NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak Pernikahan yang Aneh

Hari itu, suasana di kediaman keluarga Evan Febrian terasa begitu hangat dan meriah. Tidak seperti biasanya yang hanya sepi ditemani pelayan rumah, hari ini rumah berwarna krem itu dipenuhi tawa dan senyum ramah.

Keluarga Zyan Ibrahim datang dengan penuh bangga, wajahnya ceria cerah seperti matahari. Zyan Ibrahim dan istrinya Shaffa Nadzira datang dengan niat yang jelas: silaturahmi sekaligus melamar. Bagi mereka, ini bukan sekadar perjodohan bisnis, melainkan penyatuan dua keluarga yang sudah bagaikan saudara kandung selama puluhan tahun.

Evan Febrian dan Fenny Clarissa, orang tua Vira, menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka lebar. Mata Fenny bahkan berbinar-binar saat mendengar maksud dan tujuan kedatangan keluarga Ibrahim.

"Ya ampun... serius ini Yan, Fa?" tanya Fenny, suaranya bergetar haru. Ia memandang Farzhan yang berdiri tegak dengan sopan di samping orang tuanya, lalu memandang Vira yang duduk tertunduk malu di sebelahnya. "Vira sama Farzhan mau menikah?"

"Benar sekali, Van, Fenny," jawab Zyan dengan senyum lebar dan penuh wibawa. "Kami melihat ini sebagai jalan terbaik. Mereka sudah kenal dari kecil, satu sekolah terus, dan sekarang tinggal satu atap. Rasanya sayang kalau tidak disatukan dalam ikatan yang halal. Lagipula, kami juga sudah menganggap Vira seperti anak sendiri."

Shaffa pun menimpali, "Iya, Vira itu gadis baik-baik, manis, dan aku sudah sayang banget sama anak ini. Pasti cocok jadi pendamping Farzhan."

Evan menghela napas panjang, namun wajahnya terlihat sangat lega dan bahagia. Ia menatap putrinya, lalu menatap Farzhan. Ia tahu betul latar belakang keluarga Ibrahim, dan ia tahu Farzhan adalah pria yang bertanggung jawab, sukses, dan terpelajar.

"Kalau bagi kalian, ini adalah kabar paling membahagiakan," ucap Evan tegas namun lembut. "Kami menerima lamaran ini dengan senang hati. Farzhan, mulai sekarang kamu resmi jadi calon suami Vira. Jaga anak kami baik-baik ya."

Farzhan mengangguk hormat. "Siap, Om. Janji akan saya jaga sebaik mungkin."

Vira yang duduk di sana merasa dunia seakan berputar. Baru kemarin ia menjadi "babu" di rumah Farzhan, hari ini ia dilamar secara resmi oleh keluarga kaya itu, dan orang tuanya bahkan terlihat sangat bahagia sampai ingin menangis.

"Papa... Mama..." bisik Vira pelan, "Kalian nggak tanya dulu pendapat aku?"

Fenny langsung memeluk putrinya, "Duh sayang, apa lagi yang harus ditanya? Farzhan itu cerdas, idaman semua orang lho! Kaya, ganteng, pintar, keluarga baik-baik. Kamu menikah dengan dia itu seperti dapat rezeki nomplok! Lagian kalian kan sudah kenal lama, pasti sayang-sayangan dong."

Vira hanya bisa menghela napas pasrah. Sayang-sayangan dari Hongkong. Kami ini musuh bebuyutan, Ma! Tapi melihat senyum bahagia di wajah kedua orang tuanya, Vira tidak tega menolak. Lagipula, keputusan sepertinya sudah bulat. Lamaran sudah diterima. Tidak ada jalan untuk kembali.

 

Beberapa hari berlalu setelah acara lamaran yang penuh suka cita itu. Suasana di rumah Farzhan kembali berubah drastis. Kini, status Vira bukan lagi pembantu, tapi calon istri. Namun, sikap Farzhan? Tidak berubah sama sekali. Masih dingin, masih kaku, dan masih sangat perfeksionis.

Sore itu, di ruang kerja yang sama, Farzhan meletakkan setumpuk kertas tebal di atas meja. Kertas-kertas itu dijilid rapi, dengan judul besar di halaman depan: PERJANJIAN DAN KONTRAK PERNIKAHAN.

"Duduk," perintah Farzhan singkat, tanpa menatap Vira. Ia sibuk memakai kacamata baca yang membuatnya terlihat semakin tampan namun semakin menyeramkan di mata Vira.

Vira berjalan mendekat, duduk dengan gelisah. "A-apa itu Zhan? Surat cinta?" coba-coba bertanya dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana.

Farzhan mendengus dingin. "Mimpi. Ini adalah aturan main yang aku buat. Karena kita menikah bukan karena cinta, tapi karena keadaan dan tuntutan orang tua, maka kita butuh batasan yang jelas supaya tidak saling membunuh di tengah malam."

Vira mengerutkan kening, lalu mengambil berkas itu dan mulai membacanya. Semakin ia membaca, semakin besar matanya membelalak. Mulutnya terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang tertulis di sana.

PASAL 1: TEMPAT TINGGAL DAN PEMBATASAN WILAYAH

1. Pasangan suami istri akan tinggal di kediaman Farzhan Ibrahim.

2. Rumah dibagi menjadi dua zona:

a. Zona Merah (Wilayah Terlarang): Kamar tidur utama, ruang kerja pribadi, dan lemari pakaian Farzhan. Vira dilarang keras masuk tanpa izin tertulis atau lisan.

b. Zona Hijau: Ruang tamu, dapur, dan kamar tidur tamu (yang kini menjadi kamar Vira).

3. Jarak aman interaksi minimal 50 cm, kecuali di depan umum atau keluarga.

PASAL 2: TUGAS DAN KEWAJIBAN

1. Vira wajib menjaga kebersihan rumah, memasak, dan mengurus kebutuhan rumah tangga dengan standar kebersihan kelas bintang 5 (sama seperti saat jadi pembantu).

2. Vira wajib melayani tamu dengan sopan.

3. Farzhan berhak meminta Vira mendampingi ke acara resmi keluarga atau bisnis sebagai istri yang baik.

4. Denda: Jika Vira meninggalkan piring kotor lebih dari 1 jam, atau meninggalkan barang tidak pada tempatnya, akan didenda keterlambatan 0,5% dari sisa hutang per kejadian.

PASAL 3: SOAL KEUANGAN

1. Seluruh hutang Vira dinyatakan LUNAS saat akad nikah dilaksanakan.

2. Namun, Vira tidak mendapat uang saku atau gaji bulanan. Semua kebutuhan primer disediakan oleh Farzhan, tapi Vira dilarang boros.

3. Jika Vira merusak barang milik Farzhan (baik sengaja maupun tidak karena kecerobohan), harga barang akan dikalikan 2x lipat dan dicatat sebagai hutang baru.

PASAL 4: TENTANG HUBUNGAN DAN KELUARGA

1. Di depan orang tua dan keluarga besar, wajib terlihat harmonis, saling menyayang, dan romantis sesukanya mereka.

2. Namun di balik pintu tertutup: NO TOUCH. Dilarang menyentuh suami tanpa alasan mendesak.

3. Dilarang cemburu, dilarang menanyakan kegiatan pribadi Farzhan, dilarang melarang Farzhan pulang malam selama itu untuk urusan bisnis.

4. Farzhan berhak tidur terpisah di kamar sendiri, Vira di kamar sendiri.

PASAL 5: JANGKA WAKTU DAN PERCERAIAN

1. Kontrak ini berlaku selama 3 TAHUN.

2. Jika dalam 3 tahun tidak ada masalah dan orang tua sudah puas, atau jika Farzhan menemukan alasan yang tepat, kontrak bisa diakhiri dengan perceraian yang baik-baik.

3. Saat bercerai nanti, Vira akan mendapatkan uang pisah sebesar... (Farzhan menulis angka yang lumayan tapi tidak seberapa dibanding kekayaannya).

Vira berhenti membaca. Tangannya gemetar. Wajahnya berubah pucat lalu merah padam.

"INI GILA!" Vira membentak, meletakkan berkas itu dengan keras di meja. "Farzhan Ibrahim! Kamu ini bikin kontrak pernikahan atau kontrak kerja sama pembangunan jalan tol?! Isinya semua menguntungkan kamu semua!"

Farzhan menatapnya datar, lalu menyesap kopinya dengan tenang. "Logika saja, Vira. Aku kan mengambil alih hutangmu yang besar, aku menanggung hidupmu, aku memberimu status istri sah. Wajar kan kalau aku punya syarat?"

"Syarat apanya?!" Vira hampir melompat marah. "Pasal 1 dilarang masuk kamar kamu? Kita ini suami istri lho! Pasal 3 denda kalau barang tidak pada tempatnya? Itu namanya pemerasan! Terus Pasal 4... NO TOUCH?! Kamu pikir aku ini virus apa?! Aku nular?!"

"Aku benci kekacauan dan aku benci hal yang tidak jelas," jawab Farzhan santai. "Dengan aturan ini, hidup kita jelas. Kamu tahu posisi kamu, aku tahu posisi aku. tidak ada yang tersinggung, tidak ada yang bawa perasaan."

"Terus kalau aku tidak mau tanda tangan?" tantang Vira, mencoba memberanikan diri.

Farzhan tersenyum miring, senyuman yang sangat menyebalkan namun tampan. "Gampang. Kalau kamu tidak mau tanda tangan, berarti kamu tidak mau nikah. Berarti kamu tolak keluarga aku. Berarti hutangmu tadi... aku tarik kembali. Dan kamu harus bayar tunai sekarang juga. Atau masuk penjara. Silakan pilih."

Vira terdiam. Tenggorokannya terasa kering. Ia tahu Farzhan tidak main-main. Pria itu sangat logis dan sangat kejam saat mengatur strategi.

Lagipula... bayangkan jika ia menolak sekarang. Orang tuanya sudah senang sekali menerima lamaran itu. Keluarga Ibrahim sudah bicara di depan banyak orang. Jika ia menolak, nama baik orang tuanya akan hancur. Mereka akan dianggap keluarga yang tidak tahu terima kasih atau yang mempermainkan orang.

"Kamu..." Vira menunduk, matanya berkaca-kaca antara marah dan sedih. "Kamu benar-benar memanfaatkan keadaanku ya. Jahat banget."

"Bisnis itu memang begitu, Vi. Win win solution buat aku, dan solusi buat kamu," kata Farzhan lembut tapi tajam. "Sekarang tanda tangan. Di semua halaman yang ada stempel merah itu."

Dengan tangan gemetar dan hati yang penuh dendam (dan rasa terpaksa), Vira mengambil pulpen yang disodorkan Farzhan. Ia melihat kembali isi kontrak itu. Benar-benar kontrak yang aneh, tidak masuk akal, dan sangat tidak romantis. Tapi apa boleh buat?

Ia teringat wajah bahagia Ayah dan Ibunya saat lamaran kemarin. Mereka mengira Vira akan hidup bahagia selamanya seperti putri di dongeng. Mereka tidak tahu kalau putri mereka justru menandatangani perjanjian perbudakan modern dengan sang "Pangeran Es".

"Baik..." desis Vira pelan. "Aku tanda tangan. Tapi ingat ya Zhan, ini semua karena terpaksa. Bukan karena aku mau."

"Sama," jawab Farzhan cepat. "Aku juga tidak mau. Tapi mau bagaimana lagi, takdir berkata lain."

Sret... Sret...

Tanda tangan Vira Calista tertera di bawah nama Farzhan Ibrahim. Kontrak pernikahan yang paling aneh, paling ketat, dan paling tidak adil itu resmi disepakati.

Farzhan mengambil kembali berkas itu, memeriksanya dengan teliti seperti sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan, lalu tersenyum puas.

"Bagus. Sekarang kamu resmi jadi calon istriku... secara hukum dan secara kontrak."

Farzhan berdiri, merapikan bajunya, lalu menatap Vira dengan tatapan tajam.

"Dan ingat, Nyonya muda... mulai detik ini, aturan berlaku. Satu kesalahan kecil saja, dan denda akan langsung berjalan. Selamat menunaikan tugas."

Vira menghela napas panjang, memandang langit-langit ruangan itu. Ya Allah, beri aku kekuatan... untuk hidup 24 jam bersama manusia aneh ini tanpa membunuhnya.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!