CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIRNYA NGAKU JUGA
Malam semakin larut, tapi suasana di dalam mobil terasa hangat dan tenang. Setelah kejadian seru di restoran tadi, mereka memutuskan untuk pulang lebih awal. Ayunda bersandar nyaman di kursi penumpang, matanya sesekali melirik ke arah Giovanni yang sedang fokus menyetir.
Wajah Gio di bawah cahaya lampu jalan yang sesekali menerangi, terlihat sangat tenang dan tampan. Tangannya yang besar memegang setir dengan gagah. Tapi Ayunda bisa melihat, ujung bibir cowok itu sesekali menyunggingkan senyum tipis seolah masih memikirkan kejadian tadi.
"Gio..." panggil Ayunda pelan, memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Hm?" jawab Gio singkat tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan raya.
"Lo tadi kenapa sih marah banget gitu? Sampai kelihatan serem banget gitu loh. Padahal kan mereka cuma iseng doang," tanya Ayunda penasaran, meski sebenarnya dia sudah tau jawabannya, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Gio.
Gio menghela napas panjang, lalu dia menoleh sekilas ke arah Ayunda dan tersenyum.
"Iseng apanya! Itu namanya kurang ajar!" jawab Gio tegas. "Aku gak bisa kalau liat ada orang yang berani macam-macam sama kamu, Yun. Rasanya dada ini sesak, rasanya pengen ngamuk aja kalau ada yang nyakitin atau bikin kamu risih."
Gio lalu mengulurkan tangan kanannya, mencari tangan Ayunda di sela-sela kursi. Begitu ketemu, dia menggenggamnya erat-erat, jari-jarinya saling mengunci dengan jari Ayunda.
"Kamu itu berharga banget buat aku. Terlalu berharga sampai aku gak rela kalau ada debu aja yang nyakitin kamu, apalagi manusia."
Ayunda tersenyum lebar melihat itu. Jantungnya berdegup kencang, rasanya manis sekali diperlakukan kayak gini.
"Tapi kan dulu... dulu lo itu jutek banget sama gue. Ingat gak pas awal kenalan? Lo itu dingin banget, kaku banget, kayak es batu yang gak bakal bisa cair," goda Ayunda sambil terkekeh. "Apa sih yang bikin lo berubah jadi gini? Jadi perhatian banget sama gue?"
Pertanyaan itu membuat Gio terdiam sejenak. Dia menelan ludah, dan pipinya yang biasanya pucat perlahan mulai memerah di bawah remang-remang cahaya.
Dia memang sering perhatian sekarang, tapi kalau ditanya kapan perasaan itu mulai muncul, atau kenapa dia bisa jatuh cinta, dia jadi salah tingkah sendiri.
"Ya... ya gak tau juga sih kapan tepatnya," jawab Gio pelan, suaranya terdengar lembut dan sedikit malu. "Awalnya kan aku pikir kita cuma teman, atau mungkin cuma kenalan biasa. Aku orangnya kaku, gak peka, dan gak pernah peduli sama cewek."
Gio menggelengkan kepala sambil tersenyum mengingat masa lalu.
"Tapi lama-kelamaan... aku sadar aku salah. Kamu itu beda. Kamu masuk ke hidup aku bawa warna-warni yang gak pernah aku punya. Kamu ajarin aku ketawa, kamu ajarin aku peduli, dan kamu bikin aku ngerasain hangatnya diperhatiin."
Gio menatap Ayunda dalam-dalam saat berhenti di lampu merah.
"Jujur ya... aku jatuh cinta sama kamu itu bukan dalam semalam. Tapi perlahan-lahan, dikit-dikit, sampai akhirnya sadar-sadar aja... eh ternyata hati aku udah milik kamu sepenuhnya."
"Terus... kapan lo sadar kalau lo beneran cinta sama gue?" tanya Ayunda lagi, matanya berbinar menunggu jawaban.
Gio terdiam lagi, lalu dia menghela napas panjang seolah mengumpulkan seluruh keberanian di dunia ini.
Dia memutar tubuhnya sedikit menghadap Ayunda, meski masih di dalam mobil.
"Pas kamu sakit demam tinggi pas badai kemarin..." bisik Gio. "Pas kamu menggigil kedinginan dan cari aku... pas kamu percaya penuh sama aku... saat itu aku sadar. Aku sadar kalau aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku cinta kamu, Yun. Bukan cuma sayang, tapi CINTA. Sangat dalam."
"AKHIRNYA NGAKU JUGA YA!!" seru Ayunda tiba-tiba dengan suara keras dan senyum lebar sampai ke telinga. "Hahaha! Gila akhirnya lo ngaku juga! Dari dulu kan gue tau juga sih sebenernya lo sayang sama gue, cuma gengsi doang kan!"
Ayunda tertawa bahagia, rasanya senang sekali bisa mendengar pengakuan itu secara langsung.
Gio yang melihat Ayunda tertawa kegirangan jadi ikutan tersenyum malu. Dia mencubit pelan pipi Ayunda.
"Iya iya! Aku ngaku! Puas lo?!" kata Gio dengan wajah memerah tapi senang. "Aku cinta sama kamu, Ayunda. Cinta banget. Dan aku gak bakal nyesel ngakuin itu seumur hidup aku."
"Puasss banget!" Ayunda langsung memeluk lengan Gio erat-erat, menempelkan wajahnya di bahu cowok itu. "Aku juga cinta sama lo Giovanni. Cinta banget!"
Malam itu, di dalam perjalanan pulang, ikatan di antara mereka menjadi sempurna. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi gengsi yang berlebihan. Mereka berdua sama-sama mengakui perasaan mereka, dan membiarkan cinta itu tumbuh subur tanpa hambatan.
Akhirnya, si cowok kaku itu mengaku juga. Dan itu adalah awal dari hubungan yang sesungguhnya.