NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dasar Sungai The Rust

Bau lumpur busuk dan amis logam menyengat indra penciuman Asha Valeska saat kesadarannya perlahan-lahan kembali ke permukaan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa dingin yang luar biasa, seolah-olah seluruh darahnya telah berubah menjadi kristal es yang tajam. Ia mencoba membuka mata, namun kelopak matanya terasa lengket oleh sisa air sungai yang kotor. Paru-parunya terasa terbakar, setiap tarikan napas pendek memicu dorongan untuk memuntahkan cairan hitam yang masih terjebak di dalam dadanya.

"Jangan banyak bergerak, kau akan membuka kembali lubang di dahimu," suara serak seorang pria terdengar dari arah kegelapan.

Asha terbatuk hebat, tubuhnya meringkuk ke samping di atas ranjang kayu yang keras. Cairan keruh keluar dari mulutnya, membasahi kain kusam yang menyelimuti tubuhnya yang lebam. Ia mencoba memfokuskan pandangan pada sosok pria yang berdiri di dekat sebuah meja kayu reyot. Pria itu mengenakan pakaian nelayan yang kumal, namun tatapan matanya tajam dan tidak menunjukkan keramahan sedikit pun.

"Di mana ... aku?" tanya Asha dengan suara yang nyaris hilang, setiap kata terasa seperti sayatan di tenggorokannya yang luka.

Pria itu meletakkan sebuah handuk kotor ke atas meja. "Kau berada di dasar distrik Rust. Di tempat pembuangan yang bahkan polisi Neovault pun enggan untuk sekadar meludah ke sini. Jika jaring nelayanku tidak tersangkut pada gaun mahalku itu, kau pasti sudah jadi bangkai yang membusuk di saluran turbin pusat kota."

Asha memejamkan mata, memori tentang malam di penthouse Arlan kembali menghantamnya. Bayangan api yang menjalar, wajah murka Arlan, dan seringai kemenangan Elena berputar di dalam kepalanya seperti pusaran air sungai The Rust yang hampir merenggut nyawanya. Ia meraba perutnya secara insting, rasa cemas yang dingin menjalar di hatinya saat mengingat janin yang ia kandung.

"Anakku ... apakah dia ...?" kalimat Asha terputus saat ia merasakan perih yang luar biasa di rahimnya.

Pria nelayan itu mendengus pelan, lalu menunjuk ke arah botol-botol alkohol murah di sudut ruangan. "Aku bukan dokter, tapi kau beruntung. Kau tidak kehilangan banyak darah setelah jatuh ke air. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Tubuhmu sudah hancur, Nyonya Valeska. Ya, aku tahu siapa kau. Berita kematianmu sudah tersebar di setiap layar besar di Neovault pagi ini."

Asha tertegun, sebuah tawa getir yang nyaris terdengar seperti isakan keluar dari bibirnya yang pecah. "Mati ... Arlan sudah mengumumkan bahwa aku mati?"

"Tentu saja. Bagi dunia atas, kau sudah menjadi sejarah. Arlan Valeska tampak sangat sedih di depan kamera, meskipun semua orang di distrik Rust tahu bahwa tangisannya hanya akting murahan untuk menjaga harga sahamnya tetap stabil," sahut pria itu sambil melangkah mendekati pintu gubuk yang terbuat dari seng tua.

Asha mencoba untuk duduk, meskipun setiap sendi di tubuhnya seolah menjerit memprotes gerakannya. Ia melihat bahunya yang terbuka, bekas luka bakar dari cerutu Elena kini terlihat memutih dan mengerikan karena terkena air sungai yang beracun. Amarah yang membara mulai menggantikan rasa sakit fisiknya. Keinginan untuk membalas dendam menjadi satu-satunya alasan mengapa jantungnya masih berdetak di tengah gubuk busuk ini.

"Siapa kau? Mengapa kau membantuku?" tanya Asha sambil menatap punggung pria itu.

Pria itu berbalik, wajahnya yang penuh kerutan terlihat jelas di bawah sinar lampu minyak yang berkedip. "Namaku tidak penting. Katakan saja aku bekerja untuk seseorang yang menganggap kehancuran Arlan Valeska sebagai investasi terbaik abad ini. Majikanku adalah musuh bisnis Arlan yang paling setia. Dia yang memintaku untuk tetap berjaga di sepanjang aliran sungai setelah mendengar desas-desus tentang kebakaran di penthouse."

Asha menarik napas panjang, mencoba menahan rasa pening yang menyerang kepalanya. "Jadi, aku hanya pion baru dalam permainan majikanmu?"

"Kita semua adalah pion di Neovault, Nyonya. Bedanya, sekarang kau adalah pion yang dianggap sudah mati. Itu memberimu keunggulan yang tidak dimiliki siapa pun," jawab nelayan itu dengan nada yang sangat datar.

Tiba-tiba, pintu gubuk terbuka lebar. Seorang pria lain masuk dengan pakaian yang jauh lebih rapi, meskipun ia tetap menggunakan jubah untuk menyembunyikan identitasnya. Ia menatap Asha dengan dingin, seolah sedang menilai kualitas sebuah barang dagangan yang baru saja diangkat dari lumpur.

"Kondisinya kritis, namun dia punya mata seorang pembunuh," ucap pria berjubah itu kepada si nelayan.

Asha menatap pria baru itu dengan tajam. "Jika kalian ingin aku bekerja untuk kalian, bawa aku ke tempat yang layak. Aku tidak akan membiarkan Arlan menang hanya karena aku mati membusuk di gubuk ini."

Pria berjubah itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Semangat yang bagus. Tapi kau harus membuktikan bahwa kau cukup kuat untuk bertahan hidup melewati malam ini. Distrik Rust tidak ramah bagi wanita yang biasa tidur di atas sutra."

"Sutra itu sudah terbakar," balas Asha dengan suara yang kini terdengar lebih kuat. "Yang tersisa hanya dendam. Aku ingin melihat Arlan kehilangan segalanya, sebagaimana dia merampas segalanya dariku."

"Bagus. Karena majikanku tidak butuh wanita lemah yang hanya bisa menangis. Dia butuh senjata yang tidak bisa terdeteksi oleh radar Neovault," kata pria berjubah itu sambil melemparkan sebuah kantong kecil berisi obat-obatan ke atas ranjang Asha.

Asha meraih kantong itu dengan tangan yang gemetar. Ia tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah jatuh ke titik terendah dalam peradaban manusia, ke dalam lubang hitam yang disebut distrik Rust. Namun, di tengah aroma busuk sungai dan hawa dingin yang menusuk, Asha merasakan sebuah kekuatan baru mengalir di dalam nadinya.

"Dendam ini ... dendam ini yang akan memberiku kekuatan," bisik Asha pada dirinya sendiri.

Ia mulai menelan salah satu obat yang diberikan, rasanya sangat pahit namun ia tidak peduli. Ia membutuhkan kekuatan untuk kembali berdiri. Ia membutuhkan kekuatan untuk merancang kejatuhan Arlan dan Elena satu demi satu. Pikirannya mulai memetakan setiap aset, setiap rekan bisnis, dan setiap rahasia gelap yang ia ketahui selama menjadi istri kontrak Arlan.

"Apakah Arlan masih mencari tubuhku?" tanya Asha kepada pria berjubah itu.

"Dia mengirim beberapa orang pagi tadi, tapi sungai ini punya caranya sendiri untuk menyembunyikan rahasia. Mereka menemukan potongan gaunmu tersangkut di pipa pembuangan, itu sudah cukup untuk meyakinkan mereka bahwa kau telah hancur berkeping-keping," jawab pria itu sambil memeriksa jam tangannya.

Asha menyandarkan kepalanya ke dinding kayu yang kasar. "Bagus. Biarkan dia merayakan kemenangannya. Biarkan dia merasa aman di atas singgasananya yang berdarah itu."

"Jangan terlalu percaya diri, Nyonya. Arlan Valeska bukan orang bodoh. Jika ada sedikit saja celah yang kau tinggalkan, dia akan menemukanmu dan menyelesaikan apa yang dia mulai di penthouse malam itu," peringatan dari pria berjubah itu membuat Asha terdiam sejenak.

"Aku tidak akan meninggalkan celah," sahut Asha dingin. "Aku akan menjadi hantu yang menghantui setiap langkahnya. Aku akan menjadi racun yang masuk ke dalam sistemnya tanpa ia sadari."

Si nelayan kembali masuk membawa semangkuk sup encer yang berbau amis. "Makanlah ini. Kau butuh nutrisi jika ingin segera pergi dari sini. Kami tidak bisa menjagamu selamanya di gubuk ini. Besok, kau harus mulai bergerak menuju tempat persembunyian yang lebih aman."

Asha menerima mangkuk itu dengan tangan yang kaku. Ia memaksakan diri untuk menelan cairan hangat itu meskipun perutnya menolak. Ia membayangkan setiap tegukan adalah energi yang ia kumpulkan untuk menyeret Arlan ke dasar sungai ini, agar pria itu merasakan apa yang ia rasakan.

"Kapan aku bisa bertemu dengan majikanmu?" tanya Asha setelah menghabiskan supnya.

"Sabar, Nyonya. Majikanku tidak menemui sembarang orang. Kau harus membuktikan kegunaanmu terlebih dahulu. Setelah lukamu sembuh dan kau bisa berjalan tanpa bantuan, baru kita bicara tentang langkah selanjutnya," jawab pria berjubah itu sambil bersiap untuk pergi.

Asha menatap punggung pria itu saat ia melangkah keluar dari gubuk. Ia kembali sendirian bersama si nelayan yang kini sibuk memperbaiki jaringnya di sudut ruangan. Suara ombak sungai yang menghantam dermaga kayu tua terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran Neovault.

"Arlan ... kau pikir kau bisa menghapusku begitu saja?" gumam Asha dengan mata yang berkilat penuh kebencian.

Ia menyentuh kembali perutnya, merasakan sebuah kehidupan kecil yang entah bagaimana masih bertahan di sana. Anak itu adalah bukti kekejaman Arlan, sekaligus motivasi terbesarnya untuk tetap bernapas. Ia tidak akan membiarkan anaknya lahir di dunia sebagai pecundang. Ia akan memastikan anaknya lahir sebagai pewaris dari reruntuhan kerajaan Arlan yang akan ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

"Kau akan membayar setiap tetes darah yang tumpah di lantai marmer itu," janji Asha dalam hati.

Malam semakin larut di distrik Rust. Kabut tebal mulai turun, menyembunyikan gubuk nelayan itu dari pandangan mata-mata Neovault. Di dalam kegelapan yang mencekam, seorang wanita yang seharusnya sudah mati sedang mengasah belati dendamnya. Asha Valeska telah benar-benar lenyap, dan apa yang tersisa darinya adalah sebuah entitas baru yang hanya menginginkan satu hal: pembalasan sempurna.

"Tidurlah, Nyonya. Besok pagi, perjalananmu menuju neraka yang sebenarnya baru akan dimulai," ucap si nelayan tanpa menoleh.

Asha memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelannya sekali lagi. Namun kali ini, ia tidak takut. Ia tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan selain nyawanya yang sudah pernah hilang sekali. Di dasar sungai The Rust, Asha Valeska menemukan kekuatannya yang hilang, dan dari lumpur yang kotor, ia akan bangkit menjadi martir yang akan membakar seluruh Neovault Metropolis.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!