NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: PEMBERSIHAN TERAKHIR

Kembali ke New Ardent setelah badai di Calveron rasanya seperti masuk ke medan perang yang sudah setengah dimenangkan. Langit kota tampak abu-abu, namun bagi gue, udara terasa lebih bersih. Tidak ada lagi bayang-bayang Alexander Crowe yang menghantui, dan Papa Adrian sudah memilih jalannya sendiri untuk menebus dosa.

Gue duduk di ruang kerja utama gedung Winchester—yang dulunya adalah kantor pusat Halim Group. Ruangan ini sudah gue rombak total. Tidak ada lagi furnitur kayu tua yang pengap; sekarang yang ada hanyalah deretan monitor canggih, dinding kaca, dan aroma kopi yang kuat.

"Lo bener-bener nggak mau istirahat dulu, Arcelia?"

Gue menoleh. Keano berdiri di ambang pintu dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Dia nggak lagi menatap gue dengan kecurigaan seperti di awal pernikahan kami. Sekarang, ada rasa hormat yang terpancar dari matanya.

"Istirahat itu buat orang yang nggak punya musuh yang masih berkeliaran, Keano," jawab gue sambil terus mengetik di keyboard. "Aldric emang udah di penjara, tapi kaki tangannya masih megang beberapa aset krusial di luar negeri. Kalau gue nggak putus alirannya sekarang, mereka bisa bikin 'Aldric baru' dalam waktu singkat."

Keano berjalan mendekat, meletakkan tangannya di sandaran kursi gue. "Virel sudah mengamankan sisa dokumen di gudang Baron. Lo benar, ada aliran dana yang lari ke rekening anonim di Kepulauan Cayman. Sepertinya Shania nggak bener-bener pergi dengan tangan kosong."

Gue mendengus. "Si benalu itu emang licin. Tapi dia lupa kalau di dunia digital, nggak ada yang bener-bener anonim buat gue."

Gue menekan tombol *enter* dengan keras. Di layar monitor, sebuah peta jaringan keuangan mulai terurai. Titik-titik merah yang tadinya tersebar mulai terkunci pada satu lokasi.

"Ketemu. Shania mencoba mencairkan dana darurat Halim Group lewat perantara di Singapura. Dia pikir gue nggak bakal pantau rekening pasif perusahaan," gue menyeringai puas. "Gue udah blokir semua aksesnya. Sekarang, dia cuma punya sisa uang receh di dompetnya."

Keano tersenyum miring, sebuah ekspresi bangga yang makin sering dia tunjukkan. "Lo bener-bener nggak kasih dia napas, ya?"

"Dia nggak kasih Arcelia napas selama sepuluh tahun, Keano. Ini cuma bunga dari hutang yang dia punya."

Sore harinya, kami kedatangan tamu yang sudah gue tunggu. Bukan musuh, tapi seseorang yang memegang kunci terakhir dari masa lalu panti asuhan. Bi Asih.

Wanita tua itu datang dengan tangan gemetar, didampingi oleh Virel. Begitu dia melihat gue, dia langsung bersujud di lantai sambil menangis sesenggukan.

"Non Arcelia... Maafin Bi Asih... Bibi pengecut, Bibi nggak berani bicara jujur dulu," isaknya.

Gue turun dari kursi kebesaran gue, membantu wanita itu berdiri. Gue bukan tipe orang yang suka drama air mata, tapi gue tau Bi Asih adalah satu-satunya orang yang bener-bener tulus sayang sama Arcelia di panti itu.

"Bi, tenang. Semua udah lewat," kata gue pelan. "Sekarang gue cuma mau tau satu hal. Soal 'anak ketiga' yang dibilang Papa Adrian. Apa bener ada anak lain?"

Bi Asih menyeka air matanya, dia menatap gue dan Keano bergantian. "Bukan anak ketiga dari rahim Nyonya Mirelle, Non. Tapi ada satu anak panti yang wajahnya sangat mirip dengan Non Arcelia dan Non Alzena. Namanya Maya. Dia yang sebenernya menyelamatkan Tuan Keano di pelabuhan sepuluh tahun lalu."

Gue dan Keano saling lirik. Jadi ini potongan *puzzle* yang hilang.

"Maya itu anak yatim piatu yang selalu ngikutin Non Arcelia ke mana-mana," lanjut Bi Asih. "Pas kebakaran itu terjadi, Maya terjebak di dalam. Baron mengira Maya adalah Arcelia karena mereka memakai kalung yang sama hari itu. Makanya Baron lapor ke Tuan Aldric kalau Arcelia sudah mati."

"Jadi... Arcelia yang asli—maksud gue, gue yang dulu—selamat karena Baron salah sangka?" tanya gue memastikan.

"Iya, Non. Maya meninggal sebagai pahlawan. Dia yang mengalihkan perhatian orang-orang suruhan Baron supaya Non Arcelia bisa lari ke arah pelabuhan. Dan di pelabuhan itu, Maya sebenernya udah luka parah, tapi dia sempet narik Tuan Keano keluar dari gudang sebelum dia bener-bener hilang ditelan api."

Hening menyelimuti ruangan. Keano memejamkan matanya, seolah sedang memproses fakta bahwa sosok yang dia cari selama sepuluh tahun ternyata sudah lama tiada dalam tragedi itu.

"Jadi... selama ini aku mencari seseorang yang sudah memberikan nyawanya untukku," gumam Keano parau.

Gue memegang tangan Keano. "Dia nggak mati sia-sia, Keano. Dia mati supaya gue bisa hidup, dan supaya lo bisa ada di sini sekarang. Dan sekarang, tugas kita adalah mastiin namanya dicatat sebagai pahlawan, bukan cuma sebagai angka dalam statistik kebakaran."

Virel mengangguk setuju. "Gue bakal urus pembangunan kembali panti asuhan itu atas nama Maya dan Arcelia. Kita bakal bikin panti asuhan paling aman dan terbaik di Calveron. Nggak akan ada lagi anak yang dibuang atau dikorbankan demi harta."

Malam harinya, gue dan Keano berdiri di balkon penthouse kami. Angin malam New Ardent bertiup kencang, tapi pelukan Keano dari belakang membuat gue merasa hangat.

Konflik tentang siapa yang asli, siapa yang palsu, dan semua rahasia panti asuhan sudah selesai. Aldric di penjara, Shania bangkrut dan buron, Alexander Crowe sudah jadi abu, dan rahasia "anak ketiga" sudah terjawab.

"Lo udah tenang sekarang?" tanya Keano, dagunya bersandar di bahu gue.

"Gue ngerasa... beban sepuluh tahun ini akhirnya ilang, Keano," jawab gue jujur. "Tapi gue sadar satu hal. Gue nggak bisa selamanya jadi Arcelia si hacker jalanan. Gue punya tanggung jawab besar sekarang."

Keano memutar tubuh gue agar menghadapnya. Dia menatap gue dengan tatapan yang sangat dalam. "Lo tetap jadi Arcelia yang bar-bar, yang pinter ngeretas, dan yang berani nantang siapa pun. Tapi sekarang, lo juga adalah ratu di Winchester. Kita bakal pimpin kota ini bareng-bareng."

Gue tertawa kecil. "Ratu ya? Kedengerannya terlalu feminin buat gue. Gimana kalau 'Partner in Crime'?"

"Gue suka itu," balas Keano. Dia mengeluarkan sebuah tablet kecil. "Ngomong-ngomong soal partner, gue baru aja dapet kabar kalau sisa-sisa pengikut Alexander Crowe mencoba bikin aliansi baru di perbatasan. Mau kita sikat besok pagi?"

Gue menyambar tablet itu, jari gue langsung menari di atas layar. "Besok pagi kelamaan, Keano. Kita sikat malem ini juga lewat jaringan mereka. Gue bakal bikin sistem komunikasi mereka mati total, dan lo kirim Evan buat jemput mereka."

Keano menatap gue dengan kagum. "Ini alasan kenapa gue jatuh cinta sama jiwa lo, bukan cuma wajah lo. Lo bener-bener nggak ada duanya."

Gue menarik kerah baju Keano, mendekatkan wajah kami sampai hidung kami bersentuhan. "Inget ya, Tuan Winchester. Gue nggak butuh dilindungi. Gue cuma butuh lo ada di samping gue buat liat betapa hebatnya istri lo ini."

"Selalu," bisik Keano sebelum mendaratkan ciuman yang penuh kemenangan di bibir gue.

Malam itu, di bawah kerlap-kerlip lampu New Ardent, kami berjanji untuk tidak lagi menoleh ke belakang. Masa lalu sudah kami bakar habis, dan dari abunya, kami membangun masa depan yang jauh lebih kuat. Arcelia Mirelle Winchester sudah benar-benar lahir, dan dunia harus bersiap untuk setiap gebrakan yang akan dia buat.

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!