"Mau ditato seperti apa?" tanya wanita itu.

"Ular." Pria itu mengangkat pandangannya. "Bisa ganti pakaian lo jadi lebih tertutup?"

"Hah?"

"Mata gue sakit."

Gadis itu melihat pakaiannya sendiri, tank top hitam pas badan yang dipadukan dengan celana jeans panjang berpotongan high waist.

'Pelanggan aneh! bisa-bisanya dia sakit mata gara-gara pakaian ku. Memangnya ada ya manusia seperti itu? Gak masuk logika.' batinnya kesal.

"Gue ganti dengan jaket aja, boleh?" tanya wanita itu.

"Terserah," jawab pria itu dengan nada datar.

'Buset... Dingin banget yaa'

Wanita itu mengangguk antusias lalu menggunakan jaket hitamnya.

"Silahkan duduk. Ular yang seperti apa?"

"Ular putih."

Pria itu terdiam sejenak, seolah sedang membayangkan sesuatu.

"Badannya ramping, sisiknya berkilau seperti mutiara, matanya merah terang, dan ekornya membentuk lilitan yang menyerupai bulan sabit. Kepalanya sedikit terangkat, seakan sedang menjaga sesuatu."

"Wah... Kedengarannya keren banget." Wanita itu tersenyum lebar.

Ia membuka resleting jaketnya secepat kilat, memperlihatkan tato di dada kirinya. Tampak seekor ular putih dengan bentuk yang sama persis. Sisik-sisiknya dibuat sangat halus hingga terlihat nyata, sementara kedua mata merahnya seolah menatap siapa pun yang melihatnya.

Pria itu membelalak kaget melihat aksi wanita didepannya. Belum sempat mengalihkan pandangan, matanya justru menangkap tato di dada wanita itu.

"Apa tatonya seperti ini?"

Pria itu memperhatikannya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

"Iya."

"Sebenarnya, Gue gak suka ada orang lain yang memiliki tato seperti ini," ucap wanita itu.

"Gue juga sebenarnya gak suka. Gue udah lama ingin di tato kayak gitu, tapi nggak ada yang sanggup membuat sedetail itu," ucap pria itu panjang lebar untuk yang pertama kalinya.

"Kenapa belum mulai?" tanya pria itu, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.

"Bisakah kita cari model lain? Gue bisa mem–"

"Gue bayar dua kali lipat."

"Tuan..."

"Empat kali lipat."

"Sepuluh."

"Deal!" sahut wanita itu cepat.

"Di dada kanan."

"Eitss... bayar dulu."

"Pake apa?"

"QRIS."

Setelah selesai membayar, Wanita itu langsung tersenyum puas.Sementara pria itu melepas jaketnya perlahan.

"Selera tato lu bagus juga. Motif ini adalah yang paling langka. Gue pastikan cuma kita berdua yang punya tato ini."

"Mantan pacar gue juga mengatakan hal yang sama ke gue," ucap pria itu, membuat wanita di depan nya langsung terdiam.

'Aneh. Gue juga merasa pernah bilang hal yang sama ke cowok lain.'

"Maaf..." ucap gadis itu.

...****************...

Ting... tong... ting... tong...

Bel istirahat baru saja berbunyi. Koridor sekolah kembali dipenuhi siswa yang berlarian menuju kantin. Ravian berjalan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, jangan lupakan Keira yang selalu ada disamping nya.

Di saat yang sama, Viana kebetulan melewati koridor itu bersama beberapa siswi lain. Tanpa berpikir panjang, Ravian meraih pergelangan tangan Viana.

"Hm?" Viana berhenti melangkah dan menoleh.

"Kenalan." Ravian melepaskan genggamannya.

"Berkenalan?" Viana memiringkan kepalanya.

"Iya. Ravian."

"Viana." Viana tersenyum ramah. "Salam kenal."

Keduanya berjabat tangan singkat. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang muncul di hati Viana. Wajah pria itu terasa begitu asing. Namun juga terasa sangat familiar. Sayangnya, ia tidak dapat mengingat wajah pria itu.

Keira menyaksikan semuanya. Tatapannya perlahan berubah.

'Maksudnya apa...? Ngajak kenalan cewek lain di depan calon tunangan sendiri?'

Keira mengepalkan tangan pelan, karena merasa kesal.

Hari itu berlalu tanpa sepatah kata pun dari Keira. Gadis yang biasanya cerewet dan selalu berceloteh ceria itu kini memilih diam seribu bahasa. Wajahnya pun tampak jauh lebih dingin dari biasanya.

Ravian sempat menyadari perubahan sikap calon tunangannya. Namun, ia tidak berniat menanyakannya. Baginya, jika Keira ingin bercerita, gadis itu akan datang dengan sendirinya.

Ting.. tong... ting... tong...

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Seperti biasa, Ravian berjalan lebih dulu menuju gerbang sekolah. Baru beberapa langkah, ia menyadari seseorang yang biasanya mengikutinya kini tidak lagi berada di sampingnya.

Ravian berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Keira. Panggilan itu tidak diangkat. Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar ponselnya.

Keira: Gue pulang sendiri.

Ravian mengernyit pelan.

"Pulang sendiri?" gumamnya heran.

Meski merasa aneh, ia memilih tidak mengejar ataupun membalas pesan tersebut. Ravian kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil yang telah menunggunya.

...****************...

Sementara itu, Keira memilih berjalan sendirian menyusuri trotoar kota tanpa tujuan. Langkahnya pelan, sementara pikirannya dipenuhi berbagai hal yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.

Entah berapa lama ia berjalan. Hingga tanpa sadar, langit yang semula cerah perlahan berubah jingga, sebelum akhirnya berganti menjadi gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menemani langkahnya yang masih belum menemukan tujuan.

Kriukk...

Perut Keira tiba-tiba berbunyi.

"Lapar..." lirihnya dengan nada lemas.

Ia menoleh ke kanan dan kiri. Sayangnya, sebagian besar ruko di sepanjang jalan itu sudah tutup. Keira kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku.

"Loh..." ia menatap layar ponselnya yang sama sekali tidak menyala.

"Baterainya habis." Keira menghela napas panjang.

"Tersesat, lapar, HP mati..."

"Lengkap sudah.".Ia kembali melanjutkan langkah tanpa arah. Hingga akhirnya...

Pandangannya berhenti pada sebuah papan nama besar yang dihiasi lampu neon berwarna merah dan putih.

Venom Ink Studio

Di depan studio itu tampak belasan orang sedang mengantre dengan sabar.

"Hm..."

"Ramai juga."

Rasa penasarannya pun muncul. Keira memutuskan untuk masuk ke dalam studio.

Ting...

Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan.

Begitu melewati pintu, pandangannya langsung tertuju pada dinding yang dipenuhi foto-foto pelanggan beserta hasil tato mereka. Setiap desain tampak begitu detail dan realistis, mulai dari naga, burung phoenix, bunga mawar, kupu-kupu, hingga berbagai hewan eksotis lainnya.

Keira memperhatikan satu per satu dengan kagum.

"Gue rasa... Gue juga harus coba."

'Masalah perut, nanti saja'

Keira mengambil nomor antrean.

"Dua puluh tiga."

Ia mengembuskan napas pelan sebelum duduk di kursi tunggu.

Waktu berlalu cukup lama. Satu per satu pelanggan memasuki ruang tato, lalu keluar dengan ekspresi puas. Sesekali terdengar suara mesin tato berdengung dari balik sekat ruangan. Keira hanya menopang dagunya sambil memainkan gantungan tasnya.

Kini ruang tunggu yang semula penuh perlahan menjadi sepi.

"Nomor dua puluh tiga, silakan masuk."

Keira bangkit dari duduknya lalu memasuki ruang tato. Ruangan itu cukup luas. Dindingnya didominasi warna hitam dengan lampu putih hangat yang membuat suasana terasa tenang. Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi khusus tato.

"Silakan duduk."

Keira menurut. Sementara itu, sosok yang sejak tadi membelakanginya perlahan memutar kursinya. Begitu wajah wanita itu terlihat jelas, mata Keira langsung membelalak.

"Lo?!"

Wanita itu pun ikut menghentikan gerakannya. Ekspresinya tak kalah terkejut.

"Keira?"

Keheningan mendadak memenuhi ruangan. Tak ada yang menyangka jika seniman tato yang akan mengerjakan tatonya adalah Viana. Begitu juga dengan Viana yang tidak menyangka jika Keira akan menjadi salah satu pelanggannya malam itu.

Begitu menyadari seniman tato di hadapannya adalah Viana, wajah Keira langsung berubah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berdiri dari kursinya.

"Nggak jadi." Ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar.

Viana hanya mengangkat sebelah alis.

"Cewek aneh."

Keira terus berjalan melewati para pelanggan yang masih menunggu giliran.

Kriuuuk...

Perutnya kembali berbunyi cukup keras. Beberapa orang yang sedang mengantre spontan menoleh ke arahnya. Ada yang menahan tawa, ada pula yang tersenyum geli.

"Hahaha..."

"Mbaknya lapar, tuh."

Pipi Keira memerah karena malu. Ia mempercepat langkahnya hingga keluar dari studio. Baru beberapa meter berjalan, Keira tiba-tiba berhenti.

"Tas." Ia menoleh ke belakang. "Tas gue ketinggalan."

Dengan sedikit kesal pada dirinya sendiri, Keira kembali memasuki studio. Namun baru saja melewati pintu...

Bruk.

Ia bertabrakan dengan seseorang. Ternyata Viana berdiri tepat di depannya sambil membawa sebuah tas berwarna hitam.

"Ini." Viana menyodorkan tas itu. "Tas lo."

"Thanks." Keira menerimanya pelan, lalu kembali melangkah hendak pergi.

"Sebentar," ucap Viana.

Keira menghentikan langkahnya tanpa menoleh.

"Pelanggan gak bisa pergi begitu saja apalagi tanpa pamit. Itu namanya nggak sopan."

Keira mendengus pelan.

"Kenapa gue harus sopan sama lo?"

"Karena..." Viana mengangkat dagunya sedikit. "Gue yang ngasih lo makan."

"Hah?" Keira mengernyit.

"Permisi!"

Seorang kurir ojek online memasuki studio sambil membawa dua kotak pizza hangat.

"Pesanan pizza."

Viana langsung mengangkat tangan.

"Saya, Pak. Atas nama Viana."

"Oh iya, benar. "Kurir itu menyerahkan pesanannya.

"Terima kasih."

Setelah kurir pergi, Viana membuka salah satu kotaknya. Aroma pizza hangat langsung memenuhi ruangan.

"Mau?" tanya Viana.

Keira menelan ludah tanpa sadar. Namun gengsinya masih lebih besar.

"Nggak. Gue mau pulang naik ojek aja."

Viana hanya mengangguk santai. "Ya udah."

"Padahal ini sudah giliran lo untuk di tato."

Keira menoleh.

"Serius nggak mau ditato?"

"Tatonya bagus, lho."

Viana kemudian menyingkap sedikit bagian kerah bajunya, memperlihatkan tatonya. Keira terdiam, tatapan matanya tak lepas dari tato tersebut.

"Bagus sekali."

Viana tersenyum bangga mendengar pujian yang keluar dari mulut Keira tanpa sadar.

"Iya, kan?"

"Lo buat sendiri?" tanya Keira dengan tatapan tak percaya.

"Iyalah, siapa lagi?"

"Mirip..." Keira bergumam lirih.

"Apanya yang mirip?" tanya Viana heran.

Keira langsung tersadar. Ia menggeleng pelan.

"Nggak. Mungkin cuma perasaan gue aja."

Padahal, jauh di lubuk hatinya, sebuah dugaan mulai muncul. Namun, ia belum memiliki cukup bukti untuk mempercayainya. Viana menutup kembali kerah bajunya.

"Kalau begitu... Yuk masuk."

Keira menatap ke arah pintu studio beberapa saat. Lalu mengembuskan napas pelan.

"Oke deh."

Untuk kedua kalinya malam itu, ia kembali melangkahkan kaki memasuki ruang tato.

1
Peach
bener sih tapi jawabannya... 😭😭
Nongnong 🦩: agak laen yaa 🤭🤣
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Nongnong 🦩: dulu pas author masih sama dia juga lucu tapi endingnya tetep pisah 😌
total 1 replies
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
Nongnong 🦩: namanya juga manusia 😔
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
Nongnong 🦩: Adrian mah gercep
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
Nongnong 🦩: Author juga demen 🤑
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
Nongnong 🦩: Author juga sering kaya gtu, padahal ga reinkarnasi 🤧
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
Nongnong 🦩: cari aman dulu wkwkwk
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
Nongnong 🦩: silakan mengeluarkan kata² mutiara mu kak
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
Nongnong 🦩: real .
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!