NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Jajanan Malam dan Ciuman Pertama

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Kalimat itu tidak kudengar.

Yang kudengar ketika bangun adalah suara klakson jauh, hujan tipis di kaca mobil, dan Sari berbisik dari kursi depan, "Nyonya Muda tidur pulas sekali."

Aku membuka mata dengan panik kecil.

Kepalaku tidak lagi menempel di jendela.

Kepalaku menempel di bahu Reynard.

Bahunya keras, hangat melalui kain jas, dan terlalu dekat untuk seseorang yang kemarin masih kupikir mungkin tidak tertarik pada perempuan.

Aku langsung duduk tegak.

"Maaf."

Reynard menatap lurus ke depan. "Tidak apa-apa."

Tidak apa-apa, katanya.

Sementara telingaku panas seperti baru ditempel setrika.

Mobil seharusnya kembali ke PIK villa, tapi di tengah jalan Reynard tiba-tiba berkata pada Anto, "Belok ke area kuliner."

Aku menoleh. "Kita belum pulang?"

"Kau belum makan."

"Tadi di mal ada..."

"Kau hanya minum iced tea dan menggigit croissant dua kali."

Aku terdiam.

Dia menghitung?

[Catatan: perhatian target makin spesifik.]

Jangan buat aku tersenyum sendiri, Kepo.

Anto menurunkan kami di area jajanan malam PIK yang ramai tapi tidak terlalu padat. Hujan sudah berhenti. Aspal masih basah, memantulkan lampu tenda makanan. Aroma bakso, sate, gorengan, dan gula merah dari es cendol bercampur di udara.

Aku berdiri terpaku.

Reynard Wijaya, konglomerat bertopeng, berdiri di samping gerobak bakso.

Adegan ini terasa salah server.

"Kau yakin boleh makan di sini?" tanyaku.

"Kenapa tidak?"

"Kupikir menu harianmu hanya bubur orang sakit dan dendam keluarga."

Reynard menatapku.

Aku baru sadar kalimat itu keluar dari mulut, bukan hanya kepala.

Astaga.

Tapi ia tidak marah. Sudut bibirnya malah bergerak tipis.

"Malam ini tidak."

Kami duduk di kursi plastik merah. Anto berdiri agak jauh, menolak duduk walau aku sudah menyuruh. Reynard memesan dua mangkuk bakso, satu es cendol untukku, teh tawar hangat untuk dirinya.

Ketika bakso datang, aku hampir menangis.

Bukan karena sedih.

Karena setelah gaun, kartu hitam, keluarga neraka, dan rahasia lintas dimensi, semangkuk bakso panas terasa lebih nyata daripada apa pun.

Aku menyendok kuah.

Enak.

Ya Tuhan. Ini rasa pulang.

Reynard menatapku. "Sebagus itu?"

"Ini bukan soal bagus." Aku menunjuk mangkuk. "Ini soal martabat."

"Martabat?"

"Orang yang terlalu lama makan makanan sehat butuh diselamatkan oleh MSG."

Kali ini Reynard benar-benar tersenyum.

Tipis. Sebentar. Tapi ada.

Aku hampir menjatuhkan sendok.

Senyumnya tidak besar, tidak terang, tapi membuat seluruh wajahnya berubah. Bahkan Topeng Perak tidak bisa menutupi bahwa pria ini, jika tersenyum lebih sering, mungkin bisa membuat orang menandatangani kontrak tanpa membaca.

[Detak jantung Host meningkat.]

Aku tahu!

Kami makan perlahan. Aku bercerita tentang jajanan favorit Naomi tanpa menyebut nama Naomi keras-keras. Tentang es cendol dekat kampus, bakso gerobak yang lebih enak daripada restoran mahal, dan bagaimana orang bisa menilai kebahagiaan dari jumlah sambal yang tersedia.

Reynard lebih banyak mendengar.

Tapi ia tidak terlihat bosan.

Kadang ia bertanya pendek. "Kampusmu di mana?" Lalu aku hampir tersedak karena sadar aku tidak seharusnya punya kampus di dunia ini.

"Maksudku, dulu aku pernah lihat di video," kataku cepat.

Reynard menunduk minum teh.

Ia sudah tahu itu bohong.

Tentu saja ia tahu. Ia mendengar setiap kepanikan di kepalaku.

Malam makin lembut ketika kami berjalan kembali ke mobil. Jalan kecil di belakang area kuliner lebih sepi. Lampu toko setengah redup, angin dari laut membawa bau garam samar.

Aku berjalan sambil memegang gelas es cendol setengah habis.

"Reynard."

"Hm."

"Kenapa kau baik padaku?"

Ia berhenti.

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Mungkin karena kuah bakso membuatku terlalu berani. Mungkin karena sepanjang hari ia membelikan apa pun yang kupikirkan, membawaku makan jajanan, dan menatapku seolah aku bukan beban.

Padahal pernikahan kami dimulai dari kontrak keluarga, rahasia, dan altar yang salah.

Reynard menatapku lama.

"Menurutmu aku baik?"

"Kau membuka pintu mobil, membelikan tas yang harganya bisa membuat rakyat kecil pingsan, memesan udang telur asin, dan malam ini makan bakso di kursi plastik. Untuk ukuran Tuan Muda Wijaya, itu cukup mencurigakan."

"Mencurigakan."

"Sangat."

Ia melangkah mendekat.

Aku mundur otomatis, punggungku menyentuh dinding samping toko yang sudah tutup.

Tangannya terangkat, berhenti di samping kepalaku, menahan dinding.

Aku membeku.

Ini.

Ini yang di drama disebut kabedon.

Tapi kenapa ada di hidupku?

Jarak kami terlalu dekat. Aku bisa melihat pantulan lampu kecil di Topeng Perak. Bisa mencium aroma kopi tipis dari napasnya, bercampur hujan dan malam.

"Kalau aku baik," katanya pelan, "kau takut?"

"Tidak."

[Kebohongan Host terdeteksi.]

Aku memaki Si Kepo dalam hati.

Reynard menunduk sedikit. "Kau selalu berpikir terlalu keras."

Jantungku berhenti satu ketukan.

"Apa?"

"Matamu ribut."

Oh.

Mata. Bukan pikiran.

Tentu. Mata. Aman. Tidak ada yang bisa mendengar isi kepala orang. Tidak mungkin.

Aku mencoba tertawa kecil untuk menyelamatkan diri. "Mataku memang sering begitu. Dari kecil."

"Dari kecil?"

Pertanyaan itu pelan, tapi membuatku nyaris tersandung pada rahasia sendiri. Keira kecil atau Naomi kecil? Dua kehidupan bercampur di kepalaku seperti benang kusut. Aku menelan ludah dan memilih jawaban paling aman.

"Maksudku, orang di rumah sering bilang aku terlalu banyak melamun."

Wajah Reynard tidak berubah, tapi tatapannya melembut sedikit. "Mereka salah."

"Kenapa?"

"Kau tidak melamun." Ia menunduk, jaraknya tinggal satu tarikan napas. "Kau bertahan."

Kalimat itu menghantam lebih kuat daripada dinding di punggungku. Tiba-tiba aku tidak bisa bercanda. Tidak bisa memikirkan Ko Steve. Tidak bisa menyembunyikan bahwa sebagian diriku, bagian Keira yang lama, sangat ingin ada seseorang yang mengatakan itu sejak dulu.

Ia menatap bibirku.

Aku lupa bernapas.

Tunggu. Tunggu. Kalau dia gay, kenapa dia menatap bibirku? Mungkin ini eksperimen? Mungkin dia mencoba membuktikan sesuatu? Atau mungkin dia tidak gay? Tapi Ko Steve? Tapi bahu? Tapi...

Reynard menghela napas sangat pelan.

"Keira."

"Ya?"

"Diam sebentar."

Aku belum sempat bertanya diam yang mana ketika ia menciumku.

Dunia mengecil menjadi satu titik.

Bibirnya dingin di awal, lalu hangat. Sentuhannya hati-hati, seolah ia takut membuatku mundur. Aku terlalu kaget untuk bergerak. Gelas es cendol di tanganku hampir jatuh, tapi ia mengambilnya dengan tangan bebas dan meletakkannya di pinggir jendela toko tanpa memutus ciuman.

Astaga.

Dia bisa multitasking saat mencium?

Reynard berhenti.

Matanya sangat dekat.

Aku membuka mulut, tapi otakku kosong. Kosong total. Naomi, pemilik gelar sarjana dan pengalaman hidup cukup banyak, dikalahkan oleh satu ciuman dingin dari pria bertopeng.

Lalu karena hidupku memang komedi, ketika ia menciumku lagi, kami bergerak di saat yang salah.

Gigi kami bertabrakan.

Tak.

Aku meringis.

Reynard juga berhenti.

Sunyi.

Lalu aku tertawa.

Tidak bisa kutahan. Tawa itu keluar kecil, gugup, memalukan. "Maaf."

Reynard menatapku seperti antara ingin menghela napas dan ingin ikut tertawa.

"Aku yang salah."

"Tidak. Aku juga... tidak punya manual."

"Manual?"

"Lupakan."

Aku menutup mulut dengan punggung tangan, malu setengah mati. Tapi Reynard tidak tertawa. Ia justru mengangkat tangannya, sangat pelan, memberi waktu kalau aku ingin mundur. Ketika jarinya menyentuh sudut bibirku, sentuhan itu ringan sekali.

"Sakit?"

Aku menggeleng.

"Takut?"

Aku hampir menjawab tidak, lalu ingat panel pengkhianat itu pasti akan menuduhku bohong. Jadi aku memilih jujur sedikit.

"Bingung."

"Dengan aku?"

"Dengan semuanya."

"Kalau begitu," katanya, "kita pelan-pelan."

Pelan-pelan. Dua kata yang terdengar sederhana, tapi setelah seminggu dilempar dari altar ke perang keluarga, rasanya seperti selimut hangat.

Ia menatap bibirku lagi.

Kali ini lebih pelan.

Ciuman ketiga tidak menabrak gigi.

Lebih lembut. Lebih dalam. Tidak lama, tapi cukup membuat kakiku lemas dan seluruh daftar teori tentang Ko Rey dan Ko Steve terbakar di tempat.

Ketika ia akhirnya mundur, aku hanya bisa menatapnya.

Di kepalaku, suara sendiri berteriak.

Tunggu. Dia bukan gay? Atau gay bisa cium perempuan? Atau dia bisexual? Atau aku baru saja menjadi bahan eksperimen orientasi seksual konglomerat?

Reynard menutup mata.

Wajahnya tampak sangat lelah selama dua detik.

Namun sebelum ia menjauh sepenuhnya, ia mengambil gelas es cendol dari pinggir jendela toko dan menyodorkannya kembali padaku. Sedotannya sudah miring, esnya hampir habis, tapi gerakan itu anehnya membuat momen tadi terasa nyata. Bukan adegan drama. Bukan tugas sistem. Hanya aku, dia, dinding toko basah, dan cendol yang selamat dari ciuman pertama kami.

"Minum," katanya. "Kau pucat."

"Kau baru mencium orang lalu menyuruhnya minum es?"

"Kau terlihat butuh gula."

Aku menerima gelas itu dengan tangan lemas.

Di kejauhan, Anto berdiri membelakangi kami dengan dedikasi profesional yang patut diberi bonus. Aku yakin ia melihat semuanya. Aku juga yakin ia akan pura-pura buta sampai mati.

Aku panik. "Kau sakit?"

"Tidak."

"Wajahmu aneh."

"Karena kepalamu berisik."

Aku membeku.

"Apa?"

Ia membuka mata, terlalu cepat memperbaiki kalimat. "Maksudku, kau terlihat banyak berpikir."

Oh.

Mataku lagi.

Tentu saja.

Di mobil menuju villa, kami duduk dalam diam yang sama sekali tidak damai. Aku menatap jendela. Reynard menatap tablet yang tidak ia baca. Anto berpura-pura tidak menyadari bahwa dua penumpang belakang baru saja kembali dengan aura canggung setebal awan hujan.

Malam itu, setelah masuk kamar masing-masing, aku berguling di tempat tidur.

[Analisis peristiwa: ciuman pertama berhasil.]

Berhasil? Kami tabrakan gigi!

[Tetap tercatat sebagai berhasil.]

Aku menutup wajah dengan bantal.

Mungkin dia bukan gay.

Mungkin dia bisexual.

Mungkin dia hanya sangat berdedikasi pada misi pernikahan.

Di ruang kerja, di balik pintu tertutup, Reynard duduk diam dengan tangan menutupi mata.

Ia mendengar semuanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reynard Wijaya benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menyerah.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!