NovelToon NovelToon
Anakku! Diceraikan Setelah Melahirkan

Anakku! Diceraikan Setelah Melahirkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu susu
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.

Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.

Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.

Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.

Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Mau 12

"Ras, bagaimana perasaan kamu? Apa udah enakan sekarang?"

Hajoon masuk ke dalam kamar rawat Laras setelah berbicara dengan kedua orang tuanya. Ia melirik ke atas nakas. Terlihat makanan dari rumah sakit yang belum tersentuh sama sekali. Padahal Laras belum makan dari siang dan ini sudah sore hari. Hajoon juga tidak tahu apakah tadi pagi wanita itu sarapan atau tidak. Hal ini cukup mengganggunya.

"Aku udah baik-baik aja kok, Bang. Makasih ya. Dan maaf jadi ngrepotin Abang dan keluarga. Sepertinya aku udah bisa pulang juga setelah ini,"ucap Laras dengn senyum. Senyum yang bagi Hajoon adalah senyum penuh luka.

Apa yang tertampak di mata Hajoon itu sungguh membuat Hajoon semakin ingin membantu Laras. Membayangkan bagaimana wanita itu diperlakukan buruk oleh pria bernama Reza, membuat Hajoon sangat geram.

"Ehmm, Ras. Kamu kan sedang cari pekerjaan. Begini, aku belum tau apa ada pekerjaan yang cocok di perusahaan ku buat kamu. Maka dari itu aku harus memeriksanya lebih dulu. Lalu, kebetulan di rumah sedang kekurangan pekerja. Anu, apa kamu mau sementara ini bantu-bantu di rumah. Ini maksud aku, hanya untuk sementara saja. Kalau di peru~"

"Mau Bang, aku mau. Aku butuh kerja. Aku membutuhkannya sekarang, jadi apapun pekerjaan itu yang penting halal, aku mau."

Eh?

Hajoon terhenyak mendengar ucapan Laras. Dia pikir akan sulit menyampaikan. Tapi ini jauh lebih mudah dari yang dia kira.

"Kamu sungguhan mau? Tapi ini bantu-bantu pekerjaan rumah lho, Ras?" Hajoon mencoba menekankan tentang apa yang akan dilakukan Laras. Walau sebenarnya dia pun tidak akan meminta Laras untuk melakukan pekerjaan berat. Tujuan Hajoon menawarkan pekerjaan itu agar dia bisa membawa Laras untuk tinggal di rumahnya.

"Iya Bang, aku nggak masalah kok. Aku butuh pekerjaan. Aku butuh kesibukan biar pikiranku teralihkan,"balas Laras. Memang itu yang dia butuhkan saat ini.

"Baiklah kalau begitu. Tapi Ras ada syaratnya, kamu harus tinggal di rumah."

Laras terdiam sejenak, seolah tengah berpikir.

"Ya baik, baik. Nggak masalah, malahan bagus. Lagian aku juga nggak ingin ada di rumah itu." Laras mengatakan kalimat terakhirnya dengan lirih tapi Hajoon bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

"Ras, aku sungguh mohon maaf jika terkesan ikut campur atau sok ingin tahu. Sebenarnya ada apa dengan kamu. Maaf, aku melihat itu di tanganmu."

Hajoon mengabaikan ucapan ibunya untuk bertanya dengan lebih sabar dan hati-hati Dia sungguh merasa tidak sabar untuk mendengar langsung dari mulut Laras tentang apa yang menimpanya.

Laras terdiam, dia tidak menjawab dan menatap pergelangan tangannya. Semua orang pasti akan berpikir sesuatu yang mengarah sana ketika melihat pergelangan tangannya. Dan pertanyaan Hajoon adalah sesuatu yang wajar.

"Ini merupakan sesuatu yang bodoh yang pernah aku lakukan dalam hidup aku, Bang. Aku kehilangan akal karena banyak hal buruk yang aku alami. Cerita ku ini mungkin nggak akan bagus untuk pendengaran Abang, jadi tak usah aku ceritakan,"ucap Laras.

Hajoon menggeleng, tujuannya adalah mendengarkan apa yang terjadi dari Laras langsung meski dia sudah tahu.

"Tidak apa, Ras. Cerita saja, katanya saat kita menceritakan kegelisahan pada orang lain, maka itu bisa mengurangi beban yang ada di hati. Jadi jangan sungkan."

Huuuft

Laras mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia lalu membuka mulutnya, menceritakan tentang semua yang terjadi pada dirinya sehingga bekas jahitan di pergelangan tangannya itu ada.

Hajoon mendengarkan dengan seksama. Meski dia sudah mendengarnya dari Ratna, tapi mendengarkan langsung dari Laras tetap saja terasa sangat menyakitkan.

Apalagi di sini Laras bercerita dengan sangat tenang. Itu malah semakin membuat Hajoon merasa prihatin terhadap segala hal yang menimpa wanita itu.

"Nggak nyaman kan Bang, ceritaku."

"Nggak Ras! Yang aku ambil adalah kamu hebat Ras, kamu hebat bisa bertahan hingga detik ini. Aku sungguh salut padamu. Ya udah, mari pulang ke rumah ku. Aku akan meminta orang untuk mengambil barang-barangmu di rumah mu."

Laras menggelengkan kepalanya. Dia lalu berkata, "Aku akan ambil sendiri, Bang. Aku udah banyak merepotkan kamu. Aku nggak mau menambah kerepotan mu dengan mengambil barang-barang ku juga."

Hajoon mengangguk paham. tapi bukan berarti Hajoon akan membiarkan Laras pergi ke rumahnya sendiri. Hajoon akan mengantarkan dan sekaligus membantunya.

Tidak hari itu, tapi hari selanjutnya. Hajoon membantu Laras untuk membawa beberapa pakaian. Dan tidak Hajoon duga bahwa Laras menempelkan tulisan "rumah di jual" pada rumahnya. Hajoon tidak bertanya. Dia hanya diam melihat setiap tindakan Laras.

"Ras, itu apa?"

Hajoon menanyakan benda yang baru saja Laras masukkan di kulkas. Dan di dalam freezer ia melihat banyak hal serupa. Itu seperti kantong kecil dan berisi cairan berwana putih susu. Atau mungkin itu memang susu.

Laras tadi memang masuk ke kamar dan tidak keluar untuk beberapa saat. Dan ketika keluar, Laras membawa kantong tersebut.

"Ini ASI, Bang. ASI yang aku miliki masih sangat deras. Sayang kalau dibuang karena aku berharap bisa memberikan semua ini kepada anakku."

Cesssss

Seperti disiram air es hati Hajoon mendengar ucapan Laras. Betapa besar kerinduan Laras terhadap anaknya. Dia mengepalkan tangannya erat, merasa marah kepada pria yang telah membuat Laras seperti ini.

"Ras, ada yang mau aku bicarakan ke kamu. Tapi nanti kalau kita udah sampai rumah."

Meski tidak tahu apa itu, Laras menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

Selesai mengemas barang yang tidak banyak, Laras pun berpamitan kepada Ratna. Dia tak lupa mengucapkan terimakasih. Entah akan lama atau tidak dia meninggalkan rumahnya, tapi Laras merasa dia harus berpamitan kepada Ratna.

Doa tulus diucapkan oleh Ratna agar Laras menjadi lebih baik lagi dalam segala hal.

"Semoga betah kerjanya ya, Neng."

"Iya Bu, terimakasih untuk doanya. Salam untuk Bapak dan ibu-ibu tetangga yang lain. Sampaikan ucapan terimakasih saya."

Ratna tersenyum, dia mengiyakan apa yang disampaikan Laras.

Hajoon juga mengucapkan terimakasih. Mereka pun akhirnya meninggalkan komplek perumahan itu.

Sesampainya di kediaman Brajamusti, Laras disambut baik oleh orangtua Hajoon. Sebuah kamar tamu diberikan untuk Laras beristirahat. Hajoon sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu tapi dia menahannya dan membiarkan Laras untuk beristirahat.

Dari apa yang diucapkan dokter, Laras masih membutuhkan istirahat beberapa hari lagi. Maka dari itu Hajoon pun tidak ingin buru-buru.

"Terus, aku harus mengerjakan apa, Bang?"

"Hari ini nggak perlu. Kamu istirahat aja dulu. Ya sudah aku keluar dulu ya. Eomma dan Appa juga bilang seperti itu. Selamat istirahat Laras."

Eh?

Ceklek!

Laras menatap punggung Hajoon yang menghilang dari balik pintu. Dia bingung kenapa katanya diminta bekerja tapi malah sekarang disuruh untuk istirahat.

"Ini kenapa begini?"

TBC

1
Yunita Sophi
pasti akan tenang dan senanglah biar masih baby... krn dia tau Laras yg dulu mengandung dia...
Yunita Sophi
semangat Laras kamu pasti bisa dan tentu aja kamu akan berhasil...
Yunita Sophi
yah Hajoon kan baik Laras... kamu baru keluar rumah sakit kan emang harus istirahat dulu... Hajoon modus nya tepat kan 😄😄
Yunita Sophi
orang tua yg baik dan pengertian... semoga Laras mendapat kan mertua yg seperti mereka baik nya..
Yunita Sophi
Alhamdulillah semoga Hajoon bisa membalaskan sakit hati nya Laras...
Yunita Sophi
untung Laras bertemu teman lama yg baik...
dewi rofiqoh
Sepertinya tubuh elio tidak bisa menerima adi kamu Eva! Makanya ia kejang
Esther
iti pasti efek dari susu yang dicampur Eva
Yunita Sophi
nah ya Hajoon bawa anak orag ke rumah orang tua mu..
A R
😭😭😭😭 eliooo.. asi nya beracunb krn org nya punya niat jahatt
Sugiharti Rusli
kira" apa yang akan terjadi nanti saat di rumah sakit, dan apa Laras akan langsung berangkat saat itu juga ke kota,,,
Sugiharti Rusli
anak itu memberi sinyal dengan reaksi tubuhnya yang menolak dengan keras ASI dari ibunya yang dicampur meski hanya setetes,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya reaksi tubuh baby Elio hisa sangat sensitif meski ASI yang Eva beri hanya sedikit yah,,,
Sugiharti Rusli
dan baby Elio bukan bereaksi dengab menolak langsung ASIP yang sudah dicampur si Eva, tapi malah saat tidur reaksinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata firasat seorang ibu ke anaknya memang kuat yah meski ga tahu ada apa,,,
Sugiharti Rusli
kira" baby Elio apa akan mau meminum ASI yang sudah dicampur meski hanya sediki,,,
Sugiharti Rusli
mana dia coba menghubungi no Laras yang belum diganti, kalo pas dia di rumah Reza kalo hp nya aktif kan bisa terbongkar penyamarannya,,,
Sugiharti Rusli
soalnya posisi Laras secara ga langsung mulai ada ancaman karena si Reza yang teringat mantan istrinya itu yah
Sugiharti Rusli
mana proses buat mengambil hak asuh baby Elio masih tertunda entah sampai berapa lama sampai Hajoon kembali lagi
Sugiharti Rusli
lagi si Hajoon kenapa dia membuat nama samaran Laras mirip gitu sih yah, kan jadi ada kecurigaan si Reza tuh jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!