Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
...Suasana rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik terasa semakin mencekam saat brankar Stella didorong cepat menyusuri lorong menuju unit perawatan intensif. ...
...Wajah Stella yang pucat pasi kini tertutup masker oksigen, sementara detak jantungnya yang tidak stabil terpantau pada monitor yang terus berbunyi ritmis....
...Tim medis segera bergerak cepat di dalam ruangan steril tersebut. ...
...Mengingat kondisi pernapasannya yang semakin kritis akibat trauma saraf dan kejang hebat semalam, mereka melakukan intubasi untuk memastikan pasokan oksigen ke paru-parunya tetap terjaga. ...
...Tubuh Stella yang lemas kini terhubung dengan berbagai mesin penopang hidup, dan petugas medis akhirnya menaruhnya di ruang ICU untuk observasi ketat 24 jam....
...Di luar ruangan, suara langkah kaki yang terburu-buru memecah kesunyian lorong. ...
...Kedatangan Mama yang menangis sesenggukan membuat suasana semakin pilu. ...
...Wanita paruh baya itu nyaris luruh ke lantai saat melihat lampu merah di atas pintu ICU menyala....
..."Stella, Anakku. Kenapa bisa jadi seperti ini?" rintih Mama di sela isak tangisnya yang menyesakkan dada....
...Dengan sigap, si kembar menenangkan Mamanya. ...
...Axel merangkul bahu sang Mama, menahannya agar tidak jatuh, sementara Alexander memegang tangan ibunya dengan erat, mencoba menyalurkan kekuatan meski matanya sendiri tampak memerah menahan amarah dan kesedihan....
..."Tenang, Ma. Kak Stella kuat. Ada Askhan dan dokter ahli di dalam," bisik Axel dengan suara serak, mencoba memberikan harapan yang ia sendiri pun ragu untuk menggenggamnya....
..."Bajingan itu. Abbas benar-benar ingin membunuh kakak kita," desis Alexander pelan, suaranya bergetar karena geram....
...Di balik kaca kecil pintu ICU, Askhan berdiri diam menatap Stella yang tak berdaya. ...
...Ia tahu, perjuangan Stella baru saja dimulai. Bukan hanya perjuangan untuk bangun dari komanya, tapi juga perjuangan untuk menuntut keadilan atas pengkhianatan yang nyaris merenggut nyawanya. ...
...Di koridor rumah sakit malam itu, dendam keluarga besar Stella mulai mengakar, menunggu saat yang tepat untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh....
...Lampu-lampu kota yang berpendar dari balik jendela besar apartemen mewah itu tampak seperti permata yang berserakan, namun suasana di dalam ruangan justru terasa panas dan penuh kebencian. ...
...Bau maskulin yang tajam bercampur dengan aroma alkohol yang menyengat memenuhi udara....
...Abbas membuka wine dan meminumnya langsung dari gelas kristal dengan rakus. ...
...Napasnya masih memburu, sisa kemarahan dari pertengkaran hebat di rumah Stella tadi masih membakar dadanya. ...
...Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit, membiarkan dasinya tergantung longgar di leher....
..."Sialan kamu, Stella!!" teriak Abbas tiba-tiba sambil membanting gelasnya ke atas meja hingga isinya menciprat ke mana-mana....
...Ia menatap kosong ke arah langit-langit, membayangkan wajah istrinya yang tadi memandangnya dengan penuh penghinaan. ...
...Di mata Abbas, setiap bantuan, setiap harta, dan setiap kenyamanan yang diberikan Stella bukanlah bentuk cinta, melainkan rantai yang mengikat harga dirinya sebagai laki-laki....
..."Kamu selalu saja merendahkan aku!!!" raungnya lagi, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. ...
..."Kamu pikir dengan uang papamu, kamu bisa menginjak-injak kepalaku? Kamu pikir aku ini apa? Peliharaanmu?"...
...Abbas menegak sisa wine di botolnya, matanya merah karena pengaruh alkohol dan dendam yang mulai berkarat....
... Ia merasa tidak bersalah atas perselingkuhannya dengan Annisa. ...
...Baginya, Annisa adalah pelarian dari rasa kerdil yang ia rasakan setiap kali berdiri di samping Stella yang bergelimang harta....
..."Lihat saja, Stella. Kamu pikir bisa mendepakku begitu saja?" gumam Abbas dengan nada licik yang mulai muncul di balik mabuknya. ...
..."Aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan membiarkanmu menang semudah itu."...
...Ia tidak tahu bahwa di saat ia sedang merutuki nasibnya dengan sebotol wine mahal, Stella sedang berjuang antara hidup dan mati di ruang ICU akibat racun dan tekanan mental yang ia tanamkan. ...
...Bagi Abbas, ini bukan lagi soal cinta, tapi soal siapa yang akan bertahan paling akhir dalam permainan kekuasaan ini....
...Di dalam ruang ICU yang sunyi, hanya terdengar bunyi beeping dari monitor jantung yang memantau kondisi vital Stella. ...
...Aroma antiseptik yang tajam seolah mempertegas batas antara hidup dan mati. Askhan masih setia di sana, wajahnya tampak lelah dengan lingkaran hitam di bawah matanya, namun ia menolak untuk beranjak sedikit pun....
...Kembali ke rumah sakit, suasana terasa jauh lebih berat bagi siapa pun yang masuk ke ruangan itu. ...
...Askhan duduk di samping ranjang Stella, menatap wajah sahabatnya yang kini tampak begitu rapuh dengan berbagai selang yang menopang tubuhnya. ...
...Dengan gerakan perlahan dan penuh rasa hormat, ia meraih jemari pucat itu....
...Sambil menggenggam tangan Stella, Askhan mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata yang ia harap bisa menembus alam bawah sadar wanita itu....
..."Stella, bangunlah," bisiknya dengan suara serak yang tertahan. ...
..."Jangan biarkan bajingan itu menang dengan melihatmu seperti ini. Dia ingin melihatmu hancur, dia ingin melihatmu menyerah, tapi aku tahu siapa kamu sebenarnya."...
...Askhan mempererat genggamannya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya ke dalam aliran darah Stella....
..."Kamu adalah wanita paling kuat yang pernah kukenal. Ingat bagaimana kamu memperjuangkan mimpimu? Ingat bagaimana kamu berdiri tegak saat semua orang meragukanmu? Kamu bukan ibu rumah tangga biasa. Kamu wanita kuat, Stella. Kamu adalah petarung," lanjut Askhan dengan nada yang kini lebih tegas....
...Air mata Askhan hampir luruh, namun ia menahannya. ...
...Ia harus menjadi jangkar bagi Stella di saat dunia wanita itu sedang tenggelam....
..."Bangunlah, telan kembali duniamu, dan tunjukkan pada Abbas bahwa dia baru saja membangunkan singa yang salah. Kami semua menunggumu, Stela. Aku menunggumu," gumam Askhan lagi, sebelum ia mencium punggung tangan Stella dengan lembut, berharap ada keajaiban yang membuat jemari itu bergerak membalas genggamannya....
...Lampu neon di koridor ICU berpijar dingin, memantulkan kecemasan yang menggantung di udara. ...
...Di dalam ruangan steril itu, Askhan masih terpaku di depan layar monitor medis yang menampilkan grafik-grafik rumit. ...
...Sebagai dokter, ia tidak bisa hanya diam menerima kenyataan bahwa ini hanyalah kejang biasa....
...Askhan menemukan fakta medis baru bahwa dosis obat yang diberikan Abbas bukan sekadar obat tidur, tapi zat kimia yang memicu kegagalan saraf. ...
...Hasil laboratorium yang baru saja keluar menunjukkan adanya akumulasi zat neurotoksin dosis tinggi yang bekerja perlahan namun mematikan. ...
...Abbas tidak hanya ingin menidurkan Stella; ia sedang mencoba menghapus kesadaran istrinya secara permanen....
...Sementara itu, di balik kelopak matanya yang terpejam rapat, Stella mengalami mimpi buruk yang traumatis tentang pernikahannya. ...
...Ia melihat dirinya terjebak dalam labirin kaca, di mana setiap sudut menampilkan wajah Abbas yang tertawa sinis sambil merobek buku nikah mereka. Ia merasa tenggelam dalam lautan hitam yang dingin, sesak, dan tak berujung. Namun, di tengah kegelapan itu, sebuah gema muncul. ...
...Dalam mimpinya ia mendengar suara Askhan yang memintanya bangkit....
..."Stella, jangan menyerah. Bangunlah! Jangan biarkan dia menang!"...
...Tiba-tiba, suara tenang itu berubah menjadi suara alarm yang melengking nyata. ...
...Garis hijau di monitor yang tadinya bergelombang mendadak menjadi lurus....
...Detak jantung Stella sempat berhenti (cardiac arrest)....
..."Kode Biru! Pasien mengalami henti jantung!" teriak Askhan, seketika berubah dari sahabat menjadi dokter yang sigap....
...Kepanikan luar biasa meledak di luar ruangan. Mama Stella menjerit histeris sementara si kembar, Axel dan Alexander, terpaku pucat melihat tim medis merangsek masuk dengan alat defibrillator....
..."Satu... dua... tiga... Shock!"...
...Tubuh Stella tersentak di atas ranjang, namun garis di monitor masih tetap datar. ...
...Perasaan putus asa mulai merayap di hati Askhan, namun ia terus melakukan kompresi dada dengan tangan gemetar. Ia tidak boleh kehilangan Stella sekarang....
..."Sekali lagi! Shock!"...
...Setelah detik-detik yang terasa seperti keabadian, suara bip yang ritmis kembali terdengar. ...
...Garis di monitor mulai membentuk bukit-bukit kecil kembali. ...
...Kondisi Stella akhirnya berhasil distabilkan kembali, meskipun ia masih belum melewati masa kritisnya....
...Di luar ruangan, Mama Stella jatuh terduduk di lantai sambil memegang dadanya, menangis syukur dalam dekapan kedua putranya. ...
...Mereka baru saja melihat maut hampir menjemput Stella, dan kini mereka tahu, perang melawan Abbas bukan lagi sekadar soal perceraian, melainkan soal nyawa yang nyaris terenggut....