Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 "APAKAH SUDAH WAKTUNYA, AKU AJARKAN TIRAKATKU PADANYA?"
Aku bingung ingin berkata apa pada anakku.
Aku bingung harus memberikan tanggapan apa padanya.
"Ibu?" Harum memanggilku, karena aku diam beberapa saat.
"I-iya Nak?"
"Kok diem Bu?"
"Emmm..."
Harum pun mengalihkan pandangannya dariku. Kembali ia meraba mangkuk baksonya.
Harum kembali memakan bakso yang masih tersisa sedikit sampai habis. Dan aku hanya bisa diam saja di sampingnya. Melihatnya menghabiskan bakso dengan lahap.
Ketika sudah habis, ia pun segera minum lagi. Dan dengan perlahan, aku bantu memegangi gelasnya.
Karena saking bingungnya aku harus berkata atau menanggapi bagaimana, aku hanya bertanya saja pada Harumku.
"Nak, kamu ada tugas dari sekolah gak tadi?"
"Oh iya! Ada Bu, aku ada PR!" jawabnya.
"PR apa Nak?"
"PR pelajaran kesenian Bu!"
"Ya udah, kamu ke kamar ya, ambil buku pelajaran keseniannya. Ibu bantu di ruang tamu ya sayangku..."
"Iya Bu. Aku ambil dulu ya!"
"Iya..."
Akhirnya, Harum segera beranjak pergi dari dapur. Segera menuju ke kamar.
Aku bereskan terlebih dahulu mangkuk dan gelas bekas kami makan. Ku cuci semuanya. Dan segera beranjak ke ruang tamu.
Harum sudah duduk di kursi ruang tamu, dengan tas berwarna putih pink kesayangannya. Dan juga tak lupa, tongkat lipat yang selama ini menjadi mata ketiga di setiap langkah kakinya, juga ada di sampingnya.
Aku berjalan mendekat, dan anakku sudah membuka buku pelajaran keseniannya itu.
Semua buku-buku pelajaran yang dia punya, didapatkan dari sekolah dalam bentuk buku braille (buku khusus untuk Tunanetra). Dan buku-buku lainnya adalah buku tulis seperti biasanya.
Dengan pikiranku yang tak bisa lepas dari pengakuan cerita Harum tadi, aku dengan tenang dan lembut, membantu anakku itu mengerjakan PR nya.
PR nya Harum ternyata diminta untuk membuat sebuah gambar pemandangan sederhana, dengan teknik menggambar tertentu. Itulah yang diberikan oleh guru kesenian di sekolah SMP nya.
Dan, aku pun sudah tahu, tugas yang diberikan kepada anakku berbeda dengan tugas untuk siswa-siswi lain. Karena memang di sekolah SMP nya yang sekarang, hanya Harum, anakku seorang yang memiliki kekurangan fisik.
.....
.....
Aku tetap menemani anakku dalam menggambar.
Aku perhatikan setiap goresan pensilnya.
Ku bantu arahkan jika ada yang kurang pas dalam gambarnya itu.
Sambil terus menerus pikiranku tak bisa lepas, dari cerita anakku tadi saat di dapur bersamaku.
Sampai-sampai, aku bertanya pada diriku sendiri...
"APAKAH SUDAH WAKTUNYA, AKU AJARKAN TIRAKATKU PADANYA?"
Tapi dengan cepat, muncul keraguan dalam hatiku.
Aku ragu, jika harus mulai mengajarkan "TIRAKAT" itu padanya.
Bukan karena masalah fisik Harum yang memiliki kekurangan (buta).
Bukan karena soal sosok Sekar Arum yang sudah mengobrol denganku.
Bukan juga karena pengakuannya barusan di dapur.
Akan tetapi, yang aku ragukan adalah...
Apakah, sudah siap jiwanya menerima beban TIRAKAT yang seperti itu?
Apakah, sudah siap raganya untuk memiliki kemampuan yang sama sepertiku ini?
Lalu, muncullah sebuah ketakutan dalam diriku.
Ketakutan itu adalah...
Bagaimana jika masa lalu Harumku ini akan kembali terulang?
Ya mungkin saja bukan sosok pesugihan yang dahulu membuatnya amat sangat menderita, yang sampai merenggut nyawa kedua orang tua kandungnya.
Akan tetapi, bisa saja akan ada banyak bangsa lelembut atau bangsa makhluk halus, yang akan sangat tertarik pada jiwa Harumku ini.
.....
.....
"Ibu..." suara Harum sedikit menyadarkanku dari lamunan.
"Eh, iya Nak?"
"Kayaknya aku gak suka deh sama gambarku ini Bu. Aku mau ganti aja ya Bu gambarnya!"
"Loh? Kenapa Rum? Gambarmu bagus kok itu..."
"Aku kayak ngerasa gak percaya diri Bu sama gambarku ini."
Ia taruh pensilnya di atas gambar pemandangan yang sederhana itu. Ia mulai bersandar di kursi.
"Harum..." panggilku dengan suara lembut.
"Iya Bu?"
Harum menatap wajahku dengan teduh.
"Kamu harus bisa percaya diri dong Nak. Gimana pun hasil gambarmu, itu bagus banget loh Nak. Jangan minder ya sayang..." jelasku, mencoba memberikan semangat dalam dirinya.
"Aku gak minder sih Bu, cuma, kayak kurang suka aja sama gambarku itu." jawabnya sambil menunjuk ke gambar yang barusan sudah ia buat.
"Hmmm... Terus maunya gimana sayang?" tanyaku.
Harum mengangkat tangan kanannya, menempelkan ke pipinya sendiri. Seolah sedang berpikir.
"Nah! Aku tau gambar apa yang bagus Bu!" katanya dengan terlihat semangat kali ini.
"Wah, apa tuh?" tanyaku yang juga jadi ikut semangat.
"Aku mau coba gambar rumah aja deh Bu!" katanya.
Sedikit heran aku dibuatnya.
"Loh? Kok rumah sih? Kan PR nya disuruh bikin gambar pemandangan loh sayang..."
"Iya Bu! Jadi gambar rumahnya itu kayak ada di sebuah pemandangan!"
Aku mencoba mencerna sedikit, dan membayangkan bagaimana bentuk gambar yang anakku maksud itu.
Dan aku langsung paham. Lalu, aku berkata.
"Oooh... Iya-iya... Ibu ngerti. Ya udah, ayok gambar lagi Nak. Ibu bantu ya."
"Iya Bu! Hehehe..."
"Soalnya kalau gambar rumah, agak lebih susah loh..." kataku.
"Hehehe... Gak apa-apa Bu! Kan biar aku bisa kaya temen-temen kelasku..."
"Hehehe... Masya Alloh, semangatnyaaa anakku... Juara!" responku sambil membelai kepalanya.
Akhirnya, Harum kembali membuka lembaran baru di bukunya.
Langsung saja ku bantu membuat sketsa terlebih dahulu untuk bentuk rumahnya.
Namun...
Ada sesuatu yang terasa cukup aneh.
.....
.....
Entah mengapa...
Setiap goresan tanganku di atas kertas buku Harum, seperti ada energi "lain" yang menuntun gerakan tanganku.