Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Pesan Anonim
Pagi hari, seperti biasa Alvian datang tepat jam delapan, naik beat karbu butut miliknya. Mbak Sari sudah datang, nyapu halaman dengan sapu lidi panjang. Celemek rapi, rambut diikat. Mukanya sudah tidak terlihat seperti kerupuk basah.
"Pagi, Dok!" sapanya.
Alvian mengangguk dan langsung ke masuk setelah memarkir beat karbunya. Kopi hitam, roti gandum dengan taburan gula. Kombinasi kesukaan Alvian yang sudah disiapkan di meja.
"Mbak Sari, pagi-pagi sudah semangat saja kerjanya. Santai dulu sebentar, klinik juga baru buka."
Mbak Sari masuk lewat pintu sambil menenteng sapu. "Nggak enak saya, Dok. Kemarin datang juga hanya duduk-duduk di meja resepsionis. Semua Dokter yang mengerjakannya."
"Apanya yang nggak enak? Namanya juga orang baru sembuh, tidak baik kerja berat-berat."
Mbak Sari hanya nyengir, sebelum duduk, berhenti melakukan pekerjaan seperti yang dikatakan Alvian.
Sekitar jam sepuluh, pasien pertama akhirnya datang. Tak lama setelah itu, pasien kedua dan ketiga datang silih berganti. Hampir tidak ada jeda sampai siang hari.
Jam tiga sore, datang lagi ibu-ibu PKK. Mereka minta surat sehat, katanya buat ikut arisan.
"Bu, arisan kok pake surat sehat? Ada marathon-nya juga? Habis Arisan?"
"Namanya juga jaga-jaga, Dok. Sedia hujan sebelum payung."
"Sebelum payung sedia hujan, kali Bu maksudnya."
"Lah Dokter kok malah ikutan ngawur. Yang benar itu sedia payung sebelum hujan, Dok." Ibu yang lain menimpali.
Alvian hanya tertawa dan memberikan surat sehat setelah melakukan pemeriksaan pada mereka.
"Sudah. Terima kasih, Dok. Selamat pagi."
"Iya, selamat malam."
Mbak Sari masuk setelah membeli soto dan tatapannya mengikuti kepergian ibu-ibu PKK. "Ibu yang depan agak nyentrik ya, Dok. Lucu."
"Bukan hanya penampilan. Cara bicaranya juga agak nyentrik."
Hening sebentar. Hanya terdengar suara kipas dan detak jam di dinding.
Alvian teringat sesuatu, dan bertanya, "Mbak, waktu itu di Rumah Sakit Harapan Kita, siapa yang kasih obatnya?"
Mbak Sari terdiam beberapa saat lalu mengelus dagunya, berpikir. "Hari itu, suster yang kasih obatnya, Dok."
"Namanya? Mbak Sari tahu siapa namanya?"
"Untuk namanya, ...." Mbak Sari kembali mengelus dagu dan menatap ke langit-langit. "Dia tidak pakai name-tag, Dok. Saya juga tidak punya pikiran tanya namanya saat itu. Dia datang sambil bawa nampan, ada omeprazole sama... yang biru-putih itu. Bilangnya, 'Ini tambahan dari dokter, Bu. Probiotik. Biar lambungnya nggak kumat. Minum sebelum tidur.'"
Alvian mengetuk meja. Dua kali, lalu berhenti. "Protokol aneh. Obat tambahan tidak gunakan resep."
"Bagaimana penampilannya," tanya Alvian.
"Penampilannya? Dia cantik, Dok. Kulitnya putih seperti tidak pernah keluar ruangan AC. Ada tahi lalat kecil di bawah mata kiri. Kukunya panjang, tapi bening, bukan yang warna-warni."
Alvian mengingat betul ciri-ciri tersebut ketika Mbak Sari menjabarkannya. Memang belum pasti suster itu terlibat dalam skandal obat palsu yang beredar, tapi dia adalah saksi kunci yang harus ditemukan.
"Oh iya, Dok... Tadi pagi saya ke warung Bu RT, ketemu Bu Minah. Rumahnya yang ujung gang, yang pagar hijau."
Alvian mengangguk, menyimak ala kadarnya. "He'em. Terus?"
"Terus Dok, anaknya yang namanya Dito, yang baru kelas 1 SD. Dari minggu lalu panas, dibawa ke RS Harapan Kita juga. Takut DB."
Alvian meletakkan kembali gelasnya dan berhenti di tengah. "Terus?"
"Mereka cek darah, Dok. Trombosit 180 ribu. Normal. Dokternya bilang nggak papa, tapi... dikasih obat juga. Kapsul biru-putih, sama kayak saya. Katanya vitamin, Dok. Biar cepat bisa main lagi."
Kraaak! Itu suara di kepala Alvian. Tulang rahangnya mengatup keras. Di Papua, 3 tahun lalu, korban pertama juga anak 6 tahun. Dikasih "vitamin".
Alvian mengepalkan tangan, berkata, "Terus Mbak, sudah bilang jika obat itu bermasalah?"
"Sudah. Untungnya baru diminum satu kali. Bu Minah langsung buang obatnya saat saya kasih tahu."
Dia menghembuskan nafas, bersandar di tembok sambil tangannya terus meremas patch di sakunya.
"Setelah tiga tahun, mereka jadi lebih berani."
___
Terminal Blok M. Jam sembilan lebih sepuluh, malam.
Alvian turun dari metromini mengenakan jaket hoodie item, masker medis, topi baseball biru, dan kacamata hitam. Celana bahan, sepatu kets, seperti bukan Alvian dokter konyol yang dikenal semua orang.
Dia masuk ke sebuah warnet yang ada di pojokan. Bau rokok sama mie rebus. Dia membayar 5 ribu ke penjaga untuk rental satu jam.
Bukan untuk main game, juga bukan buat streaming. Dia membuka gmail, kemudian buat akun baru.
Tiga menit, sebuah surat aduan terkirim ke BPOM. Alvian langsung menghapus akun, lalu merefresh komputer dan membiarkannya menyala dengan sisa waktu yang ada.
Alvian keluar dari warnet. Pergi ke ruas jalan, naik angkot untuk pulang ke rumah.
Sengaja turun dua gang dari rumah, jalan kaki sambil mampir ke lapak sate, membungkus untuk Clarissa yang kemungkinan sudah pulang.
Dan itu memang benar. Clarissa sudah di rumah. Dia membaca buku di ruang tamu, mengenakan masker setengah wajah, dan lilit rambutnya dengan handuk.
"Aku bawa sate. Mau makan bersama?"
Namun Clarissa bergeming di tempatnya tanpa menoleh ke Alvian.
"Tidak. Kamu saja. Tadi Ibu datang ke IGD, sudah makan di luar, bersama."
Alvian mengangguk samar dan berjalan ke meja makan.
Nasi dan sate belum sampai habis separuh, Clarissa bangkit dari sofa lalu naik ke lantai dua.
"Aku tidur dulu," ucapnya.
Alvian hanya berdehem karena mulutnya penuh dengan sate. Tersenyum menatap punggung istrinya, lanjut makan sampai habis.
__
Keesokan paginya, Alvian bangun sangat pagi. Dia masak, membuat sarapan untuk dirinya dan Clarissa.
Jam tujuh tepat mereka sarapan bersama, tetapi fokus Clarissa tampaknya telah terganggu oleh sesuatu. Dia meletakkan sendok, menatap Alvian. "Kemarin malam kamu pulang agak telat. Pergi ke mana?"
Alvian tak langsung menjawab. "Kemarin ya. Aku, kemarin ... Si Bro, mogok lagi. Terpaksa harus naik metromini dan angkot untuk pulang. Lihat, ini fotonya. Aku tinggal di bengkel dekat klinik."
"Sudah? Hanya itu? Bukan karena kamu pergi ke warnet yang ada di terminal Blok M?" tanya Clarissa, dengan sedikit pancingan.
Namun Alvian sama sekali tidak terpancing, dan tetap bersikap pura-pura bodoh.
"Tidak. Jika istri tidak percaya, bisa tanya saja ke Mbak Sari. Dia yang bantu dorong motor dan ikut antar ke bengkel."
Clarissa menyipitkan mata, tak bicara untuk waktu yang lama.
Masalahnya, dia baru saja menerima pesan dari Prof Dimas jika mereka telah menerima sebuah pesan anonim yang memberitahu tentang paramedis yang menyebarkan obat palsu di Rumah Sakit Harapan Kita. Pesan anonim itu terkirim sekitar pukul sembilan lebih dua puluh, malam. Di mana entah kebetulan atau apa, Alvian juga pulang terlambat sehingga waktu konotasinya sangat cocok.
"Sudahlah. Mungkin memang hanya kebetulan," gumam Clarissa, lanjut makan.
Alvian tersenyum tipis diam-diam. Menaruh HP judulnya, ikut melanjutkan makan.