NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA BELAS

Di kamar, Adelia menutup pintu dan bersandar di dinding. Dadanya naik turun tidak beraturan.

Ia memegang kepala, berusaha meredakan pikiran yang berputar terlalu cepat.

"Sikap Papa tadi... kenapa? Kenapa semuanya terasa salah? Kenapa tatapannya berbeda?"

Adelia duduk di pinggir ranjang, memegangi dada yang terasa berat. Ia mencoba memejamkan mata sebentar.

Namun begitu kelopak matanya menutup, ia langsung teringat momen ibu-ibu di supermarket tadi yang mengatakan mereka pasangan baru menikah. Bastian tidak menyangkal. Bahkan terlihat senang.

Adelia membuka mata cepat, seakan bayangan itu membuatnya sesak.

"Aku nggak bisa terus kayak gini...," gumamnya.

Ia ingin tidur, menghilang sebentar dari kenyataan yang mencekik, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Tasku...

Adelia terbelalak. Tasnya masih tertinggal di mobil.

Ia menghela napas, berdiri, lalu membuka pintu kamar Dan jantungnya langsung berhenti sesaat.

Bastian berdiri tepat di depan pintu.

Tubuh Adelia kaku seketika, seperti dibekukan oleh udara yang berat.

Bastian terkejut kecil melihat pintu terbuka. "Oh...

Del. Kamu sudah selesai istirahatnya?"

Adelia memegang gagang pintu kuat-kuat. "Pa... kenapa Papa ada di sini?"

Bastian tersenyum kecil. "Papa lihat kamu masuk kamar cepat sekali. Papa cuma mau memastikan kamu nggak kenapa-napa. Kamu tadi kelihatan pucat."

Nada suaranya biasa, bahkan terdengar hangat. Seolah ia benar-benar bermaksud baik. Tapi bagi Adelia, kehadirannya di depan pintu kamarnya seperti alarm bahaya.

"Saya... saya cuma mau ambil tas. Ketinggalan di mobil," ucap Adelia cepat.

"Oh, begitu?" Bastian mengangguk pelan. "Mau Papa

ambilkan?"

"Tidak usah, Pa! Saya bisa ambil sendiri kok," jawab Adelia spontan.

Bastian memiringkan kepala sedikit, menatap Adelia lama-tatapan yang sulit ditebak. "Baik kalau begitu. Papa tunggu di bawah kalau kamu butuh apa-apa."

Tanpa menunggu jawaban, Bastian akhirnya turun perlahan. Adelia baru bisa bernapas ketika sosok pria itu menghilang dari pandangan.

Ia menutup pintu kembali, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa lega sejenak.

"Kenapa Papa berdiri di depan kamar tepat saat aku buka pintu...? Apa dia sengaja menunggu aku? Apa dia...?"

Adelia memukul pipinya pelan untuk mengusir pikiran buruk.

Ia mengambil napas panjang, lalu turun untuk mengambil tas di mobil-dengan langkah yang sangat hati-hati.

Di tempat lain, suasana sangat berbeda.

Setelah keluar dari kantor Lukas, Intan Vadella memacu mobilnya dengan santai di parkiran. Namun, baru beberapa meter berjalan, terdengar suara krek-krek yang tidak biasa dari bagian depan mobil.

Intan berhenti mendadak.

"Apaan lagi sih ini..." gerutunya sambil turun dari mobil.

Ia memeriksa bawah mobil, membuka kap mesin, tapi jelas ia tidak mengerti apa pun.

"Ya ampun, apa lagi sih ini yang rusak..."

Saat itulah suara motor terdengar mendekat.

Althaf Zacosta yang kebetulan lewat langsung memperlambat laju motornya ketika melihat seorang wanita berdiri di samping mobil yang kap mesinnya terbuka.

"Eh... ada yang mogok?" tanya Althaf sambil melepas helm.

Intan menoleh cepat, wajahnya kesal. "Iya, mobil ini

tadi tiba-tiba bunyi aneh. Aku nggak ngerti sama sekali."

Althaf mendekat, tapi saat ia melihat wajah wanita itu jelas-jelas... ia terdiam.

Ini... kak Intan?

Mata Althaf membesar.

"Ka-Kak Intan...? Ini kak Intan Vadella, kan?"

suaranya tidak sengaja bergetar.

Intan mengerutkan kening. "Hah? Kamu kenal aku?"

Althaf tersenyum malu-malu. "Saya... mahasiswa di

Patrick college. Dan dulu saya junior Kakak di kampus.

Kakak kan sering menang lomba presentasi waktu itu..."

Intan mengerjap, wajah tegangnya pelan-pelan mencair dengan senyum kecil.

"Oh? Kamu Althaf, ya? Yang suka ikut event kampus itu?" tebak Intan.

Althaf hampir tersipu. "I-Iya, Kak. Itu saya."

Intan menarik napas. "Ya ampun... kecil banget ternyata dunia ini."

Althaf mendekat ke mobil. "Biar saya bantu cek ya, Kak. Kalau bisa saya perbaiki sementara sampai Kakak ke bengkel."

Intan mengangguk penuh syukur. "Tolong ya, aku bisa gila kalau ini tambah rusak!"

Althaf tersenyum, merasa beruntung-karena takdir mempertemukannya lagi dengan perempuan yang diam-diam pernah ia kagumi sejak zaman kuliah.

Dari jarak beberapa langkah, Althaf Zacosta terlihat sangat fokus pada mesin mobil Intan Vadella. Ia sudah melepaskan beberapa baut kecil, mengecek jalur kabel, dan mengatur kembali letak selang yang sedikit bergeser.

Intan berdiri di sampingnya, kedua tangan bertolak pinggang, memperhatikan dengan mata berbinar-sebuah ekspresi yang jarang muncul dari wajah wanita penuh percaya diri itu. Biasanya Intan yang memerintah pria, bukan sebaliknya. Tapi, kali ini ia benar-benar bergantung pada seorang mahasiswa yang bahkan dulu mungkin tidak pernah ia perhatikan.

Althaf mengusap keringat kecil di pelipisnya. Sebisa mungkin ia ingin terlihat ahli, meski jantungnya berdebar karena gugup dan... kagum.

"Kak..." ucapnya tanpa mengangkat wajah, "Kayaknya ini cuma selang bensinnya yang longgar. Makanya mesin nggak dapat suplai sempurna."

Intan mengerutkan kening. "Serius cuma itu?"

"Iya," jawab Althaf sambil mengencangkan penjepit selang. "Bagian lain aman. Kakak sering ngebut ya? Soalnya getarannya bikin bagian ini gampang goyang."

Intan menutup mulutnya, pura-pura terkejut. "Aku? Ngebut? Enggak lah..."

Althaf menahan tawa. "Keliatan dari cara Kakak rem tadi. Itu rem mendadak, bukan rem wajar."

Intan memelotot sambil tertawa kecil. "Oke, oke! Mungkin aku memang suka ngebut dikit."

Althaf bekerja beberapa menit lagi sebelum akhirnya turun memeriksa dari sisi supir. Ia masuk sebentar, memutar kunci, dan-

Mesin menyala mulus.

Intan langsung memekik pelan. "YA AMPUN! Hiduuup!"

Althaf tersenyum lebar, bangga. "Kan aku bilang ini bisa diperbaiki sendiri."

Intan berjalan cepat dan memegang bahu Althaf spontan. "Kamu penyelamat aku banget! Makasih banyak ya, Thaf! Aku kira tadi mobil ini harus ditarik ke bengkel."

Althaf hampir lumpuh di tempat ketika tangan Intan menyentuhnya. Ia langsung berdiri tegap seperti prajurit.

"Sa-sama-sama, Kak."

Intan merogoh tasnya. "Bentar ya, aku mau ambil uang-"

"Jangan, Kak!" Althaf mengangkat tangan cepat. "Aku tulus nolong kamu kok, nggak perlu dibayar."

Intan berhenti. Tatapan matanya berubah, lebih lembut dari sebelumnya.

"Althaf... kamu masih kayak dulu ya," gumamnya.

"Dulu kamu juga suka nolongin temen-temen kamu di kampus. Aku ingat tuh waktu kamu bantu benerin proyektor jurusan. Kamu masih anak teknik mesin waktu itu, ya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!